MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 KUNCI


__ADS_3

Semuanya kembali ke rumah, Atha juga ikut pulang melihat rumah mewah Steven, Windy langsung izin masuk kamar duluan, Vero juga melangkah naik bersama Windy.


Wilo menatap Stev, dia binggung harus membawa Atha ke kamarnya atau bagaimana.


"Wilo, jika kamu ingin bicara sesuatu langsung utarakan, jangan bicara dalam hati, saya tidak mengerti ucapan kamu di hati."


"Maaf Om, Wilo binggung."


"Bersikap seperti biasanya, jangan kamu anggap Windy seorang putri atau ratu, dia sahabat kamu, orang yang selalu saling merangkul."


"Baiklah, Wilo akan menjadi orang yang tidak tahu malu."


"Atha, kamu ikut Om Stev untuk melihat kamar, walaupun kamar kamu di istana jauh lebih bagus dari sini, tapi tetap saja kamu membutuhkan tempat tidur. Steven melangkah ke arah kamar tamu, memperlihatkan kamar kepada Atha.


Melihat kamar yang sangat luas, kamar tamu Stev lebih nyaman dari pada kamarnya, sejuk nyaman, kasur empuk.


"Ini kamar mandi, itu lemari pakaian kamu, sebaiknya segera membersihkan badan, nanti kita makan malam bersama." Steven langsung melangkah keluar, tangannya ditahan.


"Terima kasih Om Stev, sudah menganggap aku layaknya manusia, juga membantu banyak hal."


"Iya, banyak hal yang harus kita bahas. Kamu harus beradaptasi dengan baik di lingkungan baru, sehingga kamu layak dianggap pangeran." Steven menepuk pundak Atha, langsung melangkah pergi meninggalkannya.


Steven langsung masuk kamarnya, membersihkan tubuhnya, berendam sambil melihat tabletnya melihat beberapa pekerjaannya.


Selesai mandi Steven menuju ranjang untuk bersantai, berbaring memejamkan matanya perlahan.


Suara ketukan pintu Steven abaikan, Windy langsung masuk melihat Steven yang memejamkan matanya.


"Om, Windy ingin berbicara, bangun sebentar?" Windy menarik pelan baju Steven.


Steven masih saja diam, seadanya Windy istrinya sudah habis Stev peluk, tapi sekarang ekstra sabar, perlahan-lahan semuanya akan sesuai harapan mereka.


"Om."

__ADS_1


"Iya, Windy." Steven membuka matanya, duduk di pinggir ranjang.


Senyum Windy terlihat melihat Stev yang menguap, terlihat sangat lelah. Windy menyerahkan sebuah berkas, Stev langsung membacanya.


"Papi belum tahu soal ini? Windy tidak ingin menghindar lagi Om."


Steven diam melangkah menuju balkon, menghubungi teman-temannya untuk berkumpul, setelahnya langsung menghubungi Bima, meminta izin untuk bertindak, sebelum mereka bertindak, Stev ingin muncul lebih dulu.


Bima memberikan izin, dia hanya ingin Stev menjaga Windy dengan baik. Bertindak dengan teliti, hindari korban, Bima tidak ingin hanya untuk mengehentikan, tapi menyebabkan adanya korban.


Steven kembali mengandeng Windy, melangkah keluar untuk makan malam bersama, Vero merangkul Steven menuruni tangga. Stev tersenyum melihat senyuman Windy dan Vero, dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


Wilona dan Atha juga bergabung makan bersama, hening tidak ada yang mengeluarkan suara, fokus menghabiskan makanan.


Sesekali Atha menatap Steven yang menghabiskan makanannya, Atha menyerahkan sebuah kunci, Stev melihat kunci yang Atha berikan, menatapnya aneh.


"Jangan pernah berpikir kalian akan datang ke sana, terlalu berbahaya. Om, Atha yakin di sini Om terpandang juga sangat berpengaruh, tapi di sana raja yang berkuasa." Atha menatap tajam, tatapan mata Atha sedang menahan air mata.


Steven tersenyum, menepuk pelan pundak Athala, kasian juga melihat kesedihan yang tersimpan dalam kenangan hidup Atha.


Atha langsung melanjutkan makannya, mengusap matanya membuat Windy menatap sedih.


"Kak, berjuang bersama kita pecahkan misteri keluarga kita, siapa aku, siapa kak Atha, siapa raja, ratu dan orang yang terlibat. Genggam tangan Windy kak, sebelumnya izinkan Windy meminta maaf atas luka kak Atha selama ini." Windy menyentuh tangan Atha.


"Lanjutkan makan kalian." Steven menatap Windy dan Atha.


***


Di dalam ruangan khusus Steven mengeluarkan banyaknya laporan penyelidikan yang dia temukan, Saka juga sudah muncul, tapi tidak melihat Bagus dan Ghina.


"Di mana Bagus?" Saka duduk melihat berkas di atas meja.


"Pergi ke negara yang masih dipimpin oleh seorang Raja, Glen dan Ghina juga sudah berada di sana, kedatangan Atha sudah aku ketahui sejak awal, karena Ghina sudah memberikan laporan." Steven tersenyum, Atha kaget sampai menjatuhkan apel yang dia pegang.

__ADS_1


Windy dan Wilona saling pandang langsung duduk, Vero juga duduk hanya menjadi pendengar yang baik, Saka diam membaca beberapa laporan soal keadaan di sana.


"Bagaimana keadaan Ghina?"


"Dia berhasil masuk kerajaan, bertemu dengan raja, ratu, dan orang tertua ibu suri."


Windy menatap Steven, keadaan di sana masih sangat kental dengan sejarah, tapi untuk kehidupan rakyatnya sudah modern kehidupan serba modern, teknologi juga modern.


Kerajaan juga menggunakan sistem keamanan modern, hanya bangunan yang masih menjaga peninggalan sejarah. Juga raja tidak seperti raja biasanya, bebas dan jarang berada di istana.


"Ibu suri siapa dia?" Windy menatap Atha.


"Ibu raja Hanz, dia sangat pemarah selalu membandingkan aku dan Putri Anna." Atha berusaha untuk tersenyum.


"Di sini dia seseorang yang tegas, juga sangat adil dalam menjalankan tugas." Saka menunjukkan kepada Atha.


"Dia mungkin baik, tapi kehadiran Atha dan Ibunda tidak pernah ibu suri inginkan, kita panggil saja dia nenek." Steven menunjukkan beberapa foto yang Ghina dapatkan di dalam kerajaan.


Windy langsung berdiri mendekati foto nenek suri, Windy menunjukkan foto, mengingat nenek tua yang Steven dan Windy temuin di bandara.


"Om, dia nenek yang kita bantu?"


"Iya, dia sudah mengenali kamu Win. Jika perkiraan aku benar bukan raja yang mencari kamu, tapi nenek."


"Orang yang menghalangi usaha nenek Ibunda Ratu, dia tidak menginginkan Windy kembali. Ternyata Ratu orang jahat." Saka menggelengkan kepalanya, melupakan kehadiran Atha yang menatapnya tajam.


"Kita tidak tahu Saka, sejauh ini dia tidak menunjukkan tanda kejahatan. Ratu juga salah satu orang yang tersakiti, Raja tidak menginginkannya." Steven duduk menatap Atha yang diam saja.


"Kunci yang aku berikan rahasia yang selama ini tersembunyi, tapi aku tidak tahu di mana letakkan, kunci ini selalu Ibunda jaga seperti nyawanya, aku mengambilnya saat ingin pergi, berharap mendapatkan jawaban."


Stev tersenyum yakin pasti Atha tidak mengetahui jika ibundanya tidak sebaik yang dia pikirkan, kepergiaan putri Anna, juga meninggalnya Ratu ada sangkut pautnya dengan dirinya, kunci yang berada di tangan Steven jawabannya.


Hanya ada satu alasan Raja tetap mengakuinya sebagai Ratu, memperlakukannya tidak pantas, bahkan menyakiti darah dagingnya sendiri. Ratu memiliki kunci rahasia Raja.

__ADS_1


"Aku akan menangkap kalian, bukan hanya Raja, tapi semua orang yang ada sangkut pautnya. Kerajaan tidak salah, pemimpinnya yang salah, kerajaan yang damai saat dipimpin oleh Raja yang adil dan bijaksana." Batin Steven dalam hati, sambil menatap kunci ditangannya.


***


__ADS_2