MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 SELAMAT JALAN


__ADS_3

Langkah kaki Windy berjalan menyentuh jembatan, melihat ke arah bawah jembatan. Banyak tim yang masih melanjutkan pencarian, menjadi hari terakhir tim untuk menemukan jasad Stev.


Hari yang Windy tunggu, hari yang Windy impian, hari yang menjadi mimpi terindahnya akhirnya berakhir.


Seharusnya Windy dan Stev sedang tersenyum bahagia, mengucap janji cinta sehidup semati, menjadi pasangan yang saling melengkapi.


Windy tersenyum menahan air matanya, hari kebahagiaan sudah berubah menjadi hari duka. Air mata sudah habis untuk menangis, Windy juga tidak sanggup melihat kesedihan keluarganya.


"Ay, seharusnya sekarang kita sedang menyambut tamu menjadi suami dan istri, tertawa bahagia. Windy berpikir kesedihan kita sudah berakhir, tapi nyatanya kita dipisahkan." Windy menangis sesenggukan memukul dadanya.


"Windy berjanji tidak akan menangis lagi, Windy akan terus menunggu sampai kapanpun. Windy sangat mencintai Om, sangat." Windy menghapus air matanya.


Beberapa mobil berhenti, Viana keluar bersama Rama melihat Windy berdiri sendirian. Vi langsung melangkah memeluk Windy yang tersenyum.


"Kamu baik-baik saja Win?"


"Bagaimana Windy baik Mom, Windy batal menikah. Pastinya Windy sedih, terluka juga sangat kehilangan." Windy memeluk Viana erat.


Jum mengusap kepala Windy, memeluknya tidak sanggup menahan air matanya. Jum percaya Windy kuat karena mereka semua akan mendampingi Windy selalu.


"Windy akan menunggu, selalu menunggu."


"Windy, kenyataan ini memang berat. Uncle Rama hanya ingin kamu menjalani hidup kembali, jangan berharap kepada manusia, kamu harus bangkit." Rama mengusap kepala Windy.


"Iya Uncle, Windy kuat." Windy tersenyum.


Seluruh keluarga berkumpul, Bima tidak bisa menahan air matanya. Berusaha untuk kuat, tetapi hatinya hancur.


Hari bahagia yang seharusnya menjadi pernikahan berubah menjadi hari duka, tim penyelamat menyatakan Steven meninggal tengelam terbawa arus.


Tangisan terdengar sepanjang jembatan, Windy tidak meneteskan air matanya tersenyum karena akan terus menunggu.


"Stev maafkan kak Bim." Bima mengusap air matanya.


"Steven aku tahu kamu bodoh, selalu membuat kesal. Aku menyayangi kamu sebagai seorang adik, terima kasih sudah menjadi teman bertengkar." Reva menangis sesenggukan.


Winda meneteskan air matanya, berdiri bersama ketiga sahabatnya. Memberikan setangkai bunga, menjatuhkan satu ikan emas.

__ADS_1


"Tolong temukan kak Stev, bawa dia kembali kepada keluarga Winda. Nanti Winda buatkan kolam yang besar, tidak akan menyakiti kalian lagi." Winda mengusap air matanya, menjatuhkan ikannya.


"Winda jangan sedih, nanti kita berdoa bersama." Billa memeluk Winda.


Bastian merangkul pundak Windy, mengusap air matanya. Ravi juga menggenggam tangan Windy menguatkan.


Bukan hanya keluarga berduka, Saka dan Bagus juga terduduk lemas di bawah jembatan. Melihat arus air yang mengalir deras.


Bima menatap putrinya yang tersenyum melihat cincin pernikahan mereka yang sudah Windy pakai, Bima tahu Windy sangat terpukul.


"Va, apa yang harus aku lakukan mengobati luka hati putriku." Bima menutup matanya.


Reva memeluk erat Bima, menyembunyikan wajahnya mengusap kepala suaminya. Reva yakin Windy anak yang kuat, dia bisa bertahan, bahkan berhenti menangis karena tidak ingin melihat keluarga mengkhawatirkannya.


Bisma juga meneteskan air matanya, baru pertama kali Bisma melihat kakaknya menjadi orang yang tidak berdaya, Bima tidak bisa melakukan apapun, bahkan tidak tahu harus melakukan apa.


Jum mengusap lengan Bisma, Jum tahu Bisma juga dekat dengan Stev, walaupun bukan hal baik.


Wildan duduk di dalam mobil, mengusap air matanya. Melihat drone terbang melihat arus air sungai yang tembus ke lautan.


Saka sangat mengenal Steven, dia tahu beberapa jasad yang menjadi korban bukan kakaknya.


Semua keluarga melangkah pergi, menuju rumah sakit. Mereka masih menunggu kabar Vero yang masih kritis.


Dokter menemui Bima, mengatakan keadaan Vero sangat buruk. Kecil sekali harapan dia bisa hidup, sehingga keluarga harus bersiap untuk kabar yang tidak diinginkan.


Kehilangan Steven belum cukup, masih harus menunggu kondisi Vero yang belum juga stabil. Windy melangkah mendekati Papinya, meyakinkan Papinya Vero kuat dia akan bangun.


***


Sudah satu bulan, Windy setiap hari berkunjung datang ke jembatan hanya sekedar menemui Steven.


"Ay, sudah satu bulan tidak bertemu. Ay Rindu Windy tidak? Ay tadi malam Vero sadar, tapi belum bisa berbicara, Windy binggung harus mengatakan apa saat dia bertanya tentang Ay Stev. Windy akan berkunjung bersama Vero menemui Ay, akan Windy pastikan Vero baik-baik saja." Windy mengigit bibir bawahnya sambil tersenyum.


Selesai berbicara, Windy kembali masuk mobil, menemui Vero yang bertanya soal Steven.


Seluruh keluarga kumpul di rumah sakit, Vero sedang mengamuk karena mendengar kabar kakaknya jatuh ke bawah jembatan, tubuhnya tidak berhasil ditemukan.

__ADS_1


"Windy di mana kak Stev?"


"Ada."


"Aku ingin bertemu, mulut kotor dokter di sini mengatakan kak Stev jatuh. Mereka bohong aku ingin bertemu."


"Nanti setelah kamu sehat."


"Sekarang Windy, kalian sudah menikah?" Vero melihat cincin pernikahan.


"Nanti Vero, aku akan membawa kamu menemuinya nanti, sembuh dulu baru kita menemuinya bersama." Windy tersenyum mengusap punggung Vero.


"Awas saja kamu membawa aku ke kuburan." Vero menenangkan dirinya.


Windy tertawa merasa lucu dengan ucapan Vero, langsung melangkah keluar tersenyum melihat keluarga.


Wildan mengikuti Windy, duduk di taman bersama. Wildan menggenggam tangan kakaknya, berjanji akan mencari keberadaan Steven.


Meminta Windy bersabar, Wildan akan membawa kabar keberadaan Steven sekalipun Steven sudah tiada. Windy menganggukkan kepalanya, mengusap kepala adiknya.


Windy anak tertua, dia akan menjaga nama baik keluarga, tidak akan pernah melemah. Kebahagiaan Windy ada pada keluarganya, Allah sudah mengatur jalan hidupnya, jika bukan Stev jodohnya ada orang lain.


Menunggu, sekarang hanya kata menunggu yang Windy butuhkan. Menjalani kehidupannya tanpa Steven, melakukan rutinitasnya tanpa Stev. Windy harus makan tanpa Stev, jalan-jalan tanpa Stev, hanya kenangan juga bayangan Stev yang menjadi teman.


Setiap waktu luang Windy akan menghabiskan waktunya di jembatan, terkadang bersama Saka, Ghina, Papinya Bima, juga Maminya, atau kedua adik kembarnya.


Ada Ravi, Tian dan Erik juga yang menemani Windy melihat Stev, ada Mommy dan Bunda yang selalu tersenyum untuk Windy.


Windy yakin semuanya bersedih, tapi yang hidup harus tetap menjalankan kehidupan. Dunia tidak akan berhenti hanya karena kehilangan satu manusia.


Setiap pergi bersama Winda, Windy tersenyum melihat adik kecilnya menjatuhkan satu ikan untuk menyelamatkan Steven.


"Hai Ay, hari ini Vero pulih. Dia selalu bertanya keberadaan Ay, sudah saatnya Windy membawanya ke sini." Windy tersenyum melihat ke bawah jembatan.


"Windy kuat menjalani hidup, Vero juga pasti kuat, kami akan selalu datang, menjadi orang baik agar Ay bangga memiliki kami yang mencintai Ay. I LOVE YOU AY." Windy melangkah pergi.


***

__ADS_1


__ADS_2