
Secara diam-diam Winda melangkah keluar, sudah tiga hari dirinya tidak keluar rumah menunggu Ar kerja lembur.
"Mau kabur ke mana Winda?" tatapan mata Mami Liza tajam, mencurigai gerak-gerik Winda yang aneh.
"Kamu bisa tidak berpura-pura buta saja, jangan mencampuri urusan aku." Winda menatap sinis, ingin sekali menonjok mata wanita tua yang hobinya ikut campur.
Mami langsung melangkah pergi, Winda juga berlari mengejar Mami langsung ikut masuk mobil.
Winda menghubungi Ar, melakukan panggilan video mengatakan jika dirinya pergi bersama Mami untuk belanja.
Ar yang melihatnya langsung tersenyum bahagia, mengizinkan Winda pergi dan selalu menghubunginya.
"Dasar wanita ular." Mami mendorong Winda keluar.
"Sabar nenek sihir, aku ingin bertanya satu hal. Siapa sebenarnya Aisyah?" Winda menatap tajam mata Mami yang terlihat binggung.
Winda menutup mulutnya, sungguh tidak bisa dipercaya jika keduanya hanya dua orang yang saling menguntungkan.
"Bukan urusan kamu."
"Winda hanya kasihan saja kepada Ar, dia tulus menyayangi nenek lampir seperti kamu, tapi sayangnya dia dijadikan mesin ATM." Kepala Winda menggeleng, tidak percaya dengan sosok ibu yang mengalahkan kejamnya ibu tiri.
"Kamu ceritakan soal keluarga Ar, aku akan menceritakan soal Aisyah." Mami menjalankan mobilnya melaju dengan kecepatan sedang.
Winda meraba sekitar mobil, menyentuh beberapa tempat yang mungkin ada sesuatu yang mencurigakan.
"Apa yang kamu lakukan?"
Winda meletakkan jarinya dibibir, meminta nenek sihir diam. Feeling Winda tidak mungkin salah, pasti ada sesuatu.
Dugaan Winda benar, ada penyadap yang aktif. Mami menutup mulutnya langsung menghentikan mobil.
Pelacak juga mati saat mesin mobil mati, Winda langsung menghubungi Bella yang sedang tidur berpelukan dengan suaminya.
Di Indonesia baru menunjuk pukul tiga dini hari, Tian langsung menjawab panggilan video Winda yang tertawa melihat kakaknya masih mengucek mata.
[Ayo pakai baju dulu kak, Bella bangun sudah siang. Winda membutuhkan bantuan dirimu.] Suara Winda tertawa terdengar, Mami mengerutkan keningnya melihat tingkah konyol Winda.
"[Kamu bosan hidup Win, menganggu tidur.] Bella ingin membuang ponselnya.
[Sebentar saja, coba lihat benda pelacak ini. Kenapa saat mobil hidup dia aktif, tapi saat mobil mati dia juga dead atau meninggal?]
Bella memperhatikan, meminta Winda mengecek kembali mobil. Pelacak yang Winda temukan dikendalikan dari jarak jauh, pelacak yang masih dijual secara ilegal, karena pembuatan juga ilegal.
Saat mobil hidup, pelacak juga hidup untuk mengawasi tempat lokasi yang dituju.
__ADS_1
Winda langsung memukul dasbor mobil, untung dia sudah antisipasi akan terjadi sesuatu.
"Gila kamu Win?"
"Kenapa selama ini Ummi bersembunyi? kenapa sekarang sudah berani menunjukkan diri?" Winda menatap tajam.
"Apa ada yang mengancam?"
"Winda lebih baik kamu berhenti mencari tahu soal kejadian sepuluh tahun yang lalu, terlalu bahaya."
"Tidak, aku akan menuntut kasus ini sampai ke meja kuning." Winda berdehem.
"Pengacara bodoh, meja hijau bukan kuning." Mami memukul setir mobil kesal melihat wajah Winda.
"Keseleo dikit, jangan marah. Lihat keriput sudah banyak, masih saja menggunakan baju seksi tidak malu dilihat orang. Kenapa Dada masih kencang? tidak pernah di sedot."
Winda teriakan histeris, dipukul oleh Mami yang kesal mendengar omelan Winda yang bicaranya sangat dewasa.
"Kenapa malu? Tante biasanya juga melayani tiga lelaki." Suara Winda tertawa, meminta ampun, karena tenaga nenek lampir cukup kuat.
Kaca mobil diketuk, seorang polisi meminta Winda dan mami keluar. Mobil melanggar rambu lalu lintas, juga bertengkar di jalanan.
"Astaghfirullah Al azim, masuk penjara lagi Winda." Wajah Winda langsung ingin menangis, Mami tertawa melihat Winda takut diborgol.
"Pak tangkap saja mertua saja, dia sudah janda saya masih gadis pak." Winda memohon.
"Oh iya lupa jika punya suami, soalnya masih cantik seperti gadis pak."
"Hubungi suami kamu, untuk datang ke kantor polisi."
"Aish sialan, di negara manapun selalu masuk penjara." Winda menatap kesal.
***
Mobil Ar terparkir di kantor polisi, melihat Winda yang duduk santai mewarnai kukunya agar menjadi warna pelangi.
Ar datang dengan perasaan khawatir, tapi yang ditangkap polisi asik bersantai.
"Selamat siang Pak, kenapa anda bisa di kantor polisi?"
"Saya datang untuk menjemput ibu dan istri saya."
Semua orang kaget, pemimpin perusahaan terbesar turun tangan langsung untuk menjemput istri dan ibunya.
Mami langsung melangkah pergi, meninggalkan Winda yang meminta waktu sebentar lagi, pekerjaannya hampir selesai.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja Win?"
"Iya, Mami yang melanggar lalu lintas, tapi Winda juga dibawa ke sini, sungguh menyebalkan." Mata Winda menatap polisi yang menundukkan kepalanya.
"Terimakasih atas peringatan, kalian bekerja sangat baik untuk menjaga keamanan. Maafkan ibu dan istri saya." Ar langsung merangkul Winda untuk melangkah pergi.
Di dalam mobil Mami melihat Winda keluar bersama Ar, gadis yang masih sama seperti dulu.
Melangkah keluar dengan senyuman manisnya, padahal sedang ada trauma besar yang menghantamnya.
Mami mengakui Winda sangat hebat menyembunyikan perasaannya, juga masalahnya. Di balik wajah lucunya dia wanita yang menyeramkan.
Pintu mobil terbuka, Ar meminta Winda masuk duduk bersama Maminya. Ar langsung duduk di samping sopir.
Suasana hening, Ar melihat dua wanita yang diam dalam pikiran masing-masing.
"Mami baik-baik saja?"
"Ar, apa benar kamu menemukan keluarga kandung?" Mami menatap tajam, Ar hanya mengangguk kepalanya.
"Kenapa kamu bisa begitu beruntung? kedua orang tua kamu mati, tapi dicintai oleh ayah anak kecil yang ibu kamu bunuh. Sungguh dunia ini tidak adil." Rasa sakit masih sangat jelas terlihat di mata Mami yang belum bisa melupakan anaknya.
"Semuanya sudah adil, tapi kamu saja yang memperumit masalah. Ibu Ar sudah mati bunuh diri, ayahnya juga sudah meninggal. Ar menjadi yatim piatu saat bayi merah, masih kurang adil apa lagi. Kejahatan ibunya Ar yang menanggung." Winda memejamkan matanya, terkadang ada rasa sedih jika memikirkan masa lalu Ar.
"Lalu apa salah aku, sehingga anakku dibunuh?"
"Bukan salah kamu, mungkin masa lalu. Pikirkan saja menggunakan logika, penderitaan yang kamu alami, karena kesalahan sendiri. Memiliki suami setia, tapi dikhianati. Memiliki anak yang tulus sayang, tapi memilih menyakiti. Hancur hidup bukan salah Ar, tapi anda yang bermasalah." Senyuman Winda terlihat, merasa lucu mendengar ucapannya.
Ar tersenyum menggenggam tangan Maminya, Ar tidak pernah marah apalagi benci. Rasa sayang Ar tulus sangat besar mencintai Maminya sebagai ibu kandung.
"Arrrrrhhhhggggg ...." Winda teriak histeris, mobil langsung berhenti secara mendadak membuat sopir kaget melihat ke depan.
Ar dan Mami langsung panik, jantung berdegup kencang melihat Winda teriak histeris.
"Anak kurang ajar, kamu ingin membuat saya jantungan." Mami memukul punggung Winda, Ar berusaha menghentikan Maminya.
"Ada apa Win?"
"Itu, Winda suka tas itu. Ayo kita beli." Winda tersenyum gemes melihat tas yang ada di toko.
"Ar kamu tidak niat menceraikan dia?" Mami menarik telinga Winda kesal melihatnya.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT
__ADS_1
FOLLOW IG VHIAAZAIRA