
Selesai mendengar perdebatan Ravi dan Windy yang panjang mengalahkan rel kereta api, Ravi yang tidak mau mengalah, mulutnya lebih mirip perempuan. Akhirnya drama selesai mereka bersiap untuk berangkat.
"Ammar dan Ivan pergi menyusul, kita berangkat satu mobil saja jadi bisa giliran." Bima memberikan solusi karena Ammar mendadak tidak bisa pergi bersama.
"Viana setuju!"
"Kak Bima, Rama saja yang menyetir nanti kita tukeran."
Mereka sudah berangkat dengan beriringan dengan mobil lainnya, perjalanan sudah ditengah jalan. Di kurus penumpang, anak-anak mulai diam karena hari sudah siang dan kantuk menyerang.
Viana Ravi dan Windy di kursi penumpang, kedua bocah tidur, Ravi di paha Viana sedangkan Windy di bahu Vi.
Sekarang giliran Bima yang membawa mobil, selama diperjalanan, Rama dan Bima bicara soal bisnis membuat Viana mengantuk.
Perlahan Windy terbangun, Vi menatap wajah cantik Windy sambil tersenyum, Windy membisikkan sesuatu ke Viana membuat Vi tersenyum.
"Mas Bram! berhenti cari toilet, putriku Windy mau ke toilet." Bima melajukan mobil menuju tempat pengisian bahan bakar.
"Terimakasih Papi, terimakasih aunty." Windy langsung ingin keluar. Viana juga keluar menemani Windy tapi senyum Vi muncul karena Windy sudah sangat mandiri juga sopan.
"Sudah aunty, ayo kita ke mobil." Windy mengandeng tangan Vi.
"Aunty! mommy panggil mommy." Viana meminta Windy mengulang ucapnya.
"Iya aunty ehh mommy, Windy punya bunda tapi tidak sayang Windy. Syukurnya Windy punya mami Reva yang sayang Windy. Mami pernah berantem sama guru Windy karena mereka menuduh Windy mencuri." Wajah Windy langsung manyun menahan air matanya.
"Windy tidak perlu bersedih, walaupun bunda Windy tidak baik doakan terus ya sayang agar bunda bisa diberi hidayah, bagaimanapun juga dia yang pernah mengandung dan melahirkan kamu."
"Iya mommy, Mami juga bilang begitu tapi mami Reva lucu mom, kalau marah pasti suka teriak. Pernah juga mami berantem sama bunda main jambak-menjambak." Windy mengigat saat melihat Reva bertengkar dengan Bunda saat Brit berusaha menemui Windy.
Viana dan Windy tertawa mendengarnya ocehan Windy yang sepertinya sangat dekat dengan reva.
Selesai dari toilet, Rama yang menyetir mobilnya karena jarak mereka sudah dekat. Windy juga sudah berhenti mengoceh lanjut tidur.
Rama sedang memikirkan cara, untuk bicara kepada Bima soal kecelakaan Reva saat menuju ke desa Jum.
__ADS_1
"Kak Bim, Rama mau cerita sesuatu." Rama melihat wajah Bima yang membalasnya dengan mengaguk.
Sebelum bicara suara Rama terhenti, lalu tersenyum dan memutuskan memberi tahu. Pasti Reva tidak mengakui sehingga Bima tidak terlihat khawatir.
"Reva saat pergi ke desa mengalami kecelakaan, ada yang sengaja ingin menabrak mobilnya. Tapi kak Bima tenang saja mereka sudah sampai dan baik-baik saja."
Tiba-tiba tatapan Bima dingin, keputusan Rama bertukar membawa mobil ternyata benar. Bima benar terkejut, wajahnya langsung berubah.
"Mengapa baru cerita sekarang Ram, kenapa tidak langsung menelpon saja!" Suara Bima sangat tinggi membuat Viana terbangun, Rama juga pertama kalinya melihat Bima bicara dengan nada kuat.
"Ada apa hubby?" Viana langsung melihat keduanya, wajah Bima yang nampak marah, dan khawatir.
Bima berkali-kali menghubungi Reva, tapi tidak dijawab. marah yang Bima rasakan karena Reva tidak jujur, kekhawatiran Bima benar karena selalu terpikirkan Reva. Bima memukul Dasbor mobil membuat Viana kaget.
"Mas Bram, Reva yang tidak memberikan izin memberitahu kamu, karena dia ingin kamu fokus ke Windy." Vi coba menenangkan Bima yang sangat dia kenal jika sudah marah.
"Kenapa baru sekarang, kalian tidak tahu selama berjam-jam aku khawatir. Reva juga tidak jujur, jika hanya mengurus mendapatkan hak Windy sesuatu yang tidak bisa dipertaruhkan dengan Reva. Pernah tidak kalian melihat aku menghancurkan bisnis orang, tapi karena dia aku harus bertindak dengan keras."
"Jadi yang mengambil perusahaan Dodi mas Bram, dia juga yang mengancam Reva."
"Vi setidak aku ingin satu kali saja memperjuangan seseorang,"
"Ya kak Bima lagian kasusnya sudah diselidiki. Ammar langsung yang turun tangan menyelesaikan kasusnya.
Bima terdiam, jika dari awal Bima tahu pasti akan langsung pergi menyusul. Pikiran Bima berada di Reva takut Reva terluka.
"Rama! salah tidak aku jatuh cinta padanya? dia terlalu baik. Aku tidak bisa mengutarakan perasaan yang aku miliki. Rasa cinta aku ke Reva melebihi perasaan dahulu aku dan Viana."
"Tidak kak, cintai Reva karena Allah bimbing Reva menjadi wanita saleha, Kakak pria baik sangat pantas bersama Reva."
"Berarti dulu Viana tidak baik ya hubby, sehingga tidak pantas mendampingi mas Bram tapi Langsung diganti pria ABG super tampan, Sholeh lagi. I love you Rama." Viana berteriak membangunkan kedua bocah yang tidur di sampingnya.
Bima memandang Viana sinis, dia sedang membahas masalah hubungan dengan Reva, tapi Viana mengungkapkan rasa cintanya tanpa tahu malu.
"Mommy mirip Tarzan! suka sekali teriak-teriak tidak jelas." Ravi menghela nafas dengan menatap mommy yang sudah melotot.
__ADS_1
"Tarzan cantik tidak masalah ya Mommy, yang terpenting hatinya baik." Windy membuka matanya, dan sesekali menguap.
"Windy sayang, kamu memang yang terbaik. Mommy jodohkan kamu dengan Ravi."
"Jodoh apa Mommy!" Ravi menatap penasaran.
"Hidup bahagia seperti Mommy Daddy, Uncle Bisma dan Jum, Uncle Bima dan aunty Reva."
"Tidak mau!"
"Windy juga tidak mau,"
"Kenapa Windy sayang?"
"Windy sudah punya om Bule, dia sudah menunggu Windy 10tahun lagi." Windy tersenyum.
Viana dan Bima saling pandang, Bima menatap Windy tajam tapi Windy melihat kearah luar jendela. Bima tahu Om bule yang Windy katakan, tidak mungkin putri kecilnya menikah dengan lelaki tua seperti Steven.
Terdengar suara Viana dan Rama tertawa, mereka tidak tahu siapa bule yang Windy inginkan, yang penting pasti akan menjadi cerita lucu untuk masa depan Windy.
Karena masih banyak waktu, Bima memutuskan tidak menegur Windy, karena percumah saja. Bima tidak akan setuju, lepas Stevani yang mengejar cintanya sekarang putrinya yang mengejar cinta adik Stevani.
Mobil hampir tiba di kampung Jum, suasana tenang mulai terasa, suara anak-anak ribut mulai terdengar. Keramaian juga sudah terlihat, karena seluruh penduduk sudah kumpul untuk menyambut hari bahagia Jumi dan Bisma.
Ravi dan Windy melihat kearah belakang, anak-anak mengejar mobil mereka. Windy tersenyum tidak dengan Ravi yang mengerutkan keningnya.
Kenapa kita mirip maling yang dikejar masa."
"Kalau pikiran jelek ya gitu, coba bayangkan jika kita tamu yang disambut dengan penuh kebahagiaan oleh rakyat. Pasti sangat bahagia, bukan memikirkan maling." Windy tertawa melihat Ravi yang sudah cemberut.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***
***