
Vero terbangun matahari sudah tinggi, dia merasakan nyaman berada di kamar Steven. Karena kurang tidur, Vero terlambat bangun.
Kembali ke kamarnya untuk segera mandi, selesai mandi turun ke lantai satu menunju meja makan mencari semua orang.
Vero tidak melihat apapun, tidak ada yang Vero temukan, berkali-kali Vero memanggil Steven dan Windy, tapi tidak ada jawaban.
Di atas meja penuh makanan, Vero duduk menatap makanan tanpa berselera, tidak ada yang Vero harapkan, cukup melihat ada orang saat dia membuka mata melihat dunia, tapi di hari kelahirannya tidak melihat satu orangpun.
"Tuan, silahkan di makan?" maid menatap Vero yang terlihat sedih.
"Iya Bu." Vero menyendok makanannya, tapi rasanya air matanya ingin menetes.
Suara mobil terdengar berbunyi, Vero langsung berlari keluar untuk menuju area parkiran. Vero melihat mobil yang Stev berikan penuh lecet, wajah Vero sangat panik melihat Winda dan Wildan membawa pentungan.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku katakan kepada kak Stev, matilah aku."
"Maafkan kita uncle, Winda sedang bermain, maaf uncle jangan marah." Winda menunduk sedih.
"Tidak apa sayang, kalian berdua pergi dari sini, biar uncle yang tanggung jawab." Vero mengambil pentungan.
Winda Wildan melangkah pergi, Vero tertunduk sedih memegang mobil yang pecah semua.
"Semoga kak Steven memaafkan."
"Happy birthday to you, happy birthday happy birthday, happy birthday Vero." Seluruh orang muncul, bahkan seluruh pengurus rumah juga bernyanyi selamat ulang tahun.
Senyuman Vero terlihat, Windy membawa kue ulang tahun untuk pertama kalinya, Vero menahan air matanya, biasanya ibunya yang menyanyikan, tapi sekarang tidak ada lagi.
"Selamat ulang tahun Vero." Windy meminta Vero berdoa, meniup lilinnya.
"Selamat ulang tahun, panjang umur semakin dewasa."
"Terima kasih kak Steven, maaf lihat mobilnya hancur."
"Ini hanya tempelan, kita hanya ingin melihat kamu marah, tapi ternyata tidak."
Steven, Windy, Winda melepaskan setiap tempelan, Winda mengucapkan ulang selamat menua, panjang sekali doa Winda, sampai ke cucu Vero.
Bima memeluk Vero, mengucapkan selamat ulang tahun, panjang umur, sehat paling penting. Reva juga mendoakan Vero bahagia, berguna bagi banyak orang, taat kepadanya perintah agama.
__ADS_1
Steven diam menatap mobil, Windy menahan tawa, kaca mobil retak, padahal mereka tidak menempel dengan stiker.
Semua mata langsung menatap Winda, senyum Winda terlihat meminta maaf dia tidak sengaja membuat mobil retak, karena yang lain tergores, kaca mobil bersih, dia berinisiatif membuatnya tergores juga.
Steven tertawa, langsung mengangkat tinggi Winda. Meletakkan Winda di atas mobil, tawa Winda dan Stev terdengar, Windy merangkul Vero, ingin Vero selalu bahagia.
"Windy, aku suka kamu." Vero berbisik, Windy langsung tertawa.
"Aku cinta Om Stev." Windy balik berbisik.
"Aku tahu, aku akan menjaga kalian." Vero mengusap kepala Windy.
***
Steven pergi ke mall bersama Reva, mencari kado istimewa untuk Vero. Wajah Steven sudah jelek, dia lelah mengikuti Reva yang muter-muter, tapi tidak berujung.
"Va, aku capek." Vero menarik tangan Reva.
"Dasar aki tua, baru jalan sebentar sudah lelah." Reva menatap sinis.
Reva memutuskan untuk ke tempat mobil, Steven yang sudah lama tidak membeli mobil menjadi kumat, dia memilih mobil termahal, dengan kecepatan tinggi untuk Vero.
"Stev, ternyata kamu kaya juga, tapi kenapa penampilan kamu terkadang mirip gembel."
"Masih kaya suami kamu, wajar saja belum memiliki istri jadinya belum terurus." Steven mengedipkan matanya.
Reva menyerah akhirnya berhenti di restoran mewah, Steven tersenyum melihat mantannya makan bersama pria tua, Reva juga tertawa mendengar cerita Stev soal percintaannya.
"Makanya Stev, jangan pernah taruhan. Akibatnya sampai tua tidak menikah." Reva tertawa, melihat Stev yang dulunya selalu bertengkar dengannya.
Steven diam, Reva melihat Stev yang terlihat binggung dan gelisah.
"Va, aku ingin jujur soal hubungan kami. Bagaimana menurut kamu?" Steven menatap Reva yang mengerutkan keningnya.
"Stev, kamu lupa yang Ay Bima katakan, dia akan memberikan izin setelah lima tahun. Kamu bisa datang setelah 5 tahun." Reva langsung meminum jus di depannya.
"Masalahnya terlalu lama Va, aku ingin segera menikah. Aku tahu ini egois, tapi tidak salahkan aku mencintai wanita beda usia." Steven menatap Reva yang mengaduk minumannya.
"Masalahnya Windy terlalu muda, aku dulu memang mencintai pria dewasa, tapi aku menikah di usia hampir 23 tahun, Windy baru saja akan masuk 17 tahun Stev. Kamu tahu kan, usianya di bawah umur." Reva menaikan nadanya.
__ADS_1
Steven menundukkan kepalanya, mengacak rambutnya. Reva sebenarnya kasihan melihat Stev yang berada dalam dilema.
"Aku akan mencoba berterus terang, walaupun mendapatkan penolakan."
"Ay Bima tidak akan memberikan izin, hanya akte saja yang 19 tahun, tapi aslinya Windy di bawah umur. Maaf Stev aku tidak bisa mendukung kamu, sejak awal aku tidak setuju dengan hubungan kalian." Reva melangkah pergi, Stev mengejar Reva.
"Steven."
Stev menoleh, Reva juga melihat Steven dihampiri oleh wanita seksi, serba terbuka.
Reva langsung menarik tangan Stev, tapi Sarah juga menarik, mata keduanya saling beradu tatap.
"Aku ingin berbicara dengan Steven."
"Sebaiknya masa lalu pergi jauh." Reva menatap tajam.
"Kamu Reva Pratiwi, desainer terkenal yang menikah dengan pengusaha hebat. Kehabisan uang kamu sampai selingkuh."
"Kurang ajar, wanita murahan, tidak tahu diri. Aku memiliki keluarga harmonis, tidak haus kasih sayang seperti kamu. Kenapa kamu pernah mendekati Bima, sampai akhirnya memutuskan Steven, karena Bima lebih kaya, lembut. Dasar perempuan hina, suami saya tidak pernah tergoda dengan paha ayam kamu, dada kamu yang besar mirip kepala genderuwo, pantat kamu yang besar mirip badut. Sadar diri, berkaca agar kamu tahu jeleknya kamu." Reva menatap tajam, Steven mundur takut melihat Reva.
"Sialan kamu Reva." Sarah mengangkat tangannya ingin menampar Reva, tapi Reva sudah menahan, menjambak kuat, sampai Sarah berlutut.
"Aku sudah lama ingin mematahkan leher kamu, beraninya kamu menggoda Bima, sudah mencampakkan Stev, melihat kesuksesan Steven kamu ingin kembali, coba saja, akan aku buat cacat kamu." Reva tertawa sinis, langsung melangkah pergi, setelah puas menjambak Sarah.
Steven mengikuti Reva yang super bar-bar. Reva mengumpat bule membuat Steven menatap tajam, tidak semua bule suka main perempuan.
"Apa yang kamu bicarakan?" Stev menatap Reva.
"Hanya bertanya Stev, kenapa banyak orang suka pria bule."
"Perempuan sinting, pikirannya kotor."
"Aku hanya mengkhawatirkan Windy, dia masih kecil, kamu sudah tua. Kita juga sudah dewasa, pasti kamu mengerti." Reva melangkah pergi, mengikuti Steven.
"Reva, aku risih dengan ucapan kamu, aku memang tinggal di lingkungan hubungan bebas, tapi bukan berarti aku berhubungan. Aku tahu aturan Reva, playboy bukan berarti bebas tidur dengan sembarang wanita." Steven masuk mobil.
Senyum Reva terlihat, dia tahu Stev, tapi hanya ingin memastikan saja, berarti Stev bukan hanya tepat janji, tapi lelaki yang menjaga diri.
***
__ADS_1