
Bisma keluar kamarnya sambil menggendong Ravi dan berpapasan dengan Rama yang tersenyum melihatnya, terdengar juga suara Viana yang tertawa bersama para wanita.
"Kenapa kalian bisa ada di sini," Bisma memulai percakapan bersama dan berjalan mendekati Bima yang sibuk dengan tabletnya.
Bima terdiam melihat foto seorang wanita bule bersamaan Bisma yang dikirimkan Ammar.
Reva tersenyum licik, ternyata wanita yang selama ini Bisma cari sudah berada di Indonesia. Saatnya drama dimulai, hanya Bima yang bisa mempercepat kembalinya mereka ke Indonesia. Reva sudah malas menunggu waktu Bisma mengatakan kebenarannya.
Wajah Reva merah melihat foto yang baru di kirimkan oleh seseorang tentang foto seorang wanita yang di peluk Bima. Tangan Reva gemetaran langsung bangkit berdiri dan berteriak mencari Bima dengan amarah, Jum dan Viana kaget mereka sedang membahas pekerjaan bersama Sisi dan Septi.
"Bima! jelaskan," Reva melemparkan handphonenya ke Bima yang sedang memandangi foto yang sama.
"Bukan aku! tapi Bisma, aku tidak mengenali wanita bule ini." Bima diam saja mendengarkan Reva yang marah dan mengomel tidak jelas.
"Jika tidak dipancing pasti Bima diam saja, dasar laki-laki harus perempuan yang turun tangan. Maafkan Reva ya kak Vi." Batin Reva dalam hati.
Bisma mengambil handphone Reva dan melihat foto Sisil yang berada di Indonesia, cepat Bisma mengambil ponselnya dan menyiapkan penerbangan hari ini juga ke Indonesia, dan menghubungi Ammar untuk menahan wanita bule yang bersamanya.
"Bisma! Lo udah janji ke gue berhenti mencintai Sisil," teriak Vi menarik lengan Bisma.
"Ini bukan masalah cinta Vi, ada hal yang harus dia luruskan." Bima menepis tangan Vi.
"Sisil tidak mencintai Lo, hatinya milik pria lain. Berhentilah mengejar cinta wanita tua itu."
"Vi, ini rahasia yang aku sembunyikan dari kamu, jangan membenci dia Viana bisa jadi wanita ini punya hubungan darah dengan kamu. Saat kamu melahirkan Ravi, kamu mengalami pendarahan dan dia yang menyelamatkan kamu. Golongan darah kamu yang unik bisa sama dengannya. Dan alasan aku pergi mencari dia karena mendapatkan laporan dari wanita yang pernah membantu persalinan kamu, Dan...." Bisma menghentikan ucapannya dan melangkah pergi.
"Kita juga kembali hari ini juga kak Bima," Rama memberikan perintah yang di anggukan Bima.
Viana terdiam mendengar perintah Rama, apa pentingnya wanita 50 tahun-an ini harus menjadi alasan Rama kembali, tapi melihat ekspresi Rama Viana tidak berani membantah.
Reva hanya menahan tawa, benarkan liburan batal. Semuanya kembali ke Indonesia, Reva bisa melihat kekesalan di wajah Viana. Turun dari pesawat Bisma menahan Reva dan menatapnya tajam.
"Ini pasti ada campur tangan kamu Reva, sekarang kamu menggunakan kekuasaan untuk menarik Sisil ke Indonesia."
"Lebih cepat lebih baik, Brit mulai bergerak, kak Vi harus segera menyingkirkan Ririn. Aku tidak akan tinggal diam, dan satu hal lagi seseorang mengancam dan aku belum menemukan siapa pelaku."
"Ternyata kamu juga wanita licik Reva, Bima tetap sial, hilang Viana datang Reva."
__ADS_1
"Jika dengan cara licik bisa mempercepat selesainya masalah, akan aku lakukan."
"Baiklah senang bekerjasama dengan anda nona Reva."
"Jaga suamiku Bisma, jangan sampai dia terluka dalam misi menangkap Ririn."
"Suami!" Bisma geleng-geleng, geli mendengar ucapan Reva.
Reva dan Bisma berpisah, Bima ingin mengantar Reva pulang tapi ditolak. Karena Reva punya rencana sendiri.
"Yakin tidak mau diantar!"
"Iya Ayy, hati-hati kamu." Reva melangkah pergi bersama Jum.
***
Satu bulan telah berlalu sejak masalah yang menimpa keluarga Rama, Viana di culik oleh Ririn, kak Ammar yang tertembak belum lagi meninggalnya kedua Oma. Reva tidak punya banyak waktu bersama Bima, tapi di sini hubungan keduanya diuji. Reva bangga mencintai seorang Bima, dia bisa mengendalikan banyak hal dalam waktu bersamaan, dia pria yang dewasa yang sangat tenang juga sangat menenangkan. Reva ingin hidup bersama Bima dan hidup bahagia seperti Rama dan Viana.
Tokk tokkk tokkk....
"Kamu baik-baik saja Reva, Bima pasti sibuk karena masalah Rama."
"Ya setidaknya membuat aku mendapatkan banyak waktu menyelidiki kasus Reno. Aku akan membuat dia mendekam di penjara karena berani berani berurusan dengan Reva."
"Berhati-hati Reva, air tenang bukan berarti tidak berbahaya. Dia seorang pria psikopat."
"Aku tahu! tapi aku lebih psikopat dari dia."
"Ya jika kamu berperan menjadi seorang penjahat sangat cocok, kamu licik juga suka drama."
"Seharusnya kamu mengucapkan terimakasih! aku membantu kamu menyelesaikan masalah dengan Sisil."
"Baiklah! terimakasih karena kamu sudah menjaga Tian. Kamu menutupi keberadaan Tian saat Brit mencarinya. Terimakasih juga karena sudah mempertemukan Jum dan Tian."
"Aku memang kakak ipar yang baik, kamu harus hormat dan sopan Bima."
"oke Kakak ipar, istri dan anakku datang. Kami ingin bersenang-senang dulu, selamat menjomblo karena suaminya sibuk."
__ADS_1
"Kurang ajar! adik ipar tidak tahu diri. Aku kutuk kamu jadi rempeyek."
Jum datang bersama Tian menyapa Reva, Tian mencium tangan Reva. Jum berbicara sebentar dengan Reva lalu dia pergi bersama Bisma.
"Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk kak Jum, semoga kalian bahagia kak." Reva tersenyum melihat mereka yang menghilang.
Seorang wanita datang mendekati Reva menyiram wajahnya dengan air minum, Reva tersenyum melihat Brit akhirnya muncul di hadapannya. Tatapan mata mereka bertemu, Reva mengambil tisu membersihkan wajahnya.
"Wanita pelakorr! tidak tahu malu, jika kamu tidak hadir, aku dan Bima pasti sudah menikah kembali."
"Punya kaca!"
Reva membuka ponselnya, memberikan kamera memperlihatkan wajah Brit juga wajahnya.
"Masih kalah jauh!" Reva tertawa, Brit memang cantik tapi dandanan menor lebih membuatnya terlihat seperti tante-tante kurang belaian.
"Jauhi Bima! jika kamu tidak ingin keluarga kamu terluka."
"Jangan bawa keluarga Brit, kamu jangan lupa siapa Reva Pratiwi. Aku bisa menghancurkan kamu dengan mudah."
"Jangan lupakan juga Britania, aku bisa membuat karir kamu hancur seketika."
Reva ingin sekali tertawa, seorang ibu yang hanya mengejar harta, tidak ada rasa rindu dengan anaknya. Reva hanya bisa menghela nafas, jika bukan ibu kandung Windy sudah Reva hancurkan karirnya.
Brit melangkah pergi tapi langsung tersungkur karena kaki Reva menahannya. Kuah bakso bekas Reva makan disiramkan ke kepala Brit. Dia langsung teriak karena joroknya kuah bakso.
"Sudah aku peringatkan! aku akan membalas berkali-kali lipat. Aku bukan wanita polos Brit yang bisa mundur karena ancaman." Reva tertawa menang meninggalkan Brit yang mencaci-maki Reva.
"Awas kamu Reva, saya tidak akan membiarkan kamu menikah dengan Bima."
Reva membalikan tubuhnya dan melambaikan tangan ke arah Brit sambil tersenyum.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
***
__ADS_1