MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
PUTRI KECIL


__ADS_3

Mobil Bima melaju dengan kecepatan sedang, dia menuju sebuah gedung yang sudah tua, tapi belum sampai dia Di sana mobilnya di dikelilingi beberapa mobil sehingga dia terpojok dan memberhentikan mobilnya.


Seseorang bertumbuh tegap mengedor pintu mobil, Bima akhirnya memutuskan keluar.


"Saya tidak akan basa-basi lagi tuan Bima," ucap Ammar.


"Siapa kalian?" tanya Bima.


"Di mana tuan Rama?" tanya Ammar.


"kamu ternyata bodyguard Rama yang dikirim Vi, tapi kau gagal melindungi Rama." Ucap Bima


"ya hari itu, aku kehilangan jejak mobil Rama, karena ada kecelakaan tapi saya tahu yang membawa mobil itu bukan Rama." Ucap Ammar.


"Rama baik-baik saja, dia bersamaku." Jawab Bima.


"Kau akan membuat Viana MENGGILA!" teriak Ammar.


"Aku tahu! tapi aku dan Rama harus menangkap Ramon atas kematian orangtua Rama." Jawab Bima dengan nada tinggi.


"Kami bisa melakukannya," jawab Ramon.


"Kau ingin Viana membunuh mu, jika Rama tahu siapa Viana di bisnis gelap, apa kamu pikir Rama akan tetap bersamanya?" tanya Bima.


"tunggulah sebentar lagi, Rama akan kembali dan membuat Ramon mendekam di penjara, setelah itu kehidupan Rama dan Viana akan tenang," ucap Bima.


"Baiklah! aku akan mengawasi kalian." jawab Ammar.


"rahasiakan ini dari Vi, dan lebih baik kamu menjaga Viana sebelum dia semakin banyak membunuh orang. " Bima melangkah ingin pergi.


"Nona Vi tidak pernah membunuh, hanya saja membuat orang hidup tapi seakan-akan mati," jawab Ammar.


***


Bima dan Rama sedang berdiri mendiskusikan penangkapan paman Rama, Bima memukul kepalanya membuat Rama keheranan dan tersenyum.


"Apa Reva selalu hadir diingatan kak Bim? sekarang ada yang bisa membuyarkan konsentrasi seorang Bima." Rama tersenyum, Bima pria yang sangat dingin dan cuek pasti sangat seru melihat kekacauan, yang Reva perbuatan jika mereka bersatu.


"Siapa Reva? jangan bahas masalah lain, kita selesai ini secepatnya."

__ADS_1


Bima menyerahkan semua file dan berkas yang akan menjerat Ramon. Rama melihat catatan kecelakaan orang tuanya bahkan dirinya.


Terukir senyum juga kesedihan, Bima bisa merasakan sakitnya Rama. Dia juga sama terpukulnya saat mengingat kejadian masa lalu.


Rama menyerahkan semuanya ke Bima untuk menyerahkan nya ke kantor polisi setelah itu mereka akan melakukan konferensi pers tentang kecelakaan Rama dan menjelaskan detail kejadiannya di depan publik.


Bima menyerahkan semua laporan ke polisi dan dalam hitungan jam, polisi sudah bergerak dan mengepung kediaman Ramon.


Ramon yang tidak mengetahui apa yang terjadi binggung dan coba melarikan diri, tapi pelarian gagal karena puluhan polisi sudah mengepung.


Berita penangkapan Ramon tersebar di publik, kecelakaan pemimpin utama LOVER juga terkuak, serta kecelakaan penerus perusahaan LOVER, banyak orang yang mencaci-maki Ramon.


Bima tersenyum masalah Rama akhirnya selesai, dia bisa bersatu dengan Viana dan memulai semuanya dari awal. Bima hanya mendoakan semoga Vi selalu bahagia, Bima menatap senjata yang Viana gunakan teringat tindakan gila Brit yang hampir membunuh Vi.


***


Reva menangis bahagia, melihat pemberitaan Rama kembali dalam keadaan sehat dan tidak terluka sedikitpun. Dengan senyum indahnya Reva keluar dari kantor ingin bertemu para sahabatnya, Reva menggunakan sepeda motor melewati jalanan yang ramai.


Sebelum tiba Reva menyempatkan diri membeli beberapa bahan makanan untuk anak panti, sebagai janji dan nazarnya untuk selalu bersedekah dengan hasil gajinya, dan rasa syukurnya karena sahabat kembali.


Sebuah tangan kecil memegang baju Reva sambil tersenyum, terlihat giginya yang ompong. Reva langsung berjongkok dan memeluk gadis kecil yang sangat lucu.


"cari rumah Papi," Windy menunjukkan sebuah alamat ke Reva, yang ternyata alamat tidak jauh dari rumahnya, hanya saja alamat Papi Windy berada di kawasan elite.


Dengan senang hati, Reva menawarkan diri untuk membantu Windy, senyum bahagia dan lompat-lompat terlihat di wajah gadis yang berusia 5tahun. Reva meminta pesanan di antar ke alamat rumah panti untuk di bagi-bagikan.


***


Reva dan Windy tiba di sebuah rumah yang sangat besar, tapi terlihat kosong. Berkali-kali Reva menghidupkan bel rumah, Windy sudah tertunduk sedih.


Seorang wanita paru baya keluar, dan mengatakan jika pemilik rumah sudah beberapa hari belum kembali. Air mata Windy keluar, dia ingin masuk dan bertemu Papinya.


Dengan terpaksa Reva membujuk Windy untuk kembali keesokan harinya, Reva bersedia menemani Windy untuk bertemu Papinya.


Akhirnya Windy setuju dan melangkah pergi, Reva mengantar Windy pulang ke rumah. Dari kejauhan Windy berlari melihat ibunya yang membawa koper besar, masuk ke dalam taksi. Windy berlari mengejar taksi, membuat Reva ikut berlari menangkap tubuh kecil Windy, matanya sudah penuh air mata tangisan Windy sangat memilukan untuk Reva.


"Bunda! Papi!" tangisan Windy pecah, Reva menggendong dan memeluk erat tubuh Windy dan sesekali air mata Reva ikut menetes.


Sakit sekali hati Reva, melihat gadis kecil yang kehilangan kasih sayang ibunya. Kenapa dia dilahirkan, kenapa disia-siakan, dia hanya gadis polos yang tidak berdosa.

__ADS_1


Karena terlalu banyak menangis, Windy tertidur. Reva meminta bantuan asisten rumah tangga menjaga Windy, besok Reva akan menemani Windy untuk bertemu Papinya.


***


Bima berdiri di depan sebuah sekolah TK, tangannya memegang foto Putri kecilnya. Dari jauh Bima melihat gadis kecilnya berjalan, sambil menundukkan kepalanya. Di depan gerbang sekolah, Windy berbalik arah tidak ingin sekolah. Bima langsung berjalan dan berdiri di depan Windy.


"mau ke mana?" Bima bicara tapi Windy hanya diam saja sambil menunduk.


Bima langsung berjongkok, mengangkat dagu Windy melihat kearahnya. Mata kecil yang melihat wajah lelaki yang selalu dia rindukan, Windy mengucek matanya berharap bukanlah mimpi.


"Papi!" bibir mungil Windy bergetar.


Bima langsung memeluknya, menggakat tubuh Windy dalam pelukannya. Bima membawa Windy ke dalam mobil, menghibur hati putrinya yang sedang bersedih. Bima tahu Brit melarikan diri dan meninggalkan Windy.


***


Bima tersenyum bahagia, melihat Windy berlari masuk rumahnya yang besar. Dengan leluasa Windy berlari kesana-kemari dengan tawa bahagia. Bisma yang baru sampai rumah juga tersenyum melihat kebahagiaan Windy.


Windy melihat Bisma yang menatapnya tajam, melihat Bisma Bima hanya bisa menghela nafas. Bisma seperti boneka santet, tidak diundang dan datang tiba-tiba dan pergi tiba-tiba.


"Papi! kenapa papi ada dua?" Windy menunjukkan jarinya.


"Dia Uncle Bisma sayang, dia adik Papi."


Windy tersenyum sambil manggut-manggut, sekilas melihat Bima sekilas ke Bisma. Windy mencari perbedaan diantara keduanya yang sangat mirip.


"Papi matanya teduh dan lembut, tapi uncle sangat keras dan menjengkelkan." Windy memberikan penilaian.


"ehhhhh bocah! sok tahu!" Bisma melangkah pergi.


***


CERITA MENGEJAR CINTA OM DUREN DIPERCEPAT YA, TAPI TETAP MEMASUKI SEDIKIT CUPLIKAN DARI SUAMI MASIH ABG. SETELAH NYA FOKUS BIMA DAN REVA.


***


TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA READER


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP.


__ADS_2