
Sebuah ruangan yang sangat besar, pintu terbuka. Erik mempersilahkan masuk, melihat Ar yang ada di ruangan sudah bisa duduk meskipun masih kesulitan.
Bima masuk sambil tersenyum, mengucapkan syukur yang sedalam-dalamnya karena doa mereka dikabulkan.
"Alhamdulillah ya Allah, bagaimana keadaan kamu Ar?"
"Baik Papi, di mana anak Ar?"
"Setiap hari bertanya anak terus, seadanya mereka sudah bisa bicara. Ahhh sudahlah, kak Ar harus membayar Erik mahal untuk ini, setidaknya saham 50%." Suara Erik tertawa terdengar, mendapatkan pukulan dari Papanya yang baru kembali dari luar negeri.
"Kamu ini, uang terus di kepala kamu?"
"Papa tidak tahu, jika putriku Em mata duitan, bisa membedakan ratusan dan ribuan. Saat minta jajan sepuluh juta, bisa bangkrut Erik."
"Alhamdulillah kamu sudah jauh lebih baik, abaikan saja ucapan Erik." ( Demi apapun lupa nama bapaknya Erik, haha.)
"Terima kasih Uncle atas doanya."
Suara pintu terbuka terdengar kuat, Erik yang ingin membuka pintu sudah menempel di dinding, terduduk di lantai. Kepalanya sakit sekali, terkena benturan pintu.
Reva berteriak bersama Mami Liza, Bima langsung menutup mulut istrinya agar tenang. Ar baru saja membaik, mendengar suara Reva bisa lemas otaknya.
"Maaf kecilkan suara kalian berdua, ini rumah sakit bukan pertunjukan sirkus." Bima menghela nafas, Reva tersenyum memeluk suaminya.
"Ar bagaimana keadaan kamu nak?" Mami langsung menangis, menyentuh tangan Ar yang ada bekas luka.
"Baik Umi, kenapa Umi bisa ada di sini?"
"Dia ditendang oleh Josua, karena menguras hartanya."
"Reva."
"Iya Ay becanda." Senyuman Reva terlihat, bersyukur melihat Ar sudah bangun dan berbicara.
Pintu terbuka lagi, Erik langsung melindungi kepalanya. Asih masuk sambil lompat-lompat, tidak ada yang menjaga dia. Em juga masuk sambil tersenyum.
"Yeee, Uncle sudah bangun. Aunty Winda tidak jadi menjadi janda." Em tersenyum menatap Asih yang sudah melotot.
Semua orang terkejut melihat Embun bicara seperti itu, Erik langsung menutup mulut putrinya.
"Em, kenapa bicara seperti itu? siapa yang mengajari kamu? Papa tidak suka mendengarkannya."
"Em tidak meminta Papa dengal, kakak Asih yang ajal Em."
Erik mengaruk kepalanya, putrinya tidak pernah mengaku salah langsung naik ke atas ranjang duduk menatap Ar.
"Em semakin pintar."
__ADS_1
"Uncle, ingin bilang Em tidak boleh bicara tidak baik, sebenarnya Em sadal ucapan Em calah, tapi keceplosan. Maafkan Em." Senyuman manis terlihat, Ar menyentuh wajah Em.
"Uncle tidak marah sayang, kamu sangat menggemaskan."
"Asih Uncle mengemaskan tidak? subuh-subuh Asih bangun langsung sholat doakan Uncle cepat sembuh. Biasanya Asih susah bangun subuh." Senyuman Rasih terlihat.
"Asih juga mengemaskan, terima kasih ya sayang."
Reva menurunkan Em, tapi matanya langsung melotot. Ammar langsung menggendong cucunya keluar kamar. ( Akhirnya ingat nama Ammar haha.)
Erik juga menarik Asih yang sudah mengomel, rumah sakit sudah mirip taman bermain, mereka lompat-lompat, tertawa, teriak, bermain kejar-kejaran.
"Kenapa kalian datang lebih dulu? ibu kalian berdua di mana?"
"Di sini." Billa dan Kasih langsung mengejar Asih dan Em yang berlari kencang.
"Em ... ya Allah kuatkan kesabaran hamba." Billa mencium tangan mertuanya yang tertawa lucu melihat tingkah cucunya.
"Sabar Bil,"
"Papa tidak tahu Em sangat nakal, Billa sering menangis karena dia. Tidak pernah bisa diam." Billa memeluk lengan suaminya.
Winda sudah bersiap untuk pindah kamar, Steven menggendong Winda untuk duduk di kursi roda, dia belum diizinkan untuk berjalan.
Windy menggendong Arsyila, sedangkan Arwin berada dalam gendongan Winda yang sudah duduk di kursi roda.
"Kamu tampan mirip Abi Ar, boleh tidak Uncle meminta sedikit harta Abi kamu?"
"Tidak boleh Uncle, apakah pak dokter sudah mulai jatuh miskin?" Windy tertawa melihat Erik yang selalu meminta saham Ar.
"Kak Windy tahu tidak, Setiap perusahaan Setiap hari mendatangi kantor Ar, hanya untuk menanam saham, mereka tahu jika Ar pebisnis yang pindah negara. Keuntungan juga tidak main-main."
"Masih kurang kaya kamu Rik, bukannya saham kamu berkali-kali lipat naik."
"Kak Stev tidak tahu saja, satu tahun habis karena ulah Em." Erik tertawa, diikuti oleh Windy dan Steven. Winda juga tersenyum melihat tingkah Erik yang berniat menghiburnya.
Pintu kamar terbuka, Erik menutup terlebih dahulu. Winda di larang masuk, hanya Windy yang masuk bersama Syila.
Senyuman Windy terlihat, mendekati Ar yang baru selesai makan meskipun hanya sedikit. Meletakkan putri kecil di samping Abinya.
"Mirip siapa?"
Ar menatap bayi mungil yang berada dalam bedong juga menatap dirinya, mata kecil terlihat membuat Ar meneteskan air matanya.
"Arsyila anak Abi, kamu sudah lahir ya nak." Air mata Ar tidak tertahankan langsung menetes membasahi pipinya, melihat Ar menangis Syila juga langsung menangis.
Reva menepuknya pelan agar berhenti menangis, air mata Reva juga tidak tertahankan.
__ADS_1
"Sayang jangan menangis, maafkan Abi yang tidak bisa menjaga kalian. Terima kasih sudah lahir dalam keadaan sempurna, Abi sangat bahagia melihat kamu." Ar ingin menghapus air matanya, Mami Liza langsung membantu menghapusnya.
Erik meminta Ar duduk dengan benar, meletakan putranya dalam pelukan Abinya. Senyuman dan air mata menjadi satu, Bima mengusap kepala menantunya.
"Arwin sayang, maafkan Abi." Perlahan Ar mencium putranya yang sedang tidur.
"Cie dicium Abi." Erik mengusap wajah Arwin gemes, karena tampan sekali.
Dalam hati Ar sangat bahagia, dia ingin hidup lama agar bisa mendampingi putra dan putrinya. Bisa hidup lama bersama Winda sampai tua, melihat kedua anaknya terobati semua rasa sakit.
"Aku bersyukur lahir ke dunia ini, bersyukur memiliki Winda, juga bersyukur kehadiran kalian." Senyuman Ar terlihat sangat bahagia, meskipun belum leluasa bisa menyentuh anaknya, Ar sudah bersyukur.
"Rik, di mana Winda?"
"Saham dulu."
"Oke."
"Seriusan Ar." Erik tersenyum penuh kemenangan.
Reva memukul pundak Erik, kesal melihatnya yang terus membahas saham.
"Sakit Mami, Erik tidak bercanda soal saham." Kedipan mata Erik terlihat menggoda Mami. Cepat Erik menghubungi Ravi jika dirinya mendapatkan saham.
"Erik kamu taruhan bersama Ravi?" Steven menarik baju Erik.
"Iya, lumayan mobil baru Ravi menjadi milik Erik, Winda ada di depan pintu. Selamat melepas rindu, terima kasih sahamnya Ar."
Senyuman Ar terlihat, Erik memintanya untuk mendaftarkan sebuah panti agar bisa memiliki saham di perusahaan besar Ar yang sedang berkembang pesat.
Ar tahu semua orang di dalam keluarga mereka berhati baik, bagi mereka apapun yang menyenangkan akan menjadi kelucuan. Saling tukar mobil, membayar makanan, belanja, semuanya dilakukan saling taruhan, meskipun dilarang masih tetap berlaku bagi, Ravi, Erik, Tian dan Windy.
Steven menatap istrinya yang kehilangan uang ratusan juta karena taruhan, Ravi kehilangan satu mobil sedangkan Tian harus membelikan makanan selama satu tahun.
Pintu terbuka, Winda masuk bersama Billa dan Kasih. Air matanya sudah menetes melihat suaminya yang juga tersenyum.
***
TERIMA KASIH YANG SUDAH MENGIKUTI GIVE AWAY, SILAHKAN BUKA PESAN DI IG MASING-MASING.
UNTUK YANG BELUM BERUNTUNG, NANTI KITA BUAT GIVE AWAY LAGI. JANGAN KECEWA APALAGI BERKECIL HATI.
AUTHOR UCAPKAN TERIMA KASIH, KARENA KALIAN MASIH SETIAP MENGIKUTI CERITA AUTHOR.
JANGAN LUPA FOLLOW IG.
***
__ADS_1