
Di dalam kamar, Tian dan Windy menatap Erik yang tersenyum manis. Tya mendekati Erik dan melihat wajah Erik yang sedikit membiru, ada goresan luka juga di matanya.
"Sakit sayang, sini Tante obati."
"Tidak perlu Tante hanya luka kecil, Erik punya yang lebih besar." Erik membuka bajunya, Tya menutup mulutnya melihat luka pukulan berwarna biru.
"Sakit tidak?" Windy menyentuh luka Erik.
"Waktu itu sakit, tapi sekarang tidak lagi lebih terlihat lucu. Badan Erik biru seperti yang di permen itu." Tawa Erik menertawakan dirinya sendiri.
"Kenapa kamu dipukul?"
"Ibu pulang malam, Erik lapar minta makan tapi dipukul."
Chintya langsung menangis memeluk Erik, sungguh hatinya terluka. Tya juga pernah menjadi wanita jahat, tapi Allah masih baik dengan memberikan lelaki hebat seperti Ivan untuk menjadi suaminya.
"Tante mengapa menangis, Erik selalu tersenyum tapi setiap orang melihat Erik selalu menangis. Erik keluar saja."
"Tidak sayang, Tante suka Erik di sini. Jangan pernah pergi nak."
Ravi mendekati Erik, melihat sekujur tubuh Erik yang penuh cubitan. Tian juga mengoleskan minyak bayi milik Vira agar cepat sembuh. Erik tertawa cekikikan merasakan sentuhan Ravi dan Tian yang bikin geli
Tya ikut tertawa melihat ketiga bocah mulai jahil dan saling menggelitik. Tiba-tiba perut Tya merasakan sakit, Erik langsung mendekati Tya yang meringis.
"Tante ini ingin melahirkan?"
"Tahu dari mana kamu?" Tian mengoleskan minyak ke perut Tya agar tidak sakit.
"Erik sering membantu seorang bidan di dekat tempat tinggal Erik dulu."
Cepat Erik berlari ke dalam kamar mandi, mengambil air dan mencari kain. Mengelap kaki Tya yang sudah mengeluarkan air, Ravi coba menghubungi Ivan melalui hp Tya.
"Tidak diangkat Tante."
"Ravi, kamu panggil ayahnya terus kamu Kaka cantik jagain adik bayi ini. Erik dan Tian bantu Tante berjalan keluar untuk mencari mobil." Erik seakan mengerti semuanya, cepat semuanya bergerak.
Tya tersenyum berjalan keluar, Erik terus membuat Tya agar tenang karena kemungkinan baru kontraksi dan mendengarkan arahan Erik membuat Tya tersenyum.
Kadang sakitnya muncul, kadang menghilang. Tya berjalan melalui lift sambil di gandeng kedua bocah kecil. Ravi berada di lift berbeda untuk menemui orangtuanya, juga Ivan.
Penjaga anak-anak juga sudah lepas tugas, karena sudah tengah malam. Jadi para bocah ini yang bertindak. Windy yang bertugas menjaga Vira berusaha menghubungi Reva tapi tidak diangkat juga, Papi juga sama.
__ADS_1
"Dasar orangtua, pas dibutuhkan malah menghilang." Windy akhirnya menghubungi Jum.
Belum sempat Jum menggakat, Ravi yang ngos-ngosan sudah tiba. Semuanya menatap Ravi yang keringat, tangannya menunjuk keluar.
"Ada apa sayang?" Rama langsung berlutut, melihat Ravi yang panik.
"Aunty Tya, melahirkan!"
Semuanya terdiam, Ivan yang langsung sadar dan mengerti ucapan Ravi menunjukan ke depan cepat berlari. Di depan lobi Tya menahan sakit di temani Tian, sedangkan Erik berlari ke jalanan untuk mencari mobil.
Ivan langsung menggendong Tya, meminta tolong Rama membawa mobil.
"Sayang, panggil Erik dia berlari ke jalanan untuk mencari mobil." Tya mengingatkan Ivan yang langsung meminta Bima mencari Erik.
Tya dilarikan ke rumah sakit, Reva meminta untuk juga ikut bersama Bima untuk mencari etik. Viana langsung ke lantai atas mengambil putrinya dan Windy. Sisanya langsung melaju ke rumah di sakit.
Di jalanan Bima meneteskan air matanya melihat Erik melambaikan tangannya, meminta mobil berhenti. Reva juga ikut menangis sedih melihat kecemasan Erik tanpa rasa takut.
"Erik!"
"Mami! tidak ada mobil yang ingin berhenti, kasihan Tante tadi lama menunggu. Mengapa orang tega ya Mam, tidak ingin menolong kita yang kesulitan."
Ammar dan Septi juga ikut mencari Erik dan melihatnya dengan kesedihan, membuat hari Ammar merasakan sakit. Saat melihat Ammar, Bima langsung menyerahkan Erik tapi Erik langsung turun dan melangkah mundur.
"Maafkan Erik ya Om, jangan sakiti Erik tidak akan nakal lagi."
Septi langsung melangkah maju, memeluk Erik dan menciumnya menggendongnya untuk kembali ke hotel.
"Jangan pedulikan ayah kamu Erik, dia memang galak tapi hatinya baik."
"Kaka ipar bukan ayah." Reva memperjelas ucapan Septi.
"Kakak ipar, lucu sekali." Erik tertawa.
***
Keadaan benar-benar membuat lelah, Bima meminta Reva istirahat besok baru melihat Tya yang melahirkan, di sana hanya ada Ivan dan Rama.
Pagi-pagi sekali semuanya sudah bangun, pengganti baru tidak dapat jatah malam pertama karena kehadiran Erik yang dipeluk Septi.
Keluar dari kamar mandi, Septi menangis dalam pelukan Ammar. Septi terluka melihat tubuh Erik yang penuh luka. Ammar membuka pintu dengan kuat, melihat Erik tertawa sambil memainkan air.
__ADS_1
Ammar memandikan Erik dan bertanya soal lukanya, Erik hanya tertawa dan mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
"Kenapa kamu selalu tertawa, tidak marah dengan keadaan."
"Tidak, karena Erik menunggu sampai tubuh lelah dan akhirnya kembali kepada yang maha kuasa. Erik pasrah saja dengan takdir, ibu selalu menyumpahi Erik agar cepat mati, tapi bunuh diri dosa kakak ipar. Jadi biarkan takdir menyiksa Erik."
"Maafkan Papa, seharusnya kamu datang lebih cepat sehingga tidak terlalu lama menderita, sekali datang di saat yang tidak tepat. Lihat luka kamu terkena gelas."
"Tidak sakit," Erik tetap tertawa, tapi hati Ammar yang sakit, Septi hanya mendengar dari balik pintu.
"Mulai sekarang berhenti bilang aku baik-baik saja, jika sakit katakan, jika ingin sesuatu katakan."
"Boleh ya kakak ipar, Erik ingin mobil kecil tapi tidak punya uang."
"nanti Papa belikan, dari yang kecil sampai yang paling besar."
***
Reva menghirup udara pagi, mengusap perutnya yang sudah terlihat. Tubuhnya yang lelah juga banyak pikiran karena masalah Septi membuat perutnya keram. Bima memeluk dari belakang dan mengusapnya.
"Kita periksa ke Dokter ya?"
"Iya Ayy, perut Reva rasanya keram, pusing, mual dan rasanya tubuh Reva ingin tumbang."
"Jangan memikirkan apapun, Erik pasti bahagia bersama Ammar. Percayalah sayang kalian semua wanita baik dan bisa menghadapi segalanya."
"Terima kasih ya Ayy, selalu mendukung segala keinginan Reva."
"Kebahagiaan kamu yang paling utama sayang."
Bima mencium Reva, dan membuat jadwal bertemu Dokter. Viana juga sedikit khawatir mengantarkan jus untuk dua bumil yang sangat kelelahan. Reva juga mengatakan jika perutnya keram dan tubuhnya tidak nyaman.
Semuanya berkumpul untuk ke rumah sakit, tawa tiga bocah tambah satu lagi membuat semakin ramai. Erik menggandeng tangan Reva dan Septi berjalan keluar hotel.
"Terima kasih Mami sudah baik sama Erik, dede juga sehat terus jangan sakit." Erik mengelus perut Reva.
"Nanti ada kakak Erik yang akan mengobati, di mana ada pasien harus ada Dokter."
"Erik jadi Dokter." Senyum Erik yang ramah muncul kembali, Reva sangat tenang melihat senyum Erik pagi ini, terlihat beda dengan tadi malam.
***
__ADS_1