MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 BERTEMU UMI


__ADS_3

Suara tangisan histeris terdengar, semuanya menatap ke ruangan Winda. Billa langsung masuk meminta Winda tenang.


Winda menyentuh perutnya, tidak ada lagi perut besarnya. Billa langsung memeluk erat meminta obat penenang.


"Di mana anak Winda? Abi pasti marah jika terjadi sesuatu, bagaimana ini?"


"Tidak Win, anak kamu baik-baik saja. Sekarang kamu beristirahat, besok bertemu dengan twins A." Billa menyelimuti Winda mengusap tangannya agar segera tidur.


Billa langsung terduduk lemas, dia sangat binggung melihat keadaan yang cukup berat untuk Winda.


Erik, Wildan masuk mempertanyakan keadaan Winda, setidaknya Winda sudah sadar meskipun memiliki trauma, jika besok bisa mengontrol diri boleh menyentuh anaknya.


"Tempat teraman adalah sentuhan ibu."


"Yakin baik-baik saja?"


"Yakin Wil, insyaallah aman Wil. Besok jika Vira sudah bangun, serahkan juga anaknya mereka membutuhkan ibu."


Winda sudah tertidur kembali, semuanya keluar. Wildan juga kembali ke kamar Vira.


Erik masih duduk diam menatap Ar, respon terakhir dia menangis, tapi hingga detik ini belum ada respon baik dari Ar.


Erik tertidur di samping Ar, memulihkan tenaganya. Mata Ar terbuka, mengerakkan mulutnya memanggil Winda, meskipun tidak ada suara yang keluar.


Kaki juga tidak bisa digerakkan, tubuhnya mati total seperti orang lumpuh. Ar memejamkan kembali matanya, hanya bisa berbicara dalam hati mempertanyakan keadaan anaknya, juga istrinya.


Hanya tetesan air mata yang bisa menjadi ungkapan perasaan Ar, dia sangat merindukan istrinya, ingin menyentuh anaknya, tapi tidak ada suara yang keluar.


***


Matahari bersinar, Windy sudah mengendong Arsyila sedangkan Steven mengendong Arwin yang baru sudah menyusu.


Winda sudah bangun, mencari anaknya menyentuh perutnya yang hampir rata lagi.


"Bil, anak aku kembar? cowok atau cewek? bagaimana keadaan Abi?"


"Kita lakukan satu-satu Winda, kamu ketemu dulu dengan anak kamu, baru menemui Ar dia masih dalam perawatan khusus.


Pintu terbuka, Winda langsung menangis, dia belum tahu cara menggendong bayi, menyusui karena terlalu dadakan.


"Twins A, kakak laki-laki adiknya perempuan." Windy membantu Winda untuk menggendong bayi.

__ADS_1


Senyuman Winda terlihat, dia sangat bahagia bisa menyentuh putra-putrinya.


"Mereka kecil sekali?"


"Iya Win namanya juga prematur."


"Maafkan Umi ya sayang, nanti kita bertemu Abi. Pasti Abi sangat bahagia bertemu kalian."


"Siapa nama Win?"


"Arwin dan Arsyila, nama dari Wira jika ada perempuan namanya Arsyila. Abi juga menyukainya." Winda mencium putrinya sambil tersenyum.


Arwin menangis, Billa meminta Winda belajar menyusui. Semuanya hening diam, air mata Winda menetes memikirkan suaminya.


"Winda, percayakan sama kak Erik. Dia Dokter terbaik di sini, bahkan demi berhati-hati mengoperasi Ar tangannya sampai terluka, tangan seorang dokter sangat berharga sehingga harus dijaga. Detik-detik terakhir aku harus mengganti karena tangannya sudah tidak kuat lagi. Aku percaya dibalik diam dia memikirkan sesuatu, dan tidak ada yang tahu." Billa mengusap air mata Winda.


"Vira, bagaimana keadaan Vira?"


"Dia juga sudah melahirkan, twins juga."


"Ya Allah, karena hal ini anak-anak kami menjadi prematur." Winda mengusap wajah putranya.


Masih teringat oleh Winda saat Ar mengatakan ingin menjadi orang pertama yang menyambut kelahiran baby, mengadzani, mencium kening anak-anaknya.


Pintu diketuk, Reva melangkah masuk bersama Mami Liza. Winda semakin menangis melihat Maminya.


Pelukan Reva lembut, mencium kening putrinya memintanya berhenti menangis.


"Mami, anak Winda kecil. Mereka lahir tanpa Abinya, sakit sekali hati Winda. Anak Winda tidak salah, mereka belum berdosa , harapan yang selalu Ar ucapkan, tapi dia tidak melihat anaknya." Air mata Winda mengalir membasahi pipinya.


Windy mengambil twins, meletakan di dalam box bayi membiarkan Winda menenangkan diri berada dalam pelukan Maminya.


Reva sangat mengerti kesedihan Winda, tapi begini takdir dirinya, kekuatan cintanya dengan Ar harus diuji agar hati dan mental mereka kuat.


Mami Liza meminta maaf sampai menundukkan kepalanya, dirinya juga orang yang harus bertanggung jawab.


Winda tidak marah dengan Mami Liza, menggenggam tangannya mengatakan jika Ar terluka.


"Ranty tega mami melukai Ar, membuat anak Winda lahir prematur. Anak dan suami Winda tidak salah, kenapa mereka yang menanggung sakitnya?" Air mata Winda menetes.


"Kamu wanita kuat Winda, terkadang apa yang terjadi memang tidak pernah sesuai yang diharapkan. Bukannya kamu selalu bilang, apapun yang terjadi pasti ada positif negatifnya. Kamu berpikir positif ya Win, semoga Ar cepat pulih, berkumpul bersama kamu dan anak-anak lagi." Mami Liza memeluk Winda, memintanya untuk berhenti menangis.

__ADS_1


"Winda sedih mam, melihat tubuh mereka kecil, berbeda sekali seperti Bintang dan Bulan."


"Paling penting mereka sehat, sudah bisa minum ASI tidak harus dirawat lebih dari cukup Winda. Kamu harus bersyukur, mereka bertahan dengan kuat di rahim kamu."


"Iya Mi, Winda sangat bersyukur."


Winda makan disuap oleh Maminya, mata Winda selalu melihat pintu, berharap suaminya datang.


***


Erik sibuk sendiri, dia melarang ada yang menganggu, melihat hasil tulang yang mengalami keretakan.


"Coba angkat tangan kamu Ar."


"Ternyata kamu masih cerdas, aku pikir kepintaran kamu hilang." Erik masih terus berpikir sampai kepalanya sakit.


Beberapa dokter yang Erik panggil muncul, mulai melakukan tugas yang Erik minta. Cukup lama sampai Ar bangun dari tidurnya.


"Winda?"


"Bersama anak-anak Ar, kamu cerewet sekali. Perasaan yang menyusu anak kamu, tapi kenapa kamu yang merengek-rengek mirip bayi?"


Semua orang yang ada di dalam tidak ada yang berani tertawa, Erik sangat dingin jika sedang bekerja.


Seluruh hasil pemeriksaan dikumpulkan, Erik mulai melakukan penelitian. Langsung pergi kembali ke ruangannya, melihat kamar Winda ada suara tangisan bayi.


"Sabar ya sayang Uncle sedang berjuang agar kalian segera kumpul, kalian jangan bersedih anak baik." Erik langsung pergi, Billa melihat suaminya lewat, tapi membiarkannya.


Winda menepuk punggung putrinya, mengusapnya agar segera tidur. Putranya sudah berada dalam box tidur dengan nyenyak karena kenyang baru selesai menyusu secara langsung dengan uminya.


Kasih juga muncul mengantarkan makanan untuk keluarga, memotret baby twins A untuk putrinya Asih yang memaksa ingin melihat, tetapi belum diizinkan.


"Billa hari ini kamu sebaiknya pulang, cek dulu anak kamu. Mama Papanya tidak ada yang pulang, meskipun mereka mengerti pekerjaan orangtuanya, tetap saja membutuhkan perhatian." Reva akan mengantikan menjaga Winda.


"Bil, Winda sore pindah ke kamar khusus bersama anak-anaknya. Cek juga keadaan Vira. Malam nanti anak-anak juga berkunjung ke sini." Erik tersenyum melihat istrinya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


***


Selesai 9 bab


give away besok ya

__ADS_1


***


__ADS_2