MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
MENGEJAR CINTA OM BULE


__ADS_3

Suara langkah kaki Steven berlari keluar, langsung menuju mobilnya untuk segera ke hotel. Stev melihat beberapa orang yang berlalu lalang di sekitar apartemen, Stev sudah memperketat penjagaan di area rumahnya.


Mobil melaju, beberapa mobil mulai mengikuti Steven, senyum Stev terlihat meminta tolong Saka mulai bertindak, mobil kebut-kebutan sampai tiba di persimpangan empat yang hanya ada beberapa kendaraan, Steven memutar mobilnya hingga bertemu langsung dengan mobil yang mengikutinya.


Satu mobil di belakang, kanan dan kiri sedangkan mobil Steven berada di depan, empat mobil sudah berhenti, mengurung satu mobil yang mengikuti Stev, beberapa polisi mulai berdatangan.


Empat orang keluar dari mobil, mencoba melarikan diri tapi sia-sia saja, puluhan polisi berkumpul meminta untuk angkat tangan.


Saka keluar dari mobilnya, tersenyum melihat Steven. Bagus juga keluar melayangkan pukulan kepada seseorang yang mirip preman. Langsung memborgol kedua tangannya.


"Teruslah diam, masuk penjara ataupun bebas masih tetap akan mati." Bagus menjambak kuat.


Saka mengetuk kaca mobil Stev, Steven langsung membukanya sambil tersenyum.


"Kamu ingin bergabung untuk mengintrogasi, atau ingin pulang menjaga si kecil?" Saka tertawa kuat.


Steven menggeluarkan barang bukti, Steven memilih untuk ke Restoran bersama Tegar menunggu kabar baiknya, karena yang tertangkap bukan pelaku utama.


Mobil Steven melanjutkan jalannya ke arah Restoran, satu mobil lagi mengikutinya. Tiba di Restoran Tegar langsung merangkul Stev untuk minum bersama.


"Sebaiknya kita ke Bar minum sepuasnya?"


"Kalau lapar ke rumah makan, bukan pergi ke Bar." Steven meminta ruangan privat.


Tegar meminta minuman khusus, Steven hanya menggelengkan kepalanya. Langkah kaki Stev terhenti melihat Vero bersama Windy, Stev langsung melihat ponselnya, Vero menjatuhkan seluruh orang suruhan menemui Windy ke kediamannya juga keluar bersama.


"Ada apa Stev?"


"Vero bersama Windy." Stev melangkah langsung membuka pintu, tatapan matanya tajam menatap Vero dan Windy.


Windy langsung berlari mendekati Stev, memeluk lengan Steven yang langsung membawa Windy pergi.


"Kenapa kamu keluar rumah dengan lelaki tidak dikenal?" Tatapan mata Stev tajam.

__ADS_1


"Vero mengatakan jika Om Stev yang meminta aku ke luar, Windy juga kaget melihat banyak perempuan seksi." Windy cemberut langsung menatap Tegar.


"Lain kali kamu harus menghubungi Om terlebih dahulu, jangan percaya dengan ucapan siapapun." Steven mengusap kepala Windy yang mengagukan kepalanya tersenyum manis.


Tegar tersenyum melihat Steven sangat lembut, biasanya cuek saja. Vero juga keluar menatap Windy dan Steven.


"Aku ingin berbicara sama kamu Vero."


Vero masuk bersama Windy dan Tegar ke dalam ruangan, Steven menarik nafas panjang baru menyusul untuk masuk, Steven melihat keanehan dari rekaman yang sepertinya sudah di retas.


"Windy langsung memesan minum, memesankan juga untuk Steven, beberapa makan malam juga, cemilan. Windy tidak memperdulikan tatapan Steven dan Vero, Tegar juga berusaha mengabaikan keduanya.


"Kenapa kamu membawa Windy keluar?" Stev berusaha untuk menenangkan dirinya, tidak terbawa emosi.


"Awalnya aku ingin bertemu kak Stev, tapi ada orang yang berusaha untuk membuka paksa apartemen. Pasti tidak percaya jika CCTV butut kalian sudah di retas." Vero melihat Windy yang santai saja, masih makan dengan lahap.


"Windy, seharusnya kamu menjelaskan ke Om Bule, jika apartemen di buka paksa?" Vero membentak Windy sampai kaget, menumpahkan minumnya.


"Biarkan saja, saat kecil dulu Bunda lebih kejam lagi, menyiksa maid, kekasih Bunda membunuhnya di depan Windy, jadi Windy tidak takut. Papi sudah mengobati Windy dari trauma. Jika Windy takut, hanya akan menjadi kelemahan Om Stev, juga akan menyusahkan." Windy tersenyum melihat Steven.


Seorang pelayan masuk menatap Windy yang dirangkul Stev, menatapnya sinis. Windy langsung tersenyum melihat ke arah pelayan.


"Maaf kakak, aku tidak jual diri. Jangan pandang Win sebelah mata, walaupun Bunda Windy wanita malam, belum tentu Windy juga melakukannya." Windy mengambil minumannya.


"Kenapa bicara seperti itu? jangan pedulikan apapun pandangan orang, Windy putrinya Mami Reva dan Papi Bima." Stev menatap mata Windy yang sudah berkaca-kaca.


Pelayan langsung keluar, Vero Tegar saling pandang. Tangan Tegar yang memegang minuman beralkohol ragu untuk membukanya, Windy terlihat seperti ABG yang mudah ngambek, tidak sesuai umurnya.


"Boleh minum ini tidak?" Tegar menatap Windy.


"Silahkan Om, langsung minum saja. Windy tidak boleh meminumnya hukumnya haram, Om Stev juga tidak boleh minum ya?" Windy menatap Steven yang tersenyum.


"Biasanya Stev juga minum?" Tegar menyimpan botol, Vero langsung tertawa melihat wajah Steven.

__ADS_1


"Om tidak boleh, kata Papi Om sudah pindah agama, tidak boleh Om. Jadilah Bule beriman, jangan bilang Om juga tidak pernah sholat?" Windy menatap tajam.


Vero dan Tegar langsung tertawa kuat, Steven menatap tajam meminta keduanya diam. Tegar memukul kepala Vero yang ikut-ikutan bergabung dengan mereka.


"Sebaiknya Vero keluar, mungkin dia sedang dikirim ke sini untuk menghancurkan rencana kita Stev?"


"Aku hanya melakukan kejahatan terang-terangan tidak seperti kamu yang diam-diam tapi membunuh." Vero menatap tajam.


"Om Om semuanya jangan bertengkar, tidak malu dengan umur. Ayo damai makan dengan tenang." Windy mengehentikan kedua orang yang sudah saling tatap tajam.


"Vero sebaiknya kamu keluar, jangan berkeliaran di sekitar hidupku." Steven berbicara dengan dingin.


"Kak Stev, diantara kalian ada pengkhianatan. Bukan Vero yang membocorkan soal gagalnya persidangan kak Stev, Vero tidak mungkin membahayakan kak Stev."


"Kamu juga bisa membunuh kak Stevie, membuat aku hidup sebatang kara, sedangkan kamu, Ibu kamu hidup bahagia." Kemarahan Steven terpancing, Windy menepuk pelan pundak Steven.


"Aku memang salah, tapi aku tidak mengerti apapun saat itu. Maafkan Vero, hanya ingin mengingatkan kak Stev harus berhati-hati." Vero langsung melangkah keluar.


Windy duduk mendekati Steven, mengelus punggung Steven menenangkannya. Windy sudah mendengar semuanya dari Vero, sebenarnya Vero tidak sejahat yang Steven pikirkan, Windy juga bisa merasakan, walaupun Steven marah, tidak memukul adiknya, masih berusaha berbicara, meski nadanya dingin.


"Om Windy ke toilet dulu ya?" Windy langsung berdiri, melangkah keluar.


Vero langsung mendekati Windy membawanya keluar, Windy menarik baju Vero melihat ke belakang. Vero menarik tangan Windy.


"Jangan khawatirkan kak Stev, Vero yakin kak Stev bisa menemui kita tepat waktu." Vero tersenyum bersyukur Steven mempercayainya, hanya menggunakan kode kecil.


Windy lebih hebat lagi, dia bisa mengetahui jika Steven meminta keluar hanya dengan sentuhan tangan.


"Om Vero, Om Bule Windy pasti baik-baik saja?"


"Pasti Win, aku percaya kak Stev, terima kasih kamu juga percaya aku, kamu juga luar biasa bisa mengimbangi kak Stev. Orang baik hanya akan tersakiti Windy."


"Kebaikan akan menang, tidak hari ini mungkin besok, suatu hari nanti." Windy melihat ke dalam Restoran berharap Steven secepatnya keluar, dia dalam bahaya.

__ADS_1


***


__ADS_2