MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
MENGEJAR CINTA OM BULE


__ADS_3

Sepasang Kakek Nenek menundukan kepalanya, Steven tersenyum menepuk pundak kakek nenek memberikan bingkisan untuk memulai usaha, berhenti mengemis hidup normal dan bahagia.


Steven melangkah pergi, menuju mobilnya ingin menjemput Windy.


Di depan gerbang, Windy sudah bertengkar dengan Vero, Wilo menghentikan keduanya karena melihat Steven sudah muncul.


"Hai om, lihat Windy sama Vero bertengkar." Wilo langsung memeluk Windy untuk menjauhi Vero dan Lukas.


"Kalian berempat ikut Om, kita jalan-jalan." Steven menyambut tangan Windy memintanya duduk di samping Steven.


Sekarang giliran Vero dan Lukas yang rebutan, Wilo langsung menjambak rambut keduanya untuk berhenti bertengkar. Wilo masuk ke dalam mobil bagian penumpang, diikuti oleh Lukas dan Vero yang duduk di kanan dan kiri Wilo.


"Vero umur kamu berapa? masih seperti anak kecil." Steven menatap Vero yang mengaruk kepalanya.


"Masih muda kak Stev, jauh dibandingkan kak Stev, yang kepala tiga, sebentar lagi ubanan." Vero langsung tertawa kuat.


Mobil langsung melaju, Windy menatap wajah Steven yang terlihat tenang, Windy yakin ada kabar baik. Tangan Windy menyentuh Stev.


"Om, bagaimana dengan kasusnya?" Windy mengoyangkan tubuh Steven.


"Ucapan kamu benar Win, dia pelaku utama sekarang sedang ditindaklanjuti. Om hanya menunggu persidangan, polisi sedang mengumpulkan seluruh bukti yang bisa menjeratnya."


"Syukurlah Om, jangan terlalu banyak pikiran jalani kehidupan yang biasa saja." Windy menepuk pelan lengan Steven.


"Windy, kita tidak bisa memilih, Om hanya menghadapi sesuatu yang ada di depan mata, sulit tidaknya tergantung kasusnya. Terima kasih kamu sudah banyak membantu, maafkan Om juga sudah melibatkan kamu." Steven menggenggam erat tangan Windy.


"Kalian berdua tidak menganggap kita ada." Vero memejamkan matanya.


"Memangnya siapa Om pelaku utama?" Wilo menatap serius.


"Seorang Jaksa, dia mengelabui banyak orang. Kariernya yang bagus tapi memiliki banyak bisnis yang ilegal, penyeludupan obat terlarang. Bandar terbesar yang mengirim ke berbagai negara."

__ADS_1


"Kejam sekali dia, tapi syukurlah dia bisa secepatnya ditangkap. Akhirnya Om menang." Wilo tersenyum bersama Windy.


"Tidak ada kata menang atau kalah, selesai satu akan ada kasus baru, mungkin lebih sulit. Menantang para pembisnis resikonya besar, dendam mereka turun temurun." Steven menghentikan mobilnya, melihat lampu merah, matanya menatap sepasang suami istri yang tersenyum duduk di dalam taksi.


"Siapa mereka Om?" Windy melihat ke arah pandang Steven.


"Pengemis yang baru saja aku keluarkan, dia terjerat kasus pencurian di Restoran. Padahal dia hanya memungut makanan." Steven tersenyum melihat tawa masa tua sepasang suami istri.


"Om mengigat semua orang yang pernah menjadi klien Om? pernah tidak Om melakukan kesalahan dalam membela seseorang." Lukas melihat Steven tersenyum.


"Tentu Om mengigat mereka, Om tidak memilih sembarang klien, sebelum menerima tawaran Om melakukan survei dulu, memastikan semuanya. Kesalahan pasti ada, tapi kebanyakan lancar." Steven menjalankan mobilnya, Windy dan Wilo bertepuk tangan.


"Bukannya kak Stev, kebanyakan menolak kasus. Dulu saat Vero kecelakaan kak Stev, tutup mata tutup telinga." Vero melihat ke arah luar jendela.


Windy menoleh ke arah Vero melihatnya dengan tatapan sedih, Windy yakin hubungan Steven dan Vero pernah buruk, tapi Windy salut Steven memberikan kepercayaan untuk adiknya, juga meminta ada di sisinya.


"Ver, kenapa kamu kecelakaan?" Windy melihat mata Vero.


"Bukannya Om Stev yang mengawasi kamu, dia juga yang membawa kamu ke rumah sakit, menanggung seluruh biaya, bahkan membayar orang untuk menjaga ketat kamu." Windy menatap Steven yang terlihat kaget.


"Dari mana kamu tahu Win? aku tidak pernah menceritakan kepada siapapun."


"Hanya menebak saja Om, terlihat dari cara Om menatap Vero, sebenarnya Om sayang adik semata wayang Om. Windy tahu Vero salah, bahkan kesalahannya besar, tapi Om masih menjaganya walaupun tidak secara langsung." Windy memeluk lengan Steven, tapi langsung disingkirkan oleh Vero.


"Benar kak, sewaktu Vero sakit. Kak Stev ada untuk Vero. Maafkan Vero kak, saat sembuh tertutup kemarahan, bukan berubah tapi terus melakukan dendam. Maafkan Vero kak." Vero memeluk Steven.


Steven meminta Vero untuk duduk diam, berhenti kekanakan. Memiliki mimpi dan cita-cita, menjadi orang yang berguna, tidak perlu membuktikan apapun kepada Stev, cukup buktikan kepada diri sendiri, ketulusan yang sebenarnya.


Sepanjang perjalanan mengobrol santai, canda dan tawa terdengar. Suara Vero lebih besar, seakan tidak memiliki beban lagi, melupakan soal kesedihannya terhadap kedua orang tuanya.


Mobil tiba di butik terbesar, Steven keluar mengandeng Windy, Vero, Lukas dan Wilo hanya melihat dari luar, mereka tidak berani masuk karena baju yang dijual bermerek, juga harganya sangat mahal.

__ADS_1


"Apa yang kalian bertiga tunggu, ayo cepat masuk kita belanja?" Steven melihat ke belakang, tapi tiga orang masih berdiri diam dan melongo.


"Ayo masuk, jangan bikin malu berdiri di sana?" Windy menahan tawa, Wilo langsung berlari diikuti oleh Vero dan Lukas.


Masuk ke dalam butik terkenal, Steven meminta Vero membeli baju juga perlengkapan lainnya, karena di rumah dia tidak memiliki baju, Lukas dan Wilo juga boleh memilih, Windy juga boleh membeli apapun.


"Om kita ditraktir?" Lukas melihat harga baju, langsung meletakkannya kembali.


"Iya, cari apapun yang kalian butuhkan. Om yang bayar."


"Harganya mahal sekali kak, sekali keluar bisa puluhan juta." Vero meletakkan sebuah baju.


"Harga baju mahal menghargai para desainer, di sini baju terbaik." Steven melangkah mencari tempat duduk.


Windy sudah sibuk sendiri melihat desain baju yang memang sangat luar biasa bagusnya, banyak baju yang dia pilih, mendekati Steven membahas desain baju.


Steven membantu Windy untuk melihat beberapa desain baju yang terkenal, karena keinginan Windy membuka butik sendiri, Steven bersedia membantunya untuk melihat bahan juga Desain terbaik.


Bukan hanya keahlian tapi keterampilan juga dibutuhkan, Windy memang pintar menggambar seperti Maminya, pintar juga menjahit baju, bahkan beberapa fashion terbaik perusahaan VCLO Desain buatan Windy.


Cukup lama Windy berbicara dengan Steven, Wilo juga bergabung untuk membahas pakaian, sedangkan Lukas dan Vero hanya berdiri saja.


"Permisi, ada yang bisa di bantu." Pelayan mendekati Vero.


"Bisa tunjukkan baju termurah di sini?" Vero tersenyum.


Pelayanan langsung meminta Vero mengikuti, memperlihat baju termurah, Lukas langsung batuk baju termurah dengan harga 5 jutaan, Lukas menggelengkan kepalanya, lebih baik dari pada membeli baju dia membayar uang sekolah.


"Ayo kita keluar Lukas, sepertinya kita orang termiskin di kota ini." Vero melangkah pergi, diikuti oleh Lukas.


***

__ADS_1


__ADS_2