
Tatapan Windy tajam, pintu mobil terbuka. Beberapa orang menatap Windy yang melangkah mendekati jembatan, Vero tergantung masih bertahan, Windy memberikan tangannya, menarik Vero untuk naik ke atas kembali.
Tawa beberapa orang melihat Windy langsung menendangnya kuat, Windy terlempar, teriak Vero marah langsung melayang pukulan, Vero juga mendapatkan pukulan langsung terlempar.
Seseorang membawa balok ingin memukul kepala Vero, Windy menahan kuat, langsung memukul adu kepala.
Pukulan Windy menghantam wajah, beberapa orang berbadan besar langsung mengelilingi Windy dan Vero, tangan Vero menyentuh kaki Windy, berusaha untuk berdiri.
"Masih kuat tidak Vero, aku harus melindungi wajahku, kata Mami wajah aset kecantikan wanita."
"Masih ada waktu kamu bercanda Win."
"Menjadi partner aku, biasanya aku bertarung dengan Mommy Viana, Ravi menjadi partner."
"Terserah, sebelum kita berdua mati di sini."
"Windy tidak akan mati dengan bodoh di Negara orang."
Windy langsung memutar tubuhnya, memegang pundak Vero, melayangkan tendangan kuat, melepaskan tusuk rambutnya yang membuat rambut Windy terurai.
Vero memejamkan matanya hanya menahan tubuh Windy, serangan pukulan juga tendangan Windy mematikan. Terlihat juga tangannya berdarah.
Senyum Vero terlihat beberapa orang meringis memegang beberapa bagian tubuh mereka yang terluka. Windy menyobek baju, memperlihatkan pundaknya yang berdarah.
Mendekati seseorang yang mengangkat tubuh Vero hampir jatuh ke jembatan, Windy menjambak rambutnya, menarik ke arah jembatan.
Melayangkan tendangan kuat, tapi langsung menahan kembali tangannya, teriak panik terdengar terutama di dalam siaran langsung Windy.
Windy mengikat kuat, membuatnya tergantung. Tatapan mata Windy tajam melihat banyaknya orang yang babak belur, setiap bagian tubuh mereka mendapatkan tusukan.
"Siapa yang mengirim kalian? jika tidak ada yang menjawab satu persatu akan aku jatuhkan. Mungkin jatuh dari sini tidak mati, tapi cacat." Windy tersenyum sinis, dia puas meluapkan kemarahannya terhadap Steven dengan memukuli orang.
"Kami dibayar oleh orang tidak dikenal."
"Jatuhkan pria ini Vero, kita harus mengukur kedalaman."
"Baik bos." Vero tersenyum mendekat.
"Kami di perintah oleh sekretaris Pak Sam, dia seorang Pengacara." Jawab orang yang tergantung ketakutan.
__ADS_1
"kalian pikir saya bodoh, aku bukan anak kecil yang bisa kalian permainkan. Tidak mungkin kamu langsung menyebut bos langsung."
"Di jatuhkan tidak Win?"
"Biarkan polisi yang bertindak." Windy melihat penuh mobil polisi mengelilingi mereka.
Windy langsung melangkah masuk mobilnya, mengambil ponselnya, tersenyum melihat penonton yang jutaan.
"Mami Papi Windy dan Vero baik-baik saja. Maafkan Windy yang sudah mengangkat tangan untuk menyakiti orang, Windy hanya membela diri." Windy mematikan ponselnya.
Polisi meminta Windy dan Vero ikut ke kantor posisi, keduanya masuk ke dalam mobil. Windy yang menyetir mobil, tersenyum melihat Vero.
"Kamu mirip gangster Windy, mengerikan sekali."
"Guru aku juga seorang Mafia wanita, dia bukan hanya ahli beladiri, pintar, tajir, cantik, bisa menguasai dan memimpin orang yang bermasalah. Kamu belum melihat jika dia bertarung, Ravi, Tian Erik pasti bersembunyi ketakutan." Windy tertawa, merindukan suasana rumah.
"Terima kasih Win sudah menyelamatkan aku, jika tidak aku sudah menjadi bebek di bawah jembatan."
"Vero, jika kamu sampai jatuh, Windy juga akan terjun menyelamatkan kamu. Kami diajarin saling melindungi, tidak meninggalkan teman."
"Tidak heran kak Stev jatuh cinta kepada kamu, jika saja bukan kak Steven saingan aku ingin maju menjadi pendamping kamu Win." Vero tertawa kuat bersama Windy yang juga tertawa.
"Jika tidak kesal dengan Om Stev, aku juga mungkin babak belur. Saat emosi paling enak mencari pelampiasan."
"Punya kak Jen, dia bilang untuk mengorek hidung." Windy tersenyum.
"Hari ini sangat luar biasa dan berkesan." Vero tersenyum melihat Windy yang ternyata sangat kuat.
***
Windy tiba di kantor polisi bersama Vero, langkah kakinya lebih mirip preman. High heels sudah tinggi sebelah karena patah, bajunya sobek memperlihat punggungnya yang putih.
Vero yang berjalan di belakang Windy, menahan baju Windy yang sobek untuk menutupi, agar kulit putih Windy tidak terlihat umum.
Windy dan Vero duduk, seorang polisi menatap tajam, beberapa preman juga mengeluh melihat tangan, kaki, paha, punggung, pundak, dada ditusuk dengan tusuk konde.
"Kamu preman? perempuan tapi tingkahnya seperti orang yang tidak berpendidikan." Seorang polisi meludah jijik melihat Windy.
Vero ingin membantah, tapi tangan Windy menahan. Vero dan Windy menjadi orang yang dipojokan, menjadi orang yang salah, padahal siaran sudah jelas siapa yang memulai, mengancam bahkan hampir membunuh Vero.
__ADS_1
"Katanya kita dilindungi oleh hukum, tapi kenapa orang yang bertugas menghina bukannya mencari bukti yang akurat. Seorang pencuri Ayam di penjara selama 5 tahun, tapi bandar narkoba hanya 3 bulan, bebas dengan membayar denda. Kalian lucu, baju seragam kalian hanya untuk modal gaya." Windy tersenyum sinis.
Suara pukulan meja terdengar, pukulan Windy di atas meja lebih kuat lagi, Vero sampai jatuh dari kursi karena kaget, duduk di lantai memegang dadanya, komputer di meja juga bergetar, buku berjatuhan.
"Orang tua aku mengajarkan menghormati, menghargai, menolong, membantu, meringankan orang yang membutuhkan, membela kebenaran, tidak membedakan, juga melakukan keadilan, tapi aku tidak mendapatkan keadilan."
Windy tersenyum, dia menatap beberapa orang yang terlibat dengannya, tidak ada yang berani menatap Windy. Melihat kejadian hari ini Windy mengerti harta dan kekuasaan bisa mengubah segalanya.
"Minta atasan kalian keluar, seorang preman ingin berbicara."
"Apa yang kamu lakukan?duduk!" Bagus menatap Windy tajam, kaget juga melihat Windy yang berbeda.
"Aku sedang berdagang gorengan, bodoh sekali." Windy tertawa mendekati Bagus yang meminta Windy duduk dengan suara lembut.
"Sebentar lagi Steven datang, kamu bisa pulang."
Bagus meminta semua orang yang menyerang Windy di masukan ke dalam sel, mereka akan diminta keterangan secara khusus karena sudah termasuk tidak pidana, penyerang dengan motif senagaja.
"Kamu baik-baik saja Windy?"
"Jika punya mata bisa melihat sendiri, dalam 24 jam mereka pasti bebas, seharusnya aku membunuh mereka." Gumam Windy kesal.
"Windy, kami akan menindaklanjuti kasus ini, kamu jangan mengotori tangan."
"Kalian tidak bisa di percaya, lihatlah. Aku dan Vero diserang, Vero hampir jatuh ke bawah jembatan, aku membela diri, hanya karena aku menang menjadi orang yang disalahkan. Mereka tidak akan mati hanya karena tusukan konde."
"Kami mengerti Windy, mohon ikuti peraturan."
"Kalian hanya makan gaji buta, tidak bisa membedakan yang pantas dibela dan dihukum."
Bagus mendekati wajah Windy, membisikkan sesuatu kepada Windy jika mereka sedang melakukan pengejaran, meminta Windy menunda untuk memperpanjang masalah.
Vero menarik Windy untuk duduk diam menunggu Steven datang menjemput, Bagus terlihat gelisah menghubungi Steven, Saka, Glen untuk melakukan sesuatu.
"Om Stev di mana?" Windy menatap Bagus tajam.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA
***