
Steven menatap tajam Windy, melihat air mata Windy menetes. Stev binggung cara berbicara dengan Windy yang pikirannya masih kekanak-kanakan.
"Windy, kamu tahu arti ucapan kamu meminta kita berjauhan. Saat ini kamu sedang egois, memutuskan sesuatu sendiri, kamu baru saja menunjukkan sikap kekanakan kamu." Steven langsung berdiri meminta Windy pulang.
"Win, Om akan menganggap tidak mendengar ucapan kamu barusan. Kita anggap semuanya kembali normal. Sebaiknya kamu pulang." Steven membukakan pintu, Windy langsung melangkah keluar.
Tangan Windy langsung menahan pintu apartemen Steven, melihat mata lelaki yang selama ini dicintainya, terlihat tatapan mata yang kecewa.
"Windy hanya ingin mengatakan Om, mungkin seumur hidup Windy mendapatkan cinta dari Papi dan Mami, mereka membesarkan Windy dari bayi sampai detik ini masih terus mengkhawatirkan Windy, walaupun Windy bukan putri kandung mereka. Terkadang Windy berpikir ingin cepat besar agar bisa segera menikah, Win ingin melihat Mami fokus membesarkan Winda, Papi fokus mengajari Wildan, tidak sibuk hanya mengkhawatirkan Windy, memprioritaskan Windy. Bahkan Bunda membuang Windy, sedangkan Win tidak tahu siapa Ayah Windy. Salah jika Windy berpikir tidak ingin menjadi beban mereka lagi." Windy langsung menarik pintu, menutupnya kuat, berlari ke apartemennya.
Di dalam Apartemennya Windy menangis sepuasnya, berteriak menutup mulutnya. Windy berlari ke kamarnya, membuka sebuah kotak kecil melihat foto Bundanya.
"Bunda, kenapa Windy dilahirkan? seharusnya Bunda gugurkan saja Windy." Foto terlempar kuat, Windy langsung memeluk foto Maminya.
"Mami, Windy bodoh tidak bisa melupakan hari pahit kehidupan Windy, padahal Mami sudah menghabiskan banyak waktu untuk menjaga Windy. Maafkan Windy Mam, belum bisa menjadi kebanggaan Mami, terkadang rasa bersalah muncul begitu saja." Windy menangis sambil memeluk foto Reva.
Steven masih terdiam di depan pintu, pendengarannya tidak mungkin salah, Windy baru saja mengatakan jika dia bukan putri kandung Bima, padahal Steven tahu dari cerita kakaknya jika lelaki yang dia cintai menikah dengan sahabat mereka.
Bima pria yang selalu bersama kakaknya Stevie, Viana, juga Britania. Stevie mencintai Bima, tapi Viana ternyata mencintainya juga, sehingga Stevie memilih untuk pergi melupakan cintanya, tapi tidak disangka Bima menikah dengan Britania memilki seorang putri, tapi pernikahan mereka kandas setelah kelahiran putri mereka.
Steven ingin menemui Windy, tapi mengurungkan niatnya jika dia bicara sekarang hanya akan semakin menyakiti Windy.
"Maafkan Om Win membuat kamu bersedih,"
***
Windy sudah mandi, menghubungi Wilona soal pengakuannya terhadap Steven. Windy ingin menjadi wanita dewasa yang memahami pria dewasa, berpikiran luas.
Windy memutuskan mengejar mimpinya, melupakan cintanya untuk Steven. Mungkin Steven benar dia labil, tidak mengerti cinta sesungguhnya.
Perasaan Windy lega bisa melepaskan beban hatinya yang tidak terungkapnya, sekarang semuanya sudah lepas, Steven sudah memberikan jawaban jika mustahil mereka bisa bersama.
__ADS_1
Keduanya berbeda dalam banyak hal, menikah muda sudah sirna, Windy memutuskan menikmati setiap harinya, semua yang dia lakukan.
Wilona mendukung keputusan Windy, berjanji akan selalu ada di sisi Windy, mendukungnya untuk move on dari cinta pertama, karena banyak orang mengatakan jika cinta pertama banyak yang gagal.
Steven juga sudah rapi, siap pergi ke kantor. Langsung membuka pintunya apartemennya menuju lift, melihat Windy juga baru masuk lift. Pintu lift tertutup, tapi langsung terbuka lagi, Windy memanggil Steven untuk cepat masuk.
Keduanya berdiri bersebelahan, Windy tersenyum menatap Steven seakan-akan kemarin tidak terjadi apapun. Steven juga membalas sambil tersenyum.
"Om hari ini pergi pagi sekali?" Windy melirik Steven yang sedang membaca email.
"Hari ini ada janji bertemu Klein." Steven masih fokus melihat ponselnya.
Windy langsung diam mengerti jika Steven sedang fokus, membiarkannya menyelesaikan isi ponselnya.
"kamu hari ini makan siang di mana? ingin Om jemput."
"Tidak Om, hari ini Lukas membawa banyak makanan, Windy sudah request langsung. Om ingin Windy bawakan makanan pulang nanti?" Windy menatap Steven, melangkah keluar lift.
Windy juga langsung masuk ke dalam mobilnya melambaikan tangannya kepada Steven yang tersenyum. Suara seorang wanita memanggil langsung memeluk Steven, Windy menjalankan mobilnya.
Mengabaikan dua orang yang sedang berpelukan, Windy hanya tersenyum bangga kepada dirinya sendiri bisa melewati ujian menyapa Steven.
Sedangkan Steven melepaskan pelukan, menatap tajam wanita dihadapannya.
"Steven aku pulang, ayo kita menikah sesuai keinginan kamu tahun kemarin." Selin memeluk lengan Steven.
"Terlambat Sel, aku sudah melupakan kamu." Steven langsung masuk ke dalam mobil, Selin ingin masuk, tapi pintu mobil terkunci.
"Stev buka pintu mobilnya, aku tahu kamu marah akan aku jelaskan semuanya." Selin teriak kuat melihat mobil Steven melaju meninggalkannya.
Di dalam mobil Steven tidak bisa fokus, membayang Windy yang terlihat biasa saja. Steven lebih berharap Windy marah sehingga dia bisa mencari cara untuk membujuk Windy.
__ADS_1
"Aku tidak suka dengan cara kamu yang berpura-pura baik-baik saja Win. Marahlah, pukul Om, caci maki Om, jangan terlihat semuanya baik. Hal ini lebih menyakitkan." Steven menghela nafasnya.
Beberapa mobil mengikuti mobil Steven, mobil berhenti saat lampu merah, Steven masih belum menyadari jika dirinya dalam bahaya, karena terlalu memikirkan Windy Steven kehilangan konsentrasinya.
***
Windy tiba di kampus, langsung memeluk Wilo melangkah masuk ke dalam ruangan kantor. Windy ingin pindah jurusan, memulai dari awal. Windy cukup kaget dia baru bisa pindah tahun depan, berarti dia harus menganggur sementara
Tangan Windy meraih ponselnya, langsung menghubungi Reva jika dia baru bisa mengulang tahun depan.
Reva juga binggung, ingin membahas dengan Bima terlebih dahulu, Windy diminta tetap kuliah, tidak boleh berhenti sampai Papinya yang memutuskannya. Windy menerima keputusan Maminya.
"Win yang kuliah kamu, mengapa harus ribet berbicara dulu dengan Mami kamu?" Wilo menatap Windy sambil tersenyum.
"Karena Windy memiliki orang tua, restu mereka menjadi doa, di setiap langkah Windy." Windy tersenyum langsung melangkah untuk masuk ke dalam kelas.
Lukas juga datang melambaikan tangannya, menyapa dua wanita yang gila makan, lukas memberikan dua kantong untuk Windy dan Wilo, bekal makan siang mereka.
Tiba-tiba Windy berhenti saat ingin masuk ke dalam kelas, terbayang wajah Steven yang terlihat gelisah.
"Ayo Windy masuk, kenapa kamu mematung?" Lukas merangkul pundak Windy untuk duduk.
Satu-persatu mahasiswa mulai masuk, Dosen masuk langsung tersenyum, semuanya menyapa hanya Windy yang diam saja. Ponsel Windy berdering, Wilo meminta Windy mengabaikan panggilan Steven.
Lebih dari lima kali Windy tidak menjawab panggilan, sebenarnya Windy sedih harus bersikap cuek, tapi lebih baik untuk mereka berdua. Cukup bertemu saja saling menyapa, tidak harus melalui panggilan telpon.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA
__ADS_1
***