
Saka sudah tiba di tempat perkemahan, langsung megerakan timnya untuk mencari keberadaan anak-anak.
Bima dan Vero juga ikut bergabung, Saka menggaruk kepalanya melihat hutan yang masih alami, bukan hal yang mudah menemukan keberadaan anak-anak.
Banyaknya hewan buas membuat pencarian terhambat, bahkan tim dari penangkaran hewan buas sudah turun tangan.
Reva menatap binggung melihat hutan rimba yang mengambil anak mereka, Windy juga sama khawatirnya melihat banyaknya tim yang menyerah.
Hari mulai sore, saat malam hari hutan akan lebih menakutkan. Bima sekarang kebingungan harus berbuat apa, masuk semakin dalam akan membahayakan banyak orang, tapi bagaimana nasib anak-anak.
Keadaan yang tidak memiliki sinyal, membuat masalah semakin ribet, belum lagi hujan bahkan angin kencang menjadi penghalang.
Reva berusaha untuk kuat, dia sangat yakin anak-anaknya baik, mereka akan pulang.
Windy duduk di bawah pohon, belum cukup dia kehilangan lelaki yang dia cintai, sekarang dia harus kehilangan adik-adiknya yang sangat berarti.
Tim Ravi juga kembali tanpa hasil, tim Vero juga kembali, Tian dan Erik juga kembali tanpa membawa jejak sedikitpun.
Vero berjalan mendekati Windy yang tidak berhenti menangis, memberikannya sapu tangan mengusap punggung Windy.
"Kak Vero, Windy tidak sanggup bertahan lagi."
"Bisa Win, mereka akan segera ditemukan, kamu harus bisa kuat agar Mami dan Papi juga kuat." Vero mengusap punggung Windy.
Vero menatap langit, menggenggam jari Windy ingin mengatakan sesuatu hal yang membuatnya sangat kehilangan dalam hidupnya selain kehilangan Steven.
Windy menghapus air matanya, menatap mata Vero yang mengeluarkan air mata. Sebelum Vero bertemu dengan Sisilia dia bertemu dengan seorang dokter yang sangat polos.
Saat pertama bertemu mereka sama-sama masih muda, dia dokter yang hebat juga sangat baik hati. Vero yang bajingan mengejar cintanya sampai akhirnya mereka pacaran, kesalahan terbesar Vero tidur bersamanya
"Kak Vero."
"Karena hal ini kak Stev semakin membenci Vero, dia berusaha menemukan wanita itu, tapi dia sudah menghilang."
"Kamu menodai dia?"
"Ya, kehidupan bebas sudah biasa dulu aku lalui, tapi aku tidak bisa menahan diri dari wanita polos."
"Di mana dia? kenapa kamu hancur kehilangan dia?"
"Aku selingkuh dengan Sisilia, dia memergoki aku bersama Lia teman dia sesama calon dokter."
"Kak Vero brengsek."
"Lebih brengsek lagi Win, dia sedang hamil anak aku."
Windy langsung berdiri menendang Vero, tidak habis pikir dengan cerita Vero. Vero mengatakan jika dia sudah berusaha mencarinya sampai detik ini, kehadiran Windy membuat Vero mengalihkan rasa cintanya kepada Windy.
"Kapan Steven tahu?"
__ADS_1
"Sudah lama, kehilangan Kak Steve sama hancurnya seperti kehilangan dia."
"Kenapa kamu menceritakannya sekarang?"
"Aku tidak ingin kamu tidak memiliki harapan seperti aku, dulu aku selalu berharap bertemu dia tapi nyatanya kami tidak bertemu, saat kehilangan kak Stev aku juga menyimpan harapan, tapi kenyataannya kak Stev tidak kembali."
***
Senyuman Can terlihat menatap pria asing yang hidup bersamanya memeluk erat anak-anaknya, air mata Can tidak bisa tertahankan menangis haru.
"Winda, Vira, Bella Billa kenapa kalian bisa ada di tempat seperti ini?"
"Kak Stev kenapa bisa ada di sini?" Winda mengusap air matanya
"Entahlah." Steven melihat sekelilingnya.
Steven menatap gadis kecil di belakang wanita yang tidak asing, juga seorang remaja yang tersenyum menatap Steven.
"Ayo kita masuk kalian pasti belum makan, ceritanya di dalam saja." Can membawa semuanya masuk ke dalam.
Ruangan yang sempit membuat duduk juga berdempetan, hanya Stev yang duduk di kursi tua, sedangkan yang lainnya duduk di bawah yang beralasan daun.
"Siapa nama kamu Tuan?"
"Steven." Winda yang menjawab.
"Terima kasih sebelumnya, aku tahu kamu yang meyelamatkan aku, juga anak lelaki ini yang merawat aku." Steven tersenyum.
"Mou senang Papa sudah berbicara."
"Maaf Steven, karena kamu tidak pernah berbicara, juga jarang berkomunikasi jadinya saat mereka bertanya aku mengatakan kamu Papa." Can meminta maaf sampai menundukkan kepalanya.
Steven mengusap kepala Mou, tersenyum melihat mata Mou yang tulus.
"Papa, Mei sayang papa." Mei langsung mencium pipi Stev.
"Mei, kamu cantik mirip seseorang."
"Iya mirip sama kak Stev 2." Winda memonyongkan bibirnya.
"Winda, kemarilah peluk." Stev sangat mengenali Winda yang cemburuan.
Winda memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat Stev. Air mata Stev menetes melihat kalung Winda yang angka 10, Steven pernah berjanji akan selalu membelikannya kalung untuk Winda setiap dia berulang tahun.
"Winda, kenapa kalungnya berangka 10?" Stev binggung.
"Winda sudah sepuluh tahun, kak Stev ingkar janji sudah tiga tahun, kak Windy yang membelikan." Winda langsung menangis.
"Dia pasti putri bungsu, manja sekali." Can tersenyum melihat Winda melangkah mendekati Stev, memeluknya erat. Tangisan Steven terdengar menyayat hati, tidak pernah terbayangkan dia menghabiskan waktu tiga tahun tanpa kehidupan.
__ADS_1
"Steven kamu tidak ingat apapun selama kami di sini?" Can menatap Stev.
"Tidak, aku tidak tahu hanya seperti mimpi melihat Mou, Mei juga kamu, aku tidak tahu apa yang aku lakukan di sini."
Steven memegang kepalanya, berusaha mengingat, tapi tidak ada ingatan apapun.
"Aku sedang ada di kantor, lalu masuk mobil, lalu melihat Winda."
"Kak Stev tidak ingin saat penyerangan di jembatan?"
"Kak Stev tidak ingat Wildan, ingatan hanya sampai kantor dan mobil." Steven meringis merasakan kakinya.
"Luka apa ini?"
"Tembak." Wildan dan Can bersama menjawab pertanyaan Steven.
"Saat aku mengambil kamu di pinggir sungai, aku mengira kamu sudah mati, tapi nafas kamu masih ada akhirnya aku melakukan perawatan dengan peralatan seadanya. Kamu memiliki luka tembak di kaki dan perut, tapi bagian perut hanya goresan."
"Ceritakan lebih rinci saat kamu melihat aku?"
Cantika menceritakan Steven tidak sadarkan diri selama hampir lima bulan, Can hampir tidak punya harapan, tapi keadaan stabil, perlahan sadar tapi tubuhnya tidak bisa bergerak sampai satu tahun.
Mouza yang merawat Steven membantu Can, Steven memiliki tatapan mata saat sudah hampir dua tahun, baru merespon juga makan dengan baik, tubuhnya yang kurus bertambah sedikit demi sedikit.
Sampai akhirnya Stev mulai bangun, belajar berjalan. Hal yang membuat Can binggung Stev tidak pernah bicara, dia mirip seseorang yang kehilangan jiwanya.
"Aunty seorang dokter?" Wildan menatap Can
"Dulunya saya dokter hewan."
"Kenapa kaki Kak Stev belum sembuh?" Winda melihat kaki Steven.
"Seharusnya Steven lumpuh total, dia tertembak juga terbawa arus, tubuhnya membentur banyak benda, sehingga merusak organ tubuhnya.
"Aku tidak mungkin bisa berjalan normal lagi?"
"Bisa, kamu harus melakukan operasi. Mungkin perlu pemulihan, Stev kesembuhan bukan hanya datang dari obat dan keyakinan tetapi dukungan orang yang dicintai." Can tersenyum menatap Stev.
***
...Hilang sebagian ingatan yang membuat trauma pernah autor rasakan saat kecelakaan, sampai sekarang belum ingat kejadian, bahkan saat perawatan di rumah sakit tidak ingat, saat sadar ada di rumah, penuh luka sampai bertanya-tanya aku kenapa?...
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
***
__ADS_1