
Di dalam kamar Reva menangis sesenggukan, memeluk lututnya menyembunyikan wajahnya. Viana masuk memeluk Reva, Jum juga masuk melihat kamar Reva yang berantakan.
"Va, sekarang kamu sudah bisa tenang. Windy baik-baik saja, kamu melihat senyumannya jika kamu seperti ini kasihan Windy jadi beban pikiran." Viana mengusap punggung Reva.
"Bima tega kak Vi, tidak berbicara apapun dengan Reva, saat Reva tahu anakku mendapatkan pukulan dari wanita iblis itu. Melihatnya secara langsung." Reva menangis sesenggukan, memeluk erat Viana.
"Windy pasti menang, dia wanita tangguh seperti kamu. Sudah saatnya Windy bahagia, Viana juga heran mengapa kamu dan Windy bisa mencintai lelaki tua." Viana langsung tertawa kuat.
"Karena mereka kaya, ganteng lagi." Reva menghapus air matanya.
"Sama Jum juga bingung, kenapa Rama mencintai wanita tua?" Jum menahan tawa.
Tatapan mata Viana tajam, melempar Jum dengan batal guling.
"Stevie berhasil menjadi orang sukses, meninggalkan kekayaan untuk adiknya Steven. Va terkadang aku rindu saat bersama dengan Bima, Stevie dan Britania."
"Jangan menyebut nama Britania, urusan Stevie selesai, kerajaan juga selesai, tapi soal Brit belum selesai."
"Kamu benar juga Va, apa sebaiknya kita yang menyelesaikannya?"
Viana dan Reva menatap Jum yang mondar-mandir, Vi mengerutkan keningnya melihat tingkah Jum.
"Kak Jum bisa berhenti tidak?"
"Jum masih banyak penasaran soal kerajaan, Windy anak Raja apa? bagaimana bentuk kerajaan mereka, apa mungkin istana mereka di langit."
"LN Jum bukan langit." Vi melotot.
"Jum tahu, bukannya kerajaan sudah lama menghilang."
"Kamu pernah ke Inggris tidak Jum?" Reva menatap tajam.
"Pernah, di sana banyak bule ganteng."
"Di sana dipimpin oleh seorang ratu, Inggris masih menggunakan sistem kerajaan."
"Jum tahu Reva, hanya saja Jum tidak habis pikir Windy anak Raja yang berkuasa. Apa nama kerajaan mereka?"
"Entahlah, Bima dan Windy tidak ingin aku tahu." Reva menundukkan kepalanya.
"Kingdom Cana, Rajanya bernama Raja Hanz, memiliki seorang Pangeran namanya Athala." Bima masuk langsung berlutut dihadapan Reva.
Rama meminta Viana keluar, Vi langsung berdiri menarik Jum untuk keluar.
Bima menyentuh tangan Reva, menciuminya terus mengucapkan kata maaf. Reva hanya memalingkan wajahnya, tidak ingin menatap Bima, air matanya juga kembali mengalir membasahi pipinya.
"Sayang, maaf Ay salah jangan menangis. Besok kita berangkat menjemput anak kita."
__ADS_1
"Pergilah, Reva tidak ingin pergi."
"Reva aku sangat mencintai kamu, ingin yang terbaik untuk kita."
"Aku tahu kamu pintar, jenius, sangat berbeda dengan Reva yang lebih suka bersenang-senang. Reva sadar kamu sudah mulai bosan, ingin mengatasi semuanya sendiri, karena aku tidak pernah paham tentang kamu." Reva menghapus air matanya.
"Sekarang kamu semakin suka ngambek, istirahat dulu nanti kita bicara lagi." Bima menarik nafas, melangkah keluar meninggalkan Reva yang memilih untuk tidur.
***
Semalaman Windy tidak bisa tidur, terus memikirkan Maminya. Windy melangkah keluar melihat kegelapan malam di kerajaan. Mengambil ponselnya langsung menghubungi Maminya, tapi tidak mendapatkan jawaban.
Windy meneteskan air matanya, mengirimkan pesan jika dia rindu, pesan Windy tidak dibaca.
"Mami, Windy ingin cerita." Windy mengirimkan pesan suara, lama Windy duduk melihat ponselnya.
Senyuman Windy terlihat, melihat fotonya bersama Maminya, ribuan foto yang Windy abadikan.
"Mami sedang tidur? di sana seharusnya siang?" Windy mengirimkan kembali pesan suara.
Senyum Windy terlihat saat pesan sudah Maminya baca semua, Windy melakukan panggilan, tapi tidak dijawab.
"Mami sedang apa? Windy ingin cerita." Pesan suara Windy terkirim.
Melihat pesan sudah dibaca, tapi tidak mendapatkan balasan.
Windy menghubungi kembali, tapi sudah tidak aktif lagi. Tangisan Windy langsung terdengar, suara Windy tertahan, dia menutup mulutnya kuat, melihat Maminya marah.
Ponselnya berdering, Reva melakukan panggilan video. Windy langsung menjawab, wajah Windy jelek sambil menangis. Ternyata ponsel Reva mati, mengganti dengan yang baru.
[Mami, maafkan Windy. Jangan marah, Windy sayang Mami.]
[Di sana sudah malam, sebaiknya kamu tidur. Mami ingin mengantar Winda ke ulang tahun temannya.]
[Mami, Windy ingin cerita.]
[Sekarang kamu sudah besar, jaga diri kamu baik-baik. Kamu tidak membutuhkan Mami lagi, kedua adik kamu juga membutuhkan Mami, sudah saatnya kamu mandiri.]
[Tidak mau, Windy juga butuh Mami. Lihat wanita itu membuat Windy terluka. Mami perasaan Windy tidak enak, walaupun Om Stev mengatakan tempat ini sudah aman, tetap saja Windy merasakan khawatir.]
[Apa yang kamu pikirkan?]
[Masalah terlalu cepat selesai, awalnya Windy berpikir akan penuh air mata.]
[Windy, siapa saja di sana?]
[Raja Hanz, nenek Arum, Athala, Om Stev, Windy. Sedangkan yang lainnya Saka, Ghina, Vero, Bib, dan Wilo berada di kamar area tamu.]
__ADS_1
[Siapa yang lewat di lantai bawah?] Reva memperhatikan layar Windy yang memperlihatkan seseorang sedang mengintip.
[Mami benar, tenyata ada. Apa yang harus Windy lakukan Mami.]
[Jangan takut, Mami tidak pernah setuju kamu kembali ke sana, karena banyak orang jahat berpura-pura baik.]
[Mami benar, tapi siapa ya mam?]
[Jauhkan ponsel kamu, berjanjilah kamu akan baik-baik saja.] Reva meneteskan air matanya.
[Mami jangan khawatir, Windy putrinya Reva kita wanita tangguh.] Windy tersenyum langsung meninggalkan ponselnya.
Dugaan Reva dan Windy benar, seseorang langsung menyerang Windy. Teriak Reva menangis membuat Bima berlari melihat ponsel Reva yang memperlihatkan Windy diserang.
Bima langsung menghubungi Steven, meminta segera menyelamatkan Windy.
Tubuh Windy terlempar, darah keluar dari mulut dan hidungnya. Windy masih mati-matian tidak mengalah, tatapan mata Windy tajam tidak percaya dengan yang dia lihat sekarang.
Sahabat terbaiknya ingin membunuhnya, bahkan sangat ahli menggunakan pedang. Tubuh Windy terlempar jauh.
Tamparan juga pukulan Windy rasakan, Windy membiarkan agar rasa sakit mereka berdua terlepaskan.
Windy berusaha untuk berdiri, tapi sebuah belati menghantamnya sampai terjatuh. Air mata Windy menetes.
Perasaan seorang ibu memang tidak pernah salah, kekhawatiran Reva menunjukkan kebenaran, ketidakjujuran Windy dan Bima membuat Reva semakin hancur.
Air mata Reva menetes melihat putrinya berdarah tepat dihadapannya, terluka dan terkulai di lantai tidak berdaya, sedangkan dirinya tidak bisa berbuat apapun.
Tatapan mata Bima tajam, langsung menyiapkan keberangkatan sekarang juga, Reva hanya diam saja, memeluk lututnya menangis kuat membuat Wildan dan Winda berlari memeluk Mami mereka.
Wildan melihat ke arah ponsel Maminya, Winda menangis memeluk Reva yang menangis tidak bisa menahan diri.
"Kakak, kak Win." Wildan mencengkram kuat ponsel, menatap tajam seorang yang tertawa kuat, menancapkan pisau kecil berkali-kali.
Reva menghapus air matanya, meminta Wildan dan Winda bersiap-siap. Mereka akan pergi ke kerajaan Cana, Reva meminta Wildan menghubungi Unclenya jika mereka akan pergi sekarang.
"Mami."
"Winda jangan menangis, kita jemput kak Windy pulang."
Wildan langsung berlari mencari Papinya yang meminta orang kepercayaan memberikan mereka kemudahan untuk cepat sampai, air mata Bima menetes tidak terima putrinya tersakiti.
Reva mengambil kacamata hitamnya, akan menghancurkan orang yang beraninya menyakiti putrinya, Reva pastikan akan mematahkan tulang belulang, bahkan membuatkannya cacat seumur hidup.
***
...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA...
__ADS_1
...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...
***