
Tangan Winda ditahan, ucapan Winda soal keluarga kandung Ar membuat Mami tidak percaya.
"Kamu ingin tahu siapa Ar? dia hanyalah putra seorang pembunuh korban pelecehan. Ibunya orang yang sudah membunuh putra kami, tapi lihatlah betapa baiknya suamiku membesarkan dia, seharusnya dia tahu balas budi." Teriak kuat saling sahut menyahut, Winda suaranya jauh lebih besar tidak mengurangi sedikitpun nadanya.
"Tidak cukup kamu menghabiskan uang kerja keras dia, menghamburkannya. Ingat ya Eliza aku orang yang akan memenjarakan kamu." Winda menatap tajam, Aisyah menengahi keduanya untuk berhenti bertengkar.
"Winda, jangan pernah kamu lupakan kejadian hampir sepuluh tahun yang lalu. Kamu sudah disentuh oleh banyak lelaki, kamu ingin menonton ulang?" Ancaman lama dikeluarkan oleh Liza, dia pernah menjebak Winda bahkan menjualnya kepada banyak lelaki hidung belang.
Suara Winda tertawa terdengar, ancaman lama yang sudah basi bagi Winda. Dia tidak takut sama sekali, terlalu mudah bagi Winda untuk menyingkirkan rekaman yang tampil.
Liza langsung melangkah pergi meninggalkan Winda dan Aisyah hanya berdua, sejujurnya Winda sangat penasaran atas apa yang terjadi malam dirinya dijebak.
Winda mengigat jelas, munculnya seorang pemuda yang membawanya pergi.
Aisyah langsung melangkah pergi ke kamarnya, Winda menghentikan meminta Ais membersikan bekas masakannya.
"Aku peringatkan jangan pernah muncul dihadapan Ar, jika tidak kamu akan tahu akibatnya." Senyuman licik Winda terlihat.
"Kalian berdua akan segera berpisah, kamu tidak mencintai Ar. Tujuan kamu hanya ingin balas dendam." Ais menatap tajam Winda, dia pastikan Ar akan luluh kepadanya.
Senyuman Winda terlihat langsung kembali ke kamarnya untuk pergi ke suatu tempat, dia akan mulai penyelidikan soal kasus yang menimpanya.
Sebelum pergi Winda ragu untuk pamitan, langsung cuek saja tidak ingin mengurus Ar.
Melihat Winda pergi, Ais tersenyum. Langsung mencari kontak untuk menghubungi Ar jika Winda pergi keluar tanpa penjagaan.
Mobil Winda melaju dengan kecepatan tinggi, handphone berdering dari nomor baru. Ar mengabaikan panggilan, lalu ada pesan masuk mengatakan jika Winda keluar tanpa penjagaan.
"Manusia sialan." Winda langsung putar arah mencari keberadaan perusahaan Ar, Winda mengubah rencananya.
Mobil berhenti, Winda tersenyum melihat gedung besar menjulang tinggi ke atas. Sebelum masuk Winda merapikan penampilannya.
Baru saja Winda keluar, rombongan orang elite keluar, salah satunya Ar juga bersama mereka. Tanpa keraguan Winda langsung memanggil Ar.
Beberapa bodyguard langsung menahan tangan Winda untuk menjauh, Ar yang tidak melihat dan mendengar Winda tidak menyadari jika ada istrinya.
Beberapa mobil langsung melaju pergi, jangankan masuk gedung mendekati Ar saja sudah ditahan bodyguard.
__ADS_1
"Status kamu sangat tinggi di sini, bahkan aku terlihat sangat jauh dari pandangan kamu." Winda langsung kembali ke mobilnya, binggung ingin pergi ke mana.
Ar yang sedang membicarakan pekerjaan, langsung mengecek handphone mendapatkan pesan jika Winda keluar tanpa penjagaan membuat Ar gelisah.
Panggilan dari Ar berbunyi berkali-kali, tapi tidak mendapatkan jawaban. Ar meminta sopirnya untuk meminta pengawal melacak keberadaan Winda.
"Maaf tuan, Nona muda ada di kantor, dia ditahan oleh bodyguard di sana."
"Batalkan meeting kita kembali ke kantor."
Winda melihat beberapa mobil kembali, sedangkan dirinya sedang berjalan kaki di jembatan yang tidak jauh dari kantor.
Mobil Ar berhenti, menatap Winda yang ada di jembatan langsung berlari mendekatinya.
"Hai tuan muda, kamu seperti seorang pangeran di kerajaan, tapi sayangnya kamu raja di dunia bisnis." Winda tersenyum melihat ke arah bawah jembatan, lanjut berjalan menikmati keindahan kota.
Senyuman Ar terlihat, langsung memeluk Winda dari belakang. Tatapan mata Ar terarah ke wajah Winda yang menatapnya tajam.
"Jika aku raja kami ratunya, tapi aku ingin menjadi manusia biasa yang tidak dikenal banyak orang, bisa hidup merakyat. Cukup memiliki kamu, hidup aku bahagia." Pelukan Ar sangat lembut, baru saja berpisah sudah merasakan rindu.
"Takut, tentu aku takut, tapi aku tidak akan membiarkannya terjadi."
"Terkadang aku membenci kamu, ada juga rasa kasihan, tapi kamu terlihat bodoh karena terlalu baik." Tangan Winda mencubit telinga Ar, agar dia sadar saat menjadi orang baik akan tersakiti.
"Aku hanya menanti hari, di mana kamu membalas cintaku." Senyuman Ar terlihat, meminta Winda mengikutinya ke kantor, karena ada meeting penting.
Akhirnya Winda menurut saja, dia juga ingin melihat kantor mewah milik keluarga Prasetya. Semua orang terdiam saat Ar berjalan bersama seorang wanita cantik, karena tidak ada wanita yang bisa mendekati Ar.
Senyuman sombong Winda terlihat, sungguh miris wanita yang mengharapkan cinta Ar, karena pada kenyataannya Armand menikahi wanita yang tidak mencintainya.
Sungguh Winda mengagumi keindahan kantor, pasti banyak orang yang bermimpi ingin bekerja di perusahaan termewah.
Bangunan juga berharga sangat fantastis, tidak heran jika Ar memiliki banyak kekayaan. Sayangnya ibunya mirip vampir penghisap darah.
"Kamu ingin ikut meeting atau menunggu di ruangan aku."
"Ikut meeting." Winda berjalan mengikuti Ar, juga puluhan orang penting.
__ADS_1
Di dalam ruangan meeting juga bisa menampung hampir ribuan orang, tidak heran perusahaan sukses. Pemimpin perusahaan tidak perhitungan untuk kenyamanan karyawan.
Meeting akhirnya dimulai, Winda hanya dia saja menunggu Ar sedang membicarakan sesuatu proyek. Winda tidak begitu mengerti, apalagi Ar menggunakan banyak bahasa, karena rekan kerjanya dari beberapa negara luar.
Senyuman Winda terlihat, suaminya bodoh atau pura-pura bodoh. Melihat pesona Ar sungguh membuat jatuh cinta, tapi kenapa di luar pekerjaan Ar sosok orang yang sangat berbeda.
Hampir satu jam akhirnya meeting selesai, senyuman Ar terlihat menatap Winda yang menikmati pemandangan dari lantai paling tinggi.
"Ayo kita makan siang." Ar menggenggam tangan Winda.
"Bisa kita makannya di ruangan kamu saja." Winda langsung melangkah keluar.
"Winda, lewat sini."
Winda salah tingkah, karena dirinya salah jalan langsung mengikuti Ar yang menghubungi sekretarisnya untuk membawa makanan ke ruangannya.
Di dalam kantor Ar juga sangat luas, buku tersusun dengan rapi bahkan ruangan sangat bersih.
"Hari ini kamu ingin ke mana Win?"
"Menemui kamu, memberikan kejutan. Ternyata akulah yang terkejut."
Ar tertawa mendengar candaan Winda yang hanya dirinya yang tertawa, makanan sampai Ar langsung menyiapkan makanan untuk mereka berdua.
"Siapa wanita yang mengantarkan makanan?"
"Sekretaris aku, tapi lupa namanya karena dia biasanya kerja dengan orang kepercayaan di perusahan ini." Ar meminta Winda makan.
"Ar kamu tahu alasan ummi kamu tidak memiliki anak?" Winda menatap Ar yang menghentikan makannya.
"Anaknya meninggal, aku tidak tahu cerita aslinya. Tidak tega juga untuk bertanya."
Winda tersenyum, satu lagi karakter Ar yang Winda temukan. Sesuatu yang seharusnya Ar perjelas, tapi dia hindari demi menjaga perasaan orang, tanpa dia sadari jika sikapnya melukai hati orang lain.
"Anak ummi dan Abi meninggal, karena dibunuh." Winda menatap tajam Ar yang terlihat terkejut.
***
__ADS_1