MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 IZIN PERGI


__ADS_3

Winda menatap kamarnya mendengar suara langkah kaki Ar yang berjalan ke arah kamar mandi.


"Kepergian besok diundur?" Winda duduk di meja rias, melihat Ar dari cermin.


"Iya, besok kita tidur di rumah mommy." Ar langsung melangkah ke kamar mandi.


Winda memasuki beberapa barang pentingnya ke dalam tas ransel yang selalu dia bawa ke manapun dia pergi.


Selesai sholat isya, Ar langsung keluar menemui Papi yang sedang bersantai bersama Mami, Stev dan Windy.


Rama juga datang bersama Viana yang langsung memeluk Reva, pertengkaran keduanya sudah berakhir.


Semuanya mengobrol santai sambil sesekali bercanda, Vira dan Wildan juga muncul langsung duduk bersama yang lainnya.


Winda juga datang langsung duduk di samping Ar, Viana masih sempat melakukan panggilan video bersama Jum, baby Tiar sudah keluar dari tabung inkubator.


Seluruh keluarga bahagia melihat kebahagiaan Binar dan Tama yang akhirnya memiliki putri dan putra.


Ar memulai mengutarakan keinginannya, dia sebelumnya meminta maaf jika keputusan terlalu cepat.


"Papi, Mami, Daddy mommy juga semua keluarga, mungkin kalian sudah tahu jika dalam beberapa waktu aku tidak bisa tinggal bersama kalian di sini. Alasannya juga sudah Ar sering jelaskan, ada beberapa pekerjaan yang harus Ar selesaikan." Ar menatap Winda yang hanya diam saja memainkan ponselnya.


"Kapan berangkatnya?" Windy menatap Ar yang hanya tersenyum.


"Insyaallah lusa, jika diizinkan Ar ingin membawa Winda bersama Ar." Tatapan Ar melihat Winda, langsung mengambil ponsel yang Winda mainkan.


Tatapan Winda tajam, tapi tidak ingin membantah. Di depan keluarganya Winda tidak ingin membuat masalah.


"Winda ikut, kembalikan ponsel." Winda memeluk Ar langsung mengambil handphonenya.


Senyuman Ar terlihat, dia lega karena Winda menyetujui untuk pergi bersamanya ke Paris.


Bima tersenyum melihat putrinya yang cemberut, Bima tidak melarang Ar membawa Winda, karena sudah menjadi kewajiban Ar untuk menjaga putrinya.


Seorang pemimpin memang harus kembali untuk melihat secara langsung anggotanya, agar bisa melihat dengan jelas, bukan hanya pemberitaan.


"Berapa lama kalian di sana Ar?" Reva duduk manis, meletakan kepalanya di pundak Viana.


"Mungkin satu tahun, atau bisa lebih cepat Mami. Ar akan usahakan di bawah satu tahu."

__ADS_1


"Winda hanya akan ada di sana selama enam bulan, pokoknya Winda akan pulang saat Bella melahirkan. Juga mengatakan kalah dari pertarungan." Winda menguap, menjadikan pundak Ar sandaran.


Vira dan Winda sibuk bermain game, tidak menyimak pembicara keluarga. Semakin malam rumah semakin ramai, karena kedatangan Ravi dan Kasih juga anak-anak mereka.


Bella dan Tian juga muncul, Bella langsung memeluk Reva mengatakan jika pinggangnya sering sakit.


Rasih sudah masuk ke dalam pelukan Vira, menatap tajam handphone Vira yang sedang bermain game.


Suara handphone terdengar terlempar, Vira dan Winda sudah bertengkar. Asih sampai merangkak menjauhi keduanya.


Ar langsung menarik Winda untuk pindah duduk, Wildan langsung menengahi Vira yang menarik Winda.


"Kalian berdua bisa lebih sopan tidak? orang tua lagi bicara." Wildan menatap tajam Vira dan Winda.


Suara tangisan Winda terdengar, memukul dada Ar melihat rambutnya acak-acakan. Ar menghapus air mata Winda memintanya untuk diam.


Winda langsung berdiri, menatap tajam Vira langsung menarik kuat rambut Vira. Suara teriakan Vira terdengar, langsung menangis mendapatkan pukulan dari Winda.


Wildan langsung menarik Winda, menatap tajam adiknya. Bahkan rambut Wildan juga dijambak kuat.


Vira memeluk Ar, mengutuk Winda yang menyakitinya. Cengkraman kuat di tangan Winda memerah, Wildan menegur adiknya yang semakin besar semakin kelewatan.


"Wil, jangan kasar. Tangan Winda merah."


"Maaf Win, kak Wildan tidak bermaksud menyakiti kamu, maaf ya dek." Wildan binggung melihat Winda dan Vira sama-sama menangis.


Viana dan Reva hanya terdiam, sejak awal mendengar pembicaraan akan berpisah Winda dan Vira sudah menahan tangisan.


Sejak kecil keduanya tidak berpisah, hal yang berat untuk keduanya harus berpisah dalam kurun waktu yang cukup lama.


"Winda Vira kemari." Viana langsung memeluk kedua putrinya yang sama-sama menangis kesakitan.


"Mommy tahu kalian berdua tidak ingin berpisah, hanya sementara sayang. Winda harus pergi mengikuti suaminya, mereka tidak lama kurang dari satu tahun." Viana juga meneteskan air matanya.


"Vira tidak suka berpisah Mom." Tangisan Vira semakin kuat.


Melihat Vira dan Winda menangis, Bella juga menangis sesenggukan tidak tahu alasan dirinya ingin menangis.


"Winda akan cepat pulang, sakit kepala Winda kamu jambak."

__ADS_1


"Salah sendiri ingkar janji, katanya selalu bersama, tapi kenyataannya kamu ingin pergi." Vira semakin menangis.


"Aku pergi hanya ingin menghabiskan harta Ar, nanti Winda belikan oleh-oleh."


"Janji, cepat pulang."


"Iya janji, sebelum Bella melahirkan Winda pasti pulang." Winda memberikan jari kelingkingnya kepada Vira.


Senyuman keduanya terlihat, merapikan rambut masing-masing. Bella belum juga berhenti menangis membuat orang kebingungan.


"Kalian berdua jangan datang saat Bel melahirkan, nanti anak Bel takut keluar melihat dua monster yang selalu bertengkar." Bella menangis memeluk Reva yang tertawa.


"Monster?" Vira dan Winda menatap tajam.


"Iya, memangnya kalian pikir malaikat."


Winda dan Bella langsung ingin menghajar Bella, jika tidak memikirkan kandungannya.


"Kalian menggemaskan sekali, saat pertama Mami bertemu Mommy juga saling menjambak, mami tidak menyukai Tante seksi istrinya sahabat Mami. Rasanya kasihan sekali melihat Rama menikahi Tante-tante." Reva tertawa memeluk Bella yang juga begitu cepat tertawa.


"Kamu mengatakan Tante, aku jauh lebih cantik dari kamu. Meskipun usia kita terpaut jauh, sampai saat ini mungkin orang mengira aku adik kamu. Makanya jika menikah jangan pilih Om-om jadinya ikutan tua, pilih ABG seperti Vi." Viana menatap sinis Reva.


"Apa cantik kamu, Viana sadar diri siapa yang mendapatkan gelar wanita tercantik. Itu aku Viana, buka mata kamu coba berkaca sudah berapa banyak kerutan di wajah kamu." Reva tersenyum sinis menatap Vi yang mulai kesal.


"Sudah cukup, Viana cantik di mata Rama, sedangkan Reva cantik di mata aku." Bima meminta semuanya masuk kamar, karena mereka masih ingin membicarakan soal pekerjaan.


"Siapa bilang kecantikan Reva hanya sebatas mata Ay Bima? semua orang mengakui kecantikan Reva."


"Nenek-nenek, ohhh nenek ingat umur sudah dipanggil nenek." Asih menatap Viana dan Reva yang mengerutkan keningnya.


Rasih sibuk memainkan game di ponsel Vira yang terlempar, kesal melihat dua nenek yang tidak ingin menua padahal sudah memiliki cucu.


"Mulai sekarang Asih yang paling cantik, kalian semua sudah umur." Asih melangkah pergi.


Rama menahan tawa melihat cucunya yang bisa menghentikan perdebatan panjang Reva dan Viana, jika melihat Vira dan Winda bertengkar sudah tidak heran lagi, karena ada induknya yang selalu bertengkar.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT

__ADS_1


FOLLOW IG VHIAAZAIRA


__ADS_2