MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 MENGHILANG


__ADS_3

Reva tidak bisa tidur menatap Winda yang tidur nyenyak, Bima juga terdengar tidur dengan tenang, tapi membelakangi Reva membuat Reva semakin kesal.


Perlahan mata Reva terpejam, terbangun karena matahari bersinar dengan terang, Reva tidak melaksanakan sholat subuh, Bima tidak membangunkan.


"Astaghfirullah Al azim, Ay Bima marah sampai tidak membangunkan." Reva langsung keluar kamar, mencari seluruh orang.


Winda sedang mengobrol dengan ikan, Wildan dengan kebiasaannya memainkan komputer, Windy sudah pergi ke kampus, Stev juga sudah pergi ke kantor, tapi Reva tidak melihat keberadaan Bima.


"Winda di mana Papi?" Reva menatap putrinya yang sibuk sendiri.


"Pergi, tapi tidak tahu pergi ke mana? kata Papi sore nanti kita pulang.


Reva kembali ke kamar, menghubungi Windy menanyakan keberadaan Papinya, Windy hanya melihat Papinya keluar, tapi tidak mengatakannya apapun, Windy juga takut untuk bertanya.


Windy meminta Reva pergi ke butik, dia hanya sebentar di kampus, langsung ingin pergi ke butik. Reva mengiyakan mematikan ponselnya.


Menghilangkan kekesalan Reva menghubungi Bima, tapi tidak dijawab. Reva langsung cepat mandi, menemani kedua anaknya sarapan, barulah pergi ke tempat butik Windy.


Di kantor Stev sedang menyusun beberapa berkas, berjalan menuju ruang persidangan. Glen menepuk pundak Stev yang memang aneh dalam menangani kasus.


"Stev, tidak heran banyaknya orang yang tidak suka kamu soal kerjaan, bisanya kamu memilih kasus paling mudah." Glen tidak habis pikir, pengacara cerdas, berbakat tapi bisa melucu.


"Siapa bilang kasus ini gampang, karena ini sudah menyangkut perasaan." Steven membuka pintu melangkah masuk melihat seorang nenek yang putus asa.


Perebutan kekuasaan membuat seorang anak yang seharusnya menghilang beban orang tua, tapi menjadi anak durhaka yang menyakiti hati orang tuanya.


Bukannya menjadi orang yang menjaga, memperjuangkan kebahagiaan, tapi membuat kesedihan semakin dalam.


Sepasang lansia, dituntut oleh sebuah perusahaan tempat peminjaman uang mengadaikan rumah. Putra mereka memberikan jaminan, jika penagihan bisa kepada orangtuanya.


Mereka bukan hanya kehilangan rumah, tapi dilaporkan ke polisi dengan tuntutan penipuan.


Stev duduk mendekati nenek yang memejamkan matanya berdoa.


Mendengarkan keluh kesah, tangisan meminta kepada Tuhan bukan memiliki harta yang banyak, tapi diberikan kesempatan menghabiskan waktu bersama dengan suami tercinta.


"Nenek, kita akan memenangkan persidangan ini. Nenek duduk diam, tidak akan lama kalian bisa menghabiskan waktu bersama, jangan pernah pikirkan soal hutang piutang. Saya akan menjamin semuanya." Steven menggenggam tangan keriput yang hanya menyisakan kulit tulang saja.


"Terima kasih nak, nenek kakek sudah bersiap dengan semua resikonya. Cinta kami akan menjadi penyatu." Nenek menghapus air matanya.

__ADS_1


Steven melihat isi ponselnya yang baru saja mendapatkan pesan dari Bagus, senyum Steven terlihat, dia bisa menyelesaikan persidangan kurang dari 30 menit.


Persidangan di mulai, setiap ucapan Steven dipotong dengan teriakan, Stev menunjukkan bukti soal putra nenek yang selalu mabuk, main wanita, menghamburkan uang untuk keperluan tidak penting.


Stev menunjukkan beberapa bukti perusahaan yang menuntut, jika mereka sudah melakukan pencucian uang.


Stev tersenyum, melihat wajah pucat pemilik perusahaan, sudah Stev peringatkan, hentikan tuntutan, tanpa harus ke pengadilan, tapi peringatan Stev tidak didengarkan.


Bukan hanya perusahaan kecil yang Stev hancurkan, tapi membuat anak durhaka masuk penjara, mempertanggungjawabkan perbuatannya yang tidak menghargai perjuangan orang tuanya.


Stev tidak banyak basa-basi, langsung meminta keputusan hakim memberikan keadilan yang pantas, tidak ada yang berani menolak.


Jika Stev sudah mengambil sebuah kasus, diikuti dengan bukti yang sangat kuat, dia juga tidak segan membongkar kejahatan siapapun.


Sesuai dugaan Stev, semuanya akan berakhir selama 30 menit, seluruh orang meninggalkan tempat persidangan.


Stev melihat nenek masih duduk diam, menggenggam tangannya.


"Terima kasih semoga kamu bahagia."


"Amin." Stev tersenyum mengusap air mata nenek, langsung pamit pergi.


Mobil Stev melaju dengan kecepatan tinggi, menuju butik Windy. Reva memintanya datang dan berbicara, juga mencari keberadaan Bima.


Reva sudah berada di butik cukup lama, Windy datang bersama Wilona. Melihat Maminya yang sedang melamun, memikirkan keberadaan Bima.


"Assalamualaikum Mami?"


"Waalaikum salam sayang." Reva memeluk erat Windy, dia sangat mengkhawatirkan suaminya.


Reva menghubungi Papinya, tapi belum mendapatkan jawaban. Reva memijit pelipisnya merasakan pusing, melihat Wildan yang langsung memalingkan wajahnya.


Steven juga datang melihat Reva yang meneteskan air matanya, menanyakan apa yang terjadi.


Windy menceritakan jika Papinya pergi dari rumah, tidak biasanya Papinya menghindari masalah, berkali-kali dihubungi tapi tidak menjawab.


Steven meminta Reva Windy tenang, Stev yakin kak Bima sedang memastikan sesuatu. Stev yakin Bima tidak akan lari dari masalah.


Steven menghubungi Bima, langsung mendapatkan jawaban. Stev tahu nada bicara Bima sedang dingin sekali, sejak pembicaraan soal hubungan mereka, Bima mulai dingin, tidak seperti biasanya hangat dan menenangkan.

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar, Bima masuk melihat keadaan butik yang cukup ramai, seorang wanita seksi mendekati Bima mempertanyakan tujuan kedatangannya


Jeni kaget, ternyata ayahnya Windy, ketampanan Bima belum berkurang masih menjadi pusat perhatian banyak orang.


Suara ketukan pintu terdengar, Jen masuk kaget melihat Steven, Stev lebih kaget lagi langsung duduk menggenggam tangan Windy.


Steven heran, kenapa Windy menerima manusia jadi-jadian bekerja di butiknya, jika Stev yang belanja pasti langsung lari, mendengar suaranya saja menakutkan.


"Win cantik, ada Papi kamu?" Jen mempersilahkan Bima masuk.


"Papi."


Steven langsung melepaskan tangannya, berdiri melihat Bima yang masuk, Jeni langsung melangkah pergi menutup pintu kembali.


Bima menatap Winda dan Wildan untuk keluar bersama Wilona, Bima meninggalkan amanah kepada Wildan untuk menjaga adiknya.


"Dari mana kamu Ay?" Reva menatap tajam.


"Sudah Ay katakan Va, nada bicara kamu tolong di jaga."


"Papi dari mana? Mami khawatir." Windy mencium tangan Bima, memeluknya erat.


"Uncle Rama ada di sini, Papi menjemputnya di bandara, langsung ke hotel ada perkejaan."


Reva langsung menghubungi Viana, memastikan apa benar Rama sedang di luar negeri. Viana membenarkan, suaminya sedang melakukan perjalanan bisnis.


"Stev minta maaf, kak Bim sama Reva jangan bertengkar hanya karena pengakuan Steven Maafkan Stev kak Bim." Steven menundukkan kepalanya meminta maaf.


"Steven bisa kamu melepaskan Windy? kembali ke hubungan awal." Bima menatap Steven dingin.


"Jujur dari lubuk hati paling dalam, Steven tidak bisa kak Bim, tapi jika jawaban Steven lancang, atau ada kata-kata yang menyinggung mohon dimaafkan, setidaknya jika kak Bim melarang berikan alasan." Steven menatap mata Bima.


Suara hembusan nafas Bima terdengar, air mata Windy sudah menetas, kepalanya tertunduk melihat Stev yang berani menatap mata Bima.


"Alasan sudah kamu ketahui, Windy masih kecil."


"Itu bukan alasan Ay." Reva menatap suaminya yang tersenyum.


***

__ADS_1


__ADS_2