
Berita kehamilan Reva menjadi moment yang paling bahagia, Bima mengadakan syukuran. Keluarga Reva juga datang, keluarga Jum juga ikut bergabung sekalian syukuran kehamilan Jum.
"Bisa ya Hubby dua makhluk itu hamilnya bareng, mana usianya sama lagi, Vira akan segera memiliki teman." Viana menatap keramaian dikediaman Bima.
"Iya Alhamdulillah Vi, tapi kak Bim lebih unggul baru beberapa bulan menikah, Reva sudah berisi."
"Iya ya, diam-diam Bima hot juga." Viana tertawa, Bima yang takut wanita, akhirnya akan menjadi ayah sesungguhnya.
"Kamu sedang membayangkan apa?" Rama menatap Vi tajam.
Viana tertawa melihat Rama yang tiba-tiba cemburu, sikap Rama sekarang sangat pencemburu bahkan terhadap putra dan putrinya.
Reva keluar dari kamarnya, senyuman manis juga terlihat. Jum juga keluar bersama kedua orangtuanya dari kamar yang Reva siapkan khusus untuk Jum.
"Cantiknya istriku, yang membuat aku semakin cinta kamu wanita yang sangat baik, hati kamu sangat lembut." Bima mencium tangan Reva, merangkul pinggangnya.
"Memangnya apa yang Reva lakukan?"
"Kamu memecat supir dengan sopan, memberikannya perkejaan lain agar tidak menjadi pengaguran. Kamu juga baik sama Jum dan Bisma sampai turun tangan sendiri untuk menyiapkan kamar khusus, bahkan aku tidak terpikirkan."
"Karena mereka adik kamu, apapun yang penting untuk Ayy, akan menjadi prioritas Reva, lagian Reva juga bahagia melakukannya."
"Jangan terlalu capek, kamu lagi hamil." Bima mengusap perut Reva.
"Lahirlah nak, Papi berharap kalian memiliki hati yang lembut seperti Mami kamu. Wanita yang paling hebat, dewasa, mandiri, juga sangat tulus."
"Ayy jangan berlebihan, apa yang aku lakukan cerminan dari kamu. Suamiku pria baik, jadi aku ingin menjadi wanita baik."
Dari kejauhan Reva melihat Bisma yang menatapnya, menepis air matanya yang perlahan keluar. Bima pergi menemui teman lamanya, Reva melangkah mendekati Bisma yang sudah berjalan ke taman belakang.
Tangan Reva menggenggam tangan Jum, melangkah ke arah taman belakang. Jum mengucapkan terima kasih karena Reva juga melakukan doa untuk calon anaknya, padahal Bisma sudah ingin membahasnya tapi Reva malahan sudah menyiapkan, Bisma dan Jum hanya perlu datang.
"Kak Jum, hati Bisma sangat baik tapi tidak ada yang bisa melihat, mungkin hanya kak Vi yang paling paham "
"Aku tahu Va, karena itu aku bersedia menikah dengannya."
"Tapi dia juga memiliki luka Jum, juga haus kasih sayang. Bahkan Bisma pernah menangis menemui aku saat kamu marah, dia takut jika sampai lepas kendali dan menyakiti kamu."
"Hari yang paling kak Jum sesali, aku juga sangat mencintai Bisma, tidak akan Jum biarkan ada yang mengambilnya."
Langkah Reva dan Jum terhenti saat melihat Bisma yang menangis sesenggukan, Jum ingin mendekat tapi Reva menahannya. Bisma menangis melepaskan segala kesedihannya.
"Ibu Bisma kangen,"
__ADS_1
"Kak Bima sekarang bahagia Bu, dia hidup bersama wanita baik, jika ibu masih ada pasti sangat beruntung memiliki menantu seperti Reva. OHH ya, Bisma juga sangat bahagia Bu, memiliki istri yang sangat baik, dan aku juga akan menjadi seorang ayah." Bisma menatap langit, yang biru dan sangat indah.
"Jika kamu rindu berkunjung ke makam ayah sama ibu, bawa Tian juga Jum. Jangan sembunyi sambil menangis, sholat dan berdoa yang banyak, doakan juga kedua orangtua kita agar bahagia ditempatkan di surganya Allah." Bima berada di lantai atas, menatap Bisma yang sedang menangis dan mengadu.
Bisma hanya mengaruk Kepalanya, kerjaan Bima hanya ceramah, Bisma berpikir lebih baik kakaknya menjadi ustadz dari pada seorang Direktur.
Sebuah tangan menggunakan cincin pernikahan yang sama dengan Bisma memeluknya dari belakang, tangisan Jum terdengar Bisma menepuk pelan tangan istrinya. Reva langsung melangkah pergi, menemui teman-temannya.
"Reva, selamat bakal jadi emak-emak." Romi tertawa sambil mengandeng seorang wanita berhijab, kening Reva langsung berkerut jika Romi berganti pacar lagi.
Kado terindah yang Reva lihat, karena melihat Satya datang bersama kedua anaknya juga istrinya. Reva teriak membuat orang melihatnya, Reva melangkah ingin berlari tapi Bima sudah menahannya.
"Kamu lagi hamil sayang," wajah Bima langsung panik.
"Astaghfirullah Al azim, lupa Reva Ayy."
Satya memeluk Reva, dengan gemas Reva menggendong anak Satya yang masih bayi, Rama juga menggendong putrinya untuk menyapa putri Satya. Ivan juga mendekat sambil menggendong putra Satya sambil mengandeng tangan Tya yang sedang hamil besar.
"Kapan lahiran Tya?"
"Hitungan hari Va, kita sedang menunggu harinya."
"Di mana Septi?" Ivan celingak-celinguk mencari wanita paling aneh.
Acara doa selamat untuk kehamilan jumintean dan Reva berlangsung dengan tenang, mereka juga mengundang anak yatim sambil membagikan sedikit rezeki.
Keluarga Jum juga berbaur bersama keluarga Reva juga Viana, Reva sangat bahagia melihat keluarga, sahabatnya berkumpul ikut menyambut kebahagiannya.
"Sayang, kamu sehat ya nak, Mami mencintai kalian." Reva mengusap perutnya sambil tersenyum.
Rumah mulai sepi dari tamu, keluarga Jum dan Reva menginap karena rumah Bima yang memang sangat besar, sahabat Reva juga menginap termasuk Viana dana Rama.
Bima sedikit binggung melihat rumahnya yang sudah tersedia banyak kamar, Bima berniat pindah rumah, karena rumahnya sudah Reva sulap menjadi penginapan.
"Ada apa kak?" Rama mengikuti Bima membuka sebuah ruangan.
"lihat, pintu juga punya nama, khusus anak-anak, ranjang juga punya nama. Seluruh anak-anak juga babysister bisa tidur di sini." Rama ikut kagum melihat Reva yang menyiapkan tempat tidur bertingkat.
Bukan hanya Rama dan Bima yang melihat seisi kamar, Bisma, Ivan, Satya juga ikut melihat.
"Ini kamar tamu khusus para wanita, berarti pisah tidur dengan para istri."
"Reva berniat sekali, pasti mereka bakal ngibah semalaman." Ivan geleng-geleng.
__ADS_1
Suara tawa para wanita sudah terdengar, Bima melihat banyak asisten yang sudah Reva siapakan tanpa pengetahuannya.
"Kak Bima tidak tahu, Reva melakukan semuanya?"
"Dia hanya bilang ingin menyambut para tamu, dengan mengubah sedikit desain rumah. Tapi rumah ini berubah menjadi penginapan." Bima menghela nafas.
Seluruh keluarga ikut bergabung, menasehati Septi dan Ammar yang akan segera menikah. Hanya sisa Romi yang masih lajang.
"Reva besok kita pindah rumah?" Bima mengejutkan seluruh orang.
"Kenapa?" Reva kaget, dia berpikir Bima marah karena rumah berubah semuanya.
"Rumah ini terlihat aneh."
"Ya sudah nanti Reva kembalikan seperti semula." Reva langsung tertunduk sedih.
"Sayang, aku tidak marah karena kamu sudah bersusah payah membuatnya jadi kita biarkan seperti ini."
Bima akan menjadikan rumahnya menjadi tempat perkumpulan mereka, satu bulan sekali semuanya akan berkumpul bercerita, tertawa meluapkan rasa selama satu bulan.
"Viana setuju, jadi satu bulan sekali kita tidur bersama, dan bisa membuat acara persahabatan, juga kekeluargaan."
"Jum juga setuju,"
"Gue boleh ikutan, pasti boleh lumayan satu bulan sekali makan gratis." Romi kesenangan, karena dia bisa bicara banyak hal bersama Bima soal kampung nelayan.
"Semuanya boleh, aku juga akan mengirimkan keamanan di sini, dan memajang foto kita semua." Bima tersenyum menggenggam tangan Reva.
"Tapi kita tinggal di mana?" Reva menatap suaminya binggung.
"Menginap saja di rumah Jum."
"Tidak terima tamu, rumah besar di samping rumah kita juga milik Bima." Bisma tersenyum sambil meminum jus.
"Jadi rumah yang Viana inginkan sebenarnya punya mas Bram?" Vi langsung berdiri.
"Seluruh rumah di sana milik Bima, tapi di sewakan." Bisma tahu semuanya, saat tidak sengaja bertemu pemimpin yang mengurus pembangunan.
"Kak Bima, boleh minta satu tidak." Ivan nyegir.
"Maaf Van, sudah penuh." Reva tertawa.
"Punya suami kaya semakin sombong Va." Ivan mencubit pelan Reva gemes, Bima langsung merangkul pundak Reva.
__ADS_1
***