
Sebelum keluar Bima minta izin terlebih dahulu kepada kedua orangtuanya Reva, sebenarnya malam ini acara pemasangan cincin tapi karena sudah kacau jadinya batal. Keluarganya Reva sudah menerima Bima, keputusan Bima akan menikah diakhir tahun yang disetujui bapaknya Reva. Hanya Reva yang belum tahu.
Bima melajukan mobilnya, karena di wilayah desa mereka tidak bisa makan di restoran atau e tempat romantis. Reva hanya berduaan dengan Bima seperti ini saja sudah sangat bahagia, mendapatkan kabar berita baik keseriusan Bima sudah cukup untuk Reva, pertunangan hanya pelengkap saja.
Mobil Bima berhenti di dekat daerah sawah, Reva tahu tempat ini. Bima keluar dan meminta Reva mengikutinya. Tapi Reva takut, nanti ada ular sawah atau ada belut.
"Va sini!" Bima meminta Reva mendekatinya yang hanya diterangi oleh lampu mobil.
"Takut!"
"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan, mau tidak!"
"Mau!" Reva langsung melangkah keluar dan berdiri di depan mobil.
Bima naik ke atas depan mobilnya, membantunya Reva naik juga. Reva hanya membayangkan tempat ini paling enak untuk ciuman tapi tidak mungkin Bima melakukannya.
"Va, lihat ke atas." Bima menunjuk ke langit yang dipenuhi bintang.
Langit terlihat sangat terang, bertaburan dengan bintang dan ditemani oleh bulan. Di desa memang paling indah melihat langit yang penuh bintang, tidak bisa mereka temukan di kota.
"Indah ya Om, tapi kasihan bulan hanya sendirian."
"Bulan tidak sendiri Reva, dia memiliki bintang yang mendampinginya."
"Tapi bintang tidak bisa mendekatinya, bulan terlalu terang."
"Ya seperti kamu, banyak yang mendekati kamu tapi akhirnya kamu akan tetap memilih satu orang."
"Reva pilih Om, sebagai bintang yang tidak punya cahaya tapi keberadaannya ada. Karena bulan terlalu terang sehingga cahaya bintang tidak terlihat berada di sisinya."
"Jangan marah ya, kalau bintangnya akan hilang. Katanya saat ada cahaya lain di langit, cahaya bintang tidak terlihat."
Reva dan Bima menatap langit yang indah, Bima menoleh melihat Reva yang tersenyum melihat ke arah langit yang bertaburan bintang. Suara kembang api besar membuat Reva kaget. Bima berpindah pandangan ke langit, semuanya langsung berubah dengan warna-warna yang indah.
Suara teriakan Reva dengan penuh bahagia, dia sangat menyukai kembang api. Setelah semua cahaya yang cukup lama berwarna-warni di langit, Reva menatap Bima yang tersenyum.
Tangan Bim menunjuk lagi ke atas, Reva mengikutinya. Reva bisa membaca tulisan di langit sambil tertawa, Bima juga ikut melihat ke atas dan keheranan. Permintaan Bima untuk menjadi pacar.
__ADS_1
"Reva mau tidak menjadi pacarku by Indra!" Bima melongok kesal, sedangkan Reva cekikikan tertawa.
Tidak lama dari tulisan awal baru muncul tulisan I Will you marry me. Di sana baru tertulis nama Bima. Reva sangat bahagia sampai menangis. Tapi juga terlihat lucu dengan tulisan awal, wajah Bima juga sedikit kesal.
"Indra yang membantu Om ya?"
"Emhhh."
"Udah tua Om masih saja ngambek, Reva mau Om."
"Mau yang mana?"
"Menikah sama Om!" andaikan Bima tidak marah, mungkin Reva sudah menciumnya.
Beberapa lampu mulai hidup di dekat mereka, suasana gelap sudah berubah menjadi terang. Bima berusaha menghilangkan kekesalannya dengan tulisan Indra.
Bima memegang Bunga mawar putih dan memberikannya ke Reva. Kesekian kalinya Reva tersenyum bahagia dan kegirangan, Bunga kesukaannya.
"Cantik Om, Reva sangat menyukainya. Nanti di rumah kita tanam Bunga mawar putih dan kuning ya Om."
"Memangnya ada bunga mawar warna kuning, kalau merah banyak."
Bima mengulurkan tangannya meminta tangan Reva, dengan senyum Reva memberikan tangannya. Bima mengeluarkan cincin pernikahan kedua orangtuanya, cincin yang menjadi pengikat ibunya, Bima berdoa agar cincin ini muat di jari Reva. Reva menarik tangannya melihat cincin yang Bima pasangan, dia sangat terpesona melihat keindahan desain cincin yang sangat luar biasa indahnya.
"Cincin ibu ya Ayy!"
"Kamu tahu dari mana?"
"Dari desain! ini pembuatan sudah puluhan tahun, tidak ada yang bisa mengukir cincin seindah ini karena pembuatnya sudah tiada. Tapi karyanya masih sangat luar biasa."
"Apa sekarang waktunya kamu memuji karya orang Reva?"
"Ayah pasti sangat mencintai ibu, dan sebaliknya ibu sangat menjaga pemberian ayah."
"Yang menjaganya aku Reva!" Bima kesal kembali, dia memang tidak punya jiwa romantis, semuanya jauh dari kata romantis. Semua rencana dan usulan orang semuanya tidak berjalan mulus.
"Sekarang Reva pemiliknya! ini akan menjadi harta yang sangat berharga." Reva memeluk tangannya.
__ADS_1
"Va! ini hanya awal kita berjuang bersama, masih panjang jalan yang harus kita lalui. Akan banyak ujian dalam hubungan untuk ke jenjang serius."
"Iya Ayy! sekarang Reva tidak berjuang sendiri, kita akan saling memperjuangkan."
"Maaf jika acara lamaran yang kamu impikan, tidak seindah yang kamu harapkan. Aku bukan orang yang romantis."
"Reva tahu! Ayy tidak menyukai hal seperti ini, tapi tetap melakukannya demi Reva. Terimakasih Ayy."
"Ayy artinya apa?" Bima penasaran dari tadi mendengar ucapan Reva.
"Ayang!" Reva tertawa melihat kening Bima yang mengkerut.
"Lebay sekali Va!"
"Tapi Reva suka, ayang Bima." Reva mendekatkan wajahnya, tapi langsung mundur lagi. Bima tidak menyukai perempuan agresif.
Bima menahan tangan Reva yang ingin menjauh, wajahnya mendekati wajah Reva dan mencium keningnya. Mata Reva berkedip, benar kata orang ciuman kening terasa penuh kasih sayang.
"Izinkan aku menjaga kamu, sampai halal untuk aku." Bima mengelus rambut Reva perlahan.
Reva hanya tersenyum, senyuman Bima terlalu indah. Reva tidak rela membaginya dengan siapapun, mencintai seorang pria dewasa yang pikirannya sangat jauh dari hal tidak baik. Reva tidak mengerti terbuat dari apa pikiran Bima yang pasti dia sangat mencintai Om Duren.
"Kapan kita halal Om?"
"Secepatnya! Reva kamu harus bisa mengontrol diri. Ujian menuju pernikahan berat, menyatukan kepala kita berdua dengan sikap dan sifat yang berbeda."
"Jika dulu ada masalah, kita menghadapinya masing-masing. Tapi sekarang, masalah kamu akan menjadi masalah aku. Jangan menutupi apapun, paham!"
"Om sedang memperingati Reva ya, pasti banyak sekali wanita yang akan menyingkirkan Reva karena bisa bertunangan dengan Om."
"Va, kamu penting Windy juga penting. Kalian berdua menjadi pilihannya yang ingin aku pertahanan keduanya. Aku harus mengalahkan Brit untuk mendapatkan hak asuh Windy, aku tidak ingin kehilangan Windy lagi."
"Iya Ayy, aku tahu saat kalian berpisah. Di sana awal aku dan Windy bertemu, aku akan berada di sisi kamu untuk mendapatkan hak asuh Windy. Reva juga tidak rela kehilangan Windy."
Bima tersenyum, inilah yang membuat hati Bima luluh, sosok Reva yang dewasa soal Windy. Bima tertarik ke Reva sejak awal tapi tidak pernah menyadarinya, dia hanya berharap Reva menyerah. Tapi saat Reva menyerah, di sanalah dia kehilangan. Bima mencari hal yang hilang, belajar memulai dan mempertahankan. Dan sekarang Reva dan Bima berada diposisi ini.
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
***