
Selesai sarapan Winda dan Ar langsung pamit ke rumah Mommy Daddy, menyapa keluarga yang lain.
Di luar rumah Winda sudah tersenyum mendengar suara Mommy yang sangat besar, Winda berjalan perlahan langsung melihat mommy yang merengek kepada Rama.
"Mommy Winda pulang." Teriakan Winda sangat besar, Viana juga teriak histeris. Rama sampai menutup telinganya.
Mommy langsung memeluk Winda erat, putri kesayangan yang sangat dirindukan. Viana sampai menangis, dia juga sangat merindukan menantunya yang berbulan-bulan tidak pulang.
Rama juga tersenyum langsung memeluk Ar, sangat bahagia melihat keduanya kembali, bisa berkumpul bersama keluarga besar.
"Daddy, Winda juga kangen Daddy." Winda memeluk Rama, senyuman Rama terlihat mengusap punggung Winda.
Viana juga memeluk Ar, merasakan rindu. Vi tidak mengizinkan Ar lagi pergi, mereka harus menetap dan tinggal bersama mereka.
Kepala Ar mengangguk, dia memang berencana untuk menetap, tinggal bersama keluarga besar.
"Mommy mendengar kabar kamu bertemu umi kamu?"
"Bukan ketemu lagi mom, dia datang membawa pelakor."
"Sialan, cari mati dia." Viana menatap tajam.
"Tenang Mom, dia berurusan dengan Winda, tidak mungkin tenang hidupnya." Senyuman licik Winda terlihat.
"Mommy, masalah dengan umi sudah selesai, sekarang umi sudah hidup bersama keluarga kecilnya. Ar merasa lega melihatnya, tidak punya beban dan rasa penyesalan lagi." Ar tersenyum, menggenggam tangan Viana.
"Benar Win?"
"Iya Mom." Senyuman Winda terlihat langsung ingin pamit menemui Bunda.
Viana mencium kening Winda, kagum melihat Winda yang semakin cantik, tubuhnya juga mulai berisi.
Rumah Bunda Jum juga tidak kalah ramai, kehadiran Bella yang setiap hati membuat masalah.
"Assalamualaikum Bunda, Winda pulang Bun." Winda teriak, suara langkah kaki Bunda Jum terdengar.
Winda langsung bersembunyi di balik sofa, Ar juga mengikuti Winda.
"Winda pulang."
"Kenapa sayang?"
"Winda pulang mas, tapi kenapa tidak ada?" Jum kebingungan langsung ingin menangis.
"Astaga kenapa menangis? kamu sudah tua Jum mungkin saja mulai tuli." Bisma tertawa memeluk istrinya yang meneteskan air matanya.
Winda langsung berjalan, memeluk Jum dari belakang. Bisma terkejut langsung tersenyum.
"Ayo tebak siapa?"
__ADS_1
"Winda, kamu pulang nak." Air mata Jum langsung mengalir.
Winda memeluk erat, meneteskan air matanya yang juga rindu dengan Bunda yang selalu mengkhawatirkannya.
"Winda pulang Bun, kangen Bunda." Jum langsung mencium wajah Winda.
Ar juga tersenyum langsung mencium tangan Bisma, memeluknya. Bunda juga memeluk Ar.
"Kalian akan menetap?"
"Tentu Bunda, kita akan tinggal bersama keluarga."
"Alhamdulillah, kalian sudah makan belum, bunda masak ayo makan bersama."
"Winda akan mencicipi masakan bunda, tapi Winda ingin melihat penyihir dulu." Winda tertawa menunju kamar Bella.
"Dia ada di kamar Tian Winda."
Tian keluar dari kamar, kaget melihat Winda langsung melangkah memeluk si bontot yang sudah lama tidak melihatnya.
"Alhamdulillah kamu pulang Win, kita semua menunggu kamu."
"Iya kak Tian, pulang juga dadakan."
Tian langsung memeluk Ar, tersenyum menyambut kepulangan Ar yang berhasil membawa pulang cinta Winda.
"Ar Tian, ayo makan dulu sayang. biarkan Winda dan Bella berbicara."
Di kamar Bella masih sibuk dandan, Winda membuka pintu tersenyum melihat Bella yang hobi make up.
"Bella."
"Apa, cantik tidak." Bella terkejut melihat Winda, lipstiknya langsung tercoret ke pipi.
Suara tawa Winda terdengar memegang perutnya yang mereka lucu melihat wajah Bella, melihat perut Bella yang sudah besar.
"Winda, kapan kamu pulang?"
"Subuh tadi, kenapa wajah kak Bel mirip ondel-ondel?" Winda tertawa terpingkal-pingkal merasa lucu melihat tingkah Bella dari pagi sudah membuat masalah.
Bella meminta Winda untuk membersihkan wajahnya, langsung memberikan pembersih wajah.
Winda langsung duduk, menghapus makeup Kakak sepupunya. Air mata Bella menetes, dia sangat bahagia bisa melihat Winda kembali, tawa Winda yang khas membuatnya terhibur.
"Kak Bel kenapa menangis?"
"Rindu, kak Bel merindukan kamu." Bella langsung memeluk Winda, keduanya langsung berpelukan saling melepaskan rindu.
Winda menyentuh perut Bella yang sudah masuk bulan ke tujuh, mereka juga akan mengadakan syukuran tujuh bulan untuk twins.
__ADS_1
"Jenis kelaminnya apa kak?"
"Belum tahu Win, aku dan kak Tian memang ingin melihat saat mereka lahir saja, cukup kita tahu mereka sehat." Bella melihat perutnya yang besar.
"Alhamdulillah, kita dapat twins lagi. Doakan Winda juga kak, biar cepat menular. Amin." Winda mencium perut buncit Bella.
"Amin, gas pool terus Win, proses pembuatan mereka juga siang malam dipupuk." Bella tertawa.
Suara Ning terdengar, pintu terbuka. Binar tersenyum melihat Winda langsung memeluknya.
Winda juga langsung menggendong Bening, mencium pipinya. Winda sangat bahagia melihat si cantik yang sangat ceria.
"Apa kabar Winda?"
"Alhamdulillah baik kak." Winda berjalan ke luar ingin bertemu Tiar.
Di bawah sudah ramai, Viana meminta Ravi Kasih datang, Billa Erik juga kecuali Wildan dan Vira yang tidak mendapatkan kabar kepulangan Winda.
Winda langsung memeluk Ravi, senyuman Ravi terlihat melarang Winda untuk pergi, karena rasanya sepi tanpa Winda.
Kasih juga memeluk Winda, meneteskan air mata terharu karena tidak bertemu.
Raka dan Elang juga memeluk Winda, berbeda dengan Asih yang lanjut tidur di sofa.
"Kak Erik, apa kabar?" Winda memeluk Erik yang sedang menggendong Embun, mata Em masih terpejam menolak untuk bangun.
Rumah sangat ramai menyambut kepulangan Winda dan Ar, bahkan mereka tidak punya persiapan karena pulang tanpa kabar.
Billa melihat Winda dari kejauhan, air matanya tidak berhenti menetes karena sangat merindukan Winda.
"Hai baby Tiar, subhanallah ganteng sekali kak Tama." Winda mencium pipi baby yang sudah berusia empat bulan.
"Selamat datang Aunty Winda, jangan pergi lagi." Tama tersenyum mengusap kepala Winda.
Tatapan Winda terarah kepada Billa, langsung berlari memeluk kakak sepupunya satu lagi. Tangisan Billa langsung terdengar, Winda juga menangis karena sangat merindukan sahabatnya.
Bella juga langsung memeluk Winda dan Billa, ketiganya menangis melepaskan rindu. Mereka tidak terbiasa berpisah, tapi kali ini berpisah dalam kurun waktu yang sangat lama.
Semua yang melihat juga menangis, terharu melihat ketiganya belum lagi datang satunya mungkin akan banjir air mata.
Viana mengusap kepala ketiganya, meneteskan air matanya karena bangga bisa menanamkan arti persaudaraan kepada anak-anak mereka.
Semuanya memeluk Viana, pagi-pagi sudah banjir air mata bukan air mata kesedihan, tapi rasa bahagia dan syukur atas keharmonisan keluarga.
Ar juga tersenyum sangat bahagia, bisa memiliki keluarga yang sangat harmonis.
"Di mana Vira?"
"Dia tidak tahu kamu pulang, mereka berdua lagi romantisnya, pagi seperti ini sedang beres-beres rumah, masak berdua. Tahu sendiri bucinnya Vira, ditambah lagi Wildan yang mulai ikut-ikutan." Billa menghapus air matanya.
__ADS_1
***
EPISODE BERTEMU VIRA CEK DI SUAMIKU MASIH ABG