
Langkah kaki Wildan dan Winda terdengar berlari, Wildan langsung membantu Steven menarik Vero yang sudah jatuh pingsan.
Suara alarm berasal dari ponsel Winda yang sepanjang jalan dia bunyikan, lokasi yang dekat membuat dua bocah sampai lebih dulu.
Tetesan darah Vero mengalir di bawah air sungai, darah Steven juga mengalir di jalanan. Wildan menatap Steven yang mulai melemah, menarik Vero sampai ke atas.
Britania mengumpat kesal melihat dua bocah pengacau, Brit mengarahkan senjatanya kepada Steven.
Winda mengeluarkan senjatanya mengarahkan kepada Brit, bawahan Brit mundur melihat Winda maju, tatapan mata Winda tajam tanpa rasa takut.
"Nenek jahat, kamu tidak cantik sama seperti hati kamu yang busuk, selangkah maju kepala kamu pecah." Winda mengarahkan senjata di kepala Brit.
Steven berusaha berdiri, meminta Winda mundur, menutup mata masuk ke dalam mobilnya.
Brit mengarahkan senjatanya kepada Winda, dua orang saling mengadu senjata. Wildan meminta Lia menahan luka tembak Vero.
Wildan megambil satu senjata yang terjatuh, dia harus melindungi adiknya karena senjata Winda tidak punya peluru.
Senjata mainan yang dia beli bersama Vira, Winda sedang menyukai film action sampai mempunyai senjata api yang mirip seperti di film.
Puluhan polisi datang mengepung meminta Brit menyerang, bukan menyerah Brit langsung ingin berlari. Winda langsung berlari menendang Britania sampai jatuh, Wildan juga langsung maju melindungi adiknya.
Winda mirip Mommy mudah terpancing amarah, jika Winda tidak menyukai sesuatu dia tidak akan berhenti sampai yang tidak dia sukai hancur.
Steven berdiri mengusap darah, meminta Lia menyelamatkan Vero. Stev mengikat kakinya yang tertembak, langsung maju melindungi dua bocah yang sedang bertarung.
Polisi sudah mulai menyerang, Stev tersenyum melihat Saka yang membawa bantuan.
"Winda masuk mobil sekarang." Stev menatap Winda yang menatap marah, tapi langsung berlari.
Suara tembakan terdengar, Stev lega melihat Winda sudah masuk. Mencoba mendekati Wildan memintanya menjaga adiknya di dalam mobil.
Stev tidak akan mengampuni dirinya jika sampai Wildan dan Winda terluka, Wildan akhirnya mundur membiarkan para polisi yang bertarung.
Perkelahian bersenjata terdengar, Saka berlari mendekati Stev memintanya masuk ke dalam mobil. Keadaan Steven juga memprihatinkan belum lagi luka di kakinya.
""Maafkan aku terlambat." Saka menepuk pundak Steven.
__ADS_1
"Saka, jaga Windy juga adikku Vero. Aku anggap kamu adik lelakiku." Steven melangkah mundur.
Saka terhenti mendengar suara tembakan senjata di belakang, Stev kaget merasakan tembakan di perutnya melihat seseorang yang sangat Stev kenali.
"Raja Firza." Steven sempoyongan, menyentuh perutnya yang penuh berdarah.
Saka langsung berlari, Firza juga berlari mendorong tubuh Steven ke bawah jembatan. Wildan menutup mata Winda, meminta adiknya jangan membuka mata.
Wildan melepaskan tembakan di kedua kaki Firza, menebak tangannya sampai menjatuhkan senjata.
Tangan Steven masih memegang jembatan, Saka langsung datang ingin menarik tangan Stev, tapi terlambat tubuh Steven terjatuh.
Tubuhnya terjatuh di dalam air, terbawa arus dan menghilang. Saka terdiam melihat tangannya, Wildan juga terdiam melihat ke arah kakaknya Windy yang matanya sudah berkaca-kaca melihat Steven jatuh.
"Tidak!" Windy teriak histeris, langsung ingin melompat ke bawah jembatan.
Ghina menahan tubuh Windy yang memaksa ingin melompat, Saka mengacak rambutnya langsung melangkah menahan Windy yang teriak histeris.
Suara teriakan Windy terdengar oleh seluruh orang, Firza tertawa melihat Windy hancur melihat orang yang dia cintai mati di depan matanya.
"Windy." Bima teriak menghentikan putrinya yang menangis, teriak histeris.
"Papi, tolong. Ay Stev jatuh, Papi tolong selamatkan Steven." Windy berlari langsung masuk ke pelukan Bima.
Bima mengusap kepala Windy, meminta tenang. Teriak juga terjun ke bawah bukan solusi.
Reva langsung memeluk Windy, melihat banyaknya orang sudah turun ke bawah, Saka juga langsung turun melihat derasnya air sungai.
Tim SAR gabungan langsung diminta bantuan, Windy mengigat bayangan Steven tergantung mencoba bertahan, Windy berlari kencang ingin menarik tangannya, tapi Stev terjatuh sebelum Windy menyentuhnya.
Air mata Windy menetes terus meminta banyak orang menolong kekasihnya, bukan hanya Windy yang menangis, tapi Reva juga tidak bisa menahan kesedihannya.
Vero sudah dilarikan ke rumah sakit, Wildan memilih pergi bersama Winda untuk menemani Vero.
Winda memeluk Wildan, menatap wajah kakaknya yang terlihat sedih. Air mata Winda menetes, Wildan menghapusnya meminta Winda jangan nakal, karena keluarganya sedang diuji kesabarannya.
Kepala Winda mengangguk, menggenggam tangan kakaknya tidak ingin dilepaskan, Wildan akan mengambil alih menjaga adiknya meminta Papi Maminya menemani kakaknya Windy.
__ADS_1
Wildan menghela nafasnya, mungkinkan Allah memberikan keajaiban. Steven mendapatkan tembakan di perut juga kakinya, belum lagi luka pukulan, jatuh ke dalam air yang deras, digulung oleh arus.
"Ya Allah kami berserah diri kepada kamu, kuatkan kakakku, keluarga kami yang mendapatkan ujian ini. Wildan percaya seberat apapun ujian, tidak akan melebihi batas kemampuan hambanya." Batin Wildan dalam hati.
Winda memejamkan matanya, menadahkan kedua tangannya. Memohon keselamatan untuk kak Stev, kembalikan kepada keluarganya lagi, sebentar lagi pesta bahagia kakak cantiknya. Jangan ada tangisan di hari bahagia.
***
Sampai tengah malam, tidak ada kabar berita. Saka tidak ingin menghentikan pencarian bahkan sampai ke ujung sekalipun.
"Windy kita pulang ya sayang, nanti besok pagi kita ke sini lagi." Reva mengusap wajah Windy yang duduk memeluk tiang jembatan.
"Nanti Mami, Ay Stev belum ketemu."
"Sayang jangan seperti ini Win, apa yang harus Mami lakukan agar bisa mengobati kesedihan kamu. Musibah ini bukan hanya menghancurkan kamu, tapi kita semua, Mami Papi keluarga kita juga sedih sayang." Reva memeluk Windy sambil menangis.
Windy menganggukkan kepalanya, berdiri melihat ke arah bawah jembatan yang gelap gulita. Reva pulang bersama Windy, Reva juga sudah mendapatkan kabar Vero kritis, kehabisan banyak darah. Kedua anaknya di sana bersama Ghina.
Sesampainya di Mansion Windy langsung masuk kamar untuk mandi, Reva melangkah keluar meminta penjaga melarang Windy keluar.
Reva ingin menjemput kedua anaknya, tapi Reva terhenti melihat Wildan dan Winda datang. Reva mengusap air matanya.
"Mami, Wildan akan menjaga Winda."
"Terima kasih Wildan, Winda sayang jangan nakal nak, nanti setelah semuanya aman baru manja sama Mami." Reva mencium kening kedua anak kembarnya.
"Iya Mami, Winda sudah besar tidak boleh nakal." Winda menghapus air mata Maminya.
Reva melangkah membuka pintu kamar Windy yang sedang sholat, menangis di dalam sujud. Ari mata Reva juga menetes melihat kesedihan putrinya.
Azan subuh terdengar Reva bergegas ke kamar Windy, tetapi Windy sudah tidak ada. Reva langsung menghubungi Bima, bernafas lega melihat putrinya bersama Papinya.
Windy berdiri di atas jembatan, Bima juga berdiri bersama Windy merangkul pundak Putrinya.
"Kamu perempuan kuat Windy, kamu bisa menghadapi ini. Putri Papi harus kuat." Bima mengusap air matanya, mendengar Windy menangis sesenggukan.
***
__ADS_1