
Karena keinginan Bima Reva harus menjadi diri sendiri, akhirnya Bima yang kewalahan mengikuti keinginan Reva. Sikap ngambek Reva tidak ada duanya, jangan sampai Bima menyebut nama perempuan habislah teriakan Reva kuat.
Kejadian pagi hari Bima meminta tolong bibi untuk membeli susu hamil, tapi sedang kosong. Bima memutuskan untuk keluar mencari susu dan menyebut nama jelly. Reva langsung teriak dari lantai atas, langsung menangis. Bima cepat naik tidak mengerti membuat Reva menangis dan memukuli Bima, suara Reva mampu menembus dinding ruang Jum.
"Sayang salah apa lagi aku?" Bima mengaruk kepalanya, Windy yang melihat hanya tertawa.
"Kamu beli susu hanya alasan ingin bertemu jelly."
"Astaghfirullah Al azim, itu bukan perempuan tapi minuman. Windy yang menginginkannya sayang." Bima cemberut, menghela nafas mendengar jawaban Reva hanya OHH panjang.
***
Reva melihat sebuah gaun pernikahan yang dia rancang khusus untuk Septi, Lisa juga turun tangan langsung mengatur acara pesta pernikahan dengan tim terbaik. Septi dan Ammar hanya terima jadi dan duduk cantik di pelaminan, seluruh biaya juga Reva yang menanggung.
Gedung yang mewah juga sudah Rama tentukan, Ammar tidak mengeluarkan uang karena Rama melakukan untuk jasa Ammar di masa lalu. Reva juga memberikan dekorasi terbaik demi sahabat wanitanya.
Viana juga datang untuk melihat gedung, diikuti oleh Reva. Karena Bima menghawatirkan Reva dia mengirimkan satu pengawal wanita untuk menjaga ketat Reva.
"Sempurna!" Reva tersenyum karena besok akan menjadi hari bahagia Septi dan Ammar.
Seseorang pekerja mendorong kuat meja beroda. Viana cepat menarik Reva membiarkan tubuhnya yang terbentur didinding, wajah panik Vi terlihat menatap Reva yang memegang perutnya.
"Di mana yang sakit, perut kamu sakit tidak?!" Viana teriak panik, melihat wajah Reva pucat.
"Nyonya, bagian mana yang terluka." Pengawal Reva datang mendekat.
Pukulan Viana melayang, pertarungan antara Viana dan pengawal Reva terjadi. Rama dan Bima yang baru datang langsung kaget dan cepat berlari, Rama coba menghentikan Viana yang membabi-buta.
"Vi cukup, dia bisa mati." Rama berteriak memeluk Viana.
Bima mendekati Reva yang pucat juga ketakutan, melihat pertengkaran Vi membuatnya meneteskan air matanya.
"Lebih baik dia yang mati daripada anak Reva terluka, perusahaan mana yang mempekerjakan pengawal bodoh."
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Dia ngobrol dengan satpam, sedangkan lelaki yang matanya di belakang menarik mendorong meja yang beroda."
"Bagian mana yang sakit, kita ke Dokter sekarang?" Bima menatap Reva yang memeluknya dengan erat.
Mata Reva menatap sinis ke arah pengawal yang terduduk dengan penuh luka, Reva marah saat Bima menyewa pengawal wanita yang punya sikap genit. Reva sangat khawatir saat Vi bertarung, di luar rencananya.
"Reva takut,"
"Maaf ya, kita ke rumah sakit dulu ya. Takutnya kamu terbentur."
"Kak Vi yang terbentur."
Rama langsung memutar tubuh Viana, dia sangat khawatir takut Vi cindera. Reva dan Vi menunggu di ruang tunggu, karena Bima dan Rama sedang mengurus kasus Reva Viana.
"Kenapa kak Vi bertarung?" Reva yakin Viana sengaja.
"Kamu juga kenapa pura-pura kesakitan?" Vi mengetahui dari tatapan mata Reva, yang melihat Vi terbentur di dinding.
"Karena dia menggoda Bima, sejak awal dia datang Reva ingin muntah tapi Bima terus memaksa, lagi pria pekerja tadi juga tidak teliti, mungkin dia juga tidak tahu meja memiliki roda."
"Kenapa tidak memberikan kode, aku khawatir Awalnya. Tapi melihat mata kamu jadi aku meluapkan kekesalan." Viana tertawa, jika dia tahu Reva akan membuat Bima memecat pengawal jika membuat Reva sedikit terluka, tapi Vi melancarkan rencana Reva yang lebih ekstrim.
"Kita memang jodoh Va, bisa membaca pikiran masing-masing."
"Dunia ini hanya selebar daun kelor, selalu bertemu dengannya orang di masalalu, yang dulunya kuat, sombong sekarang di bawah."
"Iya, dulu kaka wanita tadi mengeroyok kak Vi saat pulang sekolah, pukulan yang melayang anggap saja hutang lama. Karma tidak datang di hari yang sama, setelah puluhan tahun kami bertemu." Viana tertawa, diikuti oleh Reva.
Tanpa Viana dan Reva sadari, Bima dan Rama sudah berdiri di belakang. Mendengar pembicaraan keduanya, ingin sekali Rama menegur Vi tapi Bima menahannya. Reva sedang sensitif, dia melakukan apapun yang dia inginkan, Bima menarik Rama menjauh.
"Kenapa kak, perbuatan mereka berdua tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun." Rama kesal.
"Kak Bim tahu, tapi jangan di sini tegur Viana secara baik jangan dengan marah. Wanita tidak bisa kamu ajak berdebat, bicaralah di rumah dengan lembut agar Vi bisa menyadari kesalahannya. Kak Bim juga akan menegur Reva di rumah."
"Kak Bim sabar sekali menghadapi Reva."
__ADS_1
"Karena aku mencintai dia, akan aku lakukan segala cara agar tidak terjadi pertengkaran. Jika kita bisa bicara baik Kenapa harus dengan kasar dan emosi."
"Rama belajar banyak dari kak Bima, hampir saja Rama lepas kendali."
"Wajar kamu masih muda."
"Tapi Viana yang kekanakan kak Bim."
"Lihat saja teman Vi, wanita muda bagaimana dia tidak kekanak-kanakan."
Rama dan Bima tertawa, lalu menuju ke tempat awal untuk meminta maaf, atas nama istri mereka. Jika memaksa Vi dan Va tidak mungkin dia mau yang ada langsung ngambek.
Reva melihat Bima dari kejauhan dengan bibir monyong, dia lelah menunggu.
"Lama sekali Ayy?"
"Sabar sayang, masalah yang kamu timbulkan, seharusnya membuat kamu belajar sabar, agar tidak membuat masalah rumit sehingga kamu tidak perlu menunggu lama." Mendengar jawaban Bima Rama langsung menahan tawa, Viana juga melotot kemungkinan Bima menyadari perbuatan Reva.
Rama tersenyum, melihat Bima yang menyindir Reva secara halus tapi masih dengan tersenyum menggenggam tangan, mengandeng tangan Reva untuk keluar dari hotel.
"Ayy,"
"Iya sayang."
"Marah ya." Mata Reva langsing berkaca-kaca.
"Sudah Ayy katakan, mana mungkin aku bisa marah." Bima mencium tangan Reva, membukakan pintu mobil.
Viana dan Rama juga masuk mobil, Vi yakin pulang dari sini akan mendapatkan ceramah sampai tiga puluh jus. Doa Vi semoga saja ada jus apel juga biar adem, daripada Rama mengeluarkan jus cabe.
Sepanjang perjalanan Bima bicara tapi perasaan bersalah Reva mengusik pikirannya, genggaman tangan suaminya membuat Reva menyesal.
"Ayy maaf ya, Reva tidak akan mengulanginya lagi."
"Tidak masalah sayang, selama kamu menyadarinya, kamu menyesalinya sudah cukup untuk Ayy. Orang baik dia yang mengakui kesalahannya." Bima mencium tangan Reva lama.
__ADS_1
"Sayang, lain kali kalau kamu tidak suka sesuatu atau menolak sesuatu bicara, aku akan mendengarkan semua ketidaksukaan kamu, yang menurut aku baik belum tentu baik untuk kamu. Jadi tolak saja jika memang tidak nyaman." Bima tersenyum, melihat Reva yang memeluk lengan dan mencium pipi Bima.
***