
Senyuman Vira terlihat, membawa bungkusan tes pack yang mereka beli. Winda langsung tertawa merangkul Vira berjalan ke rumah Bella.
Di dalam sangat ramai, seluruh keluarga berkumpul. Vira menyimpan mainan mereka, mengikuti acara, melihat Bella yang sudah di make up sangat cantik untuk melakukan ritual tujuh bulanan.
Winda melihat Bella disiram, sungguh baru pertama kali mereka melihatnya. Selama ini hanya acara pengajian, menyantuni anak yatim.
Suasana hening melihat prosesi adat agar diberikan kelancaran saat persalinan, mata Winda panas melihat. Vira lebih lagi sudah menutup matanya, memilih tidur dari pada melihat ramainya orang.
"Vira, ayo kita ke kamar saja." Winda langsung berjalan bersama Vira yang sempoyongan. Mereka memiliki kamar Bella yang kosong, karena Bella tidur di kamar kakaknya.
Keduanya tidur nyenyak, diiringi musik alunan yang sangat halus. Asih membuka pintu bersama Ning, mengandeng Em yang mengantuk langsung ikut tidur.
Asih dan Ning sibuk bermain, menjaga Em yang tidur. Keduanya beradu kecerdasan bermain catur.
Sampai Asih dan Ning tidur, Vira dan Winda belum juga bangun. Tidur mereka seperti orang mati.
"Astaghfirullah Al azim, ini berdua tidur." Billa mengambil putrinya.
"Ya Allah, kita semua sibuk membantu di luar, ini anak berdua asik tidur." Kasih mengusap dada, menggendong Asih untuk membawanya pulang.
"Biarkan saja, nyonya Prasetya dan Bramasta bebas." Binar tertawa, diikuti oleh Kasih dan Billa.
Anak-anak dibawa keluar kamar, masih tersisa Vira dan Winda yang perlahan terbangun. Keduanya linglung duduk diam mengumpulkan nyawa.
"Lapar, Vira lapar."
"Sama, waktunya makan." Winda langsung keluar, mencari makanan.
"Woy, banyak banget." Bella melihat isi piring yang penuh.
"Tolong bawa ke kamar kak Bel, di sana ada Vira." Winda membawa satu piring lagi.
Bella menurut saja membawakan makanan melihat Vira masih melamun, kepalanya masih pusing, karena banyak tidur.
"Wow, ayo kita makan." Ketiganya makan bersama saling suap, sesekali tertawa.
"Kalian berdua tidak terlihat?" Bella mengunyah ayam goreng, menatap Vira dan Winda yang masih wajah bantal.
"Biasalah, namanya juga pengangguran Bel, kerjanya makan dan tidur." Vira tertawa kuat melihat tatapan Bella dan Winda.
"Bagaimana Vir soal pelakor?" Winda mengunyah makanan, menatap Vira yang sedang berpikir.
"Pelakor? siapa pelakor? berani dia, belum tahu saja jika berurusan dengan kita." Bella terus mengunyah, tidak perduli dengan berat badannya yang semakin naik.
__ADS_1
Vira menceritakan soal kedatangan Fly, Winda dan Bella langsung berhenti makan duduk diam mendengarkan cerita Vira yang membuat emosi.
Bella memukul kening Vira, dia hanya mengingat sampai Fly duduk, setelahnya dua tidur.
Winda mencubit lengan Vira, memintanya mengingatkan kembali.
"Ingat tidak?"
"Saat Vira ingat sedang main enak-enak bersama Ayang Wil." Vira sengaja berbicara dengan nada manja agar Winda dan Bella iri.
"Jangan pamer, Winda bangun tidur dua ronde. Rasanya nikmat." Ekspresi Winda, terlihat menjijikan di mata Vira.
Bella tertawa melihat Winda dan Vira, keduanya bermain terus, tapi tidak ada hasilnya. Banyak bicara saja, kata pepatah tong kosong nyaring bunyinya.
"Sabar Bella, kita masih baru."
"Bella walaupun ada twins masih bisa enak-enak."
"Waduh." Winda mengukur posisi jarak bercinta ala Bella.
"Ibu hamil tingkat nafsunya tinggi, kali ini Bella tidak becanda Lo."
"Kita tidak hamil saja tingkat nafsunya tinggi, bahkan sangat tinggi. Melihat air mengalir di dada gila Winda langsung terhipnotis." Winda tertawa sambil makan.
"Fly sudah tidak ada lagi di negara ini." Vira sangat yakin, dia masih mengingatnya.
"Kita sudah ganti topik Vira, pagi tadi juga ada pelakor jelek mendekati Ar, langsung ditampar oleh Mami." Winda meringis memegang wajahnya, Vira dan Bella juga meringis merasakan sakitnya.
Suara tawa langsung terdengar mereka sudah tidak heran lagi dengan sikap mami, jangan diusik jika tidak ingin celaka.
Selesai makan langsung dibersihkan, Vira mengeluarkan banyak tes pack. Bella binggung melihat Vira dan Winda tersenyum.
"Bagaimana cara menggunakannya Bella?" Vira meminta bantuan.
Bella langsung mengajari cara untuk menggunakannya, beberapa kali Bella mengecek hasilnya garis dua.
Sudah banyak tes pack berbeda merek hasilnya garis dua, Vira dan Bella bertepuk tangan ternyata hasilnya nyata.
"Positif semua, kalian berdua silahkan di coba. Kita lihat perbedaannya." Bella memberikan satu-satu untuk Vira dan Winda keduanya langsung masuk ke dalam toilet.
"Kamu duluan Vir." Winda melihat Vira yang ragu, kepala Vira menggeleng.
"Kamu saja Win." Vira memaksa Winda untuk melakukannya.
__ADS_1
Keduanya saling pandang, juga saling dorong. Senyuman Winda terlihat langsung keluar mengambil tempat untuk dirinya dan Vira.
"Jangan ngintip."
"Najis." Vira melotot.
Winda keluar membawa sesuatu di dalam tempat kecil, Bella merasa jijik melihat tingkah Winda yang membuatnya mual.
Vira juga muncul, merasakan jijik duduk jauh. Melihat Winda yang mencelupkan banyak tes pack.
Bella mengerutkan keningnya, Vira juga melakukan hal yang sama mereka menghabiskan seluruh tes pack.
Kepala Bella menggeleng, tempat tidurnya penuh tes pack. Vira dan Winda mirip Asih yang menyusun mainan sejajar rapi.
Setelah tes pack habis Winda menatap miliknya yang tidak mirip dengan milik Bella, punya Bella terlihat jelas garis merah dua.
Vira juga melihat dengan tatapan kecewa, miliknya berbeda dengan Bella, punya Bella garis dua, punya mereka hanya satu.
Pintu terbuka, Vira langsung menarik selimut, air yang mereka pegang tumpah membuat Bella teriak histeris melihat tempat tidurnya jorok.
"Apa yang kalian bertiga lakukan? ayo keluar." Billa menatap Bella yang keluar dengan ekspresi marah.
Winda juga berlari keluar, diikuti oleh Vira. Billa langsung menutup pintu mengikuti ketiganya untuk bergabung dengan keluarga lainnya.
Bella marah melihat selimut basah, mana bau. Vira menatap Winda yang merencanakan membeli tes pack banyak-banyak hanya untuk belajar tes.
"Dari mana saja kalian berdua?"
"Ada Mom di sini." Winda tersenyum melihat mommy.
Tian melihat Bella yang duduk dipojokkan sambil menangis, mendekatinya apa yang terjadi. Bella menceritakan jika Vira dan Winda mengotori kamarnya.
Winda menatap tajam Bella, tidak suka dengan sikapnya yang pengadu. Winda langsung melangkah pulang, hatinya kesal melihat hasil tes pack yang berbeda.
Meskipun hanya sedikit Winda mengharapkan ada twins yang mulai tumbuh di rahimnya.
Air mata Winda menetes sepanjang pulang ke rumahnya melihat jalanan yang ramai, langsung duduk di pinggir jalan.
"Ada apa sayang?" Ar duduk di depan istrinya yang meneteskan air mata.
"Tidak, Winda hanya sedih saja."
"Jangan sedih, kamu harus bahagia untuk menyambut kelahiran twins. Semoga saja doa kita dikabulkan untuk segera diberikan kepercayaan untuk memiliki buah hati." Ar tersenyum meminta istrinya tersenyum.
__ADS_1
***