MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 KEMBALI KE KERAJAAN


__ADS_3

Seseorang datang mendekati keluarga, memberikan baju khusus untuk empat wanita cantik. Windy tersenyum membantu ke empatnya menganti baju.


"Wow cantik sekali bajunya Vira." Vira berputar-putar, menunjukkan baju gaunnya, Viana memasangkannya mahkota.


Bibir Winda cemberut, dia tidak suka menggunakan baju seorang diri. Wildan juga harus menggunakan baju, karena mereka kembar.


"Apa lagi Winda? kamu mau Mami lemparkan ke langit."


"Kak Bel sama Bil menggunakan baju sama, tapi kak Wildan tidak."


"Sabar tuan Putri Winda, baju pangeran Wildan sedang dipersiapkan."


"Kita tidak ada?" Ravi menatap Wilo.


"Ada, kalian juga tunggu sebentar." Raja Hanz tersenyum ke arah pelayan kerajaan.


"Maafkan anak-anak Raja Hanz, mereka mengganggap kerajaan masih seperti zaman dulu."


"Tidak masalah Tuan Bima, terkadang jika ada acara penting menggunakan baju kerajaan diwajibkan, tapi jika ibu-ibu juga ingin menggunakan baju, saya ingin minta maaf karena bajunya terbuka, tidak untuk wanita berhijab."


Tatapan mata Viana, Reva dan Jum tajam, Raja Hanz merinding memalingkan wajahnya. Keluarga yang hebat bisa hidup harmonis dengan singa betina.


Bima menggelengkan kepalanya melihat tiga wanita yang memiliki tatapan mematikan, tapi sebenarnya memiliki hati yang sangat lembut.


Steven menepuk pundak Windy, tersenyum melihat Windy yang juga terlihat bahagia. Bima melihat ke arah Stev dan Windy yang berhasil melalui selangkah demi selangkah masalah bersama-sama.


"Maafkan Windy Yang Stev."


"Maaf untuk apa? masih ingat janji yang pernah aku ucapkan." Steven mengacak rambut Windy.


Senyuman Windy terlihat, dia tidak akan pernah melupakan janji Steven yang akan berjuang sampai akhir.


Stev juga bahagia melihat dua keluarga akhirnya bergabung, saling menerima juga memberikan kebebasan untuk Windy.


Suara canda dan tawa terdengar dari empat bocah centil yang di kawal satu pangeran tampan.


Teriak Vira, Winda sangat besar sampai menutup mulutnya kaget melihat di depan pintu ada kereta kuda.


Banyak pengawal Raja yang datang menjemput, menggunakan kuda, juga mobil kerajaan.


"Daddy Vira naik ini boleh?"


"Boleh sayang."


"Wildan bersama Vira, kita pasangan."


Bibir Winda langsung monyong, Wildan kakaknya kenapa bisa menjadi pasangan Vira.


"Kak Wil tidak sayang Winda, kita kembar seharusnya selalu bersama?"


"Ayo Winda bersama kak Ravi."


"Tidak mau, Winda ingin bersama pasangan."

__ADS_1


"Kita juga pasangan Winda cantik?"


"Bukan, kak Ravi bukan pasangan Winda."


"Jadi pasangan Winda siapa?" Ravi melihat Erik sudah mengendong Billa, Tian bersama Bella.


"Ternyata Winda tidak punya pasangan." Winda memasang wajah sedih.


"Winda bersama Om Stev saja."


Winda langsung tersenyum, meminta di gendong, tapi Windy melarangnya karena Steven masih sakit.


Ravi akhirnya bersama dengan Vira dan Wildan, karena keduanya masih kecil. Viana Rama, Jum Bisma masuk mobil. Bima Reva, Raja Hanz dan Atha juga masuk mobil.


Sepanjang perjalanan penuh dengan orang melihat kuda kerajaan, mengucapkan selamat datang kepada tamu kehormatan.


Vira, Winda, Bella, dan Billa melambaikan tangannya seperti seorang Putri. Tersenyum cantik menyapa rakyat Cana.


Dari kejauhan gerbang istana sudah terlihat, saat terbuka ibu suri sudah menunggu di depan pintu masuk menunggu kedatangan seluruh keluarga.


Air mata nenek suri menetes melihat kereta kerajaan membawa empat gadis kecil yang cantik, pangeran tampan, ada Stev dan Windy juga.


"Apa dia nenek sihir?" Vira menatap Wildan.


Ravi menahan tawa dibuat adiknya Vira, Wildan hanya menggelengkan kepalanya langsung melangkah keluar.


"Kak Stev, ada nenek gayung di sini, atau nenek lampir?" Winda menatap Steven dan Windy.


"Bukan sayang, dia nenek atau ibu suri." Stev turun menyambut tangan Winda dan Windy.


Ibu suri menunduk kepalanya menyambut kedatangan seluruh keluarga, Raja Hanz berdiri di samping ibunya, Atha juga berdiri di samping neneknya.


"Siapa nenek?" Vira melambaikan tangannya.


"Nenek Arum, atau kita bisa memanggilnya mati suri." Winda bicara sangat besar.


Steven dan Windy saling pandang, Vira mengangkat gaunnya langsung mundur ke belakang mencari Daddy-nya minta gendong. Bella Billa juga mundur mendekati orang tuanya.


Bima menatap Reva yang tersenyum, Reva memijit pelipisnya mendengar jawaban anaknya.


Suara tawa ibu Suri terdengar, langsung mendekati Winda memeluknya erat. Menciumnya wajahnya yang sangat menggemaskan.


"Nenek mati suri kenapa menangis?"


Reva langsung menutup mulut Windy, meminta maaf atas ucapan putrinya. Reva menundukkan kepalanya memberikan hormat.


Raja Hanz tersenyum, ternyata Reva bisa bersikap sopan kepada orang tua, sekarang terlihat sosok seorang ibu yang elegan bukan wanita setengah waras.


"Kamu Mami Windy, sangat cantik. Dia pasti Winda cantik sekali." Nenek Arum memeluk Reva mengusap punggungnya mengucapkan banyak terima kasih.


Nenek Arum bahkan ingin mencium kaki Reva karena sudah mencintai cucunya, Reva menahan memeluk nenek Arum.


"Terima kasih, kamu wanita yang sangat baik, ibu yang luar biasa."

__ADS_1


"Dia putriku, anakku, nyawaku. Windy tidak pernah bisa aku bandingkan, cinta dan sayang aku kepadanya tidak bisa Reva ungkapan dengan kata-kata." Reva mengusap air matanya.


"Mami, nenek jangan menangis lagi, sudah saatnya kita bahagia." Windy memeluk Mami dan neneknya.


"Selamat datang semuanya?"


"Daddy, nenek mati suri masih hidup?" Vira teriak mengintip nenek Arum.


"Ibu suri Vira Winda, bukan mati suri." Wildan menegaskan ucapannya.


"Selamat datang pangeran Wildan."


"Terima kasih nenek."


Nenek Arum memeluk Wildan, mengusap kepalanya. Bima juga memberikan hormat, mencium tangan nenek Arum.


Bima memeluk nenek Arum, wanita yang pernah menemuinya meminta Windy, tapi Bima melakukan segala cara untuk mengalahkan nenek Arum demi Windy.


"Kamu menang Bima, kamu berhasil menjadi Ayah terbaik."


"Maafkan Bima ibu, terlalu berat untuk kehilangan Windy, sehingga Bima memilih melindungi dan mempertahankannya."


"Keputusan kamu sudah benar, maafkan ibu yang berkali-kali ingin menghancurkan kamu."


"Bima bersyukur, dengan semua itu Bima lebih kuat, waspada, juga sangat berhati-hati."


"Dia Bisma, adik yang dulunya selalu membangkang kepada kamu." Nenek arum tersenyum melihat Bisma.


"Iya Bu, dia Bisma sedangkan wanita di sampingnya Jum istrinya, dia Bastian putra pertamanya juga dua putri kembarnya Bella dan Billa." Bima memperkenalkan keluarga Bisma.


"Dia pasti anak remaja yang dulu kamu jaga?" Nenek Arum menatap Rama.


"Benar Nek dia Rama Prasetya, dia Viana istrinya, putra dan putri mereka Ravi dan Vira. Sedangkan si tampan satu itu Erik ...."


"Dia anaknya Ammar, di mana Ammar?"


"Ibu mengenal Ammar?"


"Iya, dia pernah ingin aku bayar untuk menculik Windy, tapi dia juga yang melindungi Windy. Putranya juga tampan seperti dirinya."


Bima tertawa, Ammar memang spesial melakukan sesuatu tanpa memberitahu bahkan sekalipun sudah bertahun-tahun.


"Ammar tidak ikut, karena istrinya sedang mengandung."


Nenek Arum memeluk Erik meminta semuanya masuk untuk makan bersama.


Bima tersenyum merangkul Steven, Bima tidak salah memilih Steven untuk melanjutkan perjuangannya untuk melawan kerajaan Cana, keputusan Steven untuk berdamai demi kebahagiaan Windy berbuah manis.


Membongkar kejahatan, mempertahankan kebaikan.


***


...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA...

__ADS_1


...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...


***


__ADS_2