MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 SELALU BERTENGKAR


__ADS_3

Suara anak kecil mengamuk terdengar, Windy berteriak kuat melempar Wira dengan bantal sofa.


Sejak pagi Wira marah-marah, memberontak kepada Windy memaksa ingin bertemu Daddy-nya yang sedang bekerja.


"Di mana Daddy Wira? Mommy berikan ponselnya kepada Wira, ingin telpon Daddy." Wira membuang semua bantal sofa keluar rumah.


"Astaghfirullah Wira, Daddy kerja di luar besok baru pulang. Kamu punya telinga tidak?" Windy mengusap dadanya, kepalanya pusing sekali mengurus Wira.


Sudah lebih dari sepuluh kali gonta-ganti baby sister, tapi tidak ada satupun yang sanggup mengurus Wira.


Steven keluar dari mobilnya, mendengar pertengkaran Windy dan Wira yang selalu bertengkar.


Steven tersenyum tidak terasa Wira sudah berusia tiga tahun, dia sudah sangat pintar bicara, selalu bertengkar dengan Mommynya.


Windy dan Wira seperti musuh bebuyutan, tingkah nakal Wira memang sangat luar biasa tidak ada lawannya.


Sejak berusia satu setengah tahun, Windy dan Steven kembali dengan perdebatan panjang tiga nenek yang tidak mengizinkan Wira pergi, sehingga Stev berjanji akan sering pulang membawa Wira.


"Assalamualaikum." Steven tersenyum menatap wanita dan pria kecil yang sangat dicintainya.


Windy langsung berlari, Wira juga berlari. Tangan Windy mendorong Wira sampai terjatuh, suara tawa Windy terdengar langsung memeluk Steven langsung minta digendong.


"Mommy!" Wira teriak kuat, langsung berdiri menarik Windy untuk turun.


Steven langsung menggendong Wira, tangan Wira menjambak rambut mommynya. Tatapan Windy tajam, meminta Wira melepaskannya.


"Mommy tidak boleh curang, kenapa mendorong Wira? awas saja nanti kalau badan Wira sudah tinggi, tidak ingin lagi dekat sama mommy." Wira menatap tajam, memeluk leher Steven yang menggendong keduanya untuk duduk di sofa.


"Wira sayang, jika besar nanti harus menjaga mommy. Daddy tidak selamanya sehat, tidak selamanya bisa menemani mommy dan Wira." Steven mencium kening putra kesayangannya, langsung mencium kening istri kesayangannya.


"Daddy, Wira ingin selalu bersama Daddy. Mommy tidak pernah mengalah sama Wira." Tatapan mata Wira sinis melihat Windy.


"Kamu harus tahu Wira, jika perempuan tidak pernah salah." Senyuman Windy terlihat mengejek putranya.


Windy langsung meminta Stev mandi, langsung menyiapkan pakaiannya. Steven melepaskan Wira untuk kembali ke kamarnya.


Senyuman Steven terlihat memeluk Windy dari belakang, merindukan istrinya yang sudah dua hari dia tinggalkan.


"Sayang, aku rindu." Stev mencium bibir Windy, tangan Windy juga langsung melingkari leher Stev.


Satu jam keduanya habiskan untuk bermesraan sebelum Wira muncul, sejak kecil Stev sudah mengajari putranya sopan santun, sehingga setiap ingin masuk kamar Wira selalu mengetuk pintu.


Steven yang sudah mandi langsung menggendong putranya, sedangkan Windy beristirahat.


Seharian menjaga Wira membuat Windy hampir kehabisan tenaga, tetapi sangat bahagia bisa melihat tumbuh kembang putranya.

__ADS_1


Steven membiarkan Wira bermain, sedangkan dirinya harus melanjutkan pekerjaannya sesekali mengawasi Wira.


Tatapan Wira menatap Steven yang sedang sibuk langsung melangkah keluar mencari Windy.


"Mommy." Wira melihat ke dapur, ruang tamu, taman, tapi mommynya tidak terlihat.


"Mommy ... Mommy!" Wira berteriak kuat langsung berlari ke kamar Windy.


Steven langsung terkejut, cepat dia berlari keluar melihat putranya yang berlari mencari keberadaan mommynya.


"Jika bertemu bertengkar, satu jam tidak melihat Mommynya langsung mengamuk mencari mommy." Stev langsung melangkah pelan untuk melihat Wira.


Pintu kamar Windy terbuka, Wira langsung berlari masuk. Berusaha naik ke atas ranjang menyentuh wajah Windy yang sedang terlelap tidur.


Stev hanya mengintip saja, ada rasa haru melihat putranya yang masih kecil selalu mengkhawatirkan mommynya.


"Mommy bobok ya? mommy capek?" Wira berbisik pelan, memeluk Windy yang menatap Wira tajam.


Wira kaget melihat mata Windy, tidak sengaja memukul wajah Windy yang langsung teriak kesakitan.


"Tega kamu menampar mommy?" Windy langsung memunggungi Wira.


"Mommy melotot, Wira kaget. Salahkan saja tangan Wira." Tangan Wira menyentuh baju Windy.


Tangisan Wira langsung pecah, mengatakan dia tidak sengaja menyakiti. Windy tetap mengabaikan tidak ingin putranya ringan tangan.


"Mommy peluk." Wira menangis sesenggukan menarik baju Windy.


Windy tidak merespon, memejamkan matanya membiarkan Wira merasa bersalah. Steven juga membiarkannya agar Wira tidak mengulangi kesalahannya.


Melihat Windy tidak menatapnya Wira langsung turun dari ranjang, berkeliling naik lagi agar bisa di hadapan Windy.


"Mommy, ayo peluk Wira. Tidak boleh mengabaikan begitu, Wira sudah minta maaf. Mom, nanti Wira menangis lagi." Kedua tangan Wira menakup wajah Windy, menciumnya langsung menangis histeris.


Tidak mendapatkan respon baik, padahal sudah berusaha membuat Wira teriak-teriak memeluk Windy yang memintanya diam.


"Sudah jangan menangis, janji sama mommy tidak akan main tangan." Windy menatap tajam.


"Kenapa janji-janji terus?"


Windy menghela nafasnya, menatap mata putranya untuk mengerti jika lelaki tidak boleh memukul wanita, Wira hanya duduk diam mendengarkan Windy ceramah panjang lebar.


Kepala Wira mengangguk tidak mengerti ucapan Mommynya, masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Tangan Wira menarik baju Windy.


"Mommy, Wira sudah minta maaf."

__ADS_1


"Iya mommy maafkan." Windy tersenyum mencubit pipi putranya.


"Mommy."


"Apa?"


"Wira boleh nen." Tangan Wira menarik baju Windy meminta menyusu.


"Umur Wira berapa?" Windy menatap tajam putranya.


"Dua tahun mommy, nanti saat pulang ke Indonesia merayakan ulangtahun Wira yang ketiga. Wira masih kecil, baru dua." Tatapan Wira mengemaskan membuat Windy ingin mencubitnya.


"Wira sudah besar, lihat Sinta sudah mandiri."


"Belum, kak Sinta bobo sama kak Mei. Dia juga sering menangis ketakutan. Wira ingin nen ini mommy." Kepala Wira sudah menempel di dada Windy.


"Kamu ingin mommy masukkan lagi ke dalam perut?"


"Tidak mau, Wira sudah besar."


"Sebenarnya kamu masih kecil atau sudah besar?" Windy mencubit kedua pipi putranya.


"Kadang kecil, kadang besar. Wira ingin nen Mommy."


Tatapan Windy tajam, Steven langsung masuk memeluk putranya yang sudah lompat-lompat. Windy tetap menolak, Wira sudah satu tahun berhenti menyusu.


Steven langsung membawa Wira keluar kamar, membuatkan susu botol, tapi langsung membuangnya berlari mencari mommynya.


"Mommy tidak ingin minum susu kotak, ingin nen Mommy." Wira memeluk Windy, menarik baju ingin menyusu.


"Ay lihat Wira, dia sudah besar."


"Biarkan saja sayang, dia mungkin hanya ingin manja saja." Stev meminta Windy memberikan izin.


"Aish, nanti juga main tonjok-tonjokan lagi." Windy ingin sekali menjambak Wira yang tetap pada pendiriannya.


Dengan terpaksa Windy memberikan izin, Wira langsung tidur dalam pelukan Windy yang juga terlelap bersama.


Steven meletakan susu botol Wira, saat bangun pasti mencari susunya. Stev mencium kening Windy, mengusap wajahnya.


"Kamu pasti lelah ya sayang, sebesar apapun aku mencintai kamu, tidak bisa membalas sedikitpun pengorbanan kamu untuk membesarkan putra kita." Tangan Steven mengusap kepala Windy dan Wira yang selalu bertengkar, tapi tidak ingin berpisah.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT

__ADS_1


__ADS_2