
Dugaan Steven tepat, macet panjang terjadi. Sudah hampir subuh masih di jalan. Windy dengan santainya tidur, tidak terganggu dengan keadaan jalan yang sesak karena macet.
Steven mempercepat laju mobilnya, setelah keluar dari macet, tiba di apartemen keadaan sangat sepi, Windy berkali-kali dibangunkan tetap tidak terusik, Steven yang sudah lelah akhirnya memutuskan untuk menggendong Windy pulang.
"Kak Bima maafkan aku, karena harus menggendong Windy, putrimu ini seperti putri tidur sulit dibangunkan." Steven langsung menggakat tubuh Windy.
Di depan apartemen Windy, Steven binggung cara masuk, langsung memanggul Windy, mengambil jempolnya untuk sidik jari. Pintu langsung terbuka, Steven bersyukur karena badan Windy kecil, sangat ringan.
Meletakkan Windy di atas ranjang, tangan Windy masih dikalungkan di leher Steven. Mata Steven berkedip, melihat bibir kecil Windy yang berwarna merah muda.
Steven melepaskan tangan Windy yang memeluk lehernya kuat, tapi secara mendadak Windy berbalik, membawa tubuh Steven untuk berguling. Jantung Steven berdegup, bibirnya dan Windy bersatu.
Secara perlahan Steven melepaskan Windy, dia langsung mandi keringat. Melangkah pergi meninggalkan Windy sendirian, sampai di apartemennya Steven langsung mandi, merenungkan yang baru saja terjadi.
"Jangan sampai aku jatuh cinta padanya, dia terlalu muda, putri dari orang yang aku anggap orangtua, aku tidak boleh memiliki perasaan terhadap Windy. Sebaiknya aku serius dalam hubungan, agar segera menikah."
Selesai mandi Steven langsung melaksanakan sholat subuh, sejak usia 15 tahun Steven menganut agama Islam, menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Walaupun wajahnya bule asli, tapi gaya hidupnya Indonesia. Soal cinta Steven seorang playboy yang memiliki banyak kekasih, satu berpaling masih banyak yang lain, belum ada wanita yang bisa meluluhkan hatinya, untuk menjadi pendamping hidupnya.
Suara ponsel Steven berbunyi, panggilan dari teman wanitanya. Senyum tampan terlihat menatap layar.
[Hallo sayang.]
[Ayang, aku kembali besok, jangan lupa jemput aku, sudah lama kita tidak bertemu.]
[Maaf ya Sasha, besok aku ada persidangan. Kasus cukup berat, aku tidak bisa kalah dalam persidangan kali ini.]
Steven menyelesaikan panggilan, langsung menuju ruangan Nge-gym. Sambil berolahraga membaca ulang kembali kasus yang harus diselesaikan.
***
Windy terbangun, saat matahari sudah terlihat. Wajahnya langsung tersenyum saat mengigat mimpi sedang berciuman dengan om Bule.
"Ya Allah pagi-pagi sudah memikirkan hal jelek, ayo Windy sadar." Windy memukuli wajahnya, langsung berlari ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Hari kedua masuk kuliah, Windy menggunakan baju tertutup, berpenampilan sederhana, mengikat tinggi rambutnya, menggunakan tas dan sepatunya.
Windy keluar melihat sarapan pagi yang sudah siap di atas meja, ada pesan juga untuk memakannya sebelum pergi. Windy duduk mengunyah makanan sambil terus tersenyum.
Selesai sarapan Windy keluar, melihat ke arah pintu apartemen Steven. Melangkah pergi untuk ke kampusnya.
sesampainya di kampus, Windy duduk tenang, seorang pria Bule juga duduk di dekat Windy, memberikan bekal makan siang, Windy langsung mendorong menolaknya secara halus.
__ADS_1
"Buatan Mommy untuk kamu, aku menceritakan seorang gadis sombong, tapi terlihat sangat baik, Mommy hanya tersenyum, meminta kamu datang berkunjung."
"Lukas terima kasih, tapi aku sudah makan dan kenyang sekali."
"Win, rezeki tidak baik ditolak. Insyaallah aku tidak punya niat jahat, kita bisa menjadi teman." Lukas tersenyum melihat Windy.
Dosen datang, Windy menyimpan makanan dari Lukas ke dalam tasnya. Mendengarkan dengan seksama pelajaran, Windy tersenyum melihat Lukas yang ternyata siswa yang pintar.
Selesai pelajaran Windy membuka makanan dari Lukas, keduanya makan bersama sambil bercerita. Windy kaget merasakan makanan lezat di mulutnya.
"Emmhhh, ini kenapa enak sekali?" Windy tersenyum memakan lagi, sampai habis.
"Suka tidak?" Lukas melihat tempat makan Windy yang kosong, keduanya tertawa lucu.
"Astaga bocor, bersih sekali." Lukas mengejek Windy, tangan Windy memukul sambil cemberut.
"Sampaikan ucapan terima kasih untuk Mommy kamu, Windy akan menyempatkan waktu untuk mampir ke sana."
"Yes, akhirnya dapat pelanggan baru, makanan yang bocor tadi jangan lupa di bayar."
"Lukas,"
Suara ponsel Windy terdengar, panggilan dari Om Bule, Windy langsung berlari karena Om Bule berada diparkiran mengantarkan makan siang.
Windy mengetuk kaca mobil, Steven meminta Windy masuk, memberikan makan siang.
"Ayo kita makan bersama, Om juga belum makan." Steven membuka bungkus makanan untuk Windy, juga untuk dirinya.
Senyum nyegir Windy tunjukan, perutnya sudah kenyang, memakan bekal dari Mommy Lukas, tapi tidak ingin melihat Om Bule kecewa Windy akhirnya ikut makan.
"Windy tidak nafsu makan, atau kamu sudah makan?" Steven mengehentikan makannya melihat wajah Windy yang terasa mual.
"Maaf Om, Windy tadi makan bersama teman. Mommy dia membuka restoran halal, jadi kita makan bersama."
"Lalu kenapa kamu makan, jika sudah kenyang?" Steven mengambil makanan Windy, memasukkan ke dalam bungkus plastik.
"Maaf Om, Windy bukan tidak menghargai." Windy tidak suka melihat Steven mendadak dingin.
"Cowok atau cewek teman kamu makan?"
"Cowok Om, dia hanya ingin berteman dengan Windy."
__ADS_1
Steven langsung tertawa, menatap wajah Windy yang percaya dengan pertemanan.
"Tidak ada sejarahnya, pertemanan antara wanita dan lelaki yang real hanya sebatas teman. Ingat ucapan Om, dalam beberapa hari dia akan menyatakan cinta." Steven menatap tajam, meminta Windy keluar.
"Om jangan marah, Windy tidak punya niat pacaran, hanya ingin fokus kuliah. Tidak perduli berapa banyak yang menyatakan cinta, Windy tidak tertarik."
"Windy, kamu sudah besar. Kamu juga mengerti rasanya tertarik dengan lawan jenis. Om hanya ingin memperingati kamu, dalam cinta lelaki tidak memiliki kerugian, wanita yang rugi."
"Iya Windy sangat tahu Om, rasanya tertarik dengan seseorang. Om tidak perlu khawatir, Windy akan menjaga diri."
"Win, sepertinya kamu melakukan kesalahan besar kuliah di sini. Om takut tidak bisa menjaga kamu, menjaga amanah Ayah kamu."
"Om jangan bicara seperti itu, Windy minta maaf soal makanan, soal Lukas juga. Tapi Om harus percaya kepada Windy."
Steven menghela nafasnya, memejamkan matanya. Hatinya terasa kesal, juga merasakan khawatir melihat Windy yang mudah dekat dengan orang, hanya dengan alasan dia baik.
"Sudahlah, sekarang kamu keluar, Om harus ke kantor."
"Om masih marah?" Windy menolak untuk keluar.
"Kenapa Om harus marah, hanya saja khawatir, menjaga kamu sudah menjadi tugas Om."
"Boleh Windy minta makanannya? saat lapar baru makan lagi."
Steven memberikan makanan, Windy tersenyum langsung melangkah ingin keluar, Steven menahan tangan Windy.
"Win, hubungi Om ke manapun kamu ingin pergi."
"Siap Om, hati-hati di jalan ya Om." Windy tersenyum, langsung menutup pintu mobil, melambaikan tangannya.
Steven melajukan mobilnya, memegang dadanya yang berdegup. Bahkan Steven harus menunda makan siang, saat teringat Windy tidak membawa bekal.
"Aku terlalu berlebihan mengkhawatirkan dia."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1