MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 IZIN MENIKAH


__ADS_3

Suasana Mansion hening, anak-anak bocah pengacau sudah tidur. Semua kamar tamu terisi karena seluruh keluarga menginap di Mansion, karena ada bisnis jadinya menunda untuk pulang.


Steven seperti biasa tidak bisa tidur, sudah hampir satu minggu Stev bergadang tidur hanya 2 jam bahkan pernah tidak tidur sama sekali.


Steven duduk di ruang tamu, matanya terpejam sedang berpikir. Suara langkah kaki yang sangat Stev kenali mendekat, duduk di depan Stev.


"Susah tidur Stev?" Bima membawa minuman.


Steven tersenyum mengambil minuman hangat, menghirupnya bau dan rasa yang masih sama seperti saat pertama Bima menyiapkan Steven minuman, saat berbicara dari hati ke hati saat Stev hidup sendirian.


"Rasa yang sama, aroma yang menenangkan." Steven meletakan minuman.


Bima hanya tersenyum, sekalipun waktu terus berlalu, Steven masih anak remaja yang selalu menanggung masalah sendiri, sampai dia dewasa Stev selalu bertahan tidak mencari bantuan, dia tidak bisa tidur karena banyak pikiran.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Apa? kak Bim tidak biasanya bertanya?" Steven tersenyum menatap Bima yang juga tersenyum.


"Kamu sedang berpikir soal hubungan kamu dengan Windy?"


"Iya, kak Bim selalu tahu apa yang aku pikirkan."


"Steven, aku mengenal kamu sejak kamu berusia 5 tahun. Saat itu kamu dan Stevie sedang bertengkar, jadinya aku yang menjemput kamu menggunakan baju seragam, kamu mengamuk di jalan sampai melempari aku dengan lumpur."


"Iya maaf kak Bim, Mama kak Bima sampai marah melihat kak Bima pulang dengan baju sekolah kotor, ternyata kak Bisma juga pulang bukan hanya bajunya yang kotor, tapi sampai ke wajahnya kotor semua." Steven tertawa kecil mengigat masa kecilnya melihat para remaja.


"Stevie, Viana, mentertawakan aku yang bisa bermain lumpur seperti Bisma, padahal aku paling anti dengan hal yang kotor."


"Stev tahu karena kak Stevie mengadu kepada Mommy, Steven dimarah." Steven mengusap matanya, Bima berjalan mendekati Steven memeluknya, mengusap kepala Stev.


Bima sama seperti Steven memiliki banyak kenangan yang menyedihkan, juga kenangan yang membuat bahagia, bahkan rindu kembali ke masa dulu.


"Steven, pernikahan pernah aku sesali, kebaikan pernah aku benci karena pernikahan hidup aku berantakan, menikah saat usia dibawah 20tahun, kedua orang tuaku meninggal, adikku menghilang, bertanggung jawab untuk Rama, kehadiran Windy bahkan meninggalkan Stevie, juga kehancuran kamu, semuanya terjadi dalam waktu tiga tahun." Bima meneteskan air matanya, mengusap dadanya yang terasa sesak.

__ADS_1


"Maafkan Steven kak dulu selalu menentang peringatan kak Bima, maafkan Steven."


"Kak Bima tidak pernah menyalahkan siapapun, di setiap doa kak Bima hanya meminta sehat, harus kuat, pasti bisa, semakin banyak ujian dan cobaan kak Bim yakin Allah sayang." Bima mengusap air matanya.


"Kak Bim berhasil melalui semuanya."


"Keberhasilan bukan dinilai dari kesuksesan seorang Bima, bukan dilihat dari betapa kayanya keluarga Bramasta. Keberhasilan kak Bima saat melihat Rama hidup bahagia, saat Windy bahagia, Bisma bahagia, saat kamu juga berhasil dan bahagia, jika kalian semua sukses kak Bima berhasil menjaga kalian sampai akhir."


Steven menundukkan kepalanya, mengusap air matanya menangis sesenggukan melepaskan beban hatinya.


"Kak Bima menyesal menikah muda? Steven juga takut Windy menyesal." Steven menatap Bima yang juga menatapnya.


"Iya kak Bima menyesal, Brit jahat dari dulu tapi kami mengabaikan karena mengejar mimpi masing-masing, tidak pernah terbayangkan aku mengambil keputusan mengatasnamakan kebaikan, menolong demi mengubah Brit menjadi orang baik."


"Saat itu Brit juga masih muda, kenapa kak Bima menikahi Reva yang juga masih muda, kekanakan juga selalu membuat masalah, walaupun Stev tahu Reva baik dan pekerja keras."


"Jujur kak Bima takut, sangat takut menikahi Reva, tapi lebih takut kehilangan dia."


"Sama Stev juga takut kehilangan Windy, Steven berada dalam dilema kak Bima, Steven takut menghalangi mimpi Windy, takut dia menyesal menikah muda, tapi Steven juga tidak siap kehilangan dan menunggu lebih lama lagi." Steven menatap Bima yang mengerutkan keningnya.


"Minta solusi kak, kak Bima tahu rasanya menyesal dengan pernikahan, juga tahu rasanya takut kehilangan." Steven menunjukkan wajah lesu, memeluk lengan Bima.


"Menikahlah, kak Bima yakin dengan Windy dia tidak akan menyesal seperti kak Bima."


"Benarkah, setelah menikah apa yang harus Stev lakukan. Windy dan Reva dua orang yang satu server, kak Bim tahu Stev suka ketenangan, sedangkan Windy heboh sekali."


Bima tertawa, Steven ada benarnya. Dulu saat menikahi Reva Bima melupakan jika Reva wanita berisik, sehingga hidup Bima tidak bisa tenang.


"Pasangan pasti memiliki banyak perbedaan, cara mengatasinya berbicara dengan pelan, jangan menaikan nada, apapun yang diinginkan bicara dengan kata tolong."


"Steven tidak selembut kak Bima."


"Aku melihat kamu sangat lembut kepada Windy, bahkan berbicara juga sangat hati-hati."

__ADS_1


Steven tersenyum dia memang tidak bisa berbicara tegas dengan Windy, melihat matanya saja sudah menghilangkan rasa kesal, perasaan hanya bahagia, berbicara manis juga tidak bisa marah.


"Kak Bim, mereka wanita manja, tapi ada saatnya dewasa, meminta perhatian lebih, tapi juga memberikan rasa peduli."


"Emmhh, pernikahan indah Stev jika dengan wanita yang tepat. Awal pernikahan aku selalu bergadang, tapi setelah ada Reva dia selalu bergantung di leher tidak ingin ditinggalkan. Saat makan biasanya hening, tapi setelah menikah ada saja tingkah dia yang mengomel, membunyikan piring membuat heboh."


"Apa Stev juga akan merasakannya." Steven tersenyum menghayal, sudah menangis tersenyum.


"Saat aku ingin pergi, tapi tidak mendapatkan izin seluruh ban mobil dipecah. Hebatnya aku tidak bisa marah, mengikuti apapun yang dia inginkan, mencintai dan menyayangi segenap jiwa membuat aku tidak tahu cara marah Stev." Bima tersenyum mengingat ulah istrinya.


"Saat memiliki twins?"


"Jangan ditanyakan lagi, biasanya hanya kehebohan Windy, kamu bayangkan saja adanya Winda, Wildan selalu bersembunyi di dalam mobil karena dia pusing melihat ulah tiga wanita." Bima tertawa bersama Steven jika membayangkan tingkah Winda, Windy dan Reva.


"Winda jauh lebih parah dari Windy, sudah pemarah, ambekan, jahil, nakal. Bagaimana nasib suaminya." Steven menggaruk kepalanya.


"Ada saatnya dia berubah."


Steven diam, Bima juga diam melihat deretan foto di meja hias. Steven menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang, Stev ingin meminta izin menikah, tapi mulutnya pahit.


"Kak Bima."


"Apa?"


"Steven sebelumnya minta maaf karena banyak salah, jujur Stev mengganggap kak Bim orang tua bagi Steven. Sebenarnya Steven merasa tidak tahu diri mencintai Windy, tapi Stev tidak bisa membohongi perasaan Stev kak. Steven sangat mencintai Putri kak Bim, Steven minta izin menikahi Windy, kami sangat membutuhkan restu kak Bima dan keluarga besar."


Bima tersenyum mengangguk kepalanya, memeluk Steven mengusap kepalanya meminta Steven tidak pernah berubah sekalipun status mereka berubah.


"Steven, kamu harus menguatkan tingkat kesabaran kamu, selamat datang dalam keluarga heboh." Bima mengacak rambut Steven.


"Terima kasih kak Bima, boleh Steven meminta dipeluk sekali lagi." Steven merentangkan tangannya, Bima menyambutnya.


Air mata Bima menetes, mengusapnya tersenyum bahagia. Bima menatap foto Stevie yang pernah mengatakan ingin Steven menikah dengan Windy, sekarang Bima mengabulkan keinginan lama Stevie yang ingin Steven terikat dengan keluarganya.

__ADS_1


***


__ADS_2