MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
TANGISAN DAN TAWA


__ADS_3

Keluarga Bima sedang berada di ruang makan menikmati makan malam, Reva memegang jantungnya yang berdegup kencang, khawatir dengan reaksi Bima. Reva menunda untuk bicara sampai menyudahi makan malam.


"Windy, kamu mau hadiah apa?" Bima menatap putrinya yang akan berulang tahun.


"Adik, kayak Tian. Kalau bisa cewek biar Windy punya teman."


"Kalau cowok memangnya Windy tidak suka?" Reva menatap Windy yang sedang berpikir.


"Suka Mam, tapi lebih suka cewek."


"Cowok ataupun cewek sama saja, yang penting sehat, tidak kurang satupun."


"Amin!" jawab Reva dan Windy kuat diikuti beberapa Maid.


Selesai makan Reva cengengesan menatap Bima dan Windy. Diletakkannya sebuah kotak kecil yang terlihat cantik, diikat dengan pita berwarna kuning.


"Reva punya hadiah untuk Windy sama Papi." Reva mendorong kotak ke hadapan Bima, Windy tersenyum melihat kotak penasaran.


Bima membuka perlahan, tatapan matanya binggung melihat benda berbentuk pipih. Bima mengeluarkan menatapnya bolak-balik, bola mata Windy ikut berputar setiap Bima memutar benda ditangannya.


Senyum dibibir Reva langsung lenyap, reaksi Bima lebih mirip orang bodoh yang merasa benda pemberian Reva tidak berguna.


"Ini apa sayang?" Bima menatap Reva, menunjukkan hasil testpack.


"Ayy tidak tahu ini apa?" Reva balik bertanya dengan perasaan kecewa.


"Entahlah, aku tidak pernah melihat benda ini. Windy tahun ini apa?" Bima menunjukkan kepada Windy yang langsung mengambilnya dan menatap dengan binggung.


"Emhhh apa ya Pi?"


Para maid yang melihat Bima dan Windy kebinggungan, menahan tawa. Mereka ingin menyambut bahagia tapi Reva menatap sinis.


"Ini apa ya, tidak mungkin untuk gosok gigi, masa iya untuk mengorek kuping, ini benda apa sayang, manfaatnya apa? Bima menatap mata Reva yang sudah berkaca-kaca, Bima diam dan merasakan melakukan Kesalahan besar.


Reva mengambil tespack dari tangan Bima, memasukkannya dalam kotak dan meremas kuat.


"Bukan apa-apa, ini hanya sampah. Kalak mau pakai untuk gosok gigi, Reva bisa bantu kamu menggosok dengan benda ini." Reva langsung bangkit, menuju tempat sampah dan melemparkannya.


Mendengar Reva mengatakan kamu terasa sangat kasar, Bima yakin benda ini sangat penting. Reva meninggalkan Bima langsung masuk ke dalam kamar, air matanya menetes dengan penuh rasa kecewa.


Bibik mengambil kembali tespack memberikannya kepada Bima, bisa mencari kota yang bisa membantunya mencari nama benda yang sedang dia pegang.


"Tuan, ini namanya tespack."


"OHH, manfaatnya apa bik, Bima tidak mengerti.

__ADS_1


"Tuan ini gunanya untuk mengetes kehamilan, dan lihatlah garis dua ini artinya nyonya sedang hamil."


Bima mendekatkan garis dua ke wajahnya, memastikan garisnya benar dua. Windy sudah lompat-lompat memeluk seluruh orang di dalam rumah, Bima meneteskan air matanya.


Cepat Bima berlari menggenggam tespack, dibukanya pintu kamar tapi terkunci dari dalam. Bima menghela nafas, pasti Reva sekarang sedang menangis karena Bima tidak menyambut kehadiran anaknya.


"Sayang, maaf ya."


"Va, maafkan Ayy, buka ya sayang."


Selama satu jam Bima menunggu di depan pintu dengan perasaan khawatir, berkali-kali dipandangnya benda pipih dan memeluknya bahagia.


"Maafkan aku yang tidak mengerti kamu Va, aku sangat mencintai kamu juga sangat mengharapkan kehadiran anak kita." Bima meneteskan air matanya.


"Maafkan Papi ya sayang, maaf."


Seluruh orang di rumah ikut menangis melihat tuan mereka menangis, selama bekerja dengan Bima dia sangat dingin. Bahkan mendengar suara Bima hanya satu bulan sekali saat gajian. Bima hanya menyibukkan diri bekerja dan mengontrol tumbuh kembang Windy, dia tidak punya waktu dan kesempatan untuk menatap wanita manapun, tidak heran dia tidak mengerti soal benda yang bernama tespack.


Reva tahu Bima mengetuk pintu, tapi karena kesal Reva memutuskan untuk tidur membiarkan Bima tidur di kamar tamu. Reva tidur dengan tenang, seakan sedang melakukan mimpi indah lupa dengan Bima yang sedang menangis.


Windy ikut duduk bersama Bima di depan kamar, sudah tiga jam Bima duduk tapi dia bisa mengetahui aktivitas Reva di dalam dari balik CCTV.


"Windy masuk kamar, sekarang sudah tengah malam."


"Mau bertemu Mami, kita membuat Mami menangis, kasihan adik Windy." Windy menangis dalam pelukan Bima.


"Biarkan Windy menemani Papi, sekali ini saja."


Akhirnya Bima menggagukan kepalanya, karena lamanya menunggu Bima dan Windy sampai tidur di depan pintu. Windy tertidur di paha Bima, sedangkan Bima bersandar di dinding pinggir pintu.


Karena merasakan lapar tengah malam, Reva terbangun. Dilihat samping tempat tidur, tidak ada Bima, Reva lupa jika dia mengunci pintu sehingga Bima tidak bisa masuk.


"Dasar lelaki hanya tahu membuat anak, istri ngambek bukannya dirayu, tapi ditinggal tidur sendiri." Reva menatap sinis foto Bima, menghentakkan kakinya melangkah ke luar.


Langkah kaki Reva terhenti melihat dua orang yang tertidur, sungguh menyedihkan melihat Windy tidur kedinginan sampai melipatkan tubuhnya, Bima tidak kalah menyedihkan, rambutnya berantakan juga wajah putihnya terdapat bentolan bekas gigitan nyamuk.


Reva duduk melihat keduanya, perlahan Reva menggigat kemarahannya saat melihat reaksi Bima soal kehamilannya. Di tangan Bima juga ada tespack membuat Reva tersenyum. Dielusnya wajah Windy penuh kasih sayang, sampai mata Windy mengerjap melihat Reva yang duduk di depannya.


"Mami, maafkan Windy." Cepat Windy bangun memeluk Reva dan menangis.


Bima yang mendengar tangisan Windy langsung bangun, melihat Reva dan ikut memeluknya.


"Maafkan Ayy ya sayang, kamu baik-baik saja, perutnya sakit tidak, Ayy membuat kamu stres ya."


"Banyak banget pertanyaannya."

__ADS_1


"Mami Papi, Windy kedinginan." Mendengar ucapan Windy Reva langsung khawatir, dia ingin menggendong Windy tapi tidak kuat, Bima juga menahannya dan cepat menggendong Windy membawanya ke dalam kamar.


"Lagian ngapain tidur di luar?" Reva menyelimuti tubuh Windy dan memeluknya, Reva tidak memikirkan tujuannya keluar kamar.


"Va,"


"Ya,"


"Maaf."


"Iya, sudah dimaafkan lagian Ayy tidak salah."


"Boleh peluk, boleh cium."


Reva tersenyum, merentangkan tangannya minta digendong. Bima langsung menggakat Reva dalam pelukannya, pelukan Bima sangat erat, Reva bisa mendengar tangisan Bima, dia menangis bahagia, ini menjadi hari paling bahagia.


"Kenapa menangis?" Reva menangkup wajah Bima, menghapus air matanya.


"Maafkan Ayy ya sayang, terima kasih karena bersedia mengandung anakku. Aku tahu kamu takut hamil, aku janji akan menjaga kamu juga anak kita."


"Ayy tahu dari mana?"


"Tatapan mata kamu yang tidak pernah bohong, setiap aku membahas anak kamu hanya diam."


"Maaf, Reva janji akan menjaga mereka."


"Iya, besok kita periksa ke Dokter. Boleh aku teriak?" Setelah mendapatkan anggukan dari Reva.


"Arrrrrgggghhhhh, akhirnya aku akan menjadi ayah."


Bima teriak sambil menagis, memeluk Reva dan berlutut menciumi perut Reva penuh cinta.


"Papi berisik sekali!" Windy yang mengantuk berat, tertidur kembali.


Reva tersenyum, hari ini dia melihat Bima yang berbeda, senyum, tangisan, kebahagiaan terlihat dari wajah Bima.


"Ayy bagaimana jika besok diperiksa Reva tidak hamil?" Reva menatap serius, Bima juga langsung menatap tespack.


"Aku akan lenyapkan perusahaan tespack." Bima terawa sambil memeluk Reva..


"Ayy tidak takut dengan hasil besok, aku sangat menginginkan anak tapi aku jauh lebih bahagia karena kamu sudah siap untuk memilikinya."


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2