
Senyuman dokter Nana terlihat, mengusap punggung Stev yang meneteskan air matanya melihat istrinya keluar dalam keadaan baik-baik saja.
Stev berkesempatan melihat pergerakan anaknya, air matanya tidak tertahankan melihat bayi tumbuh dengan sehat, meskipun keadaan Windy sering drop.
Dokter bicara dengan Steven yang mendengarkan dengan jelas, tatapan Stev seakan tidak percaya jika Windy jauh lebih baik.
Jika dalam satu bulan Windy tidak pendarahan dia bisa pulang, Stev mengucapkan banyak terima kasih.
Mata Windy terpejam, tangannya tidak lepas menggenggam tangan Stev. Reva Bima juga setia menemani Windy sampai dia bangun.
"Ay, anak kita sehat?"
"Alhamdulillah sayang, dia dalam keadaan sangat baik. Dia tumbuh dengan baik sebagaimana janin biasanya tumbuh." Steven tersenyum mencium kening istrinya.
Reva menggenggam tangan Windy, menciumnya berkali-kali. Betapa bangganya Reva memiliki putri-putri tangguh yang selalu membuatnya bangga sebagai seorang ibu.
Windy sangat tegar dengan semua ujian hidupnya, menerima dengan lapang dada setiap masalah yang hadir.
"Sayang lihat dia sudah bisa bergerak, kamu sudah bisa merasakan belum?" Stev mencium perut istrinya yang sudah membesar.
"Lucunya anak Mommy, sehat terus ya sayang. Peluk erat Mommy dan Daddy sampai akhir nanti." Senyuman Windy terlihat, menghapus air mata Stev, mencium hidung mancung suaminya.
"Anak Mami hebat, jangan sakit lagi Windy."
"Siap Mami, Windy nanti cepat pulang. Nanti kita ke sini saat lahiran Wira saja." Senyuman Windy terlihat memeluk Papinya erat.
Bima mengusap kepala putri kesayangannya yang sedang diuji kesabarannya, diuji ketaatannya.
Windy masih dirawat di rumah sakit, selalu dalam pengawasan untuk mengecek keadaannya yang semakin stabil.
***
Stev mendorong kursi roda ke ruangan dokter Nana, Windy tersenyum menatap dokter Nana yang yang mengusap perut Windy.
"Kita lihat dulu keadaan baby gemes yang selalu menendang perut Mommy." Dokter Nana tersenyum melihat bayi sehat yang sudah berusia enam bulan.
__ADS_1
"Gemes sekali kamu Wira, sabar ya sayang. Nanti bertemu mommy sama Daddy." Windy menatap penuh kebahagiaan.
Jangan tanyakan lagi perasaan Stev yang melihat wajah putranya, memiliki hidung mancung, jari-jari mungil.
"Windy kamu harus berhati-hati, jika merasakan kepala pusing, padangan kamu mulai gelap langsung berhenti bergerak. Secepat mungkin hubungi dokter, ibu hamil selalu memiliki tekanan darah tinggi, tapi kamu berbeda Win." Dokter mengusap perut Windy meminta untuk terus waspada.
"Siap Dokter, Windy akan menjaganya dengan baik. Sampai bertemu tiga bulan lagi." Windy tersenyum bahagia, akhirnya dia bisa pulang.
Stev mengucapkan banyak terima kasih, langsung melangkah keluar bersama Windy.
Di depan pintu keluar, Bima dan Reva sudah menyambut langsung tersenyum mencium wajah Windy yang masih duduk di kursi roda.
"Hai kesayangan nekmut, akhirnya kamu pulang." Reva mencium perut Windy, lalu mencium kening putrinya.
Steven mengendong Windy masuk mobil, menuju ke kediaman keluarga mereka yang sudah menunggu kepulangan Windy setelah dua bulan di rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Windy tersenyum bahagia, dia ingin terus mempertahankan anaknya. Reva terus tertawa melihat rekaman video si kecil yang masih di dalam perut.
"Perasaan Reva dia nakal sekali Ay, lihatlah dia sudah menendang, hidungnya mancung sekali. Pasti sangat tampan." Reva terus mengagumi ketampanan cucunya.
Sesampainya di rumah seluruh keluarga sepanjang jalan menyambut kedatangan Windy, membawa balon berwarna biru untuk baby kecil yang berjenis kelamin laki-laki.
"Winda tidak akan pernah melakukan hal bodoh ini lagi." Winda memecahkan seluruh balon membuat Windy tertawa, bayi dalam perutnya juga bergerak menunjukkan jika dia menyukai Aunty nakalnya.
"Winda kenapa kamu marah?"
"Kesal kak Win, apa manfaatnya kita berlari membawa balon. Kenapa tidak menyambut di gerbang masuk saja?"
"Kamu ditanya ingin bagaimana tidak memberikan solusi, tapi sekarang protes marah-marah." Vira menatap tajam, mendorong Winda sampai jatuh terjungkal ke taman bunga.
"Astaghfirullah Al azim." Stev langsung membantu Winda berdiri.
"Sudah cukup, Windy sebaiknya kamu masuk." Viana mengusap kepala Windy, Jum mengusap air mata bahagia bisa melihat Windy pulang.
Di dalam rumah banyak makanan, Windy tersenyum menatap keluarganya.
__ADS_1
"Di mana Ravi, Erik dan Tian?" Windy tidak melihat tiga lelaki penjaganya.
"Mereka di luar negeri sedang menyelesaikan kuliahnya, Tian juga menyelesaikan S2 nya, kalau Ravi dan Erik tidak pernah jelas apa yang mereka lakukan." Viana meminta Windy duduk, melihat makanan yang ingin dia coba.
Senyuman Windy terlihat, menatap makanan yang terlihat sangat lezat. Air mata Windy menetes, karena selama kehamilannya dia melupakan makanan yang diinginkan. Hanya terus fokus untuk keselamatan anaknya saja, Windy hanya ingin anaknya sehat, tidak memilih makan apapun.
"Kenapa menangis sayang?" Stev mengusap air mata Windy yang menetes.
"Windy baru sadar jika tidak bisa memikirkan makanan, biasanya saat hamil banyak maunya. Pengen makan ini, itu apapun yang terasa asam, tapi Windy hanya memikirkan harus kuat demi agar dia bisa tetap ada dikandung Windy." Air mata Windy bercucuran membuat keluarga yang lain juga meneteskan air matanya.
"Ya sudah jangan menangis, sekarang ayo makan. Kak Windy gemuk, perutnya juga semakin besar, tapi kak Stev sangat kurus." Winda membawakan buah-buahan yang langsung diambil oleh Windy.
Stev memeluk Winda, dia juga sama lupa makan, Stev tidak pernah makan sembarang, selalu memilih masak sendiri, tapi sekarang dia makan apapun yang ada, di dalam pikiran hanya fokus untuk anak dan istrinya.
"Kak Stev tidak makan di rumah sakit, kenapa kurus sekali?"
"Makan Winda, apapun kak Stev makan."
"Pantas saja kurus, kak Stev tidak bisa makan sembarang. Salah Mami yang tidak mendengarkan saran Winda, jangan bawa roti, coklat cemilan kak Stev hanya makan makanan sehat, tapi tidak didengarkan." Winda mengusap punggung Stev meminta cepat makan makanan sehat.
"Kak Stev bersyukur mami, mommy dan Bunda sangat memperhatikan kami di sana, tidak pernah lupa mengingatkan makan."
Bella mendekat, menatap mata Steven yang berkantung.
"Kak Stev tidak pernah tidur, lihatlah matanya sayu sekali." Bella menggelengkan kepalanya.
"Iya, jangan terlalu capek kak Stev nanti kak Stev juga sakit, lalu siapa yang menjaga kak Windy, sebelum menjaga orang yang di sayang, sayangi dulu diri sendiri." Billa memberikan minum untuk Stev dan Windy.
"Terima kasih ya, kalian sungguh perhatian. Kak Stev baik-baik saja, akan selalu sehat."
Vira tersenyum dari kejauhan menatap perut Windy yang bisa bergerak. Secepat kilat Vira berlari menyentuh perut Windy.
"Di dalam baju kak Windy ada yang gerak, aneh sekali." Vira membuka baju Windy, membuat Viana teriak kuat diikuti oleh tawa banyak orang.
"Dia menyukai kamu Vir." Windy tertawa mengusap perutnya.
__ADS_1
"Vira sukanya Wildan, bukan Wira." Vira mendengarkan perut Windy, diikuti oleh Bella, Billa dan Winda yang kesenangan.
***