
Di dalam kamar Chintya sedang menyusui anaknya yang berjenis kelamin perempuan, Reva sangat gemes melihatnya. Septi juga mendekat ingin melihat anak Ivan, Tya melihat Erik, Ravi,Tian dan Windy yang bergandengan.
"Kalian tidak ingin melihat adik kecil?"
"Tidak, Ravi sudah bosan melihat adik kecil." Viana langsung menarik telinga Ravi, bibirnya langsung manyun dan kesal.
"Selamat ya Tante, adik kecil cepat besar."
"Erik tidak ingin melihat adik kecil."
"Tidak."
"Kenapa sayang?"
"Takut jatuh cinta, kata Ravi seperti itu." Erik tersenyum, Ravi melotot kesal.
"Uncle Bisma yang mengajari Ravi, karena kita sahabatan jadi harus berbagi."
Viana menarik kembali telinga Ravi, mendengarkan ucapan Bisma yang jalannya sesat. Bisma hanya tersenyum melihat keempat bocah melihat bayi sebentar lalu keluar dan duduk manis di ruang tunggu.
Karena lama menunggu kebosanan juga dia rasakan keempat bocah, Reva keluar karena merasakan haus. Bima juga sedang keluar bersama Rama mencari makan, jadi Reva memutuskan untuk pergi sendiri ke kantin.
"Mami mau pergi ke mana?"
"Beli minum sayang, kalian tunggu di sini saja."
"Biar Erik yang membelikan, Mami cukup duduk manis." Erik mengambil uang Reva dan melangkah pergi. Septi tersenyum melihat Erik yang masih kecil tapi pikirannya sudah dewasa.
Ravi dan Tian juga ikut, penjaga kedua bocah yang Bisma dan Rama siapkan mengikuti juga. Ketiganya sibuk memesan minuman, dan saling membantu untuk membawanya.
Di ruang tunggu Reva semakin pucat,Viana menghubungi Bima cepat kembali. Melihat keadaan Reva Dokter memutuskan untuk rawat inap, Bima berlari dan melihat Reva yang terduduk lemas, cepat Bima menggendong Reva yang memang sangat lemah. Ruangan terbaik sudah Viana siapkan, Reva langsung dipasang infus dan Dokter cepat bertindak.
Selesai pasang infus, obat mulai bekerja, Reva langsung terlelap. Bima menunggui Reva bersama Windy yang sesekali menangis.
Vi sudah berusaha menenangkan Windy tapi melihat Mami kesayangan terbaring lemas, tidak bisa menghentikan air mata Windy.
Tiga bocah yang dalam perjalanan kembali ke lantai atas asik tertawa, tiba-tiba lift mati. Dua pengasuh langsung panik dan teriak histeris, Tian menggenggam tangan Ravi melindunginya, Erik juga menggenggam tangan Ravi menenangkannya di dalam ruangan gelap.
Ravi berusaha tenang, kemungkinan besar lift akan jatuh. Teriak dua wanita membuat Ravi kesal, para tim keamanan langsung menginfokan soal lift yang rusak. Beberapa pintu lift yang lainnya terbuka, posisi lift Ravi, Tian, dan Erik berada dilantai dua, saat terjatuh mereka akan terjatuh dilantai satu.
__ADS_1
"Tolong, buka tolong." Teriak dua pengasuh.
"Ravi kita bakal jatuh, belum sempat lift ini dibuka."
"Iya Rik, semoga saja tidak ada orang dilantai dasar, sehingga mungkin hanya kita yang terjatuh dan terluka."
"Erik kamu pegang erat disamping, Ravi kamu peluk kak Tian. Pakai jaket ini, berusaha untuk melindungi kepala kamu." Tian melepaskan jaketnya, memasangkannya ke Ravi yang tersenyum dalam kegelapan.
Ketiga bocah kecil di dalam lift, berusaha untuk saling melindungi, dalam satu menit lift bertahan dan satu detik kemudian lift terjatuh. Kepanikan di lantai dasar terdengar, Ravi membuka matanya yang mulai melihat cahaya. Tim penyelamat dan kemanan berusaha membuka lift, Ravi bisa melihat darah mengalir membuatnya semakin takut dengan darah.
Tim kemanan langsung menggendong Ravi yang kedua tangannya masih menggenggam dua tangan kecil.
Rama mendapatkan kabar soal lift yang jatuh ada lima korban dan dua meninggal. Bisma, Ammar dan Rama langsung berlari setelah mendapatkan putra mereka salah satu korban. Rama melihat Ravi yang sudah dipasang infus, Viana juga berlari melihat putranya dan menangis histeris.
"Kak Tian, Erik. Mommy di mana mereka?"
"Apa kamu yang sakit sayang, katakan kepada Daddy."
"Tidak ada Daddy, Ravi baik-baik saja."
Rama meneteskan air matanya bernafas lega karena putranya baik-baik saja. Rama memikirkan keadaan Bastian dan Erik yang juga menjadi korban. Menurut penjelasan Dokter Ravi yang paling aman, seorang anak kecil melindungi kepala Ravi, dan mengalami luka cukup parah. Rama tidak sanggup mendengar lagi, pasti salah satu Erik dan Tian yang terluka parah.
"Papi, Tian, Ravi dan Erik kecelakaan."
"Kecelakaan apa Win?"
"Lift jatuh, dua korban meninggal." Satu anak kecil terluka parah." Tangisan Windy pecah, tidak sengaja dia mendengarkan cerita suster yang lewat soal kecelakaan.
Bima dengan khawatir langsung mencari kebenarannya, ucapan Windy benar pantaslah Rama, Bisma dan Ammar berlari panik.
Reva yang mendengar juga langsung panik, cepat melepaskan infusnya. Reva berjalan dengan digandeng Windy. Reva sampai di ruangan Tian, Jum sudah jatuh pingsan, Bisma panik dan khawatir melihat istrinya yang hamil dan putranya yang sedang ditangani Dokter.
"Bisma, bagaimana keadaan Tian." Reva menangis, Bisma berusaha menenangkan dirinya, meminta Reva duduk membantu Jum yang sedang pingsan.
Viana, Rama juga Bima datang ke ruangan Tian. Bima kaget melihat Reva yang sedang memangku Jum berkali-kali pingsan.
"Ya Allah lindungi anakku." Bisma mondar-mandir melihat depan pintu.
Viana mendekati Reva dan Jum, mengelus tangan Jum biar cepat sadar.
__ADS_1
"Bangun Jum, ingat kandungan kamu. Bertahanlah, Tian pasti selamat." Vi menguatkan Jum yang sudah membuka matanya, tapi masih begong.
Bima merangkul Bisma agar tenang, Rama juga melihat ke dalam ruangan yang melihat Tian terbaring.
"Bagaimana keadaan Ravi?"
"Dia baik-baik saja, hanya kakinya yang terluka." Rama bersyukur karena putranya selamat, dan tidak pingsan.
"Bagaimana keadaan anaknya Ammar, ada dua korban yang meninggal, salah satunya pengasuh Ravi dan satunya siapa."
Rama diam, Bima juga diam. Mereka semua menghela nafas mengkhawatirkan Septi yang bakal terpukul berat. Ujian pernikahan sangat berat dan bertubi-tubi.
"Ini salah Reva?" tangisan Reva langsung pecah.
Bima berusaha menenangkan Reva melihat kondisi Reva yang belum stabil, sungguh Reva sangat menyesal karena ingin sekali minum es, sampai tiga bocah harus turun.
Dokter keluar, mengatakan Tian baik-baik saja, dia memiliki banyak darah karena darah seseorang yang melindunginya.
"Jika bukan Tian yang melindungi Ravi berarti Erik, bocah yang kritis." Rama memijit pelipisnya.
"Kita lihat ke sana, semoga saja Erik juga bisa bertahan." Bisma mendapatkan panggilan, menyatakan kabar pengasuh Tian meninggal.
"Innalilahi wa innalilahi rohjiun, ternyata dua korban meninggal dua pengasuh."
Viana melihat Ravi berjalan tertatih, tidak memperdulikan orangtua masuk lebih dulu melihat Tian yang masih terlelap karena jatuh pingsan.
"Bangun, kalian jahat kepada Ravi, tidak suka punya hutang nyawa. Satu selamat semuanya harus selamat." Tangan kecil Ravi memukuli ranjang Tian, Bisma menggendong si kecil kesayangannya yang menangis histeris.
"Kak Tian sedang tidur Ravi, sebentar lagi dia bangun." Bisma menenangkan, Jum yang sudah bisa mengendalikan diri mencium kening Tian mengambil tangannya yang lecet, menciumnya berkali-kali.
Reva juga mendekat, mencium Ravi dan Tian. Reva takut sekali jika keduanya terluka parah, masih ada satu lagi yang membuat Reva khawatir keadaan Erik.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1