
Bima sudah menyiapkan mobil, Rama memasukan Viana yang hanya tersenyum sambil menahan sakit. Reva menggendong Ravi duduk di samping Bima yang menyetir.
Selama di perjalanan, Viana hanya senyum-senyum melihat wajah Rama yang seperti anak-anak yang ketakutan.
"aduhhh!" Viana memegang perutnya dan meringis kesakitan.
"Mom, sakit ya sayang. Yang mana sakit!" Rama mengelus perut Vi dan mengusap pinggang Viana.
"Perut Rama, masa iya telapak kaki!" Reva memandang aneh, syukurnya saat ingin makan Reva berganti baju yang santai jadi tidak kesulitan untuk segera pergi, kalau masih baju pengantin kacau juga.
"sabar ya mommy, adek Vira sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Tahan ya!" Ravi tersenyum melihat mommy yang meringis dan tersenyum kepadanya.
"Anak lebih pinter dari bapaknya." Reva tersenyum.
Selama di perjalanan Reva menghubungi Jum, Viana dilarikan ke rumah sakit dan akan segera melahirkan.
Jum yang mendapatkan kabar langsung teriak histeris, Bisma yang menyetir langsung kaget. Mobil langsung berputar arah menuju rumah sakit, belum sempat sampai di rumah.
Tangan Jum mendadak dingin, Bisma menggenggam tangan Jum menenangkannya. Viana pasti baik-baik saja.
Di dalam mobil Bima masih tegang, terutama Rama dan Bima yang takut. Reva menggenggam lengan Bima yang terlihat panik, padahal dia sudah pernah menikah tapi kekhawatirannya menunjukan Bima sangat tidak berpengalaman.
"Ram, lihat kaki kak Vi, air ketuban pecah!" Reva langsung melihat ke bawah karena ada air yang berbau. Rama langsung melihat ke bawah, wajahnya langsung kusut dan pucat.
"Kak Bim, cepat!" Rama teriak membuat Viana tercengang, sudah menahan sakit ditambah lagi suara Rama yang tinggi.
"Diam Ram, Lo pikir kakak tuli, tidak usah teriak. Tahan Vi gue lagi konsentrasi jangan bikin gue pusing." Bima kesal melihat Rama yang seperti orang yang mau melahirkan.
Reva hanya menahan tawa melihat suaminya yang bisa kesal ke Rama. Reva sedang membayangkan jika dirinya yang melahirkan, Bima pasti sangat lucu, lebih parah dari Rama. Ravi sibuk memainkan handphone Rama menghubungi seluruh keluarga.
Mobil sampai di rumah sakit, dokter sudah siap menunggu. Viana langsung di pindahkan dan dibawa ke ruangan persalinan.
Reva Bima dan Ravi menunggu di luar, tangan Reva dilipatkan. Jantungnya juga berdegup kencang. Bima menggendong Ravi, duduk di ruang tunggu. Tidak ada yang bersuara sampai suara Bisma memanggil.
"Reva, bagaimana keadaan kak Vi?"
"Mau melahirkan, kita tunggu saja." Reva dan Jum saking genggaman,berdoa demi keselamatan Viana dan buah hatinya.
"Kak Jum, Reva sedang membayangkan nanti kita juga ada di dalam ruangan ini. Mempertaruhkan nyawa demi buah hati kita." Reva mengigit bibirnya menahan air mata.
__ADS_1
"Kita akan merasakannya cepat atau lambat, semoga Allah segera memberikan kepercayaan untuk kita, agar bisa menjadi seorang wanita yang sesungguhnya."
Reva dan Jum berpelukan, harapan mereka anak-anak mereka akan bersahabat seperti mereka, baik lelaki maupun wanita.
***
Seluruh keluarga sudah berkumpul di depan ruangan persalinan, mereka bisa mendengar suara teriakan Rama yang membuat mereka saling pandang, sesekali mereka tersenyum mendengar yang di dalam.
"sebenarnya yang melahirkan mommy apa daddy." Ravi garuk-garuk kepalanya, memandangi wajah Bima yang sedang memangku nya.
"sepertinya daddy kamu yang melahirkan," Bima tersenyum kecil ingin sekali rasanya dia tertawa.
"Rama berisik banget!" Reva tidak mendengar suara Viana karena kuatnya suara Rama.
Reva memandangi Bima yang melihatnya sambil meringis mendengar Rama, Reva hanya tersenyum dan memeluk lengan Bima.
"Ayy, aku malu mengakui bersahabat dengan Rama. Cowok cool dan sempurna sekali istrinya melahirkan menjadi sosok yang berbeda, malu-maluin." Reva nyegir.
"Namanya juga khawatir Va, jika rasa sakitnya bisa dipindahkan. Seorang suami rela mengantikan istrinya agar tidak merasakan sakit."
"Iya Ayy, tapi ini perjuangan seorang ibu."
Bima hanya diam saja, jika dia di posisi Rama pasti bakal bertindak sama. Panik, takut, khawatir bisa teriak histeris saat melihat orang yang sangat dicintai berjuang hidup dan mati.
"Alhamdulillah ya Allah, Ayy Vira lahir." Reva langsung menangis sesenggukan.
"Iya Va, dia lahir di hari pernikahan kita." Bima mencium kening Ravi yang juga tersenyum.
"Ravi sudah punya adek ya Uncle?"
"Iya sayang, Kaka Ravi." Bima memeluk Ravi, Bisma juga langsung menggendongnya.
"Selamat ya kak sekarang punya adek." Bisma memeluk Ravi yang berada dalam pelukannya.
Tidak lama kemudian Rama keluar dari dalam ruangan, semuanya memandang Rama dengan menahan tawa.
"Lo pulang berperang Ram." Bisma menahan tawa.
"kalian laki-laki jangan ada yang tertawa, suatu hari kalian akan merasakan diposisi gue." Rama menggakat kepalanya.
__ADS_1
Reva memandang kaget melihat mata Rama sebab, Bima juga sama kagetnya bukan hanya penampilan yang acak-acakan tapi wajah Rama juga kusut.
Jum langsung memeluk Reva karena menahan tawa melihat Rama, Reva juga sudah menutup mulutnya karena Rama sangat lucu.
"Kak Vi pasti malu banget melihat suaminya," Reva tidak sanggup melihat penampilan Rama.
"Rama! bagaimana keadaan mereka?" mommy menepis keinginannya untuk tertawa yang langsung fokus ke cucu dan putrinya.
"Viana dan bayi nya sehat mom, mereka akan segera dipindahkan ke ruangan perawatan."
Semuanya mengucap Alhamdulillah, akhirnya bernafas lega. Mereka bersiap-siap bertemu si kecil Vira kecil.
Viana sudah pindah ruangan, sesekali Vira menangis karena haus, selesai menyusu Vira langsung di gedong oleh Reva dan Jum yang masih menemani Vi. Ravi juga sesekali mengelus pipi adiknya yang tembam.
"Cantik banget kamu Vira, mirip Rama." Reva menatap Rama lalu melihat Vira.
"Aku yang melahirkan, tapi mengapa harus mirip Rama."
"Karena Rama yang menaburkan bibit, juga memupuk." Bisma nyegir menahan tawa.
"Memangnya bisa ya, menanam dan memupuk?" Jum langsung menatap suaminya aneh.
"Mampus Lo Bisma, jelaskan." Reva mengejek Bisma yang sudah melongoknya.
"Nanti saat kita berduaan, kita buat teman untuk Vira."
"Reva, kamu balik saja ke hotel. Maaf sudah menganggu malam pertama kalian." Viana tidak enak, karena Reva dan Bima pasti sudah menantikan malam pertama tidur bersama.
"Masih banyak waktu kak," Reva mendadak takut malam pertama, dia takut tidak bisa mengimbangi Bima.
Rama juga sudah berbicara dengan Bima, juga minta maaf karena membuat Bima dan raba harus malam pertama di rumah sakit.
"Santai saja Ram, menyambut kehadiran Vira hanya satu kali, kehadiran dia juga spesial karena bertepatan dengan hari pernikahan kami."
Bima tersenyum melihat Reva yang sangat menyukai anak kecil. Dia sangat berhati-hati menggendong Vira. Bima juga tidak sabar menanti anak mereka.
" Ya Allah apa serakah, meminta keturunan secepatnya. Aku ingin mendengarkan suara bayi."
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
***