MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
MASALAH LAGI


__ADS_3

VCLO grup sedang mengadakan rapat peluncuran produk, Viana sudah duduk di kursi kebesaran yang di dampingi oleh Sisi dan Clara sebagai sekretaris dan asistennya. Reva membuka pintu dengan membawa banyak berkas, melihat Reva masuk banyak wajah langsung berubah panik dan menundukkan kepalanya. Vi tersenyum melihat Reva tapi dengan cueknya Reva mengabaikan Vi, matanya tajam menatap setiap pimpinan perusahaan cabang VCLO.


"Sebenarnya siapa bos di sini?" Viana bergumam pelan membuat Sisi menahan senyum.


Rapat dimulai, belum sempat Vi meminta penjelasan soal desain tapi Reva sudah memotong ucapannya.


"Peluncuran dibatalkan!" Reva menatap Viana tajam.


"Alasannya?" Vi BINGGUNG sambil membawa ulang laporan yang sudah siap.


Reva menyerah berkas, Viana hanya menelan ludahnya melihat ketelitian Reva, sejauh mana Reva sudah mendalami soal desain, promosi, bahkan saham.


Terjadi perdebatan yang di lakukan Reva dan para divisi, semua pengajuan ditolak, Reva meminta semuanya merombak ulang dan hanya memberikan waktu dua hari. Keterkejutan para karyawan semakin menjadi, saat Vi hanya memberikan waktu satu hari. Semuanya keluar dengan wajah pucat dan siap gila, dipimpin oleh seorang Viana sudah mencengkram ditambah lagi pemimpin baru seorang ABG, rasanya mereka semua sedang di ujung jurang.


"Va, kak Vi merasa sekarang sudah tidak dibutuhkan lagi di VCLO." Viana menatap Reva yang masih sibuk menyusun berkas dan memisahkannya.


"Kenapa? masuk kantor juga jarang, sibuk mengurus hubby!" Reva menatap Vi sekilas dan melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Iya ya! menikah enak Reva, tidur malam tidak kedinginan, bangun tidur ada morning kiss." Viana tersenyum sambil membayangkan.


Reva menatap sinis dan melempar Viana dengan pulpen, mereka berdua tertawa tapi langsung terdiam lagi.


"Va! perasaan kak Vi tidak enak, seakan kita akan berpisah." Viana tersenyum tipis sambil memainkan pulpen yang Reva lempar.


"sama kak, Reva juga merasakan akan ada kehilangan tapi tidak tahu apa?" Reva menghentikan pekerjaannya dan mengigat mimpinya tadi malam yang menangis pilu. Reva juga masih memikirkan soal gadis kecil.


Reva dan Viana melangkah keluar, Vi pulang ke rumahnya sedangkan Reva masuk ke ruangannya. Masih banyak pekerjaan yang harus Reva kerjakan, karena Reva hanya masuk 4hari dan sisanya dia fokus kuliah.


Selesai makan siang Reva menuju, rumah mewah tempat dia dan Windy datang. Reva membunyikan bel dan seorang wanita paru baya membukakan pintu, dengan senyum manis Reva bertanya soal anak kecil.

__ADS_1


Windy melihat Reva dari balik pintu, karena dia hanya tinggal bersama bibi Ema saat Papi ke luar kota, rumah tidak diizinkan ada laki-laki karena Bima tidak ingin ada pria yang dekat dengan putrinya.


"Aunty Reva!" Windy berlari menyambut Reva yang jauh di dekat gerbang.


"Windy!" Reva menyambut pelukan Windy dengan penuh kelembutan.


Windy mengajak Reva masuk, Reva heran rumah sebesar ini tapi tidak ada penjagaan hanya saja di luar gerbang yang diawasi oleh bodyguard. Reva langsung bisa menyimpulkan jika ayah Windy sangat melindungi Windy dari pandangan laki-laki.


Menginjakkan kakinya memasuki rumah mewah, membuat Reva menganga, dia sangat mengagumi keindahan rumah ayah Windy dengan desain terbaik. Tapi Reva binggung, ruang terasa kosong dan hampa.


"ini rumah apa lapangan sepak bola?" Reva memandangi asisten rumah tangga sambil nyengir.


"memang banyak kosong mbak, karena pemilik rumah jarang di sini. Semenjak ada Windy saja sering pulang, rumah ini hanya menjadi tempat singgah."


Reva hanya menggagukan kepalanya, Windy bercerita pertemuannya dengan Papi, menceritakan keindahan dan kasih sayang Papi. Reva juga ikut bahagia melihat kebahagiaan Windy, tapi Reva meminta Windy merahasiakan pertemuan mereka. Karena bagi Reva sudah cukup lega bisa melihat Windy bahagia, dia mempunyai banyak kesibukan mengejar mimpi dan cinta. Pertemuannya dengan Windy cukup menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.


***


Bima berlari masuk ke dalam mobilnya, dengan kecepatan tinggi Bima menuju LOVER grup, keadaan Rama yang sedang kembali terpuruk membuatnya harus kembali ke tanah air tidak sesuai jadwal.


Sesampainya Bima langsung berlari ke dalam kantor dan melihat kekacauan perusahaan, Bima mengambil alih dan memberikan ketenangan. Bima tidak mengerti apa yang terjadi, mengapa Rama mengabaikan perusahaan dalam waktu satu minggu tanpa mengabarinya.


Dengan tatapan marah Bima langsung masuk ke ruangan Rama, Bima melihat Reva dan Rama. Bima binggung melihat Rama yang menangis dengan kepalanya berada di atas meja.


"Reva, katakan di mana Vi? kita sahabatan Va." Rama menghapus air matanya dan memohon ke Reva dengan tatapan sedih dan terluka.


"Aku tidak tahu Rama, kami memang sempat bertemu. Kak Vi menyerahkan VCLO padaku tapi tidak memiliki alasan." Reva menjelaskan ke Rama.


Reva memang bertemu Vi dengan wajah sedih Viana melepaskan VCLO yang di gantikan Reva, Vi tidak mengizinkan Reva bertanya lebih jauh soal alasannya. Reva tidak menyangka jika Vi akan pergi karena kasus dengan kecelakaan Tya yang ingin bunuh diri dan sekarang dalam keadaan koma.

__ADS_1


Bima menatap Reva mencari jawaban, sungguh Bima tidak mengerti yang terjadi. Kekacauan apa lagi yang harus dia lewati. Mengetahui jika Viana menghilang, Bima coba menghubungi Bisma yang sempat pergi ke luar kota bersama Rama, tapi nomor Bisma sudah tidak aktif lagi.


***


Sudah tiga bulan sejak hilangnya Viana, Bima sudah hampir stres melihat kekacauan perusahaan, belum lagi melihat Rama yang mirip orang gila mencari istrinya. Dengan keputusan terakhir Bima harus mengancam Rama untuk bertahan, jika Rama menolak Bima akan lepas tangan soal perusahaan LOVER.


Di Perusahaan lainnya, Reva sama gilanya. Dia hampir botak karena mengurus banyaknya masalah yang membuat saham naik turun, melihat pemimpin VCLO yang secara mendadak digantikan tanpa ada pemberitahuan. Reva juga sudah keluar dari kediaman orangtuanya dan tinggal seorang diri di sebuah apartemen milik Vi.


Reva menghela nafas, dia pusing harus mengurus perusahaan, belum lagi kuliah, menafkahi keluarganya. Reva tidak akan pernah menggunakan uang perusahaan dia hanya mengambil uang dari gajinya untuk keluarganya kecuali soal kuliah.


"Om Duren! Reva kangen." Reva teriak-teriak di dalam apartemen.


"Reva butuh semangat dari Om, tapi Om juga pasti lagi pusing mengurus Rama dan LOVER. Kapan Reva bisa menaklukkan Om, apalagi menikah! Kak Vi mengapa juga harus pergi, bikin masalah saja." Reva berguling-guling di atas kasur sampai terjatuh.


Handphone Reva berdering membuatnya tersenyum, walaupun menahan sakit. Melihat nama panggilan Reva langsung mengangkatnya.


[Om Bima! kangen Reva ya." Dengan senyum cengengesan Reva menggoda Bima.


[Saya mengirimkan kamu berkas, pelajari jika belum mengerti hubungi aku. Jangan sampai saham VCLO hancur, karena akan merusak image LOVER.] Bima mematikan panggilan sepihak.


Dengan tatapan kesal Reva membuang ponselnya, Reva mencaci-maki Bima yang hanya perduli perusahaan tanpa bertanya kabarnya.


***


TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA READER


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


__ADS_2