
Semuanya sudah dipersiapkan Steven akan pergi bersama Windy, Atha, Ghina, Saka. Sedangkan Bagus dan Glen akan berjaga.
Pesawat mendarat di sebuah negara yang sangat makmur, negara maju yang sangat kental dengan nuansa kerajaan.
Setelah 17 tahun akhirnya Windy menginjakan kakinya kembali ke tanah kelahirannya, tempat dia tidak pernah diinginkan, akhirnya Windy bisa menghirup udara yang bersih juga berbeda dari negara lain yang pernah dia kunjungi.
"Stev, kita beristirahat dulu ke hotel, atau langsung ke kingdom Cana?" Saka tersenyum menatap semua orang.
Steven diam, melihat sekitar menggenggam erat tangan Windy. Tersenyum menyemangati.
"Kalian ke hotel, hanya aku dan Windy yang akan berkunjung." Stev mengangguk kepalanya, Windy tersenyum manis.
Dua tim berpisah, Saka pergi bersama Ghina dan Atha, sedangkan Windy menuju istana bersama Stev.
Mobil yang Steven sewa sudah datang, Windy tersenyum kagum dengan gaya Steven ternyata masih saja mengincar mobil mewah.
"Ganteng banget mobilnya Om?" Windy tertawa melihat Steven yang masih saja keren.
"Sayang, bisa tidak jangan memanggil Om. Rasanya aku seperti sugar Dede." Tawa Steven dan Windy terdengar kuat.
"Windy harus panggil apa?" Bibir Windy monyong.
"Emhhh, terserah."
"Yang, Windy panggil Yang Stev." Windy memeluk lengan Steven manja.
Steven mengusap kepala Windy, Stev tahu kedatangan mereka sudah diketahui. Bukan sesuatu yang mengejutkan, Steven sudah membuat janji sebelum mereka datang.
Kerajaan akan melakukan bisnis bersama perusahaan Steven yang akan dia buka cabang di kota kerajaan, Stev akan memberikan keuntungan bagi kerajaan untuk membangun kesejahteraan rakyat.
Sepanjang perjalanan Windy melihat pemandangan yang sangat luar biasa indahnya, tempat yang memiliki banyak sejarah.
Terlihat juga dari penampilan penduduknya yang terlihat maju, berpenampilan elegan, pusat perbelanjaan juga besar, hotel tinggi dan Windy kagum melihat satu tempat, meminta Stev nanti membawanya ke kastil
Steven mengangguk kepalanya, Windy akan berkunjung ke sana, tanpa rasa takut lagi. Dia akan puas berlarinya, tersenyum. Stev berjanji dalam hati akan membebaskan kehidupan Windy.
__ADS_1
"Win, kastil itu memiliki sejarah dengan Ratu Sinta."
"Ceritakan Yang, Windy ingin tahu asal dibangunan kastil megah tadi?"
Steven tersenyum, kastil dibangunan saat pernikahan Pangeran Hanz dan Putri Sinta, Sinta selalu berada di sana setiap hari, bertemu dengan anak-anak untuk menutupi kesedihannya, selain menikah tanpa cinta, dia juga sangat menyukai tempat yang bisa melihat seluruh kota.
Setiap hari Sinta membuat sebuah mahkota dari mutiara, gaun pengantin, sepatu kaca yang sangat indah. Bagi yang beruntung saat pernikahan, Sinta memberikan baju pengantin, sepatu, mahkota, bahkan perhiasan untuk menyambut kebahagiaan.
Steven menghentikan ceritanya, mobil sudah berada di depan kingdom Cana. Windy melihat gerbang terbuka, banyak tentara kerajaan yang menyambut kedatangan mereka.
Pelayan Raja sudah menunggu di pintu istana, Stev keluar mobil langsung membukakan pintu mobil untuk Windy.
Windy terpaksa menutupi wajahnya dengan kacamata dan masker, menyambut uluran tangan Steven untuk melangkah masuk.
"Ibunda, Windy atau Anna kembali. Maafkan butuh waktu 17 tahun untuk tiba di sini." Batin Windy mengandeng lengan Stev, langsung melangkahkan masuk setelah diperiksa.
Semua orang menundukkan kepalanya, mempersilahkan Steven dan Windy masuk. Keduanya melangkah tanpa ada rasa takut sama sekali, tidak ada keraguan karena perjalanan mereka diawasi oleh tiga orang yang berbeda lokasi, Bima, Bagus, dan Saka yang mengontrol pengawasan.
Windy tidak mengetahui jika mereka sedang diawasi, tapi Stev tidak merasakan sedikitpun beban, atau tanda Windy ragu, dia berjalan seakan seorang ratu yang kembali.
"Selamat datang Tuan Stev." Raja Hanz muncul bersama Ratu dan pengawalnya.
Steven memperkenalkan Windy sebagai calon istrinya, Ratu Mariam merasakan aneh melihat Windy menutupi wajahnya.
Raja Hanz mengerti siapa yang datang, Steven dan Windy memang tidak takut mati. Mereka bahkan hanya datang berdua, tanpa penjagaan.
Steven berjalan di samping Raja Hanz, memintanya santai saja, memberikan ruang privat, Stev dan Windy ingin bertemu ibu suri.
Raja Hanz tidak perlu memikirkan mereka, karena Stev akan melindungi Windy dengan segala cara, Stev pusing melihat kehidupan Windy yang penuh misteri, dia ingin semuanya berakhir, lalu menikah.
Windy berjalan santai, Ratu memperhatikan Windy yang terlihat anggun, sombong dan angkuh.
"Kenapa kamu menggunakan masker, kerajaan ini bersih."
"Bukan soal kebersihan, jika aku membukanya kalian akan terkejut seperti melihat hantu."
__ADS_1
Langkah kaki Windy berhenti melihat foto besar yang berada di dinding, urutan para Raja, berjalan lagi melihat foto ibundanya.
Windy membuka kacamatanya, tersenyum melihat foto wanita cantik, mengusap pelan. Tangan Windy ditahan, Ratu melarang Windy menyentuh foto di dalam istana.
Tatapan mata Windy langsung tajam, melihat ke dalam mata Ratu Mariam. Keduanya beradu pandangan.
"Kenapa aku tidak boleh menyentuh foto ibundaku? aku hanya ingin menyapanya, jika aku sudah besar, hidup bahagia." Windy membuka maskernya tersenyum licik.
Ratu Mariam cukup kaget melihat Windy, ingin menahannya tapi bisa menjadi pusat perhatian.
Windy langsung mengandeng tangan Stev, senyuman Stev terlihat menatap Windy yang sudah membuka masker dan kacamata.
Raja Hanz mempersilahkan masuk, Windy berjalan duluan, melewati Raja Hanz. Langsung duduk dengan cemberut, Raja terdiam di tempat melihat wajah Windy, Stev menggaruk kepalanya.
"Windy, Windy, kamu memang tidak ada tempat takutnya." Batin Stev dalam hati.
Semuanya duduk dan diam, memperhatikan Windy yang terlihat santai, Raja Hanz dan pengawalnya saling pandang, Ratu juga duduk tidak nyaman.
"Kenapa semuanya diam, kami datang untuk membicarakan bisnis bukan memperhatikan aku!"
"Maaf Nona bisa menjaga sopan santun anda, ini kerajaan bukan rumah anda." Pengawal Raja Hanz menatap tajam.
"Paman, bisa bola matanya diperkecil. Windy tahu ini kerajaan, tapi tolong tarik kembali ucapan anda soal rumah, seharusnya Paman tahu siapa aku." Windy melotot menantang.
"Tuan Steven, kami menyambut anda dengan baik, tapi apa ini mengapa kekasih anda lancang sekali. Bisnis kita batalkan saja, silahkan tinggalkan tempat ini."
"Baru saja datang sudah diusir. Sebenarnya siapa Raja di sini, ayahanda upz salah Raja Hanz atau Raja Firza, ups salah lagi, pengawal Raja." Windy tertawa santai, menggoyangkan kakinya.
"Ratu di mana pangeran yang tidak diakui, aku ingin bertemu." Windy celingak-celinguk melihat sekitar.
"Nenek, Windy datang." Windy teriak kuat, langsung berdiri lompat berlari ke arah pintu.
Ratu Mariam menyentuh dadanya, menatap pengawal Raja. Sedangkan Steven hanya menahan tawa, Raja Hanz juga tersenyum melihat putrinya yang sudah besar.
Kedatangan Steven memang diketahui, tapi tidak dengan kedatangan Windy. Jika kerajaan tahu Windy datang, tidak mungkin dia diizinkan memasuki kerajaan, mungkin saat datang di bandara sudah ditembak mati.
__ADS_1
Steven ingin bukan hanya dirinya yang melindungi Windy, tapi kerajaan juga. Tidak ada yang bisa menghindar, karena putri akhirnya kembali.
***