
Air mata Windy mengalir melihat lelaki yang dicintainya berada di atas tubuhnya, Stev tersenyum mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
Suara tembakan terdengar, Atha langsung berlari menahan tubuh Steven yang sudah terjatuh di atas tubuh Windy.
Atha teriak kuat, meminta pengawal mengejar orang yang sudah mencelakai Steven dan Windy.
Saka dan Vero yang baru sampai juga langsung berlari melihat Steven yang sudah penuh darah, Windy memeluk erat tubuh Stev.
"Kak Stev, jangan tinggalkan Vero, jangan pernah menutup mata, Vero mohon kak." Air mata Vero menetes menggenggam tangan Steven.
Saka langsung melangkah pergi, mengejar orang yang sudah menusuk Steven sampai tiga tusukan. Ghina dan Wilona yang baru datang terdiam melihat darah.
Atha langsung menggendong Steven bersama Vero, Raja Hanz yang melihat Windy menangis sesenggukan langsung menggendongnya, meminta dokter kerajaan melakukan perawatan terbaik untuk Steven dan Windy.
Steven dilarikan ke rumah sakit, Windy sudah jatuh pingsan dalam gendongan Raja Hanz. Keduanya dilarikan ke rumah sakit menggunakan mobil kerajaan.
Air mata Raja Hanz menetes memeluk erat Windy, marah kepada dirinya sendiri yang selalu gagal melindungi keluarganya.
Seluruh mobil menyingkir dari jalanan melihat mobil kerajaan beriringan saat matahari baru ingin terbit.
Tim di rumah sakit sudah bersiap, langsung melihat Steven yang sudah tidak sadarkan diri, membawanya ke dalam untuk melakukan perawatan medis.
Windy juga langsung dilarikan ke dalam ruangan perawatan, Vero terduduk di lantai, dia akan membunuh orang yang beraninya menyakiti kakaknya.
Ghina langsung datang mendekati Vero, mengusap punggungnya. Ghina yakin Steven pasti selamat, dia pria yang kuat.
Dokter keluar mengatakan Windy hanya luka ringan, sekarang Windy sudah beristirahat. Raja Hanz mengucapkan terima kasih, menurunkan statusnya kepada dokter karena anaknya baik-baik saja.
Semua masih duduk diam menunggu keadaan Steven, Raja Hanz juga mengkhawatirkan keadaan Stev, dia juga merasa bersalah karena Steven sudah memperingatinya untuk memperketat penjagaan Windy.
Dokter keluar mengatakan Steven baik-baik saja, hanya ada tiga tusukan di punggungnya, tapi luka tidak dalam sehingga tidak melukai bagian dalam tubuh Stev.
Tubuh Steven yang sehat, kekar membuatnya bisa bertahan menerima beberapa tusukan. Sementara Steven harus diawasi, dia kehilangan cukup banyak darah, membiarkannya beristirahat total.
Athala bersyukur langsung memeluk Vero, keduanya melihat keadaan Steven cukup memprihatinkan.
Dokter mengatakan bersyukurnya bukan bagian perut, atau bagian dada yang tertusuk jika tidak pasti akan berakibat fatal.
Ghina teriak kaget melihat Saka yang datang dalam keadaan darah semua, tangisan Ghina langsung pecah memeluk Saka yang bajunya acak-acakan.
__ADS_1
Vero keluar dari kamar Steven melihat keadaan Saka yang berantakan. Tatapan mata Saka tajam melihat Ghina, menyentuh pipinya, tapi tangannya banyak darah.
"Bagaimana keadaan Steven?"
"Dia baik-baik saja kak Saka, tapi masih dalam pengawasan."
Saka mengangguk kepalanya, melihat Steven dari balik pintu, tubuh Stev dipasang banyak alat yang tidak Saka mengerti.
"Maafkan aku Stev, tidak mendengarkan ucapan kamu menganggap remeh peringatan. Seharusnya saat kamu mengatakan masih ada satu tanda tanya yang belum terungkap, aku meminta kamu melupakannya, tapi kenyataannya hal kecil yang aku lupakan, menjadi sesuatu yang mematikan bagi kita." Saka menundukkan kepalanya meminta maaf kepada Vero.
"Kak Saka tidak salah, kak Stev bangga memiliki teman seperti kak Saka yang setia."
Saka melangkah menjauhi tempat rawat Steven, sebelum pergi ke kingdom Cana, Saka, Steven dan Bagus berjanji jika satu terluka semuanya terluka, kalah satu berarti semuanya gugur.
Saka menghubungi Bagus jika Steven terluka, dia tertusuk demi menyelamatkan kekasihnya, misi hidup Steven hanya hidup dan mati untuk Windy.
Bagus dan Glen cukup kaget, tapi tetap bersyukur karena Steven masih bertahan. Mereka yakin Steven lelaki yang kuat, dia akan bertahan sampai akhir.
"Saka sebaiknya kamu juga diperiksa, tubuh kamu memiliki banyak luka." Ghina mengambil tisu membersihkan darah di tangan Saka.
"Aku baik-baik saja Ghin."
Raja Hanz menepuk pundak Saka, memintanya untuk membersihkan diri, juga harus diperiksa.
***
Windy terbangun, melihat tangannya yang masih diinfus. Air mata Windy menetes Wilona memeluk Windy memintanya untuk tenang.
"Om Stev?"
"Om Stev baik-baik saja Win, dia hanya kehilangan banyak darah, mungkin butuh istirahat lebih lama."
"Bagaimana dengan dia?"
"Saka sudah menangkapnya, hari ini dia akan dibawa ke penjara untuk ditahan."
"Aku ingin bertemu."
"Jangan Windy, keadaan kamu masih lemah."
__ADS_1
"Ada beberapa hal yang harus Windy pertanyaan, kamu juga pasti penasaran Wil?"
Windy Melangkah keluar bersama Wilona, melangkah ke lantai satu untuk menemui sahabat, atau lebih tepatnya pengkhianatan.
Windy melangkah melihat banyaknya polisi, ada Raja Hanz yang sedang berbicara juga Atha yang mendampingi Ayahanda.
"Kenapa ingin membunuh Windy?" Tatapan mata Windy tajam melihat seorang pria yang berdiri di tengah para aparat kepolisian.
"Seharusnya kamu tidak kembali, mengacaukan segalanya."
"Windy sayang Lukas, saat pertama Windy kuliah kamu teman pertama. Saat sedih bahagia, kecewa ada kamu disisi Windy."
"Kedatangan aku untuk membunuh kamu, tapi aku menunda sedikit waktu. Rencana aku berantakan sejak kehadiran Wilona, ditambah lagi adanya Steven dan Vero."
"Kenapa Lukas padahal kita bahagia bersama kamu?" Wilo meneteskan air matanya.
Saka berdiri di samping Windy, kepalanya sudah penuh tempelan, tubuhnya juga banyak goresan luka yang sudah dibersihkan.
Saka mengatakan sebenarnya Steven dan Saka sedang mencari seseorang, dia anaknya Mariam yang dia titipkan kepada saudaranya saat dia masuk istana bersama Atha.
Stev sudah memperingati dia ada, masih hidup, juga sangat dekat dengan mereka semua. Steven belum bisa bergerak karena tidak ada bukti Mariam menemuinya.
Lukas anak yang Mariam titipkan, dia dibawa pergi oleh saudara angkatannya yang sekarang membesarkan. Lukas sebelumnya anak baik, tapi Mariam menghubunginya untuk memberikan segala kemewahan, juga Lukas akan dijadikan pangeran di Cana setelah Mariam membunuh dua Raja.
Bib orang yang mengirimkan Wilona mengatasnamakan perintah Ratu, Bib tahu Wilo bisa menjaga Windy.
"Aku membenci kamu Windy."
"Hanya karena harta dan kekuasaan, tumbuhnya rasa benci."
Lukas tertawa kuat, sebuah ponsel melayang menghantam wajahnya, darah segar keluar dari hidung Lukas. Semua mata melihat wanita cantik yang berdiri menggunankan kacamata hitam, dua anak cantik dan tampan memperlihatkan kepala mereka dari belakang.
Windy menatap Wilona, Saka juga langsung mundur menjauh, Lukas bisa mati.
"Ghin, sebaiknya kita mundur, kemarin Ratu Mariam jatuh pingsan karena Windy, kali ini Lukas bisa kehilangan nyawa.
Sebuah tendangan menghantam Lukas sampai terlempar, polisi kaget tidak ada yang berani menghentikan. Suara teriakan minta tolong terdengar.
Rumah sakit langsung gempar, Windy menutup mulutnya, menutup juga matanya. Mata gadis kecil ditutup oleh kakaknya agar tidak melihat.
__ADS_1
"Mati kamu, sudah aku katakan kamu cacat seumur hidup!"
***