
Acara siaran selesai, kegaduhan juga bisa dihentikan. Meja makan juga sudah di rapikan, makanan juga sudah dikeluarkan. Sahabat terdekat, keluarga juga sudah berkumpul.
"Terimakasih kak Vi, walaupun Reva harus malu." Reva berada di kamarnya untuk berganti baju.
"Malu! aku hanya menunjukkan fakta." Viana nyegir kuda.
"Jum khawatir banget tadi, syukurnya bisa diselesaikan dengan baik."
"Sekarang Reva sudah jadi istri, malam ini bisa malam pertama." Reva tersenyum membayangkan malam pertama.
"Belum bisa Reva, besok ada Pesta."
"Iya mbak Reva sabar, biar hanya menyambut tamu tapi tetap saja sangat melelahkan."
"Yahh gagal dong!"
Viana mengganti baju Reva, mereka langsung keluar kamar menemui keluarga yang sudah berada di aula tempat makan.
Di sana Bima dan yang lainnya sudah berkumpul, pembicaraan serius untuk memperketat lagi acara besok, karena tamu undangan bukan dari kalangan biasa.
"Ammar terimakasih untuk hari ini, Rama juga, Bisma, Ivan dan kalian semua."
Semuanya menggagukan kepalanya, dan langsung pamit pergi meninggalkan keluarga untuk makan bersama.
"Istri Lo di mana Van."
"Sama anak-anak, sebentar lagi turun."
Tidak lama suara teriakan tiga anak mulai terdengar, Tya dan Septi melangkah mendekati, mencari Reva yang juga baru tiba. Septi cepat memeluk Reva dengan wajah khawatir.
"Reva aku khawatir banget, bisa tidak satu hari saja tidak membuat orang jantungan."
"Iya maaf, namanya juga musibah di luar rencana kita."
Suara keributan Ravi terdengar, Rama cepat mengambilnya karena perut Viana sudah besar, sulit untuk menggendong Ravi.
"Daddy Ravi lapar, dari tadi kita dikurung." Wajah Ravi manyun, dia sangat kesal dilarang keluar menahan lapar.
"Windy juga lapar! lihat cacing Windy sudah teriak."
"Perut Tian lihat, kempes sekali."
Melihat kemarahan tiga bocah, membuat seluruh orang yang berada di aula langsung tertawa. Rama mendudukkan ketiganya, Jum yang menyiapkan makan. Viana juga sudah bergabung dengan keluarganya dan menyapa orang tua Reva.
Keluarga Jum juga hadir, Bisma dan Bima ikut menyapa. Seorang wanita tua mendekati Reva dan menarik tangannya.
"Kenapa nenek?"
"Reva, kamu harus berhati-hati suami kamu ternyata tampan sekali. Tapi dia sangat mirip suaminya Jum."
"Ya Allah nek, mereka kembar."
__ADS_1
"Tidak! suami kamu lebih tampan juga rapi, suaminya Jum juga tampan tapi tidak rapi."
"Nenek matanya sangat jelas melihat pria tampan, kemarin bilang Bisma yang paling tampan, sekarang bilang Bima, besok siapa lagi." Reva tertawa pelan melihat kelucuan nenek.
"Iya soalnya dulu nenek kembang desa, pengemar banyak." Nenek ikut tertawa dengan Reva, dan langsung pergi mencari makan.
Reva masih duduk di lantai dekat pojokan, Reva masih merasa seperti mimpi. Sebuah tangan menggenggam jari Reva, mata yang sangat menenangkan. Reva tersenyum melihat suaminya yang memang sangat tampan.
"Ini bukan mimpi ya Ayy." Reva ingin menangis.
"bukan sayang, ini kenyataan. Kita sudah menikah, aku bukan Om duren lagi tapi suami keren." Bima tertawa ikut duduk di samping Reva.
"Maaf ya Ayy soal kejadian hari ini." Reva memeluk genggaman tangan Bima.
"Aku yang minta maaf Va," Bima mencium genggaman jari mereka.
"Mami Papi, Windy juga mau digenggam." Windy mulutnya penuh makanan sambil bicara merentangkan tangannya.
Kedua tangan Windy digenggam erat oleh Bima dan Reva. Senyuman Windy terlihat dengan mulutnya yang masih penuh dan turus mengunyah.
"Uncle kenapa duduk di sini, kursi kosong banyak." Ravi ikut duduk sambil memegang paha ayam.
"Makannya pelan-pelan Ravi, Windy juga jangan bicara saat mulut penuh.
"Kak Tian! cepat ke sini. Duduk di bawah enak." Ravi melambaikan tangannya membuat Tian membawa piring ikut duduk bersama.
"Uncle aunty ayo makan, uncle suka disuap." Tian menyendok nasi memberikannya ke arah Bima yang langsung di sambutnya.
"Enak karena dari tangan yang di sayang." Bima tersenyum.
"Coba dari tangan Ravi, pasti enak karena Uncle ada sayang Ravi." Ravi mengambil nasi Tian dan menyuapi Bima.
"Kenapa kak Windy, aunty dan Uncle gandengan." Tian mengunyah ayam memenuhi mulutnya.
"mungkin kak Windy buta," Ravi makan bersama dengan Tian satu piring.
"Windy tidak buta!" langsung cepat Windy melepaskan genggaman langsung ikut makan.
"Kenapa ikut makan nasi Tian?" wajah Tian langsung cemberut, Ravi sudah memakan ayamnya sedangkan Windy memakan daging menyisakan Tian nasi.
"Tidak boleh pelit Tian, nanti tidak masuk surga." Ravi tersenyum, Windy hanya mengangguk kepalanya.
Reva meneteskan air matanya, Tian yang awalnya sangat pendiam, sekarang banyak bicara setelah bertemu Ravi. Melihat Windy yang bisa tertawa bahagia mengingatkan Reva saat pertama bertemu Windy, saat Windy menangis di taman. Kini air matanya sudah berubah menjadi canda dan tawa.
"Izinkan Mami mendidik kamu menjadi wanita baik," Reva mengelus rambut Windy yang sedang asik bercanda.
"Mau sampai kapan kalian duduk di lantai, sia-sia bayar mahal ujungnya lesehan." Bisma melewati memberikan minuman untuk anak-anak.
"Inikah hotel kak Bima, jadi gratis." Jum menimpali dan tersenyum.
"Tahu darimana Jum?" Bisma juga tidak tahu menahu soal bisnis kakaknya.
__ADS_1
"BB hotel, artinya Bima Bramasta." Jum memberikan minum ke Bisma.
"Bukan! BB artinya Bima Bisma!" Bisma menatap Bima yang sudah pindah duduk dengan keluarga Reva.
"OHH, Jum salah berarti."
"Nama ini janji kak Bima, saat kami kecil ayah pernah bertanya kami ingin membuka bisnis apa, dengan nama apa. Aku tidak tahu tapi kak Bima dengan mantap menjawab. Perhotelan, dengan nama BB."
"Kenapa dia ingin membangun hotel?" Ammar ikut menimpali.
"Katanya tempat dia membawa keluarga liburan, melihat dari atas keindahan yang di bawah. Karena langit yang tinggi tidak bisa digapai tapi yang di bawah bisa, saat kita diatas lihatlah ke bawah betapa indahnya yang di bawah tapi hanya bisa dinikmati dari atas."
"Bisma sosok kakak, ayah yang luar biasa. Aku juga belajar banyak dengan Bima. Hatinya luar biasa baik, bahkan dia juga menggakat adik dari wanita yang mencintainya."
"Siapa?"
"Steven namanya, dia yang membantu aku mengusir wartawan menggunakan identitasnya sebagai pengacara."
"Lelaki impian semua wanita."
"Sayang, tidak boleh memuji pria lain."
"Iya maaf."
Makan malam selesai dengan penuh canda dan tawa, masih ada satu kekhawatiran Reva soal saham VCLO, tapi melihat suaminya yang tidak melepaskan genggaman tangannya membuat Reva nyaman.
"Ayy!"
"Iya Va!,"
Cup..., Reva mencium pipi Bima membuatnya tersenyum, syukurnya para orang tua sudah masuk ke kamar untuk beristirahat.
"Reva! sabar dong di sini masih ada anak kecil." Viana melotot.
Windy berlari mendekati Bima, duduk di samping Papi mendaratkan ciuman di pipi Bima. Reva juga ikut mencium, giliran Windy, lanjut Reva sampai Bima tertawa melihat dua wanita mencium pipinya bersama dengan cukup lama. Viana mengambil foto dan tersenyum, lama dia tidak mendengar tawa Bima.
"Ayo kak Tian! Ravi duduk di dekat Rama memanggil Viana untuk mencium Daddy.
Tian juga langsung mendekati Bisma, mencium pipinya meminta Bunda Jum juga mendekat.
Tawa terlihat penuh canda dan tawa, hanya Ammar dan Ivan yang belum mempunyai orang ke-tiga. Ammar lebih sedih lagi karena belum halal tapi sangat bahagia melihat kebahagiaan ketiga pasangan.
"Jaga kebahagiaan ini ya Allah, berikan kami umur yang panjang agar bisa lebih lama menikmati kebersamaan." Bima mengusap matanya, memeluk pinggang dua wanitanya.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1