MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
MENYERAH


__ADS_3

"Mas, dengarkan aku!" Brit menyentuh tangan Bima tapi langsung ditepis.


"Maaf Brit, aku tidak akan pernah kembali ke masa lalu." Bima menatap tegas ke mata Brit.


"Pasti karena Desainer muda, kamu sudah termakan hasutannya, dia seorang playgirl Bima." Brit menyakinkan Bima untuk tetap kembali membina rumah tangga.


"Tidak ada sangkut-pautnya dengan Reva, sejak awal kita menikah memang tidak pernah cinta, dan jangan kamu buat Windy menjadi alasan kita untuk mengulangi kesalahan kedua kalinya." Bima menatap wajah Windy yang terlelap tidur dalam pelukannya.


"Jika kamu sampai menikah lagi, aku pastikan hak asuh Windy jatuh padaku." Brit langsung berdiri dengan amarah.


"Akan aku lakukan segala cara untuk tetap mendapatkan hak asuh Windy, aku tidak melarang kamu bertemu dengannya, tapi aku tidak akan tinggal diam, jika kamu mengulangi kesalahan yang sama dengan menyakiti hati Windy."


Brit langsung keluar meninggalkan Bima yang tersenyum mengelus wajah putrinya, kehadiran Brit tidak pernah membuat Windy bahagia, tapi Bima tidak akan pernah menanamkan rasa benci di hati Windy untuk ibu kandungnya.


***


Bima baru saja selesai meeting, Rama tersenyum menunggunya dan mengajak makan siang bersama anak dan istrinya, Bima hanya menggagukan kepalanya.


"Kak Bim, mau sampai kapan menggantung hubungan dengan Reva, kakak tidak melihat antrian panjang di belakang." Rama mengejek Bima yang sedang fokus menyetir.


"Kakak tidak tahu dia tulus apa tidak, dia mengejar cinta hanya demi taruhan 10juta dengan bonus 10juta." Bima tersenyum melihat kearah Rama yang kaget.


"Seriusan! sejak kapan kak Bim tahu." Rama tidak abis pikir Reva yang dia kenal belum berubah menyakiti banyak hati.


"Sejak awal! tapi sampai sekarang belum menyerah."


"Tapi sekarang sepertinya beda kak, Reva wanita baik. Dia hanya menyakiti pria yang sering menyakiti hati wanita, tapi kak Bim tidak masuk kriteria itu. Berarti Reva tulus."


"Mungkin!"


Mereka tiba di restoran yang sangat tenang dan nyaman untuk bersantai, Bima keluar dan melihat mobil Reva terparkir dan tidak jauh dia melihat Reva bersama beberapa pria sedang tertawa, tapi di sana juga ada Sisi yang kemungkinan besar mereka sedang makan siang sesama rekan kerja. Bima melangkah masuk mengikuti Rama.


"Sudah lama menunggu nya sayang,"


"Baru hubby."


"Sudah daddy, Ravi sudah jamuran. Mana laper lagi."


Rama tertawa mendengar ucapan Ravi, baru kemarin dia karatan sekarang sudah jamuran besok entah apalagi.


"Hai uncle, sini duduk uncle Bima atau Bisma ya mom, Ravi masih binggung."


"Kalau wajahnya kalem tapi menghanyutkan uncle Bima, tapi kalau wajahnya cengengesan tapi menghancurkan uncle Bisma."


"Tidak ada yang lebih lembut mom,"

__ADS_1


Mereka semua mengobrol dan makan siang bersama, sambil mendengarkan kicauan burung beo dan burung Nuri.


Suara panggilan hp Vi menghentikan perdebatannya dengan Ravi.


[Ya Rev, aku di restoran sekarang,]


[Tidak bisa nanti saja, memangnya hal penting,]


[Ya sudah kebetulan lokasi kita sama, kamu kesini.]


Viana mematikan panggilannya dan menatap Rama binggung.


"Reva kenapa Vi? tadi pagi Ivan telpon kemarin Reva menangis,"


"Tidak tahu hubby, dia bilang mau bahas soal VCLO."


Tidak lama terdengar suara high heels mendekati meja makan keluarga Rama, Reva tersenyum menyapa semuanya dan mendaratkan ciuman ke pipi Ravi.


Reva mengeluarkan banyak berkas, dan menyerahkan nya ke Viana.


"Kak Vi, tugas Reva selesai menjaga VCLO, ini semua berkas yang pernah kak Vi serahkan ke Reva 5 tahun yang lalu, ini kunci apartemen, ini ATM keuangan kantor, dan beberapa kartu penting lainnya."


"Apa maksud kamu Reva,"


"Reva akan pergi keluar negeri kak, Reva ingin hidup bebas dan bersenang-senang, Reva masih muda perjalanan Reva panjang."


"Ibu terserah Reva, malam ini datang ke rumah Ram, yang lainnya juga gue undang sebagai makan malam perpisahan kita."


"Reva! kalau ada masalah kamu punya kita, kita cari solusinya, tapi jangan melarikan diri. Setiap masalah ada jalan keluarnya. Kita bahas lagi nanti malam, aku tidak setuju kamu hidup bebas apalagi luar negeri bahaya Reva"


Viana yang mendengarkan ceramah Rama merasa tersindir, dia juga dulu memutuskan untuk pergi.


"Tapi Rama,"


"Sudahlah kita bahas nanti malam bersama yang lainnya juga ayah dan ibu."


"Baiklah aku pergi sekarang," Reva melangkah pergi tanpa menyapa siapapun karena dia kesal dengan Rama yang selalu menentang keputusan dan pasti ujungnya musyawarah.


Bima juga ikut berdiri mengejar Reva yang sudah lebih dulu keluar berlari ke mobilnya.


"Vi kamu coba bicara dengan Reva, dia pasti sedang ada masalah dengan kak Bima."


"Biarkan saja hubby, hukuman untuk Bima karena tidak peka."


***

__ADS_1


Pintu mobil terbuka Reva ingin masuk tapi lengannya ditarik oleh Bima.


"Om Bima! Ada apa? Reva tidak akan ganggu om lagi, Reva juga akan membuang rasa cinta Reva, mungkin om benar Reva harus membuka hati untuk orang lain, tapi sebelumnya Reva ingin menenangkan diri siapa tahu ketemu jodoh di LN." Reva bicara sambil menghayal.


"Kamu tidak boleh pergi!"


"Apaan si om, Reva sudah besar tahu mana baik dan buruk, seharusnya om seneng Reva pergi biar om hidupnya tenang."


"Saya bilang kamu tidak boleh pergi, maka kamu tidak akan pernah pergi."


Bima menarik tangan Reva ke pintu sebelah kemudi dan memasukannya, lalu mengunci Reva di dalam sendirian, Bima berlari masukan ke restoran, sedangkan Reva hanya menganga dikurung di mobilnya sendiri.


"Rama ini kunci mobil, kamu bawa sendiri, kak Bima pergi dulu."


Rama hanya mengaguk, sedangkan Viana teriak bertanya Bima mau kemana tapi tidak di respon, Bima langsung masuk mobil Reva dan melajukan nya.


Mobil sampai di sebuah sekolah, Bima keluar menyapa seorang gadis kecil yang baru berusia 10tahun.


Bima membawanya masuk ke mobil, Reva masih kebingungan.


"Hai Tante, perkenalkan aku Windy, Tante Reva ya, Tante cantik sekali." Sapa Windy ceria.


Reva hanya diam saja menatap Bima heran....


Wajahnya Reva nampak dingin menahan amarah melihat gadis yang duduk di kursi penumpang. Reva melepaskan seat ball dan membuka pintu mobil, Bima menahan tangan Reva tapi ditepis dengan kuat.


"Reva! dengarkan aku."


Dengan cepat Reva membuka pintu penumpang, membuat Windy ketakutan.


"Papi!" Windy menempel tubuhnya di pintu dan memeluk kursi kemudi Bima, dia takut ditarik keluar oleh Reva.


Reva langsung masuk dan duduk disamping Windy sambil melotot, Bima coba bicara dengan Reva tapi langsung dibentak dan meminta menjalankan mobil.


"Mau apa kamu, terlalu miskin ya sampai nebeng mobil gue,"


"Papi mobilnya jauh lebih mewah dari mobil Tante."


"Terserah lah, kamu pasti seneng kan, sekarang aku sudah menyerah, semoga kalian kembali menjadi keluarga yang bahagia, gue bakal pergi jauh." Tatapan mata Reva keluar jendela.


***


TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA READER


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT


***


__ADS_2