MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 ANAK


__ADS_3

Akhirnya Windy sudah diizinkan untuk pulang, sesampainya di mansion menatap empat gadis yang menatapnya dari lantai atas.


Reva menahan tawa melihat Winda yang masih kesal, langsung melangkah ke kamarnya membanting pintu.


Windy menatap sedih, tapi Winda keluar lagi menuruni tangga bersama Bella dan Billa memeluk Windy.


"Kak Win harus berhati-hati, Winda berikan perlindungan." Winda memasangkan gelang dari benang warna-warni.


Kedua tangan dan kaki Windy diikat dengan benang warna-warni, senyuman Windy terlihat memeluk keempatnya meminta maaf karena tidak berhati-hati.


"Kak Windy jangan sedih lagi, sudah cukup masalahnya sekarang waktunya bahagia." Winda memeluk Windy penuh kelembutan.


"Adik bungsuku sekarang sudah besar, baik juga sangat penyayang." Windy mencium kening Winda.


Vira mengerutkan keningnya, tidak setuju dengan ucapan Windy. Bagi mereka Winda tidak baik dan bukan sosok penyayang.


"Jika nanti ada adik kecil kalian ingin cowok atau cewek?"


"Cewek." Winda, Bella, Vira dan Billa serempak.


"Cowok." Wildan langsung melangkah menaiki tangga.


Tatapan tajam mata empat wanita ke arah Wildan, langsung menghela nafasnya. Jika Wildan mengatakan cowok, kecil sekali harapan mereka.


"Cowok cewek sama saja." Steven mengacak-acak rambut Winda.


"Beda kak Stev, jenis kelamin, panggilan juga beda."


Steven hanya bisa menggaruk kepalanya, selalu saja ucapan salah tidak pernah benar di mata ketiga wanita yang emosian.


Semuanya masuk dan makam bersama, karena Steven dan Windy akan ditinggal sendirian. Wildan juga ikut pulang karena ada libur dan akan kembali lagi setelah masuk sekolah.


Windy berjanji akan berkunjung, karena dia ingin memulihkan tubuhnya terlebih dahulu baru kembali.


Bima menyetujui keputusan Windy, Reva juga meminta Steven dan Windy jangan terburu-buru masih banyak waktu.


"Di mana Vero Stev?"


"Biasalah Pi, Mei dan Can bertengkar."


Bima dan Reva saling tatap, langsung menatap ke arah suara tangisan Mei yang berlari ke arah Bima.


"Kakek, Mama jahat." Mei langsung menangis.


Bima langsung memeluk Mei, mengusap air mata si kecil yang mengemaskan. Bima menatap Vero dan Can yang cemberut.

__ADS_1


"Kenapa kalian bertengkar Can?" Reva meminta Can duduk di sampingnya.


"Tidak tahu, semuanya kemauan dia sudah kita turuti, tapi masih saja mengamuk. Apapun yang aku lakukan salah, langsung memukul, mengigit, bahkan tidak ingin tidur bersama." Can memijit pelipisnya.


"Periksa ke dokter Can." Reva mengunyah makanannya.


"Astaghfirullah Al azim, Mei belum gila Mam." Can memonyongkan bibirnya semakin kesal.


Reva langsung melotot, ingin sekali memukul kepala Can dengan sendok.


"Siapa juga yang mengatakan Mei gila? kamu periksa ke dokter kemungkinan sedang hamil. Biasanya kata orang minsal anak yang masih kecil suka marah, adiknya perempuan." Reva tersenyum.


"Alhamdulillah, Mei punya adik." Windy bertepuk tangan.


"Mei tidak mau punya adik!" Mei teriak marah.


Bima mengusap punggung Mei, Steven tersenyum mengusap wajah Mei meminta untuk bicara sopan.


"Mei seharunya bahagia mempunyai adik, punya teman main, bercerita, tertawa, saling membantu. Mempunyai saudara sangat menyenangkan." Steven menyentuh hidung Mei.


"Mei punya kak Mou, nanti Mei punya adik Sinta." Mei tetap menolak adik.


"Sayang dengarkan kakek, lihatlah Aunty Vira, Winda, Bella dan Billa sangat bahagia karena memiliki teman, tapi Mei bisa lebih bahagia tidur bareng, makan, selalu bersama tidak terpisah." Bima mengusap rambut Mei.


"Benar seperti itu kakek?"


"Benar, Winda anak bungsu, tapi tidak disayang." Winda membawa piring, memasukan banyak makanan.


"Kita kelihatan saja akur, biasanya ada saja pertengkaran saling pukul." Bella membantu Winda membawa cemilan untuk mereka.


"Bil ayo cepat." Vira teriak dari lantai atas.


"Bagi Billa memiliki saudara sesuatu anugerah terindah, buktinya memiliki kak Bel suatu kebahagiaan. Walaupun sering marah, dia sayang Bil, membantu mengerjakan Pr, memakai sepatu, membantu mengambil makanan, membantu Bil saat jatuh. Mei harus seperti kak Bella yang selalu melindungi adiknya." Senyumnya Billa terlihat.


"Emh, Mei ingin punya adik, menjaganya dan melindunginya."


"Anak pintar, nanti Mei berikan saja nama Sinta. Billa punya kak Tian, Mei punya kak Mou, kak Bel punya adik Billa, Mei juga punya adik Sinta, kita sama." Billa bertepuk tangan dengan Mei langsung berlari menemui yang lainnya.


Senyuman Mei terlihat langsung ingin digendong oleh Vero, berbisik kepada Vero menginginkan adik Sinta.


Windy tersenyum memeluk lengan Steven, Billa memang terbaik. Dia yang selalu melakukan untuk Bella, tapi menceritakan kepada Mei jika Bella yang melakukannya.


"Kak Bisma berhasil mendidik Billa dengan baik." Steven tersenyum.


"Kamu salah Stev, Billa mendapatkan karakter malaikat penolong, sedangkan Bella karakter malaikat maut." Reva tertawa melupakan jika putrinya juga malaikat maut.

__ADS_1


Windy menghubungi dokter agar Can bisa melakukan pengecekan terlebih dahulu, membiarkan Mei dan Mou tinggal bersamanya.


Senyuman Can terlihat mengusap perutnya, Windy meminta Can berhati-hati untuk menjaga Sinta atau Wira.


"Windy ayo taruhan?" Vero menatap Windy.


"Sinta." Windy menatap tajam.


"Wira." Vero menatap tajam.


"Jika cewek Marissa, jika cowok Marvin." Can menatap tajam.


Vero hanya bisa terdiam, tidak ingin berdebat hanya karena nama. Windy langsung memeluk lengan Steven melihat Can melangkah pergi.


Windy menjulurkan lidahnya kepada Can, Steven langsung menakup wajah Windy yang tidak menyukai Can.


"Sayang, dia punya hak atas nama anaknya." Steven menyatukan hidungnya dan Windy.


"Namanya jelek, Marissa seperti nama buah."


"Markisa sayang." Steven mengusap wajah Windy.


Reva menatap tajam, Steven mengelus wajah Windy tidak memandang dirinya dan Bima lagi.


"Kalian berdua lebih baik ke kamar, sudah bisa membuat anak. Apa perlu Mami saja yang membuat anak?" tatapan Reva tajam.


"Memangnya masih ingin menambah lagi?" Steven menatap Bima.


"Tidak, sudah cukup tiga saja." Bima tersenyum memeluk Reva.


"Tambah satu lagi Pi."


"Jangan Win, doa Papi ingin sehat agar bisa melihat kalian semua menikah. Jika ada anak lagi, belum tentu Papi bisa melihatnya sampai menikah."


Windy langsung memeluk Bima, selalu mendoakan agar Papinya sehat selalu bisa melihat Winda dan Wildan menikah dan memiliki anak.


Reva juga memeluk Bima, tidak ingin berpisah dari lelaki yang sangat dicintainya. Reva memiliki doa yang sama dengan Bima bisa menua bersama melihat anak cucu mereka tumbuh.


"Ay, nanti kediaman kita sangat ramai, jika anak-anak menikah semua." Reva tertawa membayangkan banyaknya anak-anak melebihi kehebohan Winda, Vira, Bella dan Billa.


"Hari yang akan aku tunggu keramaiannya."


"Windy Steven ingin menyumbang berapa anak?"


Windy menunjukkan jari dua, Steven menunjukkan jari lima. Bima tertawa, menurunkan ketiga jari Steven.

__ADS_1


"Banyak anak baik Stev, tapi Papi tidak percaya kamu sanggup saat melihat istri melahirkan." Bima tersenyum, Steven juga tersenyum menatap Windy yang melotot.


***


__ADS_2