MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 BERTAMU


__ADS_3

Mami berteriak kuat, meminta Winda dilepaskan. Bagaimana jika Ar mencari Winda, maka keributan akan terjadi secara besar-besaran.


"Jangan sakiti Winda."


"Mami tenanglah, Winda akan baik-baik saja."


Mami memukul kepala Winda dengan remote tv, Joseph binggung melihat mertua dan menantu bertengkar.


"Dasar perempuan bodoh, Mami tahu kamu menyesal memborgol diri sendiri." Tatapan Mami panik.


"Kenapa Mami bisa tahu? tolong Winda Mami, cepat cari kuncinya." Winda merengek seperti bayi.


"Di mana kuncinya Winda goblok!?" Mami mencaci maki Winda


Joseph kebingungan, Winda hanya tertawa melihat mertua bar-bar yang mulutnya memang tidak punya sopan santun.


"Ayo kita pergi." Winda melangkah keluar.


"Winda."


"Ummi, tetap diam di sini. Kunci semua pintu jangan izinkan siapapun masuk, kecuali Winda dan Ar." Senyuman Winda terlihat, langsung keluar menutup pintu.


Mami langsung menangis, melihat dari jendela gadis kecil yang berjalan masih sama seperti dulu tidak ingin melangkah mundur meskipun dia sedang ketakutan.


Winda masuk ke dalam mobil, senyuman tidak pernah menghilang. Joseph tidak mengerti apapun rencana Winda, dia seperti seorang ratu yang memiliki kecantikan luar biasa, tapi sebenarnya dia penyihir yang sedang menyamar.


"Apa rencana kamu?"


"Meminta keadilan, aku ingin semuanya berakhir." Tatapan Winda penuh rencana busuk.


"Ucapan kak Josua benar kamu lebih berbahaya dari Reva." Joseph menatap sinis melihat tangannya diborgol.


"Mami, Mami Reva. Kalian mengenal Mami? siapa Josua? ohhh ... dia kakak kamu, ternyata kalian punya dendam kepada Mami? kenapa?" Suara Winda tertawa terdengar, dia tidak menyangka jika dugaannya benar.


"Kenapa kamu tidak punya rasa takut Winda? kami bisa membunuh kamu." Joseph mencekik Winda, tapi senyuman Winda tetap tidak menghilang, wajahnya tidak memperlihat rasa takut.

__ADS_1


"Aku sudah lama menanti hari ini untuk bertemu pelaku, rasanya selama ini aku hidup seakan mati. Kamu membuat trauma besar dalam hidupku. Sepuluh tahun sudah berlalu, tapi rasa sakitnya masih ada di sini." Winda memukul dadanya kuat.


"Aku hidup dan selamat, tapi sakitnya di sini masih abadi. Aku rasa akulah pembunuh sebenarnya jika tidak mendapatkan keadilan." Pukulan Winda kuat terhadap dirinya sendiri, dia tidak merasakan sakit apapun meluapkan lukanya.


Joseph langsung memalingkan wajahnya, melihat ke arah luar. Dia mengingat kembali Winda yang di lempar juga melawan pria berbadan besar.


Gadis kecil yang tidak melangkah sedikitpun mundur, dia tidak menangis dan terus menantang. Joseph pikir berakhirnya hari itu semuanya berakhir, Winda hidup dan bahagia, tidak pernah Joseph sangka jika Winda mengingat dengan jelas, bahkan belum bisa melupakan.


Mobil tiba di rumah mewah keluarga Arlando, Joseph menahan Winda agar berhenti. Melarang Winda untuk menemui kakaknya, karena akan sangat berbahaya jika Josua melihat Winda.


"Aku akan bertanggung jawab, mengakui semua yang terjadi. Menerima keadilan, sekarang kamu harus pergi dari sini." Joseph memaksa untuk melepaskan borgol.


"Terima kasih, tapi aku ingin bertemu dengan Josua. Jangan khawatir aku memiliki sembilan nyawa." Winda tersenyum langsung melangkah keluar.


"Memangnya kamu kucing?"


"Manusia kucing, om sudah tua, tapi bicaranya tidak sopan."


"Om, kamu yang bicara tidak sopan."


"Namanya juga Winda, wanita yang tidak pernah salah."


Mata Winda berkeliling melihat sekitar, mengagumi setiap letak barang-barang di kediaman keluarga Arlando.


Langkah Winda terhenti melihat foto keluarga Arlando, ternyata Ranty putri bungsu dari tiga bersaudara. Josua sangat tampan saat dia masih muda, mirip sekali dengan ayahnya.


Senyuman Winda terlihat, langsung melangkah pergi mengikuti Joseph menuju ruangan kakaknya.


Langkah Joseph terhenti melihat kakaknya duduk membelakangi, menatap Ranty yang mulai membaik.


Winda melangkah menunjukkan tangannya kepada Josua, memperlihat tangannya dan Joseph diborgol.


"Tolong lepaskan om, tangan Winda sakit."


Josua langsung membalik badannya, melihat Joseph yang tertunduk, sedangkan Winda tersenyum manis menundukkan kepalanya menyapa penuh hormat.

__ADS_1


"Buka borgol mereka." Josua menatap bawahannya.


Borgol terbuka, Josua menatap tajam semua orang meminta keluar membiarkan Winda dan Joseph berada di dalam.


Winda berjalan melihat keadaan Ranty yang terbaring tidak berdaya, rambutnya habis dipotong sembarangan.


"Bangunlah, aku minta maaf sudah merusak kecantikan kamu. Sungguh kecelakaan yang terjadi di luar keinginanku, mungkin karma." Senyuman Winda terlihat menatap seisi ruangan yang sangat rapi juga desainnya modern.


"Seharusnya kamu harus memberikan kabar jika ingin datang ke sini, kami belum mempersiapkan penyambutan." Josua tersenyum, menatap Winda yang wajahnya campuran Bima dan Reva.


"Tidak perlu om, kedatangan Winda bukan berniat baik. Berapa lama Om berada di dalam ruangan ini? dua puluh dua tahun Wow lama sekali." Winda duduk menatap foto Maminya, juga dirinya.


Tangan Winda mendorong sesuatu, memperlihat seluruh foto urutan keluarganya. Sungguh tidak Winda sangka ada lelaki yang tersakiti di atas kebahagiaan keluarganya.


"Papi, Mami." Winda melihat foto muda orangtuanya.


"Ini kak Windy, seharusnya di sini ada foto kak Stev, lalu di samping Wildan ada Vira istrinya. Di sini Winda dan Ar, di bawah ini Wira putranya kak Windy, di sini nantinya anak kak Wildan. Tempat ini tidak muat lagi, bisa berikan tempat lebih besar. Keluarga kami sangat ramai, kalian tidak lelah menunggu setiap keturunan lahir." Senyuman Winda terlihat, memotret gambar.


Josua menatap Joseph yang menutup mulutnya, rasanya dia ingin tertawa melihat tingkah Winda yang kekanakan.


"Kau ingin mati?" Josua menatap tajam Winda.


"Tidak, Winda ingin bicara dengan Om Josua. Mungkin ada kesalahpahaman antara Mami dan om Josua, tapi apapun itu mami sudah bahagia bersama Papi melihat anak cucunya tumbuh dengan baik."


"Aku tahu mereka bahagia, setidaknya aku ingin melihat mereka menangis kehilangan kamu." Josua tertawa, dia sangat tidak menyukai Winda yang pemberani.


"Apa Om tega melihat wanita yang pernah om cintai menangis? dendam masa lalu membunuh sepuluh orang, satu wanita gila juga ada dua orang yang mengalami trauma." Winda memberikan ponselnya.


"Berapa lama kamu mengumpulkan bukti ini?"


"Sepuluh tahun, sudah sepuluh tahun Winda mencari kebenaran. Pepatah benar terkadang berbohong lebih baik daripada memberitahu kebenarannya. Kebenaran sangat menyakiti, melebihi sakitnya dibohongi." Winda meneteskan air matanya, melihat beberapa foto korban pembantaian juga sakitnya keluarga yang ditinggalkan.


"Apa mau kamu?"


"Winda meminta keadilan, kalian harus membayar nyawa yang melayang juga membayar trauma yang kami miliki. Sepuluh tahun kami hidup dalam rasa sakit, Winda merasa sama seperti Ranty, tubuh Winda sehat, tapi batin Winda koma. Dulu Winda pernah memotong rambut sendiri, saat Mami bertanya apa yang kamu lakukan anak nakal? Winda hanya menjawab, maafkan Winda Mami sungguh mereka berhasil melukai Winda, suatu hari akan Winda balas. Hati Winda berkata, Mami ada yang menyakiti Winda, mereka memukul kepala Winda, menarik rambut Winda, bahkan Winda mengamuk di genangan darah." Tangan Winda mencengkram kuat kerah baju Josua.

__ADS_1


"Bukan kami pelakunya, semuanya sudah dimanipulasi oleh Ar dan Wildan."


***


__ADS_2