MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
DI BLOKIR


__ADS_3

Tiga bulan sudah Reva bekerja di salah satu Butik milik Viana, Reva sudah bisa menjahit dengan cepat dan mendesain baju yang dipasarkan. Dalam diam Reva menghubungi ponsel Bima tapi sudah berapa bulan tidak aktif, Reva benar-benar putus asa.


Pulang bekerja Reva mampir ke cafe tempat dia dulu bekerja, Tante Ais dan Della juga yang lainnya sudah berkumpul. Reva ikut bergabung dengan wajah murung, Tante Ais tertawa melihat Reva yang suka mempermainkan perasaan lelaki tapi sekarang galau karena lelaki.


"sepertinya ada yang kalau taruhan."


"Reva belum menyerah Tante Del, Reva hanya kehabisan cara untuk menghubungi Om Duren." Reva mengunyah roti bakar yang tersedia di meja.


Semua mata terpesona melihat seorang pria tampan, memesan minuman dan mengambil posisi duduk di dekat jalan. Bima ingin menikmati suasana sore yang tenang, setelah lelah bekerja.


Reva yang belum menyadari kehadiran Bima, hanya para Tante yang senyum-senyum.


Dari kejauhan Reva melihat beberapa anak kecil yang melewati cafe, dengan senyum manis Reva mengambil makanan di meja yang sudah terbungkus untuk membawa pulang, Reva langsung melangkah keluar. Reva yang sangat mengenali anak-anak yang lewat langsung memanggil mereka. Dengan tawa bahagia semuanya memeluk Reva sambil tersenyum.


"Kak Reva, kita kangen. Kakak tidak pernah terlihat lagi," seorang gadis cantik, rambutnya dikepang dua.


"Maafkan kakak yang terlalu sibuk ya, salam untuk ibu kalian." Reva mengelus kepala mereka satu persatu.


Reva mengeluarkan beberapa lembar uang nya, memasukan ke dalam kantong plastik berisi makanan.


"ini untuk Angga, Rasih, Ipeh, Riski. Berikan makanan ini ke ibu kalian untuk makan bersama ya." Reva membagi beberapa makanan yang memang dia pesan untuk dibagikan kepada tetangganya.


Anak-anak bersorak bahagia dan mencium pipi Reva, dan berlari kecil sambil tersenyum bahagia. Reva melambaikan tangannya sambil melangkah untuk masuk kembali.


Bima menyaksikan Reva dan anak-anak tertawa, terukir senyum kecil dibibir Bima memperlihatkan lesung pipinya. Bima menyadari Reva sangat cantik tapi dia dan Reva terlalu jauh dan sulit untuk saling melengkapi.


Reva terdiam dan langsung berlari menarik kursi di depan Bima, senyum manis terukir di depan Bima. Reva yang melihat ponsel Bima langsung merampasnya. Bima ingin merebut tapi masih cepat Reva, dengan mudah Reva bisa membuka ponsel Bima dan mengecek nomornya.


Tatapan Reva tajam, nomornya di blokir, Reva membuka blokir dan melipatkan kedua tangannya di dada. Bima berdiri coba mengambil ponselnya.


"Kamu lancang sekali, ponsel ini privasi dan kamu menyimpan sidik jari kamu juga, wanita ABG labil." Bima menahan tangan Reva dan mengambil ponselnya. Bima melangkah pergi membayar pesanannya dan meninggalkan cafe.


Reva menuju meja para Tante dan mengambil tasnya, mereka semua menyindir Reva yang tidak dianggap apalagi dilirik.


"Tante! semuanya masih awal, Reva akan membuat dia menikahi Reva. Bukan hanya untuk menjadi kekasihnya tapi istrinya, Reva pastikan!" Reva melangkah keluar dengan senyum manisnya.

__ADS_1


***


Bima mengaruk kepalanya, hidupnya benar-benar tidak tenang. Reva setiap hari datang menemuinya, Bima bahkan tidak pernah berkunjung ke cafe karena malas bertemu Reva.


Bima mendapatkan pesan sebuah peringatan, dengan cepat Bima melangkah pergi meninggalkan kantor. Beberapa mobil mengikuti Bima dan langsung dihentikan oleh mobil lainnya.


"Viana! Kenapa Viana mengerakkan bawahannya." Batin Bima yang mengetahui sepak terjangnya seorang Vi.


Malam harinya Bima tidak bisa tenang, dia berusaha menghubungi Bisma tapi tidak mendapatkan jawaban. Perasaan tidak tenang, Bima juga sedang menyelidiki tentang seorang wanita yang bernama Brit.


Akhirnya Bima menyibukkan diri untuk bekerja sampai pagi, tanpa tidur Bima langsung pergi kesebuah tempat untuk menemui Rama membahas beberapa masalah perusahaan.


***


Bima dan Rama masih di dalam mobil Bima, mendapatkan kabar kecelakaan mobil Rama. Bima langsung paham soal orang yang hampir mencelakai nya beberapa hari yang lalu. Bima dan Rama pergi ke apartemen dan melihat kelanjutan dari masalah kecelakaan. Siapa dalang dan yang paling mendapatkan keuntungan.


Akhir dari keputusan Bima, meminta Rama menghilang dan menyatakan tewas, mereka akan mengungkap soal kematian orang tua Rama yang langsung disetujui oleh Rama.


Ketakutan Bima hanya satu Viana yang akan kacau, beberapa kali ponselnya mati agar tidak ada yang menghubunginya.


Bima melihat Vi tertawa seakan-akan melihat Viana yang dulu, tapi kali ini sangat menakutkan, ada tatapan sedih melihat Vi seperti itu apalagi dengan keadaan baju basah, rambut basah dan senyuman menyeringai.


ceklekk.. pintu terbuka...


Viana langsung masuk kedalam apartemen yang sangat sederhana, Bima mengambil sebuah handuk dan memberikannya pada Viana tapi Vi membuangnya.


" Mana Rama" tanya Vi.


"Aku baru kembali dari rumah sakit Vi, jasad sedang di otopsi." jawab Bima.


"Di mana Rama?" tanya Vi lagi.


"Vi, aku sudah cukup stres, belum lagi perusahaan yang menunggu pimpinan nya kembali, kecelakaan Rama sebentar lagi akan terekspos ke media, bisa dibayangkan keributan para pemegang saham" ucap Bima nada tinggi.


"Hubby ku di mana" ucap Vi pelan.

__ADS_1


" Sepertinya kau membutuhkan rumah sakit jiwa Viana, cobalah lebih berpikir dewasa!" ucap Bima mengacak rambutnya.


"Aku akan membunuh Bisma!" ucap Vi santai.


"sejak kapan kau jadi pembunuh," tanya Bima.


"sejak semua orang meninggalkan aku," ucap Vi.


"Aku berterimakasih kepada mu karena berhasil menghentikan Bisma, sehingga perusahaan Rama aman, terimakasih juga kau menyelamatkan aku hari itu, tapi kali ini saja Vi, ambil alih perusahaan Rama di rapat pemegang saham" ucap Bram.


"Akan aku lakukan, tapi dibmana hubby" tanya Vi.


"astaghfirullah Al azim Viana," ucap Bima geleng-geleng kepala melihat Vi yang kadang tersadar kadang mengulang Kembali ucapannya seperti orang yang sedang mengigau.


***


Reva yang sedang bersedih mendapatkan kabar kecelakaan sahabatnya ikut murung, panggilan kantor utama VCLO, meminta Reva hadir membuatnya kebinggungan. Viana menyerahkan kepemimpinan sementara kepadanya karena Vi fokus mencari Rama. Dengan langkah binggung Reva mencoba melaksanakan perintah, walaupun dia juga binggung harus melakukan apa.


"Rama cepat kembali, kasihan kak Vi. Kasihan juga Om Duren yang harus mengendalikan perusahaan LOVER, ayo Reva kamu harus bisa memperkuat VCLO dan bisa masuk bersama dalam pemegang saham LOVER demi Rama dan Viana." Reva menyemangati dirinya sendiri.


Dengan bermodalkan ajaran Viana, Reva maju dalam rapat VCLO. Sebagai karyawan baru, semua orang binggung melihat Reva yang bisa mengambil posisi Viana dan presentasinya tidak kalah dengan Vi, hanya saja Reva masih ragu beda dengan Vi yang tegas dan kejam.


Selesai rapat dengan kesuksesan, Reva terduduk lemas meletakkan kepalanya di meja sambil menangis. Sisi sahabat Viana dan salah satu kepercayaan VCLO menenangkan Reva dan memujinya.


"Reva kamu harus kuat seperti Viana, angkat kepala kamu dan buktikan kamu pantas berada diantara para petinggi lainnya, walaupun kamu sangat muda."


Reva menggagukan kepalanya sambil tersenyum.


***


TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT....

__ADS_1


__ADS_2