MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 TERLAMBAT MENYADARI


__ADS_3

Bulan bersinar indah, Winda duduk di balkon sambil mencoba menenangkan pikirannya. Panggilan dari Vira masuk, bahkan bergabung dengan Bella dan Billa.


Winda tersenyum langsung menjawab melihat Bella yang sudah bersiap untuk tidur, Billa yang sedang melakukan perawatan wajah, sedangkan Vira masih duduk santai di balkon kamarnya.


[Di sana sudah tengah malam Win? jangan di luar rumah nanti masuk angin.] Billa tersenyum melihat Winda yang diam saja.


Perlahan air mata Winda menetes, semuanya langsung diam melihat Winda yang ingin bercerita.


Masalah lama yang sudah Winda sembunyikan dari banyak orang, bahkan kedua orang tuanya. Tatapan Vira langsung tajam, ternyata inilah masalah yang Winda pendam, saat dirinya hampir menjadi korban pelecehan.


Ternyata masalah lama ada sangkut pautnya dengan Ar dan Ummi, Winda berpikir hanya dirinya yang tersakiti, tapi ternyata banyak juga yang terlibat.


Wildan muncul, menatap adiknya yang mengusap air mata. Wildan meminta maaf jika tidak menceritakan apapun, apa yang Wildan lakukan demi kebaikan Winda.


Karena takut Winda trauma, akhirnya Wildan memutuskan untuk menutup kasus yang sudah lama terjadi.


[Maafkan kak Wil Winda, seharusnya kamu terbuka sejak awal kepada kita semua sehingga konflik ini tidak berkepanjangan.]


[Iya kak, bahkan Winda berurusan dengan Josua, membuat Ar marah.]


[Josua, siapa dia?]


[Keluarga Arlando, dia pengagum rahasia mami.]


[Arlando, apa mungkin Joseph? dia juga ada di bar saat itu, tapi mereka hanya diminta keterangan, karena tidak terlibat apapun.]


Bella meminta Winda berhenti menangis, dia tidak bisa melihat orang sedih, sehingga akan menangis juga.


Billa juga menyemangati Winda, dia harus lebih terbuka kepada Ar, apa yang dia lakukan demi Winda.


Vira mengusap air matanya, seharusnya mereka selalu bersama tidak boleh berpisah sehingga tidak ada yang akan menyakiti Winda.


Kejadian sepuluh tahun yang lalu bertepatan dengan kepergian Bella dan Vira ke Roma, mereka meninggalkan Winda dan Billa yang mengalihkan perhatian keluarga.


[Maafkan kak Vira, tidak bisa melindungi kamu Win.]


[Winda yang minta maaf, karena tidak terbuka dengan kalian. Maafkan Winda, sekarang bagaimana? Ar masih marah, dia bahkan menangis.] Winda mengacak rambutnya.


Vira dan Wildan kaget Ar sampai menangis, selama Wildan mengenal Ar dia pemuda yang kuat, sabar, juga tidak pernah menunjukkan kesedihannya.

__ADS_1


[Minta maaf Win, kamu tahu artinya jika laki-laki marah sampai menangis berarti dia sangat terluka.] Billa menyarankan Winda untuk bicara lebih dulu, soalnya jika dibiarkan mengundang pelakor.


Vira setuju dengan ucapan Billa, laki-laki jika sudah kecewa pasti menerima wanita lain yang memberikan kenyamanan.


[Ar tidak seperti itu, dia tidak mudah tergoda rayuan pelakor. Sudah Winda ingin tidur.] Winda mematikan panggilan, langsung melangkah ke kamarnya.


Langkah Winda pelan, langsung masuk kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Menganti baju barulah tidur di samping Ar yang memunggunginya.


Winda tidak bisa tidur, melihat Ar yang tidak bergerak. Menyentuh pundaknya, melihat wajah Ar yang pucat.


Winda pindah posisi tidur, menatap wajah suaminya. Mengelus wajahnya, mencium hidung mancungnya.


"Kamu selalu mengatakan, aku dan Ummi pilihan terberat dalam hidup kamu. Maafkan aku yang selalu mengikuti ambisi diri sendiri, tidak tahu jika menyakiti kamu lebih dalam lagi. Jika Winda di posisi kamu mungkin akan membunuh banyak orang." Mata Winda terpejam, menarik tangan Ar untuk memeluknya.


***


Winda terbangun tidak melihat Ar lagi di tempat tidur, langsung cepat Winda sholat selesainya langsung berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


Meskipun dirinya tidak mengerti, Mami juga terbangun melihat Winda yang kebingungan cara memasak.


"Kamu ingin memasak untuk Ar?"


"Ar sudah pergi sejak tadi, dia bahkan membawa baju salinan."


Winda menatap lemas, dia tidak tahu apapun soal Ar, bahkan orang-orang yang terlibat di kantor juga orang-orang penting terdekat Ar.


"Mami lanjutkan masaknya, Winda ingin ke kantor." Langkah kaki Winda berlari untuk mengganti bajunya.


Mobil Winda melaju dengan kecepatan sedang, dia memilih jalan santai, karena ramainya pengendara.


Sesampainya di kantor sudah ramai, Winda langsung masuk ke lift khusus untuk menuju ruangan suaminya.


Di dalam lift Winda bertemu sekretaris Ar, dia mengenal Winda karena ada foto di ruangan bos-nya.


"Permisi Bu bos, mencari tuan Ar?"


"Iyalah, tidak mungkin mencari suami baru." Winda menatap tajam, langsung berlari ke ruangan Ar.


Langka Winda terhenti mendengar pembicaraan Ar dengan seorang wanita, langka Winda langsung mundur.

__ADS_1


"Bu, masuk saja. Jangan ragu, karena istri tuan lebih penting dari segalanya." Sekretaris mengetuk pintu, mempersilahkan Winda untuk masuk.


Senyuman Winda terlihat, tetap berdiri di depan pintu menunggu. Secara tiba-tiba pintu terbuka, Ar meminta Winda masuk.


Sekretaris Ar menahan tawa, tuannya sudah tahu jika kedatangan tamu terhormat. Lucu juga melihat Winda yang tidak ingin membuka pintu, tapi dibukakan.


Winda melangkah masuk, melihat seorang wanita yang ada di hadapan Ar. Tatapan Winda tajam, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Riska, apa yang kamu lakukan di sini?"


Air mata Riska meneteskan, memohon kepada Ar agar tidak memasukannya ke dalam penjara. Dia mengakui sudah memanfaatkan Winda untuk keuntungan pribadi.


Kecelakaan yang menimpa Ranty juga dirinya yang menyebabkan, dia sengaja mengirim Ranty untuk merusak rumah tangga Ar.


Winda hanya terdiam, mendengar pengakuan Riska, jika sebenarnya dia bukan korban dari bar, tetapi seorang ilmuwan yang menciptakan obat untuk uji coba.


Dirinya berhasil berpura-pura menjadi korban, juga bisa dekat dengan Winda. Tetapi jarak mereka terbatas, karena kehadiran Ar dan Wildan.


Riska terus bersembunyi, mengalihkan kasus yang menimpa Winda. Membuat drama sehingga mengecoh Winda.


"Maafkan aku Winda."


Tamparan kuat terdengar, Winda sudah memberikan kepercayaan juga rasa perduli, tetapi kepercayaan dihancurkan.


Kasus yang sudah lama diselesaikan oleh kakaknya, tapi di putar balikkan Riska menyalahkan keluarga Arlando agar Ar menjatuhkan bisnis Arlando.


Penolakan Joseph untuk menikahinya membuat Riska marah, sampai akhirnya mencelakai Ranty juga membuat Winda menggangu keluarga Arlando.


Beberapa keamanan datang, langsung membawa Riksa pergi sesuai perintah Ar.


"Ar, tolong jangan lakukan ini. Saya membutuhkan Joseph untuk menampung hidup saya."


Pintu tertutup, Ar langsung melangkah mengambil bajunya untuk berganti baju kerja. Winda langsung melangkah pergi ke kantin kantor untuk mengambil sarapan mereka.


Winda binggung cara menghadapi Ar, dia memang lebih cepat bergerak dari dirinya. Steven benar dalam kasus apapun jika menggunakan perasaan emosi tidak akan pernah selesai.


"Maafkan aku Ar, karena terlambat menyadari, tapi mungkin ada hikmahnya dari masalah ini. Kamu bernasib baik bisa menikahi Winda, baik atau sial ya? terserahlah." Winda langsung membawa makanan kembali ke dalam kantor.


***

__ADS_1


__ADS_2