
Keluarga Septi masih berkumpul untuk makan bersama, Reva dan yang lainnya juga masih bergabung. Tawa dan kebahagiaan sedang dirasakan, tapi secara mendadak seorang wanita cantik dan seksi datang.
Semuanya terdiam melihat seorang bocah lelaki berusia 6tahun, berdiri di belakang wanita yang menatap Ammar.
"Hampir 7tahun tidak berjumpa Ammar, maaf aku tidak bermaksud mengganggu pernikahan kamu."
"Kamu?" Ammar masih berusaha mengingat, karena selama ini dia tidak pernah berurusan dengan wanita, sejak kejadian 7tahun yang lalu yang membuatnya trauma perempuan.
"Iya ini aku, wanita yang pernah menjebak kamu di hotel saat itu agar kamu kehilangan jabatan dan diasingkan."
"Tidak malu sekali kamu datang dengan wajah bangga."
"Aku datang untuk memberikan anakmu!"
Wajah Ammar langsung kaget, dia berdiri dari duduknya. Septi juga ikut berdiri, keluarga Septi tidak kalah panik.
"Apa?!"
Wanita seksi menarik seorang bocah yang tersenyum, dia menjelaskan jika dulu terpaksa menjebak Ammar karena tergiur dengan bayaran. Perjanjian terbodoh harus mengandung anak Ammar, tapi saat lahir orang yang berencana membayar sudah tewas karena ledakan yang dipimpin oleh seorang wanita.
Ammar menatap Viana, Vi hanya menelan ludah dia memang pernah menyelamatkan Ammar, tapi tidak pernah tahu jika meninggalkan bekas yang luar biasa, seorang wanita penghibur yang gila harta.
"Karena aku akan segera pergi bersama suamiku, dan dia hanya beban juga benalu yang tidak bisa aku bawa, dari pada dia jadi gelandangan mendingan kamu yang mengurusnya."
"Kenapa tidak kamu bunuh dia, jika dia benalu untuk dirimu, dan dia menjadi parasit dalam hidupku." Ammar menatap tajam, cepat wanita yang menatap mata Ammar dengan wajah takut berlari keluar.
"Kakak jangan tinggalkan Erik!"
Ammar menggempal tangan menatap Erik yang ingin menangis, wajah yang dia benci, kotoran yang membuat Ammar terluka, kebencian Ammar terhadap wanita yang menjebaknya juga terhadap bocah dihadapannya.
"Ayah," Erik ingin memeluk Ammar tapi di lempar kuat oleh Ammar dan terjatuh di lantai, membuat seluruh orang berteriak.
Bima meminta penjaga anak-anak untuk pergi, ini bukan tontonan anak dibawah umur. Ammar melemparkan gelas hampir menghantam kepala Erik, cepat dia berlari keluar hotel.
"Gila kamu ya, dia tidak mengerti masalah kalian orang dewasa." Bima berdiri di depan Ammar yang sedang marah.
__ADS_1
Septi langsung menangis ketakutan, keluarga besar Septi juga marah meminta Ammar jujur dengan semuanya, bahkan mengakhiri pernikahanya dengan Septi.
Tangisan teriakan histeris Septi memeluk Ammar tidak ingin berpisah, orangtua Septi menariknya tapi Ammar menahan dan mencoba menjelaskan kesalahan yang tidak pernah sengaja dia lakukan, bahkan Septi tahu soal masalah ini.
Bima coba menenangkan suasana dan bicara baik, Ivan juga sampai memohon dihadapan orangtua Septi yang menganggap Rama dan Ivan sudah Septi putranya.
"Ivan belum satu hari pernikahan Septi, sudah hadir satu wanita dengan anaknya, setelah ini apa?" Ibu Septi menangis sambil teriak.
"Ivan mohon Bu, tolong mengerti Septi dan Ammar. Mereka yang paling terluka di sini, setidaknya kita keluarga harus menyemangati mereka agar bisa menyelesaikan dengan kepala dingin, Ivan sangat memohon kepada kalian semua."
"Iya Bu pak, perpisahan bukan jalan yang terbaik. Kami mengerti kalian marah, tapi kasihan mereka berdua." Rama meneteskan air matanya melihat Septi yang langsung jatuh pingsan.
Reva melangkah pergi meninggalkan keributan, keluar mencari bocah yang tidak bersalah juga yang paling tersakiti.
"Kamu terluka?" Reva duduk di samping Erik yang sedang menangis dipinggir jalan.
"Erik baik-baik saja, sudah biasa Erik dipukul dan tidak diinginkan." Erik tersenyum menghapus air matanya.
Reva membawa Erik duduk di bangku taman hotel, keduanya diam. Reva hanya mengusap kepala Erik.
"Kamu tidak salah, yang salah orangtua yang tidak bertanggungjawab, tapi setiap orang memiliki alasan."
Erik hanya diam, Reva kasihan melihat Erik yang selalu tersenyum tapi menyimpan luka yang sangat besar.
"Ini untuk kamu." Ravi datang ikut duduk bersama Reva dan Erik.
"Mobil, Erik tidak pernah punya mobil." Tawa polos Erik memeluk Ravi yang juga tertawa memeluknya.
"Ravi punya banyak di rumah, nanti main ke rumah Ravi kita bisa berbagi mainan. Punya Tian juga banyak, tapi punya kak Windy serem banyak bulu."
"Kucing,"
"Bukan, boneka yang banyak bulu, dia tidak bisa bermain bersama kita."
"OHH, iya Erik mau bermain, boleh tidak Erik meminjam mainan kamu."
__ADS_1
"Boleh dong, nanti kita beli banyak-banyak, untuk Ravi, Tian dan kamu." Ravi dengan semangat menjelaskan mainannya.
"Nama aku Erik, kamu siapa?" Erik berjabat dengan Ravi.
"Ravi, aku Ravi Prasetya Daddy aku Rama Prasetya, dan Mommy Viana Cloria Arsen."
"Erik tidak punya Mommy dan Daddy, ibu tidak ingin dipanggil ibu katanya malu di dengar orang, sedangkan ayah tidak suka melihat Erik."
"Kamu jangan sedih, Ravi juga pernah jauh dari Daddy dan merasakan rindu berat. Tapi Allah maha tahu yang terbaik untuk kita, jadinya sekarang Ravi sudah bersatu dengan Daddy dan mempunyai adik namanya Vira Prasetya.
"Erik juga pengen punya orang tua." Air mata Erik menetes dan langsung duduk lagi.
"Kamu bisa menjadi putra Tante, Erik bisa anggap Tante Mami kamu. Mami akan mencintai kamu, seperti Mami mencintai anak-anak kandung Mami."
"Mami, Kenapa orang lain sangat baik terhadap Erik tapi kedua orangtua Erik tidak menginginkannya."
Reva menjelaskan jika Ammar pria baik dan bertanggung jawab, tapi kedatangan Erik tidak pada waktu yang tepat, mungkin sampai kapanpun tidak pernah tepat. Bukan kesalahan Erik lahir ke dunia ini tapi keegoisan ibu Erik yang gila harta, bukan hanya Ammar yang terluka di hari bahagia Septi lebih terluka lagi.
"Erik, maafkan ayah Erik yang belum bisa menerima kamu, tapi waktu yang akan menjawabnya."
"Iya Mami, Erik sudah biasa menunggu. Hati Erik sudah dibalut dengan kain tebal agar tidak terluka."
"Mulai sekarang, Erik tinggal bersama Mami ya."
"Terima kasih Mami, maafkan Erik jika suatu hari menyusahkan mami."
"Tidak ada orang tua yang merasa di buat susah oleh anaknya." Reva mencium kening Erik, Ravi memeluk Reva dan mencium pipinya, Erik juga mencium pipi Reva membuatnya tersenyum bahagia.
"Ravi mendapatkan satu teman lagi," Ravi lompat bahagia, Erik juga ikut lompat bahagia.
"Sekarang kita sahabatan, Ravi Erik selamanya. Kamu harus selalu mengikuti Ravi."
"Oke, Ravi harus selalu mendukung Erik dalam hal apapun. Kita akan selalu bersama."
Reva tersenyum melihat keduanya yang berpelukan seperti Teletubbies, menggigatkan Reva saat pertama bersahabat dengan Septi. Awalnya musuh tapi saling menolong dan melindungi sampai akhirnya berpelukan dan saling merangkul.
__ADS_1
***