MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
BAJU LINGERIE


__ADS_3

Acara resepsi sudah dimulai, tamu undangan sudah mulai berdatangan.


Jum keluar dari kamarnya menemui Bisma yang sudah lebih dulu berada di pelaminan. Semua mata terpesona melihat kecantikan Jum yang terlihat seperti Barbie. Baju putih gold dan mahkota putih membuat Jum sangat mempesona.


"Subhanallah karyanya Reva dari gaun sampai make-up sangat sempurna. Jum benar menjadi ratu." Ucap Septi penuh rasa kagum.


"Iya sayang, sampai pangling! kita kapan menyusul." Ammar mulai menggoda Septi yang tersenyum malu-malu.


Jum melangkah mendekati pelaminan membuat seluruh tamu undangan terdiam, tidak terlihat Jum yang polos yang ada hanyalah seorang bidadari.


Make-up yang Reva lakukan tidak tebal tapi mengubah wajah Jum seperti boneka. Bima melihat sosok Reva yang juga sangat cantik dengan gaun yang digunakan dari pihak keluarga Bisma.


Bisma menyambut tangan Jum penuh rasa bahagia, dia sangat terpesona dengan kecantikan Jum. Seluruh keluarga inti menggunakan baju motif yang sama, pernikahan Jum menjadi pernikahan termewah di desanya.


"Beruntung ya Jum, suaminya tampan, tajir nyesel gue dulu tidak ikut Jum ke kota untuk bekerja menjadi pembantu."


"Jangan nyinyir, rezekinya Jum dan jodohnya juga."


Jumintean menjadi pembicaraan hangat melihat kemewahan pestanya, beberapa kolega bisnis Bisma dan Bima juga hadir. Teman-teman Bisma dari kota bahkan luar negeri yang mendapatkan kabar Bisma berlabuh menyempatkan diri untuk datang.


"Bro! selamat ya istri Lo cantik banget."


"Jangan puji istri gue, sebelum gue pecahin kepala Lo." Bisma juga melarang temannya menyentuh tangan Jum membuat mereka tertawa melihat playboy jatuh cinta.


Bima mendekati Reva yang tersenyum puas, melihat kebahagiaan Jum juga Bisma. Reva juga sangat bahagia mendapatkan pengakuan cinta dari Bima.


Mereka melangkah mendekati pengantin yang siap foto bersama, Ammar dan Ivan juga sudah bergabung dan melakukan sesi pemotretan.


Viana Jum dan Reva berfoto bertiga membuat tukang fotografi terpesona melihat kecantikan tiga wanita yang berada di layar kameranya.


"Sangat cantik!"


Wajah Rama, Bima dan juga Bisma langsung sinis dan kesal melihat banyak lelaki mengagumi wanita mereka. Rama mendekati Viana dan memeluknya dari samping, Bisma juga merangkul pinggang Jum. Kamera mengarah ke Reva yang langsung dirangkul Bima dipundak membuat Viana, Reva dan Jum tertawa.


"Cemburu Ayy!"


"Enggak!"


Setelah berfoto bersama keluarga besar juga para tamu, Bima mendekati Tian dan Windy yang ingin makan ditemani oleh Reva.


Reva mengambil makanan untuknya juga Windy dan Tian, banyak lelaki yang terpesona tapi tidak berani mendekat karena Reva tunangan dari kakaknya Bisma.


"Ayy! sudah makan." Reva mendekati Bima yang sedang mengendong Tian.


"Belum!"


"Windy bawa piring ke dalam ya sama Papi, Mami mengambil makan untuk Papi." Windy langsung mengikuti arahan Reva yang diikuti oleh Bima juga Tian.

__ADS_1


Reva datang membawa makanan untuk Bima, mereka makan bersama di dalam rumah Jum. Reva menyuapi kedua bocah kecil juga pria tua. Bima asik melihat ponselnya, Windy dan Tian saling pandang keheranan melihat Bima yang makan juga di suapi.


"Papi! enak." Sindir Windy halus.


"iya enak banget."


Reva tertawa melihat kedua bocah yang cemberut, menyindir Bima tapi yang disindir hanya cuek saja. Tangan Tian menahan Reva langsung mengarahkan sendok ke dalam mulutnya, sedangkan Bima sudah menganga. Bima baru menyadari jika dia dari tadi makan dengan disuapi, Bima mengelus kepala Windy dan Tian yang cemberut.


Selesai memberikan makan kedua bocah yang sudah bermain bersama Ravi juga anak-anak kecil lainnya, Bima juga sudah kembali menemui para tamu. Reva menuju kamar Jum untuk membantunya membuka gaun.


Perlahan Reva membuka gaun dan membersihkan make-up Jum. Viana masuk sambil tersenyum, Reva memandangi sinis dengan bungkus kado yang Viana bawah. Jum juga penasaran dengan isinya, Viana hanya menahan senyum melihat dua orang yang super kepo.


"Jum! janji ya bakal dipakai." Viana memberikan Kadonya sambil tersenyum manis.


Jumi ragu membuka kado yang Vi bawa, Reva memaksa Jum untuk membukanya.


Mata Jum melotot saat mengangkat baju yang dia juga tidak paham model yang Viana pilih.


"Baju apa ini?" Jum merasa geli melihat baju berwarna merah cerah.


"Baju lingerie, semua pengantin baru juga pakai baju ini Jum. Lihat seksi bukan, Bisma tidak mungkin bisa menahan diri." Viana tertawa.


"Tidak mau! Jum malu memakai baju kurang bahan." Jum langsung menyilang dadanya dengan tangan.


"Asli ini hadiah yang dinantikan setiap pengantin wanita Jum." Reva melihat baju lingerie berwarna merah dan mencocokkan dengan badannya.


"Sakit kak Vi, Jum tidak mau buat Reva saja."


Viana bercerita sejarah baju lingerie merah cerah yang dia miliki saat malam pertama menggoda ABG.


"Rama tergoda?" Reva dan Jum menanti jawab Vi.


"Tidak! gue yang tergoda melihat tubuh Rama. Biasanya anak ABG tidak bisa mengurus badan tapi Rama tubuhnya sempurna."


"Berarti misi mengerjainya gagal." Ejek Reva.


Viana tertawa mengigat pertama kalinya dia menggoda Rama, tapi Rama yang berhasil mengerjainya.


"Kak Vi Jum takut!" wajah Jum menunduk sambil memegang baju dari Vi.


Viana dan Reva saling pandang menahan tawa melihat tingkah lucu Jum yang terlihat kocak


"Takut! Lo takut malam pertama?" Viana memperjelas ketakutan Jum.


Jum hanya menggagukan kepalanya masih menunduk karena malu. Reva tidak bisa menahan tawanya yang langsung lepas menggelegar di kamar pengantin yang diikuti Viana. Jum melihat dua orang menertawakannya langsung manyun.


"Jum ngapain takut Lo tidak bakal pendarahan." Viana mengacak rambut Jum.

__ADS_1


"Tapi, katanya sakit kak Vi."


"Ya, memang sakit Jum."


"Berdarah banyak tidak kak Vi."


Reva menutup mulutnya dengan telapak tangannya menahan tawa, Jum terlalu polos sampai otaknya joroknya tidak pernah muncul.


"Jum, Lo pikir melahirkan sampai darahnya banyak. Haruskah kita nonton dulu biar berpengalaman."


"Astaghfirullah Reva! kamu belum menikah mana boleh melihat hal seperti itu." Nada Jum tinggi membuat Reva senyum-senyum.


"Namanya juga penasaran kak Jum. Pasti enak kalau enggak ngapain tiap malam. Iya tidak kak Vi?"


Viana melemparkan kardus kearah Reva yang langsung cepat menghindar. Viana juga hanya menghela nafas melihat kecemasan Jum.


"Kak Vi sudah berpengalaman kasih tahu Jum ya."


"Kamu takut malam pertama, tapi mau punya anak tidak?"


"Mau banget! Jum pengen punya anak cewek tapi mirip Bisma. Karena dia tampan, mukanya ada bule Kalau Jum kampung."


"Muka kak Jum sekarang tidak kampungan lagi, karya Reva kak Jum mirip artis Korea." Tawa Reva sambil berbaring di atas ranjang.


"Melahirkan lebih sakit dari malam pertama, kak Vi waktu melahirkan Ravi mempertaruhkan nyawa sampai kehabisan darah. Tambah lagi satu ini, bakal habis rambut Rama gue jambak." Viana mengelus perutnya.


"Namanya perjuangan seorang ibu ya dek, nanti jadi anak yang berbakti ya sayang." Jum mengelus perut Vi lembut.


"Bohong Jum, kak Vi malam pertama di villa, sampai pagi masih mengeluh sakit. Berjalan juga mengangkang." Reva langsung berlari menghindar Viana yang sudah melotot.


Jum langsung semakin panik, meminta penjelasan ke Viana soal ucapan Reva yang sudah melarikan diri.


Viana hanya menghela nafas, dia juga dulu merasakan sakit tapi enak. Vi binggung menjelaskan ke Jum yang sangat polos.


"Emhhh..., sakit tapi enak, mungkin karena baru pertama kali badan kita lelah sehingga itu sakitnya sampai pagi."


"Bohong kak Jum, mereka melakukannya berpuluh-puluh sampai ratusan ronde." Teriak Reva yang hanya memperlihatkan kepalanya dan kabur lagi.


"Jangan dengarkan Jum, tidak mungkin sampai ratusan kali. Bisa metong!"


Jum menggagukan kepalanya lebih mempercayai Viana daripada mendengar Reva yang mulutnya cempreng.


***


TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA READER JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2