MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 GARIS DUA


__ADS_3

Tubuh Steven sangat lemas, kehabisan tenaganya langsung terbaring di atas ranjang. Bima membantu Stev, langsung meminta Tian memanggil Windy.


Semuanya masuk melihat Stev, Windy sudah menangis memeluk Steven meminta maaf karena meninggalkan tidur sendiri.


Reva menyentuh kening Steven, merasakan tubuhnya yang hangat, tapi masih terbilang normal.


"Kamu beri makan apa suami kamu Windy?" Reva menyentuh tubuh Steven.


"Dari kemarin belum Windy beri makan." Senyuman Windy terlihat.


Reva hanya bisa menepuk jidat melihat anak perempuannya, bisa melupakan makan suaminya sendiri.


Jum datang membawakan minuman hangat, langsung meminumkannya.


"Papi sholat dulu sebentar Stev, kita langsung ke rumah sakit."


"Nanti saja Pi, Stev ingin beristirahat. Tunggu siang jika belum membaik, baru ke dokter." Steven memejamkan matanya.


Windy menatap sedih Steven yang wajahnya pucat, nafasnya juga tidak teratur.


"Ay maafkan Windy."


Sampai siang Steven masih tidur, Windy yang menunggui Stev. Reva melangkah masuk kaget melihat Windy yang sedang tidur sedangkan Steven di dalam toilet muntah lagi.


"Stev kamu di dalam?" Reva mengetuk pintu.


Pintu terbuka, Steven berjalan ke luar dengan wajah pucat.


"Windy." Jum menyentuh lengan Windy.


"Bunda jangan, biarkan Windy tidur. Steven baik-baik saja."


Viana sudah keluar memanggil Bima, Steven duduk di depan toilet karena muntahnya semakin parah, bahkan muntah air karena isi perutnya habis.


"Papi lihat Windy, tidur mengorok." Reva menatap Windy.


"Ayo ke rumah sakit Stev, bangunkan Windy Reva."


"Steven kamu hamil ya?" Jum menatap Stev serius.


"Sayang jangan bercanda." Bisma merangkul Jum.


"Jum tidak becanda, dari kemarin Steven mengemil buah masam. Dulu Ayah juga muntah saat hamil twins, Rama juga muntah hamil Vira." Jum menatap Windy.


Steven langsung berdiri menatap Windy yang lompat-lompat, naik ketinggian, main bola, berlari kencang.


"Windy!" Reva teriak kuat, Windy langsung bangun dan duduk.


"Ada apa Mami?"


Reva gemes melihat anaknya yang tidak mereka sadari banyaknya perubahan karakter Windy, baik dari cara berpenampilan, makan, minum bahkan bicaranya sudah beda.

__ADS_1


"Ay, semakin parah muntahnya?"


"Perut kamu sakit tidak?" Steven menyentuh perut rata Windy.


"Perut Windy baik, hanya sedikit gemuk karena banyak makan." Windy mengusap perutnya mencium pipi Stev.


"Windy kemungkinan kamu hamil?" Jum menepuk jidatnya.


"Tidak mungkin Bunda, sudah tiga bulan bulanan Windy lancar hanya saja bukan darah, tapi flek hitam saja. Waktu Windy hamil badan sakit, kepala pusing sekarang tidak."


"Windy, kehamilan tidak selalu sama. Flek hitam bisa jadi tandanya hamil."


"Mami jangan bercanda, Windy naik ketinggian, lompat-lompat, berlari kencang." Windy menatap Steven yang menghela nafasnya.


"Sudah jangan panik, tes saja dulu." Bima menepuk pundak Stev.


Windy langsung berlari, berhenti di depan pintu membalik badannya melihat semuanya langsung tegang.


"Maaf lupa Ay." Windy tersenyum.


Bisma meminta Tian membeli tes kehamilan, wajah Tian langsung kebingungan. Dirinya sudah besar sangat memalukan.


"Ravi Erik pergi bersama Tian." Rama meminta ketiganya pergi.


***


Semuanya duduk diam di ruang tamu, Steven di depan pintu kamar mandi mondar mandir menunggu Windy keluar.


"Bismillah, ada anggota baru Bramasta." Bisma bertepuk tangan tidak sabar lagi.


"Steven, kamu duduk saja. Masih lemas karena muntah dari tadi." Viana menatap lembut.


"Jujur Steven takut, soalnya sebelum kita pulang tidak berhenti jalan-jalan, menaiki banyak permainan yang ekstrim."


"Jangan khawatir, insyaallah baby W kuat." Rama menyemangati.


Steven langsung duduk, Windy keluar sambil tertawa karena dia tidak mengerti cara menggunakannya.


Reva, Viana teriak kesal, mereka sudah menunggu dengan cemas, Windy berlama-lama di dalam toilet dengan hasil yang tidak pasti.


"Mami masuk saja." Reva langsung melangkah masuk.


Cukup lama suasana hening menunggu, Reva keluar dengan wajah biasa saja.


"Tidak masalah Stev, usaha lagi."


"Arrggg ... Reva teriak kuat menunjukkan garis dua, Jum dan Viana langsung berlari memeluk Reva.


Ketiganya lompat-lompat bahagia, Steven meneteskan air matanya. Windy keluar langsung tersenyum melangkahkan mendekati Steven.


Steven langsung memeluk Windy, menangis haru akhirnya kesabaran mereka setelah kehilangan pertama kalinya diganti lagi.

__ADS_1


Bima tersenyum langsung memeluk Windy meminta untuk berhati-hati, karena ada satu nyawa yang harus dia jaga, Steven juga bukan hanya harus menjaga Windy, tetapi anak mereka juga.


Reva menangis haru, akhirnya mereka akan segera mendengar tangisan bayi. Reva langsung memeluk Windy tidak mengizinkan Windy pergi lagi.


Sampai Windy melahirkan, sampai anaknya besar. Reva tidak ingin berpisah.


"Mami ingin menjaga kamu."


"Mami, Windy akan selalu pulang, nanti om bule diculik Tante-tante."


"Biarkan saja Stev sudah tua, tidak ada juga yang mau sama dia." Reva cemberut.


"Periksa dulu Reva, jangan ingin menguasai saja Kamu ini." Viana melotot, tapi langsung membujuk Windy untuk tetap bersama mereka.


Steven meneteskan air matanya, Jum menepuk pelan pundak Steven. Mereka hanya berencana meminjam saja tidak bermaksud untuk mengambil anak Stev dan Windy.


"Stev bahagia Bunda, jika Windy positif Stev ingin menetap dulu di sini sampai lahiran. Pekerjaan Steven juga akan dialihkan ke sini."


"Alhamdulillah, janji Stev." Reva memeluk Steven, membisikan Steven untuk meninggalkan anaknya Reva siap menjaga.


Windy menarik Maminya langsung memeluk Stev, tidak mengizinkan ada wanita lain yang menyentuh suaminya.


"Sarapan dulu Steven Windy, nanti baru periksa ke dokter." Bima mengusap kepala Windy.


Steven menatap punggung istrinya yang berjalan ke arah dapur, Steven tidak kuasa menahan air mata bahagianya karena akan segera menjadi Ayah.


"Kamu bahagia?" Reva tersenyum.


"Aku tidak tahu cara mengekspresikan kebahagiaan karena akan hadir malaikat kecil."


"Alhamdulillah berkah kesabaran kamu dalam mengahadapi setiap ujian, jawaban dari doa kamu dan Windy." Reva meminta Steven berhenti menangis.


Senyuman Steven terlihat, menatap Winda yang duduk seorang diri dipojokkan karena dimarah Reva selalu susah bangun pagi.


Steven mengulurkan tangannya, Winda tersenyum langsung menyambut tangan Steven. Winda minta digendong untuk terakhir kalinya karena setelah ini akan ada anak kecil yang menjadi pusat perhatian selain dirinya.


"Winda, kamu gadis yang lucu. Kamu bisa memberikan energi kebahagiaan di sekitar kamu. Om Stev sayang Winda."


"Winda juga sayang, tapi jika ada adik kecil jangan lupakan Winda."


"Pasti dong, kita teman." Steven memberikan jari kelingkingnya.


Winda meminta diturunkan, langsung melangkah pergi mencari teman-temannya. Steven langsung melangkah ke dapur, saat mencium bau makanan Steven langsung mundur merasakan perutnya bergejolak kembali.


"Stev tidak ikut makan." Steven melangkah pergi.


Rama tersenyum meminta Steven bersabar dalam beberapa minggu, Rama masih mengingat jelas setiap pagi muntah, tidak bisa makan sembarang, tapi menjadi sesuatu kebahagiaan.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT

__ADS_1


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2