MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 OBAT SUBUR


__ADS_3

Hembusan nafas menerpa leher Winda yang tidak tertutup, pelukan erat di pinggangnya membuat Winda tidak bisa bergerak.


"Ganteng banget." Winda mencium mata Ar, mata yang Winda cium terbuka langsung memperlihatkan senyumannya.


"Kenapa Win?" Ar mencium leher Winda memancing kembali hasrat yang masih panas.


Winda langsung mengendalikan dirinya, mendorong Ar agar menjauhinya, tapi bukan semakin jauh, Winda sudah ada di atas.


"Win, ayo kita lakukan lagi." Ar langsung duduk, menciumi Winda.


Sungguh Winda membenci dirinya, tidak bisa menolak sama sekali mengikuti keinginan suaminya yang membuatnya terkulai lemas untuk kesekian kalinya.


"Winda capek."


"Iya, Win kak Ravi meminta aku mengurus beberapa hal penting, tidak masalahkan jika menunggu."


"Iya, tapi tetap pulangkan?" Winda menatap serius, dia tidak ingin menunggu lebih lama lagi.


Ar tersenyum, menggendong Winda ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak ada kata bosan melihat kecantikan Winda, Ar merasa menjadi lelaki yang paling beruntung memilikinya.


Meskipun belum ada kata cinta, Ar bahagia karena tidak ada penolakan sama sekali. Mereka bisa mandi berdua, tertawa bahkan sarapan berdua tanpa ada rasa canggung.


Doa Ar hanya satu, dia ingin segera memiliki anak, agar bisa mempererat hubungan mereka dengan hadirnya buah cinta.


***


Winda lanjut tidur setelah mengurus kepergian Ar ke kantor, dia capek sekali setelah bertempur semalaman.


Suara Bel terdengar, Winda berteriak kuat karena kesal diganggu. Perlahan Winda melangkah langsung membuka pintu.


"Sialan kamu nenek lampir, tidak bisakah membiarkan Winda tidur tenang." Mata Winda melotot, seperti ingin menelan Mami yang datang tanpa diundang.


"Jangan teriak di depan anak kecil." Mami mengandeng tangan Jack masuk ke dalam.


Mami datang berkunjung menemui Winda, membawakan makanan halal untuk dirinya. Winda mencium bau-bau pikiran kotor dari wanita aneh di depannya.


"Win, lihat ini beli ya." Mami memelas.


Jack menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Maminya yang meminta imbalan mobil keluaran baru.


"Mami ini memeras Winda."


"Dasar menantu pelit. Ayo kita pulang saja Jack." Mami melangkah pergi meninggalkan makanannya.


Winda menatap sinis, langsung melihat mobil yang mami inginkan. Menghubungi nomor yang tertera, memesan mobil untuk Mami.


"Ah sialan mahal sekali, ini nenek lampir saat ada maunya membuat miskin. Untung Winda banyak uang, jika tidak jangan harap kamu aku belikan." Winda membuka makanan yang Mami bawa, ada minumannya juga membuat Winda langsung makam.


Selesai makan Winda langsung merasakan panas, meminum air yang Mami bawa sampai habis.

__ADS_1


Sesaat Winda terdiam melihat pesan dari ponselnya, kata-kata ejekan dari mertuanya.


"Winda, selamat menikmati makanan yang berisi obat, juga jangan lupa minun air ramuan penyubur agar cepat hamil." Winda membaca pesan dengan emosi.


"Elizaa! Winda teriak kuat, mengumpat kasar dengan cacian dan maki.


Pintu terbuka, Ar langsung berlari mendapatkan pesan dari mami jika Winda sedang tidak enak badan.


"Winda."


"Ar, tolong Winda. Mami memang penyihir brengsek." Langkah Winda berlari memeluk Ar, langsung membuka dasi.


"Winda tunggu sebentar, kamu kenapa?"


"Mami jahil, Winda dikasih obat katanya kuat untuk satu jam, terus ada minuman penyubur. Ayo cepat Winda tidak tahan lagi." Winda membuka baju kemeja Ar, meminta cepat.


"Ayo ke kamar Win."


"Tidak mau, di sini saja." Winda membuka bajunya langsung duduk di atas sofa.


Ar akhirnya menuruti posisi apapun yang Winda inginkan sampai keduanya terkapar di atas sofa.


"Awas saja kamu mami, Winda capek sekali." Winda langsung tidur.


Ar mengusap keringatnya, merasakan lelah juga karena pertempuran mereka sejak malam.


Keduanya terbangun setelah sore, tubuh rasanya remuk semua sampai Winda minta dipijit.


Panggilan dari Vira terdengar, Ar memeluk Winda dari belakang. Tanpa ragu Winda menjawabnya.


[Masih sore Win, kamu sudah ehem-ehem.]


[Dari tadi malam Vir, aku kehabisan tenaga. Rasanya rontok badan.]


[Vira kapan? Wildan masih pincang ingin merasakan juga. Apa rasanya Win?]


[Sakit bego, tapi enak.] Ar mematikan panggilan, langsung menatap Winda tajam.


"Aib keluarga jangan dibocorkan Win, ini urusan ranjang kita."


"Biarkan saja, namanya juga sahabat berbagi rasa enak tidak masalah." Winda menatap kesal, langsung memukul dada Ar yang menegurnya.


Ar menarik nafas panjang, langsung memeluk istrinya yang super manja, juga ambekkan. meminta maaf jika cara Ar menegur salah.


Terbuka dengan sahabat tidak salah, hanya saja jangan berlebihan. Bicarakan hal yang baik, jikapun bicara soal dewasa hanya sebatas menasehati, memberikan sisi baik, bukan menceritakan inti dari hubungan suami istri.


Winda menundukkan kepalanya, meminta maaf jika dia terlalu terbiasa membicarakan apapun dengan Vira.


"Lapar tidak sayang?"

__ADS_1


"Ingin makan di luar, tapi Winda capek."


"Tenang, aku masak dulu kita makan di belakang villa, di luar kan." Ar tertawa langsung berjalan ke dapur.


Winda menatap sinis, mengirim pesan ke Vira, mengutuk Vira karena dia Ar ceramah.


Winda langsung pergi mandi, menyentuh perutnya berharap akan segera ada twins sesuai harapan Abinya.


Makanan sudah siap, Winda memeluk dari belakang minta dicium. Ar mengecup sekilas bibir Winda memintanya membawa minum.


"Emmhh wangi, kita buka restoran saja. Abi menjadi chef Armand." Winda bertepuk tangan.


"Kamu memanggil apa tadi Win?"


"Armand." Winda bicara pelan.


"Sebelumya?"


"Abi Ar." Winda berbicara dengan ekspresi wajah mengemaskan, Ar langsung tertawa mencium kening Winda lembut.


"Aku suka panggilannya, ayo kita makan."


"Suap, soalnya Winda lagi capek."


Ar menurut saja, mengunakan satu piring makan berdua, masakan Ar enak meksipun tidak seenak masakan Om bule yang paling pintar masak.


Ar menceritakan soal pekerjaannya, mungkin dalam satu bulan mereka akan berkeliling beberapa negara untuk melihat beberapa perusahaan cabang, setelahnya langsung kembali ke Indonesia.


"Kapan mulai pergi?"


"Secepatnya."


"Winda membeli mobil untuk Mami, mahal sekali."


"Tidak masalah, kamu gunakan saja kartu yang aku berikan, sebelum pergi pamitan dulu dengan mami, mungkin makan malam di rumah mereka." Ar menyuapi Winda yang mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Winda membelinya menggunakan uang Winda."


"Win, uang kamu milik kamu, sedangkan uang aku boleh kamu gunakan untuk apapun, tapi tidak boleh berlebihan apalagi menghamburkan uang. Gunakan untuk membelikan keperluan, membelikan sesuatu untuk mami, umi, sahabat kamu, keponakan, juga keperluan kamu. Aku tidak akan membatasi itu." Tangan Ar mengusap kepala Winda lembut.


Senyuman Winda terlihat, demi apapun menatap mata Ar membuat Winda jatuh cinta, mendengarkan suaranya membuat hati lemas.


Sungguh memalukan jika Ar sampai tahu jika Winda mencintai, sungguh Winda tidak ingin menunjukkan, tapi tidak akan membiarkan ada yang mengambil miliknya.


"Abi, Winda cinta kekayaan Abi. I love you." Winda tertawa.


"I love you too Winda." Ar juga tertawa.


***

__ADS_1


__ADS_2