MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 TERTAWA


__ADS_3

Di dalam kamar rawat Steven menggenggam erat tangan Windy, menyatukan jari jemari mereka.


"Kamu sudah kenyang memakan tangan Wendy Stev?" Reva memotong buah, menyodorkan buah ke mulut Steven.


"Ikhlas apa tidak Mi?" Stev mengunyah buah di dalam mulutnya.


"Ikhlas, tapi aku belum memaafkan kamu." Reva mengarahkan pisau buah.


"Soal apa?"


"Menjadi menantu durhaka." Reva memakan buah sambil melotot.


Steven tertawa kecil, karena Windy masih tidur sedangkan Bima menjemput Winda di bandara.


"Kenapa kamu bisa tidak tahu istri sedang hamil? seharusnya lelaki yang paling tahu." Senyuman Reva terlihat menatap Windy sudah bangun.


"Emh, bulan kemarin masih ya sayang?" Stev coba mengigat.


"Windy terakhir haid sebelum menikah, setelahnya tidak ada." Windy tersenyum menatap Stev.


"Dasar lelaki tidak peka."


"Memangnya Papi peka?"


"Emh, tidak juga. Bima kalau Mami tidak menggodanya tidak merespon, mungkin lebih enak menggoda buaya langsung diterkam. Papi tidak menggunakan baju saja langsung bertanya, kamu tidak dingin. Mami rasanya ingin guling-guling dilantai." Reva tertawa, Steven sudah memegang perutnya melihat tingkah mertuanya.


"Mami tidak baik membicarakan hubungan suami-istri." Windy menutup mulutnya melihat Maminya.


"Tidak masalah Win, hanya kita bertiga saja." Reva tertawa kuat mengigat suami cueknya.


"Mami, Mami." Windy mencium pipi Reva.


"Stev pasti pria mesum, setiap hari minta terus."


"Suka sembarangan bicara." Steven melotot.


"Ay Stev juga tidak menyentuh Windy jika tidak digoda, komputer di depannya lebih menyenangkan."


Reva langsung menyentuh kening Steven, suara Reva tertawa terdengar karena Steven hanya gelar saja playboy, tapi hatinya Helloween.


"Stev mirip Helloween."


"Hello Kitty Mami." Windy tersenyum.


"Sudah berubah Windy, lelaki yang tidak mudah tergoda bernama Helloween gelap." Reva cekikikan tertawa.


Steven melempar kepala Reva dengan kulit buah apel, Windy sangat bahagia jika berada di sisi Maminya yang selalu membuat tertawa bahagia.


Reva tersenyum menatap Stev dan Windy langsung berbicara serius, meskipun Reva selalu bercanda sikap keibuan juga sangat terlihat.


"Steven, Mami bicara antara anak dan ibu. Mami hanya ingin berpesan kepada kalian berdua untuk ikhlas, perbanyak berdoa, bersyukur juga bersedekah. Mami sedih, kalian jauh lebih sedih, tidak ada yang menginginkan musibah ini, tapi bukan berarti kalian harus patah semangat." Reva menggenggam tangan Windy.

__ADS_1


"Insyaallah Windy ikhlas, melepaskannya, memperbaiki diri lagi." Windy menghapus air matanya.


"Sayang kamu wanita yang sangat kuat, jika Mami diposisi kamu tidak mungkin bisa bertahan menunggu lelaki yang sama, menanti cinta kalian berdua, bukan Mami inspirasi cinta tapi kalian." Reva menghapus air matanya.


"Kalian berdua jangan memikirkan lagi masalah ini, mulai tertawa lagi, meniti hari penuh kebahagiaan. Mami menunggu kabar baik dari kalian."


"Ingin berapa lama Mami?"


"Kapanpun, tapi boleh tidak jangan panggil nenek. Coba kalian perhatikan, Mami masih cantik, seksi, belum ada kerutan, mirip wanita tujuh belas tahun." Reva tersenyum memohon.


"Mami menyesal menikah dengan Om-om?" Windy menatap sambil menahan tawa.


"Astaghfirullah Al azim Windy, Bima lelaki yang paling Mami cintai, sudah love love sampai mati." Reva teriak kuat.


"Apa yang kamu lihat dari kak Bima?"


"Banyak, pertama kaya, banyak uang, bisnis sukses, bos, ini bonusnya sudah kaya tampan lagi, wanita bodoh yang menolaknya."


"Mami menikahi Papi karena Papi kaya?" Windy menahan tawa melihat Papinya di belakang maminya melipat tangan di dada.


"Tentu, Mami menyukai pria kaya." Reva tersenyum melihat ke belakang.


"Astaghfirullah, tidak Papi Mami mencintai Papi karena Sholeh, baik, taat beribadah, insha Allah jodoh dunia akhirat." Reva langsung memeluk Bima.


Suara Windy dan Steven tertawa lepas terdengar, Bima menatap Reva dingin. Mata Reva berkedip-kedip tersenyum sambil menggaruk kepalanya.


"I love you Papi."


"Santai, Reva kaya. Papi jangan mengambil hati, Reva hanya bercanda. Mami sudah membuktikan jika bisa menjadi istri yang baik, menjadi ibu yang baik juga, Papi jangan meragukan cinta Mami." Reva memeluk Bima menatap tajam Steven dan Windy.


"Terserah." Bima melepas pelukan Reva.


"Bima!" Reva teriak kuat.


"Ini istri yang menurut, panggil nama teriak kuat." Bima mengusap dada.


"Beraninya kamu melepaskan pelukan aku, tidak cinta lagi, siapa wanita yang berani mendekati kamu." Reva menatap tajam.


"Bicara apa kamu ini, sudah merambat ke mana-mana?" Bima langsung duduk.


Reva menatap tajam, langsung duduk di samping Bima mencium tubuh suaminya.


"Reva."


"Tidak ada bau parfum wanita, berarti aman " Reva langsung masuk ke dalam pelukan Bima.


Steven dan Windy hanya bisa terdiam melihat tingkah Maminya, jangankan untuk berpaling Bima bahkan tidak memiliki kesempatan untuk melirik.


Pintu terbuka, Wildan langsung masuk tersenyum menatap Steven dan Windy.


"Anakku." Reva langsung berdiri, dia lupa jika memiliki anak laki-laki.

__ADS_1


"Mami jangan teriak, kita ada di rumah sakit butuh ketenangan." Wildan mencium tangan Reva.


"Wildan kenapa kamu dingin sekali? kamu lahir dari rahim yang sama, tapi kenapa aku bisa lupa jika memiliki putra yang mulai remaja dan sangat tampan." Reva mencium wajah Wildan.


"Coba sekali saja kamu menangis." Reva menjentikkan jarinya di kening Wildan.


"Reva." Bima tidak suka Reva main tangan.


"Mami aneh, anak menangis diminta diam. Sekarang diminta menangis." Wildan langsung mendekati Windy.


"Sudah Wildan peringatan kak Windy harus mengurangi pekerjaan, mulai beristirahat. Kak Windy harus mulai peka terhadap perubahan tubuh kakak." Wildan mengusap punggung tangan Windy.


"Maafkan kak Windy Wil, kamu kehilangan keponakan pertama." Windy memeluk Wildan.


"Tidak kak, Allah sedang menguji kak Windy dan kak Stev. Allah mengambilnya kembali mungkin karena dia nakal."


Reva langsung tertawa, Steven juga tersenyum. Wildan mengerutkan keningnya melihat Maminya yang merasakan ucapannya lucu.


"Wildan mami ingatkan, mungkin sebentar lagi kamu akan memiliki keponakan yang berkali-kali lebih nakal."


"Astaghfirullah Reva, doa kamu bagus sekali?"


"Papi lihat Steven, dia nakal sekali."


"Kenapa harus melihat Steven? coba kamu berkaca kepada diri sendiri." Bima tersenyum melihat Reva cemberut.


Steven menahan tawa, Windy dan Wildan hanya tersenyum melihat tingkah Maminya yang mendapatkan teguran.


"Di mana Winda Pi?"


"Tidak ingin ke rumah sakit, dia masih marah langsung pulang ke Mansion."


"Hanya dia sendiri yang ke sini?"


"Tidak, ada Vira, Bella dan Billa juga yang menemaninya."


"Jum kak Vi tidak ikut."


"Mereka pergi bersama Tian, sekarang Bastian sedang membeli makanan."


"Jumitean ayu dan Viana Arsen di mana, sahabatnya Reva Pratiwi." Reva menggigit tangan Bima.


Bima menghela nafas, tersenyum mengusap kepala Reva memperlakukan sangat lembut, menjelaskan jika kedua sahabatnya tidak bisa datang karena mengikuti suaminya perjalanan bisnis, setelah pekerjaan selesai langsung ke Mansion Steven.


"Ya Allah semoga menantu dan putraku menilai betapa lembutnya sosok lelaki yang ada di hadapanku, sungguh aku menjadi wanita paling beruntung memilikinya. Bima aku mencintai kamu karena Allah." Reva bergumam di dalam hati, langsung memeluk erat Bima.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT JUGA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2