MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
PENGAKUAN CINTA


__ADS_3

Mobil Rama tiba di kediaman Jum, Bima langsung lari keluar masuk ke dalam rumah membuat Viana melongo. Beberapa orang juga menatap binggung kearah pria yang wajahnya mirip dengan pengantin.


"Hubby! Bima lupa sama anaknya ya?" Viana melihat Windy yang masih pura-pura tidur bersama Ravi Karena berharap ada yang mengendong mereka


"Biarkan mom, dia masih mengkhawatirkan Reva. Kak Bim pasti kecewa banget menjadi orang terakhir yang tahu.


"Ayo anak-anak keluar!"


"Mommy duluan saja!" Ravi masih asik memejamkan matanya, sambil sesekali mengintip berharap ada yang datang.


Bima sampai di dalam melihat Tya langsung mendekati, tatapan khawatir terlihat. Tya juga menatap aneh.


"Di mana Reva?"


"Kamar pengantin, mau aku panggilkan."


"Di mana letak kamarnya?" Bima langsung berlari mengikuti arahan jari telunjuk Tya yang mengarahkan sebuah kamar.


Suara pintu terbuka mengejutkan yang berada di dalamnya, Reva kaget saat ada yang menarik tangannya masuk kedalam pelukan yang aroma tubuhnya sangat Reva kenali.


"Ayy!"


"Kenapa kamu tidak jujur Va?" Bima melepaskan pelukannya, melihat wajah Reva dan melihat tangan Reva takutnya ada luka.


"Mengapa kamu diam saja tidak memberi kabar jika kamu diserang." Wajah panik Bima terlihat sambil menangkup wajah Reva yang tersenyum.


Reva mengalungkan tangannya dileher Bima sambil memonyongkan bibirnya. Andaikan susah halal, Bima sudah menciumi Reva.


"Cium ayy!"


"Reva!"


Bibir Reva langsung manyun dan cemberut. Bima kembali memeluk Reva sambil mengelus punggung. Rasa rindu dan khawatir menjadi satu, Bima lupa lagi di ruangan pengantin, ada orang tua Jum.


"Lepasin!" Reva mendorong tubuh Bima, karena melihat Bisma geleng-geleng.


Bima melepaskan Reva, mencium kening Reva lembut sambil tersenyum.


"Sabar ya sampai kita menikah. Aku sangat menghormati kamu dan menjaganya, aku mencintai kamu Reva." Bima menatap dalam kearah mata Reva yang melotot.


Arrrrrgggghhhhh arrrrrgggghhhhh...


Teriakan Reva menggema, Bima langsung menutup telinganya. Jum, Bisma dan kedua orangtua Jum juga menutup telinga. Pintu langsung terbuka karena yang di luar kaget mendengarkan teriak. Reva lompat-lompat kesenangan dan memeluk Bima.

__ADS_1


Cepat Bima menutup mulut Reva yang suaranya cempreng, Reva langsung diam. Bima melihat sekeliling ruangan dengan wajah meminta maaf juga menahan malu, Bima tidak menyadari jika sedang berada di kamar pengantin.


"Kalian berdua! tidak ada tempat lain ya untuk mengatakan cinta. Kalian pikir kita tembok." Kesal Bisma menatap Reva yang dibalas melotot.


"Maaf ibu bapak, saya tidak sopan." Sesal Bima meminta maaf ke orangtua Jum.


Kedua orangtuanya Jum tersenyum, bapak Jum menepuk-nepuk pundak Bima sambil tersenyum dan melirik Reva yang cengengesan.


"Kalian kembar tapi sifatnya kebalikan, dan Reva sangat cocok melengkapi hidup kamu agar lebih berwarna."


Dengan wajah malu, Bima mencium tangan kedua orangtuanya Jum. Reva masih tersenyum bahagia, Jum juga tersenyum melihat Reva yang seperti sedang menang lotre.


Bima berbicara dengan kedua orangtuanya Jum, Reva celingak-celinguk mencari seseorang membuat Jum dan Bisma saling pandang.


"Cari apa Lo cempreng?" ucap Bisma.


"Anak gue mana?" Reva mencari keberadaan Windy.


"Ayy Windy! ayy kalah ya dipersidangan. Lakukan banding ayy." Reva memukul lengan Bima sambil matanya berkaca-kaca.


"Windy...." belum selesai Bima menjawab Reva sudah cemberut langsung keluar, Bima langsung permisi mengejar Reva.


Reva keluar meninggalkan Bima yang belum selesai bicara. Reva ke luar rumah dengan air matanya, dadanya terasa sesak. Reva takut Windy menderita ditangan Brit.


"Anak mami!" Reva memeluk Windy penuh kasih sayang.


"Bima gila Reva." Teriak Viana tidak kalah kuat dengan wajah cemberut.


"Kenapa kak Vi? Bima selingkuh ya, dia berani macam-macam di belakang Reva."


Rama hanya geleng-geleng kepala dan menjentikkan jarinya ke arah kening Reva yang suka bicara sembarangan.


"Gue cuman mau bilang, Bima melupakan anaknya yang masih tdi mobil. Gila bukan!"


"Kak Viana!"


Suara perdebatan Reva dan Viana membuat banyak orang tertawa, tapi yang mengenal mereka hanya bisa geleng-geleng dan mengelus dada.


***


Di dalam kamarnya, Jum sedang di dandan oleh Reva dibantu juga oleh Viana. Keduanya sibuk merubah wajah Jum menjadi seorang ratu, polesan tangan Reva membuat Viana kagum, bukan hanya baju yang yang luar biasa indahnya tapi make up yang tidak memperlihatkan sosok Jum yang polos.


"Ini Jum, cantik sekali." Jum memuji dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kamu sudah cantik dari lahir kak Jum, ini hanya sedikit polesan." Reva tersenyum sambil memasangkan mahkota kecil.


Di dalam ruangan, Bisma cukup gelisah Bima menepuk pundaknya memberikan ketenangan. Tangan Bisma mendadak dingin dan jantungnya berdegup kencang.


"Grogi kak, Bisma tidak percaya diri." Bisma menggenggam tangan Bima yang tersenyum.


"Ucapkan setulus hati kamu Bisma, setulus cinta kamu kepada Jum."


"Mohon doa restunya kak, hanya kakak satu-satunya keluarga Bisma."


Bima memeluk adiknya yang juga membalas pelukannya, rasa haru sebelum ijab qobul terasa melalui Bima dan Bisma.


Jum sudah keluar dari kamar pengantin, Bisma tidak sanggup memandangi Jum, tangannya masih kuat menggenggam tangan Bima. Bima berkali-kali memberikan ketenangan sampai Bisma melepaskan tangannya menyambut tangan bapak Jum.


Acara ijab qobul sudah dimulai, Bisma mengucap dengan lantang dan sekali nafas. Seluruh saksi mengatakan SAH. Bima tersenyum bahagia, Bisma dan Jum bernafas lega dan tersenyum. Saat menyalami kedua orangtuanya Jum menangis dalam pelukan ibunya. Bisma belum percaya jika dalam hitungan menit dia mengubah status menjadi seorang suami.


"Selamat ya Jum, kamu sekarang sudah menjadi seorang istri, suamimu bertanggung jawab penuh atas diri kamu. Jadi istri yang salehah nurut sama suami." Ibu Jum menangis merelakan putrinya menjadi milik Bisma seutuhnya.


"Bisma bapak titip Jum, sekarang tugas seorang bapak mengantar putrinya menikah dengan lelaki yang tepat telah selesai. Bapak percaya Bisma bisa menjadi imam yang baik."


Bisma juga memeluk Bima membuat air matanya menetes. Bisma terisak di dalam pelukan kakaknya. Akhirnya orang yang paling Bisma sayangi menjadi kekuatan untuknya meniti hari bahagia.


"Kak Bim! Bisma rindu ibu dan ayah. Dulu ibu janji akan mendampingi kita sampai bertemu jodoh, tapi ibu bohong meninggalkan kita saat masih kecil."


"Ibu pasti sedang bahagia melihat kamu bahagia, kirim doa untuk ibu dan katakan hari ini kamu mengabulkan keinginan ibu untuk berumah tangga. Ayah juga pasti bangga sama kamu, Bisma yang manja dan nakal kini sudah menjadi suami yang siap membimbing istrinya dan anak kalian nanti."


Semua orang yang menyaksikan ijab qobul Jum dan Bisma menagis terharu.


Reva dan Viana saling peluk, Tian yang duduk jauh bersama Ravi dan Windy juga tersenyum tidak mengerti. Mereka mengikuti hari bahagia oarng tua Tian.


"Tian, nanti kamu tinggal di dekat rumah Ravi ya. Kita bisa bebas bermain. Selama ini Ravi hanya bermain bersama ular."


"Panggil Kaka aku lebih tua, kamu hebat sekali mainnya ular." Tian menggelengkan kepalanya.


"Hanya beda berapa tahun, yang tua kak Windy."


"kenapa jadi ngatain Windy!"


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2