MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 MUNTAH


__ADS_3

Mata Reva melotot menatap Windy dan Steven yang baru tiba di rumah, kepulangan mereka tidak sesuai jadwal yang dijanjikan.


Windy langsung memeluk Maminya, mencium wajah wanita yang sangat dicintainya.


"Rumah ini belum banyak berubah Mi, masih banyak kenangan soal kita." Windy tersenyum melihat rumah utama keluarga Bramasta.


Rumah mewah dan besar tempat Windy menunggu Papinya pulang, bertemu kakak cantik yang membuatnya selalu merasa aman.


"Betapa banyaknya kenangan di rumah ini, dulu Windy setinggi ini, tidak disangka sekarang sudah setinggi sekarang." Senyuman Windy terlihat, menyentuh ukuran tubuhnya.


Suara teriakan Ravi, Tian, Erik sedang bermain bola bersama anak-anak yang lain. Windy langsung melihat ke halaman belakang berlari mengejar bola.


Steven masih di dalam mengobrol bersama Papi, keluarga sedang berkumpul di rumah utama seperti biasanya.


"Vira, bisa tidak kamu tidak berlari?" Viana menatap tajam.


"Maaf mommy, kak Windy main bola Vira juga ingin ikut main."


Viana mengangkat tinggi cemilan di piringnya, melihat satu persatu wanita nakal berlarian.


"Dasar anak nakal, lupa jika mereka perempuan." Viana meletakan makanan.


"Di mana Windy kak Vi?" Reva duduk di samping Bima.


"Main bola."


Steven langsung berdiri kaget, melangkah ke belakang melihat keributan di belakang rumah. Kepala Steven menggeleng melihat Windy yang bisa bermain bola.


Suara sorakan Vira, Winda, Bella dan Billa terdengar mendukung tim Windy yang sudah terbiasa beranggotakan Ravi, Tian, Erik, Wildan yang melawan anak-anak asisten rumah utama.


Steven hanya bisa bertepuk tangan melihat Windy berlarian, lompat-lompat bersama keempat pria yang selalu mencetak gol.


Suara sorakan mengalahkan satu stadion sepakbola, melihat Tim satu kalah lanjut Tim kedua. Wildan langsung pindah posisi mendampingi empat wanita yang juga sering bermain bola.


Steven tersenyum melihat kelucuan keluarga yang bisa satu frekuensi dalam permainan, Vira menendang kuat ke arah gawang, Ravi berhasil menghentikan, tapi mendapatkan serangan dari Wildan mengoper bola kepada Billa yang menendang asal tepat mengenai kepala Erik sampai jatuh telentang.


Billa langsung menangis bukan karena Erik terluka, tapi karena tatapan mata Bella yang tajam karena tidak bisa memasukkan bola.


Windy langsung melangkah mendekati Erik yang sudah berdiri, menatap kepalanya yang baik-baik saja.


"Ayo lanjut lagi."


Steven memanggil Windy memintanya duduk dan minum, Steven akan mengantikan Windy untuk bermain bersama yang lainnya.


Suara canda dan tawa terdengar, Windy berteriak memberikan semangat untuk Steven cukup hebat dalam bermain.


"Ay, I love you." Windy memberikan love love membuat Reva, Viana, Jum mengerutkan keningnya.


Steven tertawa, menyelesaikan permainan langsung memeluk Windy. Pelukan Windy lebih erat, mencium bau keringat Steven.


"Windy jorok." Reva teriak menutup hidungnya.

__ADS_1


"Windy suka bau tumbuh Ay." Windy mencium Steven.


Viana dan Jum langsung mual ingin muntah, Viana sudah lama menikah, tapi sangat sensitif jika Rama berkeringat.


"Dulu kamu juga menyukai aku yang sering berkeringat Vi." Rama mengusap keringatnya yang habis bertanding.


"Tidak mungkin, tidak mungkin Viana melakukannya. Oh tidak bisa dipercaya." Viana merasakan geli.


Rama hanya tersenyum memeluk istrinya, meletakan kepala Viana di keteknya.


Viana teriak kuat memukuli Rama, langsung menangis merasakan jorok.


Jum hanya tersenyum saja, memeluk Bisma yang sudah biasa berkeringat bersama setiap malam.


Windy mengambil es jeruk yang dibawakan oleh maid, suara maid teriak meminta Windy berhenti karena belum diberi gula.


"Maaf non, bibi lupa memberikan gula."


"Ini enak Bi, Windy menyukai rasa masam."


Selesai minum Windy langsung berlari ke arah kolam, melompat dari ketinggian bersama Winda, Vira, Bella dan Billa yang sudah berenang lebih dulu.


Steven baru sudah mandi, mencari Windy yang belum terlihat karena dari mereka tiba belum makan apapun.


"Mam, di mana Windy?"


"Masih berenang bersama Winda."


"Sayang, ayo naik."


"Nanti Daddy, masih ingin mandi." Windy menyelam ke dasar kolam.


Steven menganggukkan kepalanya, menunggu Windy mandi yang tidak ingin berhenti.


Sudah lebih dari satu jam Steven menunggu, matanya juga mengantuk langsung tertidur di atas ayunan.


***


Semuanya berkumpul untuk makan malam, Windy mondar-mandir berkeliling mencari suaminya yang menghilang.


"Mencari apa Win?" Bima menatap putrinya yang kebingungan.


"Ay Stev hilang." Windy meneteskan air matanya.


"Bukan hilang sayang, Steven besar seperti itu tidak mungkin bisa hilang." Bima menghapus air mata Windy.


Windy langsung melangkah ke tempat lain, membuka seluruh kamar terus berteriak memanggil Steven.


"Ay, kamu di mana?" Windy teriak sekuat tenaga membuat semua orang berkumpul.


Langsung mencari Steven keliling rumah, senyuman Windy terlihat menatap Steven yang masih tidur di dekat kolam.

__ADS_1


"Suami Windy sudah ketemu." Windy langsung tidur di atas tubuh Steven.


"Astaga Win membuat heboh saja." Reva menggelengkan kepalanya.


Windy menciumi wajah Steven membuka bajunya, Steven terbangun menghentikan Windy yang ingin berhubungan di dekat kolam.


"Windy kita pindah ke kamar."


"Maunya di sini Ay."


"Astaghfirullah Al azim, malu sayang. Seluruh keluarga ada di sini, tidak mungkin kita menjadi tontonan. Banyak anak di bawah umur juga." Steven mencium Windy meminta masuk.


Steven merasakan pusing kepalanya, mungkin kelelahan karena terlalu banyak berkeliaran mengikuti keinginan Windy.


"Makan dulu Stev." Bisma menawarkan makanan.


"Nanti saja, kita ingin berhubungan dulu."


Semua kepala menatap ke arah Windy, Steven mengerutkan keningnya menelan ludah pahit. Langsung melangkah masuk, Windy langsung berlari mengikuti Stev.


"Wow, pasangan muda sedang menggebu-gebu." Bisma mengedipkan matanya.


"Kenapa Windy tidak punya malu?" Reva menatap Bisma, karena dia tidak pernah mengajarinya.


Steven masuk ke kamar meminta Windy duduk, tapi bukan duduk dipinggir Steven melainkan di atas pangkuannya.


"Kamu kenapa? bicaranya dijaga, malu didengar orang tua begitu." Steven menatap serius.


"Windy hanya jujur saja."


"Ay paham, tapi harus tahu batasan sayang. Kamu harus bisa membedakan yang pantas dibicarakan dengan yang tidak pantas." Steven memijit pelipisnya.


Windy langsung cemberut, berbaring di atas rajang tidak ingin berbicara lagi. Steven sudah berusaha untuk membujuk Windy, tapi tetap diabaikan.


Steven membiarkan Windy, langsung memejamkan matanya untuk tidur karena tubuhnya sakit semua, rasanya juga ingin demam.


Melihat Steven tidur, Windy langsung ke luar kamar ingin tidur dengan Maminya.


Reva tidak keberatan karena Winda juga tiba-tiba merengek ingin tidur bersama Maminya, akhirnya Bima tidur bersama putranya Wildan.


Steven terbangun langsung berlari ke kamar mandi muntah-muntah, seluruh isi perutnya keluar.


Tubuh Steven juga langsung lemas, menatap sekelilingnya yang sepi.


Tian tidak sengaja lewat mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban.


"Papi, di kamar kak Windy ada suara yang muntah." Tian bergabung untuk pergi sholat ke mushola.


"Steven." Bima langsung masuk kamar Steven, melangkah ke kamar mandi melihat Stev muntah-muntah.


***

__ADS_1


__ADS_2