MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 AIR MATA PERPISAHAN


__ADS_3

Beberapa mobil sudah sampai di bandara, Winda langsung keluar bersama Vira berjalan masuk ke dalam bandara.


Hanya ada dua koper yang mereka bawa untuk pergi, karena tidak ingin membuat seluruh keluarga sedih.


Bima memeluk Winda erat, mengusap rambut putrinya meminta Winda untuk menjaga diri. Orang yang paling berat melepaskan Winda pastinya Papinya, jika dulu Winda pergi untuk pendidik, tapi sekarang melepaskan putrinya untuk pergi bersama suaminya.


Bima tidak bisa menahan air matanya, tapi hari ini pasti datang. Bima bersyukur diberikan umur panjang, bisa melihat putrinya tumbuh juga sampai akhirnya menikah.


"Winda, kamu buah cinta Papi yang paling berharga. Setiap orang tua sangat menyayangi anak-anaknya, tapi rasa sayang Papi kepada kamu lebih dari apapun. Dengarkan pesan Papi, Winda harus bisa menahan diri, mengendalikan emosi." Bima mencium kening putrinya.


Winda tersenyum mengusap punggung Papinya, sebenarnya Winda juga sedih, tapi begitulah hukum alam di mana ada pertemuan pasti ada yang namanya perpisahan.


"Papi jangan khawatir, Winda sudah besar." Senyuman Winda terlihat langsung memeluk erat Papinya.


Reva langsung memeluk putri kesayangannya, air mata Reva tidak tertahankan melihat putrinya pergi.


"Mami katanya tidak akan menangis, lalu apa ini?" Winda mengusap punggung Maminya yang menangis sesenggukan.


Bukan hanya Reva yang menangis, Viana juga sudah memeluk Ar menangis pilu. Vi sangat tidak menyukai perpisahan.


Jum Bisma, Billa dan Erik juga datang untuk mengantar kepergian Winda dan Ar. Air mata Jum sejak dalam mobil sudah menetes melihat Viana dan Reva menangis lebih parah lagi.


Billa langsung memeluk Winda, menangis karena akan berpisah dari adik bungsunya, sahabat terbaiknya.


Bella dan Vira juga ikut berpelukan, berusaha menahan air matanya. Windy juga tidak bisa menahan sedih melihat empat anak yang berpelukan erat.


Winda berusaha menahan kesedihannya, dia tidak ingin terlihat lemah di depan seluruh keluarga. Selalu terlihat tangguh agar Mami dan papinya tidak terlalu sedih.


Ar juga merasakan sedih melihat keluarga yang berat melepaskan Winda, keharmonisan keluarga yang sangat luar biasa.


"Kak Stev Winda pergi, jangan bosan menasehati Winda." Winda memeluk Stev, lalu memeluk kakaknya Windy yang menangis kuat.


"Jaga diri Winda, harus selalu hubungi kak Windy jika kamu mengalami kesulitan." Windy mengusap air matanya.


"Ayah, Bunda Winda pamit pergi sementara, Bunda titip Mami." Pelukan lembut Bunda Jum Winda rasakan, Bisma mengusap punggung Winda yang hebat tidak meneteskan air matanya sedikitpun.


"Hati-hati sayang di negara orang." Jum mengusap air matanya.

__ADS_1


"Selalu jaga komunikasi Winda." Bisma tersenyum mengusap kepala Winda.


"Kak Erik, kak Tian Winda pamit ya. Jaga dua sahabat Winda dengan baik." Winda tertawa langsung mencium tangan Erik dan Tian yang tertunduk sedih.


"Hati-hati ya dek." Tian mengusap wajah Winda.


"Kita do'akan kamu selalu bahagia." Erik menepuk pundak Winda.


Pelukan Winda erat memeluk Kasih, tangan Kasih juga mengusap punggung Winda agar dia kuat dan selalu bahagia.


"Kak Kasih, kak Ravi jaga keluarga kita." Winda memeluk erat Ravi yang mengusap wajahnya menahan air mata.


Suara tawa Winda masih terdengar melihat Ravi yang bercanda, Rama memeluk Winda dan Ar erat meminta keduanya harus cepat menyelesaikan perkejaan dan kembali.


Viana juga memeluk erat tidak ingin berpisah, baru saja dia tertawa bisa melucu bersama Winda, tapi sekarang menantu kesayangan akan pergi.


Ar memeluk Reva dan Bima, Ar berjanji akan menjaga Winda, tidak akan membiarkan dia kesepian.


Semua amanah keluarga Ar simpan di dalam hatinya, menikahi Winda sama saja menikahi keluarga besarnya yang sangat mencintai dia, Ar tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan kepadanya.


Winda juga berlutut memeluk Asih, Aka, Bening, bahkan Embun dan Elang yang juga memeluknya erat.


Bocah kecil tampan berlari membawa tas di punggungnya langsung memeluk Winda dengan erat.


Walaupun Wira nakal, Winda sangat menyayanginya meskipun sejak kecil mereka selalu bertengkar.


"Aunty cepat pulang."


"Pergi juga belum." Winda mencium kening Wira.


Semuanya tersenyum, tidak ada yang boleh menangis. Winda tidak ingin ada yang sedih karena dia hanya pergi sementara, jika Winda ingin dia akan pulang dan pergi sesuka hatinya.


"Semuanya Ar dan Winda pamit pergi dulu, kita masih akan berkomunikasi." Ar menggenggam tangan Winda langsung melangkah pergi meninggalkan seluruh keluarga.


Winda melambaikan tangannya membalik badannya mengikuti langkah Ar, suara tangisan terdengar.


Vira langsung berlari ke arah Winda, memeluk dari belakang sambil menangis sesenggukan. Vira tidak ingin berpisah, tidak ingin kesepian.

__ADS_1


Winda menghentikan langkahnya, menggenggam erat tangan Vira yang memeluknya erat.


Bella dan Billa juga melangkah langsung memeluk erat, ketiganya menangis memeluk Winda.


Pertama kalinya mereka berpisah lebih dari satu minggu, biasanya satu hari tidak bertemu rasanya dunia sepi.


"Tega sekali kamu Win, bahkan tidak ingin menoleh." Vira tidak ingin melepaskan tangan Winda.


"Jangan menangis, Winda hanya sebentar." Winda menghapus air mata Vira, Bella dan Billa.


Winda melangkah mundur, Vira terus melangkah tidak ingin melepaskan dia sangat mengkhawatirkan Winda yang pergi untuk balas dendam.


Hal yang Vira sesali tidak mengetahui luka apa yang pernah Winda rasakan, apapun alasan Winda Vira tidak mengerti.


Winda gadis manja, bagaimana dia bisa menjaga diri jika disakiti, Vira membayangkannya saja tidak sanggup.


"Vira, Winda sudah berjanji akan menceritakan semuanya saat Winda mendapatkan jawaban."


"Aku mengkhawatirkan kamu Win." Vira terus berjalan mengikuti Winda.


Wildan langsung menggenggam tangan keduanya untuk saling melepaskan, Wildan menatap Winda yang menahan kesedihannya.


"Winda, apapun masalah kamu jangan pernah takut, kamu memiliki kak Wil. Vira aku janji sama kamu memastikan Winda baik-baik saja." Wildan memeluk keduanya sangat erat.


"Kak Wil jaga Vira, kalian berdua harus bahagia. Saat Winda pulang jangan lupa hadirkan keponakan lucu untuk Winda." Pelukan Winda erat kepada kakaknya yang mengusap kepalanya.


"Jaga diri Winda, ingat pesan kak Wil." Wildan melepaskan tangan adiknya yang melangkah masuk bersama Ar.


Vira menangis dalam pelukan Wildan, tangisannya tertahan membuat Wildan mengusap matanya, menepuk pundak Vira lembut.


Di dalam pesawat Winda meneteskan air matanya, sungguh sedih dirinya meninggalkan seluruh keluarganya.


Ar mengusap air mata istrinya yang tertahan, akhirnya tumpah setelah masuk pesawat. Cepat Winda menghapus air matanya, meskipun terus menetes.


Winda melihat ke arah luar, dari kejauhan bisa melihat seluruh keluarga melambaikan tangan ke arah pesawat membuat Winda menangis sesenggukan.


Ar juga menetes air matanya, memeluk lembut Winda yang menangis histeris melihat Papi Mami juga sahabatnya menangis.

__ADS_1


***


__ADS_2